NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 — Kenapa Dia Menatapku?

“Selamat datang di Nivalis, rombongan dari Kerajaan Aureliania. Kalian adalah tamu kehormatan pertama yang tiba di sini. Mari, silakan ikuti saya menuju istana utama.”

Seorang lelaki berambut putih pendek menyapa hangat. Ia menunggangi seekor beruang putih raksasa yang memiliki cula tajam di atas dahinya.

Sementara itu, para prajurit pengawal yang berdiri berbaris di belakangnya menunggangi burung unta raksasa berpendar putih, dengan bulu-bulu lebat yang menutupi seluruh tubuh mereka dari kepala hingga ujung kaki.

Di sepanjang jalan utama menuju kompleks istana, ribuan penduduk tampak memadati tepi jalan, bersorak riang menyambut kedatangan rombongan tamu agung tersebut.

Ibukota Nivalis begitu hidup dan meriah— dihiasi oleh kibaran bendera-bendera kerajaan, lampion kristal yang berpendar lembut, serta panggung-panggung festival di setiap sudut kota.

Baik Raja Nolan, Ratu Tiana, maupun para staf istana tersenyum kagum menyaksikan kehangatan pesta rakyat tersebut.

Tak terkecuali Edward—yang kepalanya terus menyembul ke luar jendela, bahkan siap melesat keluar kapan saja untuk ikut bersenang-senang jika saja jaket musim dingin tebalnya tidak ditahan erat-erat oleh Bernard dari belakang.

Setelah melintasi jalanan ibukota yang riuh, rombongan akhirnya tiba di halaman utama istana es.

Di sana, Raja Isenbard dan Ratu Elizabeth telah berdiri menyambut kedatangan mereka secara pribadi. Gaun kebesaran berwarna putih bercorak perak yang mereka kenakan tampak begitu elegan, menyatu sempurna dengan latar halaman istana yang berselimutkan salju abadi.

Namun, tepat di tengah-tengah kedua penguasa utara tersebut, ada satu sosok lagi yang seketika mencuri seluruh perhatian.

Tak hanya Raja Nolan dan Ratu Tiana yang terpana, tetapi juga Edward yang matanya seketika tak berkedip, terpesona oleh kecantikan luar biasa dari sosok gadis tersebut.

Rambut panjangnya yang berkilau berwarna perak berpadu indah dengan gradasi putih-kebiruan. Matanya memancarkan pendar biru cerah sebening kristal es, dipadu dengan kulit putih bersih tanpa cela. Terlebih lagi, gaun anggun yang membalut tubuhnya sanggup membuat siapa pun yang memandang akan terpesona pada pandangan pertama.

Dialah sang Putri Pertama, sang pewaris sah takhta Kerajaan Nivalis—sekaligus sosok yang menjadi alasan utama pesta megah ini diselenggarakan.

Iselyna von Niveterra.

“Selamat datang, Raja Nolan, Ratu Tiana, di kediaman kami,” sapa Raja Isenbard hangat sembari merentangkan kedua tangannya.

“Sambutan yang sangat meriah, Raja Isenbard. Terima kasih banyak,” balas Raja Nolan yang baru saja melangkah turun dari kabin kereta kuda.

Pandangan Raja Nolan kemudian beralih ke arah gadis anggun yang berdiri di antara kedua orang tuanya. “Dan... ini pasti bintang utama dari acara besok.”

Iselyna menundukkan kepalanya perlahan sembari menyibak sedikit sisi gaun mewahnya dengan sangat anggun.

“Salam hormat saya, Raja Nolan. Perkenalkan, nama saya Iselyna von Niveterra, Putri Pertama Kerajaan Nivalis.”

“Seorang wanita cantik yang begitu anggun. Sikap dan gesturmu benar-benar memancarkan wibawa seorang calon pemimpin sejati,” puji Raja Nolan terkagum-kagum. “Berapa usiamu tahun ini, Putri Iselyna?”

“Memasuki usia dua puluh lima tahun, Yang Mulia,” jawab Iselyna santun.

“Masih sangat muda, ya,” ujar Raja Nolan tersenyum lebar. “Aku juga membawa putraku, tapi sepertinya usianya sedikit lebih muda darimu. Edward, kemarilah. Ada seseorang yang ingin Kukenalkan padamu.”

Edward melangkah maju dengan gerakan yang agak kaku dan malu-malu.

Rasa canggung menyergapnya—terutama saat manik matanya dan mata biru cerah milik Iselyna saling beradu secara tidak sengaja.

“A-a-aku... a-aku...—BUHK!”

Di tengah kegagapan Edward yang membeku, Raja Nolan—yang wajahnya masih memasang senyum ramah pada keluarga Kerajaan Nivalis—tanpa ragu mendaratkan tepukan telapak tangan yang cukup keras tepat di punggung putranya.

Tepukan mantap itu seketika memecah kegugupan Edward dan mengembalikan kesadarannya secara instan.

“Namaku Edward Alverina, Putra Kedua Kerajaan Aureliania. Salam hormatku untuk sang pewaris sah, Putri Iselyna,” tutur Edward lancar, lalu membungkukkan tubuhnya penuh hormat secara sempurna.

“Hoho... jadi kau yang bernama Edward? Kau tahu, ayahmu menceritakan banyak hal hebat tentangmu!” ujar Raja Isenbard seraya tertawa terkekeh.

“Mendengar bagaimana caramu mengalahkan penyihir hitam itu, bagaimana kalau kita bertukar pukulan sebentar? Sparing singkat sebelum makan malam, kita bisa—”

BUK!

“UKH!”

Tanpa peringatan, Ratu Elizabeth mendaratkan pukulan keras tepat di kepala suaminya menggunakan kipas tangan lipat miliknya.

“Daripada melakukan hal yang tidak perlu seperti bertarung, bagaimana kalau kita menyambut dan mempersilakan tamu-tamu terhormat ini untuk masuk terlebih dahulu?” sela Ratu Elizabeth anggun.

“Saya yakin mereka amat lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Lagipula hari sudah beranjak malam... Kau tidak keberatan dengan saranku, kan... SAYANG?” tambah sang Ratu dengan senyuman manis yang memancarkan aura intimidasi mengerikan.

“B-baiklah... Aku paham, Sayang...” sahut Raja Isenbard ciut, memegangi kepalanya.

Raja Nolan, Ratu Tiana, dan Edward hanya bisa memasang senyum canggung menyaksikan adegan kekerasan domestik kerajaan tersebut. Di sisi lain, Putri Iselyna tampak menghela napas panjang seolah sudah terbiasa dengan kelakuan kedua orang tuanya.

***

Suara lembut dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi melodi utama di meja makan kerajaan yang megah.

Para pelayan Kerajaan Nivalis tampak hilir mudik membawa deretan hidangan mewah—mulai dari sajian utama hingga pencuci mulut. Beberapa pelayan tegap menuangkan anggur terbaik hasil fermentasi alami di tengah cuaca ekstrem utara yang telah disimpan selama lebih dari dua abad.

Edward sendiri tampak menyantap hidangannya dengan sangat lahap, meski tetap menjaga kerapian dan tata krama ala seorang Pangeran.

Sesekali, manik matanya melirik kagum mengagumi interior aula makan istana yang memukau. Menakjubkannya, hampir seluruh struktur—bahkan hingga tempat lilin penerang—tampak terukir dari es abadi yang jernih. Entah teknik sihir tingkat tinggi apa yang mereka gunakan hingga es tersebut tak meleleh sama sekali oleh hangatnya api.

Namun, saat Edward sedang asyik memindai isi ruangan, matanya tak sengaja beradu pandang dengan Putri Iselyna.

Gadis itu rupanya tengah menatap Edward secara lurus... tanpa berkedip sedikit pun.

Deg!

Edward panik seketika. Dengan wajah yang mulai memerah panas, sang Pangeran buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah piring.

Namun, ketika rasa penasaran membuatnya kembali memberanikan diri melirik tipis... Iselyna ternyata masih menatapnya dengan lekat dari seberang meja!

Sontak saja, Edward mendadak salah tingkah hingga hampir tersedak makanannya sendiri.

Ada apa dengannya? Kenapa Putri Iselyna terus-terusan menatapku seperti itu? Apakah ada bekas makanan yang tertempel di wajahku? Atau gayaku menyantap makanan yang aneh?

Deretan pertanyaan gelisah itu terus berputar-putar di kepala Edward.

Kondisi tersebut seketika memicu kembali refleks masa lalunya—bukan dalam artian buruk atau traumatis, melainkan rasa canggung yang teramat sangat. Edward sejujurnya merasa sangat tidak nyaman terus-menerus dipandangi oleh seorang wanita.

Apalagi wanita di hadapannya ini berparas teramat cantik dan memiliki status terpandang sebagai pewaris sah takhta Kerajaan Nivalis.

Tapi... apa mungkin tatapan itu ada hubungannya dengan acara dansa besok?

Begitu pemikiran itu terlintas, segalanya mendadak terasa masuk akal bagi Edward.

Sang Pangeran berasumsi bahwa Putri Iselyna mungkin merasa keberatan dengan fakta bahwa ia harus berdansa dan disandingkan dengan lelaki yang sama sekali tidak dikenalinya.

Jika dipikir-pikir, Edward pun tidak bisa menyalahkan sang Putri. Jika ia berada di posisi Iselyna, ia pasti akan merasakan hal yang sama—merasa tidak nyaman jika tiba-tiba disandingkan dengan pria asing.

“E-eee... Saya sudah selesai menyantap hidangannya,” ujar Edward perlahan seraya bangkit berdiri dari kursi.

“Ayahanda, Ibunda, Yang Mulia Raja Isenbard, serta Yang Mulia Ratu Elizabeth... Izinkan saya pamit untuk mengundurkan diri terlebih dahulu.”

“Mengapa terburu-buru, Pangeran Edward?” tanya Raja Isenbard ramah.

“Maafkan saya jika terkesan kurang sopan, Yang Mulia,” jawab Edward santun. “Saya hanya... sudah tidak sabar untuk melihat-lihat keindahan Istana Nivalis di luar sana. Itu pun jika Yang Mulia tidak keberatan dengan permintaan saya.”

Raja Isenbard tertawa terkekeh pelan. “Tentu saja tidak apa-apa! Silakan, Pangeran. Anggap saja seperti di rumahmu sendiri.”

“Terima kasih banyak, Yang Mulia.”

Edward membungkuk sekali lagi penuh hormat sebelum akhirnya berbalik, melangkah cepat meninggalkan meja makan menuju keluar ruang jamuan.

Sementara itu di seberang meja, Putri Iselyna yang sedari tadi mengamati setiap gerak-gerik Edward memicingkan kedua mata birunya penuh selidik.

Pandangan tajamnya terus mengekor pada punggung Edward hingga pemuda itu menghilang di balik pintu besar aula. Barulah setelah itu, sang Putri menghela napas pelan dan kembali mengalihkan fokusnya pada sajian hidangan di meja makan.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!