Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Gavin
Tatapan takjub masih terpancar jelas di manik mata Fattah. Alih-alih melontarkan kalimat pujian yang berlebihan, pria S2 Teknik itu justru tersenyum kecil, menggelengkan kepalanya pelan penuh kekaguman.
"Kamu benar-benar luar biasa, Elena," ucap Fattah dengan suara rendah yang tulus.
"Di saat orang lain sibuk pamer pencapaian kecil di luar sana, kamu justru memilih membangun kerajaan bisnis sebesar ini dalam diam. Tidak heran kalau gaya hidup dan prinsip kamu begitu matang."
Elena merona tipis, merasa tersanjung namun tetap merendah. "Biasa aja, Mas. Ini juga hasil kerja keras bertahun-tahun bareng tim."
Fattah lantas menemani Elena melangkah masuk ke ruang kerjanya yang elegan dan rapi di bagian belakang butik. Sambil Elena memeriksa beberapa dokumen rekapitulasi stok dan sampel kain baru, Fattah dengan sigap duduk di kursi tamu, menikmati secangkir teh hangat yang disuguhkan staf toko.
Kehadiran Fattah di sana memberikan ketenangan tersendiri; ia tidak menginterupsi, melainkan membiarkan Elena menuntaskan profesionalismenya sebagai seorang owner.
Namun, ketenangan di ruangan itu tidak bertahan lama.
Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel di atas meja kerja Elena bergetar keras. Layar menyala, menampilkan nama panggilan dari Ibu Angkat Gavin.
Biasanya, panggilan dari wanita paruh baya itu selalu membawa kehangatan. Tapi malam ini, nada dering tersebut seketika memicu debar jantung yang tidak enak. Elena langsung mengangkatnya dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Halo, Mbak... Ada apa?" sapa Elena cepat.
Suara di seberang sana terdengar panik dan cemas.
"El... maaf ganggu malam-malam. Ini Gavin... suhu tubuhnya mendadak naik tinggi banget sejak sore. Panasnya nggak turun-turun, dan... dia terus-terusan merayau mengigau memanggil 'papa'."
Jantung Elena seakan berhenti berdetak. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Yang bikin Mami bingung..." lanjut sang ibu angkat dengan suara bergetar di ujung telepon.
"Selama ini kita nggak pernah mengajarkan atau membiasakan dia memanggil kata 'papa'. Di rumah panggilannya selalu Papi. Tapi tadi, dalam igaukannya, dia terus nyebut kata itu sambil nangis nyariin..."
Sambungan telepon itu seolah menenggelamkan Elena ke dalam pusaran air es. Ponsel di genggamannya melonggar. Kalimat itu menghantam kepalanya dengan kekuatan penuh: Gavin memanggil papa.
Sebagai seorang ibu, nurani dan ikatan batin Elena langsung berteriak keras. Gavin tidak pernah mengenal Nathan. Bahkan Nathan menolak keberadaannya mentah-mentah. Namun, darah dan ikatan batin sedarah tidak bisa berbohong.
Elena langsung diserang ketakutan luar biasa apakah ini pertanda bahwa ada koneksi tak kasat mata antara anak itu dan ayah kandungnya?
Melihat perubahan drastis di wajah Elena yang mendadak pucat pasi, Fattah langsung bangkit dari kursinya. Pria itu mendekat dengan langkah cepat namun tetap menjaga jarak sopan, menatap Elena dengan sorot mata penuh siaga.
"Elena? Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada Gavin?" tanya Fattah pelan namun tegas, mencoba menarik kesadaran gadis itu.
Elena mendongak, air matanya tumpah seketika tanpa bisa dicegah. Suaranya patah-patah saat ia menatap Fattah.
"Mas... Gavin... anak aku sakit panas tinggi di sana. Dia ngigau... dia manggil-manggil 'papa', padahal kami nggak pernah ngajarin dia kata itu..."
Elena meremas tepi meja kerjanya, keputusasaan meremukkan dadanya. "Aku takut... aku takut dia punya ikatan batin sama Nathan... Mas, kenapa takdir harus sesulit ini?"
Di tengah keputusasaan yang melumpuhkan akal sehatnya, sebuah memori samar tiba-tiba melintas di kepala Elena.
Sebuah kilas balik dari masa lalu, saat seseorang dari lingkaran Nathan pernah tak sengaja menemukan akun media sosial rahasia tempat ia mendokumentasikan tumbuh kembang dan perjalanan hidupnya bersama Gavin.
Matthew.
Sepupu Nathaniel yang berada di Bandung.
Tanpa berpikir panjang lagi, didorong oleh kepanikan seorang ibu yang mencari secercah jawaban, Elena dengan jemari yang gemetar hebat membuka aplikasi pesan, mencari kontak Matthew yang sudah lama tidak aktif, lalu memberanikan diri menekan tombol panggilan suara.
Sambungan tersambung.
Setelah beberapa kali dering, suara serak seorang pria terdengar dari seberang telepon. "Halo? Siapa ya?"
"Mat... Matthew? Ini aku... Elena," ucap Elena tercekat, berusaha mengatur napasnya yang sesak.
Di seberang sana, Matthew sempat terdiam beberapa detik, terdengar kaget mendengar nama Elena kembali muncul setelah sekian lama.
"El? Elena? Astaga... kamu ke mana aja? Kenapa tiba-tiba telepon?"
"Aku minta maaf ganggu kamu, Mat," suara Elena bergetar hebat. "Tapi aku butuh tahu... kumohon... bagaimana kabar Nathan sekarang? Apakah dia... baik-baik saja di sana?"
Ada helaan napas berat dari Matthew di ujung sambungan sana, seolah menyembunyikan sesuatu yang pelik.
"Jujur aja, El... Nathan lagi nggak baik-baik aja," jawab Matthew dengan nada ragu namun jujur.
"Sejak kepulangannya dari Jakarta dan masalah kalian berantakan dulu, hidupnya berantakan. Terutama sekarang... dia lagi di titik terendah karena kesulitan banget nyari pekerjaan tetap. Dia stres berat, El."
Jleb.
Kabar itu telak menghantam dada Elena. Di saat anaknya sedang merintih kesakitan di tempat jauh memanggil sosok ayah yang tak mengenalinya, pria yang menjadi ayah biologis anak itu justru tengah hancur lebur di tempat lain, tenggelam dalam penyesalan dan kebuntuan hidupnya sendiri.
Dada Elena terasa sesak luar biasa, seolah pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak menguap habis. Bayangan hantaman hari ini berputar hebat di kepalanya: siang tadi ia baru saja menerima pesan dingin dan penolakan kejam dari Nathan, namun malam ini, dalam hitungan jam, ia justru dihantam dua kabar buruk sekaligus.
Anaknya yang sedang berjuang melawan panas tinggi di tempat jauh, serta mantan kekasihnya yang ternyata sedang hancur lebur di titik terendah.
Ponsel di genggamannya perlahan terlepas ke atas meja. Elena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan pertahanannya hancur total. Air mata tumpah tak terkendali, diiringi isakan tangis yang begitu memilukan.
Melihat kondisi Elena yang porak-poranda, Fattah dengan sigap mengambil kotak tisu di atas meja kerja.
Tanpa menyentuh atau melanggar batasan fisik, pria S2 Teknik itu mengulurkan beberapa lembar tisu dengan gerakan teramat lembut dan tenang.
"Elena, tarik napas pelan-pelan..." ucap Fattah dengan suara berat dan menenangkan, memberikan ruang aman di tengah kepanikan gadis itu.
Fattah menunggu beberapa saat sampai isakan Elena sedikit mereda, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Elena yang memerah dan basah.
"Kalau kamu terus-terusan cemas di sini, pikiran kamu bakal makin kalut," tutur Fattah mantap.
"Kalau memang hati kamu nggak tenang, mari saya temani kamu terbang malam ini atau besok pagi untuk menemui Gavin secara langsung."
Elena mendongak cepat, matanya membelalak kaget. Namun, detik berikutnya ia menggelengkan kepala dengan raut wajah panik.
"Nggak... nggak bisa, Mas," tolak Elena dengan suara bergetar hebat. "Aku nggak bisa pergi gitu aja. Kalau aku mendadak pergi, Ibu pasti curiga. Kalau sampai Ibu tahu aku punya anak di luar sana... aku nggak tahu harus gimana, Mas. Aku takut banget."
Mendengar ketakutan itu, Fattah tidak lantas mundur. Pria matang itu menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan solusi dan perlindungan, memberikan ketenangan yang seketika meredam kepanikan Elena.
"Kamu punya bisnis ini, Elena," ujar Fattah pelan namun tajam dan masuk akal. "Kamu pemilik Rentaya.
Sangat wajar dan masuk akal kalau seorang owner butik melakukan perjalanan dinas mendadak keluar kota misalnya untuk survey bahan tekstil baru, bertemu supplier, atau mengecek pameran fesyen. Kamu bisa izin ke Ibu kamu dengan alasan urusan bisnis butik."
Fattah merapatkan jemarinya di atas meja, menatap Elena dengan ketulusan yang tak tergoyahkan.
"Soal penerbangan, transportasi, dan keamanan kamu di sana, biarkan saya yang urus semuanya. Kamu hanya perlu fokus untuk berada di samping Gavin."
ayo tor lanjutin update nya