NovelToon NovelToon
Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Dikhianati Keluarga, Dicintai Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Winna Yun

Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab - 10 Lambang Phoenix Perak

Raka menarik napas pelan.

Selama bertahun-tahun bekerja di sisi Adrian, ia telah menyaksikan atasannya menghadapi berbagai situasi.

Ancaman.

Pengkhianatan.

Kerugian ratusan miliar.

Bahkan tekanan dari para petinggi dunia bisnis.

Namun tidak satu pun mampu mengubah ekspresi Adrian seperti nama yang baru saja ia lihat di dalam map itu.

Raka tidak berani bertanya.

Ia hanya melangkah pergi dengan tenang, menjalankan seluruh perintah yang telah diberikan.

Seorang pria mengenakan topi hitam berbicara pelan melalui alat komunikasi di telinganya.

"Target memasuki kafe."

"Masih sendiri."

Beberapa detik kemudian terdengar balasan.

"Tetap awasi."

"Jangan lakukan kontak."

Pria itu mengangguk pelan.

Namun, ia tidak menyadari bahwa dari atap gedung di seberang jalan, seseorang telah lebih dulu mengawasinya.

"Unit Tiga kepada pusat."

"Satu pengintai teridentifikasi."

"Masih menjaga jarak."

Suara tenang dari alat komunikasi segera menjawab.

"Jangan bertindak."

"Pantau semua pergerakannya."

"Perintah langsung dari Komandan."

Pria di atap gedung itu kembali membidikkan teropongnya.

Tatapannya bergantian mengawasi Arunika dan pria bertopi hitam. Tanpa seorang pun menyadari... Dalam radius beberapa ratus meter, sedikitnya enam orang lain telah menempati posisi masing-masing.

Mereka menyamar sebagai pejalan kaki.

Pengemudi ojek daring.

Penjual koran.

Hingga petugas kebersihan.

Tak ada tanda yang menunjukkan bahwa mereka saling mengenal. Namun setiap beberapa menit, laporan singkat terus mengalir melalui saluran komunikasi terenkripsi.

"Area utara aman."

"Area timur bersih."

"Tidak ada ancaman langsung."

Mereka adalah Unit Bayangan, Pasukan yang baru saja diperintahkan Adrian. Di ruang kerja lantai paling atas.

Adrian berdiri diam di depan jendela, Pandangannya tertuju pada langit yang mulai diselimuti awan kelabu. Raka kembali masuk setelah menerima laporan terbaru.

"Pak."

"Unit Bayangan sudah berada di posisi."

Adrian mengangguk pelan.

"Bagaimana hasil penyelidikan tentang Bagaskara?"

Raka membuka tablet.

"Sejak proyek-proyeknya ditunda, dia mulai mencari tahu siapa yang berada di balik semuanya."

"Dia juga telah menghubungi beberapa relasi lamanya."

"Tetapi tidak satu pun bersedia membantunya."

Adrian menyilangkan kedua tangannya.

"Itu baru permulaan."

Raka terdiam.

Ia tahu kalimat itu bukan ancaman kosong.

Selama Adrian menghendaki, pintu-pintu yang selama ini terbuka untuk Bagaskara akan tertutup satu per satu.

Bukan karena paksaan.

Melainkan karena tidak ada seorang pun yang berani mengambil risiko berseberangan dengan orang yang mengendalikan begitu banyak jaringan bisnis.

"Pak," ucap Raka hati-hati.

"Apa kita akan terus menekan Grup Mahardika?"

Adrian menggeleng pelan.

"Tidak."

Raka sedikit terkejut.

"Biarkan mereka berpikir."

"Biarkan mereka bertanya-tanya siapa yang sedang bermain."

"Rasa takut yang muncul karena ketidakpastian jauh lebih efektif daripada serangan yang terlihat."

Raka mengangguk memahami.

Strategi itu memang khas Adrian.

Ia tidak pernah menghancurkan lawan dalam satu langkah.

Ia membuat mereka kehabisan pilihan terlebih dahulu.

Saat itulah...Ponsel Raka bergetar, Ia membaca pesan yang baru masuk, lalu raut wajahnya berubah serius.

"Pak."

"Ada perkembangan."

"Apa?"

"Seseorang baru saja mencoba mengakses data lama mengenai Arunika."

Adrian langsung mengangkat pandangan.

"Siapa?"

"Jejak digitalnya sangat bersih."

"Hampir seluruh identitasnya berhasil disamarkan."

"Namun sebelum koneksi diputus, tim siber kita berhasil menangkap satu petunjuk."

"Apa itu?"

Raka memperbesar tampilan layar tabletnya.

Di sana hanya terlihat sebuah lambang berwarna perak.

Seekor burung phoenix dengan sepasang sayap yang membentang.

Tatapan Adrian berubah tajam.

Untuk pertama kalinya hari itu, ada sedikit perubahan pada ekspresinya.

Ia mengenali lambang tersebut. Dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, ia berkata,

"Jadi..."

"Mereka akhirnya mulai bergerak."

Di saat yang sama...Tanpa mengetahui bahwa begitu banyak pihak sedang mengawasinya, Arunika keluar dari kedai kopi sambil membawa tas di pundaknya.

Ia berjalan menyusuri trotoar dengan langkah ringan. Namun ketika melewati sebuah persimpangan, entah mengapa ia merasakan sesuatu.

Seolah-olah...Ada banyak mata yang sedang mengikuti setiap langkahnya.

Arunika berhenti sesaat dan menoleh ke belakang.

Jalanan tetap ramai seperti biasa.

Orang-orang berlalu-lalang tanpa memperhatikannya.

Ia tersenyum kecil, mencoba menganggap itu hanya perasaannya.

"Lagi-lagi aku terlalu banyak berpikir," gumamnya pelan.

Ia kembali melangkah.

Arunika tetap berjalan dengan langkah tenang, meski firasat aneh itu belum benar-benar menghilang dari benaknya.

Di sudut jalan, seorang pengemudi ojek daring tampak sibuk memeriksa ponselnya.

Tak jauh dari sana, seorang pria paruh baya mendorong gerobak minuman.

Beberapa meter di belakang, dua orang remaja berpura-pura bercakap sambil sesekali melirik ke arah trotoar.

Tak seorang pun tampak mencurigakan.

Namun masing-masing sebenarnya sedang menjalankan tugas yang sama.

"Target kembali bergerak."

"Lalu lintas normal."

"Tidak ada kontak mencurigakan."

Laporan-laporan singkat kembali mengalir melalui saluran komunikasi terenkripsi.

Di sisi lain, pria bertopi hitam yang sejak tadi membuntuti Arunika memperlambat langkahnya. Tatapannya menyapu sekeliling dengan hati-hati.

Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak biasa.

Ia memang tidak melihat siapa pun yang mencurigakan, tetapi pengalaman bertahun-tahun mengajarinya bahwa suasana yang terlalu tenang justru sering kali menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Ia menekan alat komunikasi di telinganya.

"Kepada pusat."

"Aku merasa ada pihak lain."

Beberapa detik berlalu sebelum suara di seberang menjawab.

"Apakah identitas mereka terdeteksi?"

"Belum."

"Tetap lanjutkan pengawasan."

"Jangan sampai kehilangan target."

Pria itu menghela napas pelan.

"Dimengerti."

Sementara itu, dari atas gedung yang sama, anggota Unit Bayangan yang berjuluk Elang masih mengamati seluruh area melalui teropong beresolusi tinggi.

Ia segera melapor.

"Komandan."

"Target pengintai mulai menunjukkan kewaspadaan."

Balasan datang hampir seketika.

"Jangan membuka penyamaran."

"Jika dia mulai curiga, biarkan."

"Prioritas utama tetap keselamatan Nona Arunika."

"Siap."

Tim Elang kembali mengalihkan pandangannya ke arah trotoar.

Dalam alat pendeteksinya, titik-titik biru yang menandakan posisi Unit Bayangan terus bergerak mengikuti pola yang telah ditentukan.

Mereka menjaga jarak.

Tidak terlalu dekat.

Namun cukup cepat untuk memberikan perlindungan apabila sesuatu terjadi.

Di lantai paling atas Gedung Ardinata Group, Adrian masih berdiri di depan jendela.

Tatapannya tertuju pada lambang phoenix yang masih terpampang di layar tablet milik Raka.

Beberapa detik kemudian, Adrian mengulurkan tangan.

"Perbesar."

Raka segera menjalankan perintah itu.

Lambang perak tersebut memenuhi seluruh layar.

Seekor phoenix dengan kepala menengadah ke langit, sementara di bawahnya terdapat ukiran kecil berupa angka Romawi yang hampir tak terlihat.

Raka mengernyit.

"Pak... apa lambang ini penting?"

Adrian tidak langsung menjawab.

Tatapannya seolah kembali pada kenangan yang telah lama terkubur.

"Lima tahun lalu," ucapnya perlahan, "aku pernah melihat lambang ini."

Raka terdiam.

"Itu terjadi sebelum aku mengambil alih seluruh jaringan bisnis keluarga."

"Saat itu... ada sebuah organisasi yang mampu menghapus identitas seseorang dari seluruh sistem."

"Mereka tidak bekerja demi uang."

"Mereka hanya bergerak jika memiliki tujuan tertentu."

Raka menelan ludah.

"Apakah mereka musuh kita?"

Adrian menggeleng pelan.

"Itulah yang belum bisa kupastikan."

"Tetapi jika mereka mulai mencari Arunika...berarti masa lalu gadis itu jauh lebih rumit daripada yang selama ini kita ketahui."

Ruangan kembali diselimuti keheningan.

Tak lama kemudian, layar monitor utama di ruang kerja Adrian tiba-tiba berkedip.

Seorang petugas siber muncul melalui sambungan video dengan wajah tegang.

"Pak Adrian."

"Kami baru saja menerima sinyal aneh."

"Dari mana?"

"Bukan dari dalam negeri."

"Jejaknya berpindah-pindah melalui beberapa server di berbagai negara."

"Tetapi sebelum koneksi terputus..."

Petugas itu menarik napas dalam.

"...kami berhasil menangkap satu kalimat yang dikirim dalam bentuk kode."

Raka menatap layar penuh perhatian.

"Apa isi pesannya?"

Petugas itu membacanya perlahan.

"'Phoenix telah menemukan Pewaris.'"

Kalimat itu membuat sorot mata Adrian berubah semakin tajam.

1
sinnox
50k mana cukup😭
Winna Yun: agak agak miris emang🤭
total 1 replies
sinnox
Bau bau ibu tiri jahat😭
Winna Yun: iya Kaka 😁
total 1 replies
zevy_14
lanjut kk... update... update.. update🤭💪
Winna Yun: siap kakak 😁
total 1 replies
zevy_14
bagus selidiki🤭
Winna Yun: mamang haru ini🤭
total 1 replies
ciber ara
suka banget ceritanya
Winna Yun: terimakasih ka 🤗
total 1 replies
ciber ara
nextt
MPUSSPITA
semangat terus othorrr
Winna Yun: semangat kembali ka🤗
total 1 replies
MPUSSPITA
sedih banget kamu, arunika 😭😭😭
Winna Yun: iya ka ujian nya gak main main😁
total 1 replies
Nnisa
kak aku mampir nih, semangat kak💪💪
Winna Yun: terimakasih ka atas kunjungan nya🤗
total 1 replies
Swan Tiger
halo semangat author🍀🍀🍀
Winna Yun: semangat juga ka🤗
total 1 replies
Lasa Hardianti
kasian bgt nasib arunika, moga aja kena karma tuh keluarganya😌🤣
Winna Yun: sabar na nanti di bayar kontan😁
total 1 replies
helena
kasian banget arunika
helena: thor/Hey//Smile/
total 2 replies
Winna Yun
iya ka emang gak sedikit 😁
Zed Analytical Number Nine
bukan angka yang sedikit
Cilia
Nyesek banget jadi arunika:(
Winna Yun: iya bener ka
total 1 replies
Winna Yun
iya ka beda banget
Putri Ayu/PqxxyZ
beda suasana ya disana
Putri Ayu/PqxxyZ
aku sudah mampir baru awal nih, entar lanjut lagi.. kakak boleh mampir di ceritaku yang "Terjebak Antara Saudara dan Cinta"
Winna Yun: iya ka siap
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
oke cabut... kena usir soalnya
Winna Yun: iya ka🤭 terimakasih sudah berkunjung 🤗
total 1 replies
Putry Chan
aku kasih sedikit saran deskripsi kalimat trlalu panjang, berurutan, bertele-tele ,
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal

Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.

Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.

Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.

Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?

Winna Yun: terimakasih ka sarapan nya🤗 terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!