Andrea Smith seorang dokter bedah jantung brilian di Miami—cerdas, mandiri, dan menyimpan satu rahasia: ia peretas ulung. Namun di balik jas putihnya, hidupnya terjerat keluarga yang beracun: ibu yang tak pernah menyayanginya dan seorang ayah tiri yang terus memerasnya lewat satu-satunya orang yang ia cintai. Yang Andrea inginkan cuma satu—bebas.
Alexander Silver adalah pria paling ditakuti di Irlandia. Bos mafia berdarah dingin yang sudah lama mengunci hatinya rapat-rapat setelah dikhianati. Baginya, cinta hanyalah kelemahan yang tak bisa ia tanggung. Sampai suatu malam, takdir membawanya ke sebuah rumah sakit di Miami… dan mempertemukannya dengan sepasang mata cokelat yang mengubah segalanya.
Sebuah tawaran mendadak. Sebuah pernikahan yang lahir dari kebutuhan, bukan cinta. Tapi di tengah dunia penuh peluru, aliansi berbahaya, dan musuh yang mengintai dari setiap sudut, dua hati yang sama-sama terluka perlahan saling menemukan. Alexander bersumpah melindungi Andrea dengan nyawanya—tak menyangka wanita rapuh yang ia nikahi ternyata jauh lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berani dari siapa pun yang pernah ia kenal.
Ketika masa lalu Andrea membuka rahasia yang mengguncang, dan bahaya mengancam segala yang mereka bangun, seberapa jauh mereka rela melangkah demi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MarLu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kami selesai makan. Para pelayan sedang membereskan piring, dan kulihat dokterku agak gelisah, seolah ingin meminta sesuatu.
"Ada apa, cantik?" tanyaku.
"Ti-tidak apa-apa, tidak ada apa-apa."
"Ayolah, cantik, katakan ada apa."
"Anu, mm… boleh aku minta secangkir kopi?"
"Tentu saja boleh, manisku."
Kulihat pelayan itu dan dia mengangguk. Kuisyaratkan agar mengantar kopinya ke ruang duduk, lalu aku mendekat pada dokterku.
"Ayo kita ke ruang duduk, manisku."
Kuraih tangannya dan kutuntun sampai kami duduk di salah satu sofa. Dante juga duduk di hadapan kami, dan dia mulai memperhatikan bahwa aku masih menggenggam tangan calon istriku, lalu tersenyum.
"Kalian serasi bersama, saudaraku," kata Dante.
Aku hanya tersenyum dan menoleh memandang dokterku yang wajahnya merona. Saat itu kopi diantar dan kami mengucapkan terima kasih.
"Lepaskan tangannya, bodoh, dia bisa menumpahkan kopi ke tubuhnya gara-gara kau. Lagipula kami sudah menutup rapat semua akses supaya dia tidak kabur darimu, ha ha ha," ledek Dante.
"Diam, bodoh. Jangan hiraukan dia, manisku," kataku.
"Oke."
Kami mendengar bel pintu, dan pelayan membukanya. Mereka masuk sambil meneriakkan nama dokterku.
"Andreaaa, sobat, kamu di mana?" seru mereka serempak.
Lalu seorang perempuan dan seorang pria mendekat ke ruang duduk. Dokter cantikku bangkit dan menyambut mereka. Mereka bertiga berpelukan, kemudian mulai memeriksanya seolah mencari-cari luka pada tubuhnya.
"Aku baik-baik saja, sungguh," ujarnya.
"Dan ini apa?" Lucas menunjuk bibirnya yang robek.
"Mamaku."
"Nenek sihir terkutuk itu," geram Lucas.
"Tenang, Lucas, dia tidak akan bisa menyakitinya lagi. Kamu yakin baik-baik saja, sobat?" tanya Daniela.
"Iya, jangan khawatir."
"Lalu kamu sedang apa di sini?" tanya Lucas.
Kulihat dia menoleh memandangku dan teman-temannya menirunya, jadi kuputuskan untuk mendekat bersama Dante.
"Halo, aku Alexander Silver, ini saudaraku, Dante."
"Salam kenal," kata mereka serempak sambil menjabat tangan kami satu per satu dan memperkenalkan diri. "Aku Lucas."
"Dan aku Daniela."
"Silakan ke ruang duduk, kalian bisa mengobrol dengan tenang di sana," kataku.
Kutuntun mereka ke ruang duduk. Mereka duduk, lalu kukatakan pada dokterku,
"Manisku, aku mau menelepon beberapa orang, kuberi kalian privasi. Sebentar lagi aku kembali."
"Terima kasih."
Aku mengangguk dan menyingkir bersama Dante. Kami masuk ke ruang kerja, kuambil gelas, dan aku hendak menuang wiski ketika saudaraku menghentikanku.
"Jangan harap, saudaraku. Aku tidak boleh minum, dan kau tak akan minum tanpaku, jadi lupakan saja."
"Aku membutuhkannya, saudaraku."
"Tidak, yang kau butuhkan adalah bersama si ipar, tapi itu tidak bisa sekarang. Jadi santai saja, lebih baik kita mengobrol."
"Soal apa?"
"Dia sudah setuju menikah denganmu?"
"Belum, dan aku takut dia tidak mau."
"Kau? Sang Teror Irlandia takut? Ayolah, saudaraku."
"Diam, bodoh, aku serius, aku tidak mau kehilangan dia."
"Wah, aku tak pernah melihatmu seperti ini. Jatuh cinta benar-benar membuatmu makin bodoh."
"Diam."
"Ayolah, saudaraku, beri saja dia waktu. Kelihatan kau juga menggetarkan hatinya. Kau tidak memperhatikan caranya menatapmu, caranya merona saat kau melihatnya?"
"Waktu? Justru waktu yang tidak kupunya. Aku tak bisa membebankan semua tanggung jawab pada Kakek, saudaraku, dan aku mencemaskan orang tuaku. Aku ingin membawanya bersamaku, aku tidak bisa jauh darinya."
"Tenang, saudaraku. Aku yakin dia akan menerima ajakanmu menikah, dan aku senang itu dia, bukan Migdal yang manja itu. Perempuan itu benar-benar akan jadi bencana dalam hidupmu, saudaraku."
"Jangan disebut-sebut."
"Sudah kaupikirkan apa yang akan kau katakan kalau dia ingin tahu apa pekerjaanmu?"
"Akan kukatakan yang sebenarnya, saudaraku, aku tak bisa menipunya."
"Apa? Kok bisa terpikir begitu, bodoh, apa yang akan kau bilang? 'Oh, aku mafia paling ditakuti di Irlandia'?"
"Aku tak bisa membohonginya, saudaraku. Hubungan dibangun di atas kepercayaan dan rasa hormat, aku sudah melihatnya pada orang tuaku."
"Aku mengerti, saudaraku, tapi pikirkan lagi, lebih baik memberitahunya setelah kalian menikah."
"Aku ingin membangun hubungan dengannya, saudaraku. Kalau dia bertanya apa pekerjaanku, aku tak bisa berbohong."
"Baiklah, kau yang tahu apa yang kau lakukan. Omong-omong, kau sudah bicara dengan Kakek?"
"Aku sudah bicara dengannya kemarin. Sampai sekarang semuanya tenang, tapi kalau kita saja diserang di sini, aku tak ragu si bodoh Santino akan mencobanya di sana. Karena itu aku buru-buru ingin segera pergi."
"Tenang, saudaraku. Ayo, kita temui si ipar, dan tenangkan dirimu, oke?"
Kami langsung menuju ruang duduk untuk menemui calon istriku.