NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 — Andai Arya Masih di Sini

Lima belas hari berlalu sejak operasi Pak Suryanto.

Pagi itu, Karina berdiri di depan pintu rumah sakit sambil memegang kantong obat dan map kontrol. Pergelangan kakinya sudah membaik, tetapi masih nyeri jika dipakai berjalan terlalu lama.

Pak Suryanto keluar dengan kursi roda yang didorong seorang petugas. Tubuhnya lebih kurus. Bu Marni mengikuti di belakang sambil membawa tiga tas.

"Mobilnya mana?" tanya ibunya.

"Masih di jalan."

"Kenapa tidak pesan dari tadi? Bapakmu tidak boleh lama kena angin."

Karina melihat layar ponsel. Pengemudi terjebak kemacetan sepuluh menit lagi.

"Tadi perawat belum selesai menjelaskan obat."

"Kalau Arya ada, dia pasti sudah atur semuanya."

Kalimat itu tidak lagi membuat Karina marah. Ia hanya merasakan lubang kosong di dada.

Setelah mobil datang, ia memindahkan tas ke bagasi dan membantu ayahnya duduk. Tidak ada cukup ruang di kursi belakang, sehingga Bu Marni terus mengeluh sepanjang perjalanan.

Di rumah, pekerjaan lain sudah menunggu.

Karina harus menyiapkan tempat tidur di lantai bawah, mencatat jam obat, memesan makanan lunak, mengatur kontrol berikutnya, dan membersihkan luka sesuai petunjuk perawat. Ia menempelkan jadwal besar di kulkas agar tidak lupa.

Pada malam pertama, alarm obat berbunyi pukul dua.

Karina bangun dengan kepala berat. Bu Marni memanggil dari kamar karena Pak Suryanto mual. Setelah membantu ayahnya duduk, Karina baru sadar obat antimual seharusnya diberikan tiga puluh menit lebih awal.

"Kamu bagaimana sih?" tegur Bu Marni. "Ini soal kesehatan Bapakmu."

"Aku juga baru tidur satu jam."

"Dulu Arya tidak pernah salah jadwal."

Karina mengambil air hangat tanpa menjawab.

Hari berikutnya, cucian menumpuk. Makanan kiriman terlambat. Tagihan rumah sakit tambahan datang. Sisa uang kontrak terus menurun, sedangkan pengeluaran rumah tidak berhenti.

Karina membuat catatan pengeluaran untuk pertama kalinya. Deposit, obat yang tidak ditanggung, kendaraan, makanan khusus, dan biaya kontrol memenuhi satu halaman. Di bawahnya masih ada cicilan kartu, sewa tempat tinggal yang belum dihentikan, serta belanja impulsif sebelum orang tuanya datang.

Ia menghitung tiga kali dan tetap mendapatkan hasil yang sama. Dengan pola sekarang, uangnya tidak akan bertahan selama yang dibayangkan.

Bu Marni melihat angka itu. "Kamu seharusnya meminta seluruh dua miliar."

"Kontraknya bukan begitu."

"Anindya kaya raya. Bagi dia, tambahan satu miliar tidak berarti."

"Dia sudah membayar sesuai hak masing-masing."

Bu Marni menatap putrinya heran karena Karina membela perempuan yang selama ini mereka salahkan. Karina sendiri tidak tahu mengapa kalimat tersebut keluar. Mungkin karena setelah melihat bukti transfer dan perjanjian, bahkan ia tidak bisa lagi menyebut Anindya berutang.

"Kalau Arya pulang, dia bisa bekerja lagi dan membantu," kata ibunya.

Karina menutup buku catatan. "Dia sedang membangun hidupnya sendiri."

"Kamu tahu dari mana?"

"Waktu di restoran dia bilang portofolionya selesai."

Ia masih mengingat cahaya percaya diri di wajah Arya. Saat menjadi suaminya, pria itu sering pulang membawa ide, tetapi Karina selalu bertanya berapa uang yang akan dihasilkan. Lambat laun Arya berhenti bercerita.

Kini Anindya mendengar cerita-cerita yang dulu tidak pernah diberi ruang olehnya.

Pak Suryanto menjadi mudah marah karena rasa sakit. Bu Marni juga lelah dan melampiaskan kekesalan kepada Karina.

"Buburnya terlalu dingin."

"Bantalnya kurang tinggi."

"Dokter bilang jalan pagi, kenapa belum sewa kursi roda?"

"Obat yang merah tinggal dua."

Setiap keluhan mengingatkan Karina pada satu orang.

Arya dahulu menerima semua perintah tersebut tanpa mengangkat suara. Ia tidur paling akhir dan bangun paling pagi. Kalau salah sedikit, Karina ikut memarahinya, bukan membela.

Pada hari keempat setelah pulang, Karina tertidur di sofa sambil memegang ponsel. Ia terbangun karena gelas jatuh dari kamar ayahnya.

Pak Suryanto hendak mengambil air sendiri dan hampir terjatuh.

Karina berlari masuk. "Pak, panggil aku kalau butuh sesuatu!"

"Bapak sudah panggil tiga kali."

"Aku ketiduran."

Bu Marni muncul dan membantu mengangkat gelas. "Kita tidak bisa terus begini. Kamu juga sedang hamil."

Karina menatap perutnya yang belum tampak membesar. Kehamilan yang ia jadikan tali pengikat kini justru menjadi tambahan ketakutan. Ia belum kembali menemui dokter sejak pemeriksaan pertama.

"Kalau Arya masih di sini, semuanya pasti lebih mudah," kata Pak Suryanto.

Karina duduk di tepi ranjang. "Dia nggak mau aku lagi."

"Kamu sudah minta maaf dengan benar?"

"Sudah."

"Lewat telepon sambil menuntut dia pulang bukan minta maaf," ujar ayahnya. "Kamu harus datang, mengakui kesalahan, dan merendahkan diri."

Bu Marni mengangguk. "Jangan bawa nada tinggi. Jangan bicara uang dulu. Ingatkan dia pada tahun-tahun kalian bersama."

Karina menunduk. "Dia sudah menikah sah dengan Anindya."

"Pernikahan itu berawal dari kontrak," kata Bu Marni. "Kalau Arya percaya kamu sungguh berubah, dia bisa mengakhirinya setelah dua bulan."

"Dia membela Anindya di depan orang banyak."

"Laki-laki mudah luluh kalau perempuan menangis di depannya. Apalagi kamu membawa anaknya."

Karina tahu ibunya kembali mengandalkan bayi. Rasa takut terhadap tes DNA berdenyut bersama detak jantungnya.

"Kalau anak ini bukan…" Kalimatnya berhenti.

Pak Suryanto menatapnya. "Bukan apa?"

"Bukan cukup untuk membuat dia kembali?"

"Kalau begitu, kamu harus membuatnya ingat cinta kalian."

Karina ingin mengatakan bahwa pada tahun terakhir pernikahan, ia hampir tidak pernah menunjukkan cinta. Ia lebih sibuk membandingkan Arya dengan suami orang lain, mengeluhkan gaji, dan memamerkan perhatian lelaki lain.

Yang ia miliki bukan kenangan indah, melainkan daftar kesabaran Arya.

Malam itu, setelah orang tuanya tidur, Karina membuka lemari lama. Beberapa pakaian Arya masih tergantung di sudut. Ia mengambil kemeja biru yang pernah dipakai pria itu saat ulang tahun pernikahan pertama mereka.

Dalam foto lama, Arya tersenyum sambil membawa kue kecil. Karina berdiri di sampingnya dengan wajah kesal karena restoran yang dipilih tidak cukup mahal.

Ia memeluk kemeja itu dan menangis.

"Mas, aku salah."

Untuk pertama kalinya, kata tersebut tidak diikuti tuntutan agar Arya memperbaiki akibatnya.

Namun, penyesalan tanpa penerima terasa lebih menyakitkan. Nomornya diblokir. Vila Kusuma dijaga. Bahkan orang tua Arya tidak mau menjadi perantara.

Hanya Sherly yang masih bisa menghubungi Anindya melalui alamat surel penyelesaian.

Karina meneleponnya.

"Bantu gue ketemu Arya. Sekali saja."

Sherly menghela napas. "Setelah kejadian restoran? Buat apa?"

"Gue akan minta maaf. Nggak akan marah, nggak akan bicara uang."

"Kalau dia tetap nolak?"

Karina memandang kamar ayahnya, tumpukan obat, dan kemeja lama di tangannya.

"Gue akan lakukan apa pun. Kalau harus berlutut, gue berlutut."

Ia mengira kerendahan hati akan membuka pintu yang ditutup Arya.

Ia belum mengerti bahwa meminta maaf demi mendapatkan kembali pelayanan bukanlah perubahan, melainkan transaksi lain dengan harga yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!