Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Waktu pagi sudah menunjukkan Pukul 06.30 WIB.
Wita mulai membuka pintu dan jendela rumahnya. Bersiap-siap dengan segala aktifitas harian.
"Hem, segarnya udara pagi?" ucap wanita itu sambil menggerak-gerakan anggota tubuhnya.
"Kenapa yah Mila tidak mengangkat telpon ku? Apa mungkin dia masih tidur? Biasanya jam segini dia sudah rewel membangunkan?" celoteh Wita berjalan menuju kandang ayam.
Meskipun komunikasi Wita dan Yoga berjalan dengan aktif. Lelaki itu sama sekali tidak memberikan kabar pernikahan siri antara Mila dan Bagas yang tengah berlangsung pagi itu.
Seperti biasa. Setiap pagi Wita bersiap mengurus ayam-ayamnya dan melepas beberapa ayam jago yang dulunya menjadi peliharaan kesayangan Heru.
"Wow. Alhamdulillah!
Pagi ini para induk ayam ku bertelur banyak sekali. Pertanda apa hari ini?" ucapan girang Wita berbinar-binar mengumpulkan telur-telur ayam.
Kediaman rumah Bagas Angkara.
Persiapan demi persiapan akhirnya telah usai terlaksana. Pagi itu di rumah pribadi Bagas akan diselenggarakan sebuah acara akad pernikahan yang sangat sederhana bagi seorang pria kaya seperti Bagas.
Yoga dan tim medis dr Adam, siap mengawal ketat pernikahan Bagas.
Mila Asyari terlihat sangat cantik dengan polesan tata rias profesional yang menempel di wajahnya. Tubuh indah wanita itu juga sudah berbalut gaun pengantin muslimah yang sangat simpel namun cukup mewah.
Acara penting itu tidak mengundang saudara ataupun kerabat dekat selain orang-orang terpercaya yang mampu menjaga kerahasian pernikahan Bagas.
Semua tampak sudah bersiap.
Bagas juga tampil tampan menawan bersama jas terbaiknya. Ia sudah duduk dihadapan Tuan Kadi dan dua orang saksi.
Waktu terus bergerak di angka 06.56 Wib
Mila dipersilahkan keluar dari kamar bersama dua penata rias.
Tentu saja semua pandangan mereka beralih kepada Mila.
"Sudah jangan dipandang terus?" Ledek si Tuan Kadi tersenyum menatap Bagas.
Sontak Lelaki itu salah tingkah dan menundukkan kepalanya.
Sejenak dr Adam berbisik kepada Yoga yang kebetulan mereka duduk bersebelahan.
"Mila itu beneran ibu pengganti Emma?" tanya polos Adam sedikit merasa tidak percaya.
"Betul!" Angguk Yoga.
"Hahahaha gimana si Bos tidak gelisah. Setiap hari harus berhadapan dengan spek Bidadari. Ibaratkan meletakkan ikan goreng dihadapan kucing yang lapar," ungkap Adam merasa lucu.
"Hihi!" keduanya kompak tertawa dan saling menahannya.
"Emma sangat cocok kepada Mila jadi Bos Bagas tidak punya pilihan lagi!" Jawab Yoga.
"Artinya Mila adalah wanita yang memiliki hati baik. Bayi yang ditinggal mati oleh ibunya hanya mampu diasuh baik oleh wanita berhati tulus!"
"Benar!" Angguk Yoga.
"Dari tatapan si Bos. Sepertinya ia cukup tertarik dengan Mila!" ucap Adam.
Yoga kembali tersenyum namun ia tidak mengatakan jika Mila adalah mantan kekasih Bagas.
"Itu namanya; Cinta tak bisa berdusta karena mata selalu jujur!" ucap Yoga.
"Hihihi!" keduanya kembali tersenyum-senyum.
Langkah demi langkah akhirnya Mila berhasil duduk di sebelah Bagas. Kedua mempelai itu terlihat tegang tanpa senyuman.
Saat proses ijab Kabul itu akan berlangsung Tiba-tiba tangis Emma pecah dalam gendongan Sari. Bayi gemoy itu ketakutan dan tidak biasa dengan orang-orang ramai di rumahnya.
Bibik Sari dan Hartati berusaha meredam tangis bayi itu. Namun tangisan Emma tak kunjung berhenti.
Hartati akhirnya membawa Emma kepada Mila.
Emma sampai mengangkat kedua tangannya meminta pertolongan agar Mila segera cepat menggendongnya.
"Oh, Emma sayang!" ucap lembut Mila. Bagas pun mengusap derai airmata yang melekat di pipi bayi putrinya.
Emma tidak ingin lepas dari Mila dan Bagas. Bayi gemes itu terpaksa duduk manis dalam pangkuan Mila. Emma yang terlihat lucu dengan baju princess nya sambil minum susu. Bayi itu terlihat tenang dan merasa tidak takut lagi.
Kehebohan tingkah Emma membuat orang-orang disana merasa gemes tertawa dan geleng-geleng kepala dengan putri Bagas itu.
Seolah-olah Emma juga ingin menjadi saksi utama atas pernikahan Bagas dan Mila.
Dan
Tak lama kemudian, terdengar lantunan akad pernikahan yang keluar dari mulut Bagas.
"Saya terima Nikahnya Mila Asyari Binti Heru Susanto dengan mas kawin cincin emas berlian dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!"
"Bagaimana saksi tanya Tuan Kadi?"
"Sah!" Saksi
Kemudian Lantunan doa-doa memenuhi ruangan itu sekaligus sebagai penutup rangkaian proses akad. Doa itu diyakini sebagai harapan untuk kebaikan pernikahan Bagas dan Mila. Setelah itu ada juga perjamuan makan istimewa khusus untuk mereka yang hadir.
Setelah acara akad selesai. Tim nikah siri dan tata rias pun meninggalkan kediaman Bagas.
Mila merasa lelah dan masih tak bisa ada diantara mereka. Ia memilih membawa Emma masuk ke dalam kamar.
*
"Mas, apakah kamu memerlukan obat untuk menaikkan gairah (sejenis perangsang)" tanya dr Adam.
"Sepertinya tidak perlu?" jawab Bagas.
Dr Adam tetap memberikan obat itu kepada Bagas. Selama satu bulan kedepan Bagas tetap dalam pantauan tim dokter.
Kediaman rumah Bagas kembali sepi.
"Sepertinya aku harus pulang?" ucap Yoga kepada Bagas.
"Bagaimana jika besok pagi saja, Mas!" ucap Yoga
"Tidak bisa!" jawab Yoga fokus pada tas dan barang-barangnya. Pria itu sudah rindu berat kepada Wita dan pekerjaannya.
"Bagas, demi Emma, aku berharap kau bisa menghargai Mila!" pesan Yoga.
Bagas hanya memilih diam dengan wajah dinginnya.
"Terima kasih banyak Mas, kamu hati-hati di jalan!" Bagas memeluk kecil Yoga. Lalu ia memilih masuk kedalam kamarnya.
Sesampai di kamar. Bagas langsung memasuki kamar mandi. Pria itu membuka jas hitam, kemeja dan celana kemudian mengguyur sekujur tubuhnya dengan air.
*
Pukul 22.09 WIB
Setelah membersihkan diri. Mila masih terlihat berleha-leha di atas kasur sambil mengelus-elus dahi Emma. Mata bayi itu sudah terlihat sayup-sayup akan segera terbang ke alam mimpinya.
"Mila!" Hartati masuk ke dalam kamar Emma.
"I-iyah Bu!" Mila terhentak bangkit.
"Pergilah ke kamar Bagas!"
Mila terdiam merasa tidak percaya jika ia sudah menikah dengan Bagas.
"Pakai ini?" Hartati menyerahkan bingkisan pakaian.
"Ini apa Bu?" tanya polos Mila.
"Buka saja sendiri, sudah pergilah?" Hartati naik ke atas kasur Emma untuk menggantikan posisi Mila.
Mila dengan langkah ragu namun terus berjalan menuju kamar Bagas. Ia memegang dahinya masih merasa bingung dengan perjalanan kehidupannya yang cukup aneh.
"Tujuanku kesini untuk menjadi pengasuh Emma, tapi kenapa sekarang juga menjadi pengasuh Bagas!" ucapnya sebel.
Mila terhentak kaget ketika membuka bingkisan Hartati yang berisi pakaian dinas malam yang memikat pria.
"Untuk apa pakai beginian!" batin cemberut Mila. Tidak terasa langkahnya telah berada di depan pintu kamar Bagas.
Dalam perasaan masih tidak percaya, bingung dan malu. Mila menguatkan diri membuka pintu kamar Bagas yang tidak terkunci.
langkahnya mulai perlahan-lahan memasuki kamar Bagas.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂