Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Wibawa Sang CEO
Arka melangkah keluar dari lift pribadi menuju lantai ruang kerjanya dengan sisa-sisa topeng dingin yang berhasil ia pasang kembali di wajahnya. Langkah kakinya tegas, mencerminkan sosok CEO otoriter yang tak tersentuh.
Namun, begitu ia mendorong pintu ruang kerjanya, aura formal itu langsung amblas begitu melihat pemandangan di dalam.
Tepat di atas meja kerja marmer hitam miliknya, sebuah amplop cokelat tebal berlogo konfidensial sudah tergeletak rapi bersama sebuah tablet. Dokumen tentang PT Samudera yang ia minta kemarin sudah siap.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Doni melangkah masuk dengan santai sambil membawa segelas es kopi susu di tangan kiri dan setumpuk berkas di tangan kanan.
“Wih, pagi banget bos besar kita. Muka kusut amat, Bro. Abis ngeliat apa lu di rumah? Kayak dikejar penagih utang aja,” sapa Doni tanpa beban, langsung mendudukkan diri di sofa sudut ruangan tanpa menunggu dipersilakan.
Arka mendengus pelan, melirik sekilas ke arah sahabat sekaligus asisten setianya itu sambil melonggarkan sedikit simpul dasinya.
“Bacot lu, Don,” balas Arka dengan nada datar khasnya, berjalan menuju meja dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi kerja kulit.
Tangannya terulur membuka amplop cokelat tersebut, menarik keluar beberapa lembar kertas berisi data-data krusial.
Doni terkekeh pelan, meneguk es kopi susunya sebelum bangkit dan mendekati meja kerja Arka.
“Yaelah, sensi amat pagi-pagi. Nih, dokumen profil sama laporan keuangan PT Samudera yang lu minta semalem udah gue bedah tuntas. Data historis sama rekam jejak direksinya lengkap, aman terkendali lah pokoknya,” kata Doni sambil meletakkan tabletnya di atas meja.
Arka mengangguk, fokus membaca lembaran kertas di tangannya.
“Aman gimana maksud lu? Jangan bilang ada celah lagi yang kecolongan kayak project kemarin.”
“Elah, santai kali. Tim legal sama keuangan udah ngerevieu kontraknya semalem. Posisi tawar kita kuat banget, Bro. Secara kan mereka yang dateng melipir ke kita buat minta kerja sama ekspansi logistik,” jelas Doni dengan gaya santainya, meski matanya langsung berubah serius begitu membahas pekerjaan.
Doni melirik jam tangannya, lalu menepuk meja pelan. “Oh ya, satu lagi. Lu kudu siap-siap, meeting bareng perwakilan PT Samudera mulainya 10 menit lagi di ruang rapat utama.”
Arka ikut mengecek jam tangan mewahnya. Pukul 08.50 pagi.
Pria itu menarik napas dalam-dalam, sepenuhnya membuang bayangan wajah polos Naya yang sempat mengusik konsentrasinya pagi tadi. Di tempat kerja, mantel CEO dinginnya harus kembali dikenakan rapat-rapat.
“Oke, sip. Bagus kerjaan lu,” ujar Arka tegas sambil berdiri dari kursinya, merapikan jas abu-abunya dengan sempurna. Wajah santainya seketika menguap, digantikan sorot mata tajam seorang predator bisnis.
“Kumpulin semua anak-anak di ruang rapat sekarang. Gue mau kita bantai habis mereka di meja perundingan, jangan kasih celah buat nego di luar batas kita.”
Doni ikut merapikan kemejanya, menyengir lebar melihat perubahan instan sahabatnya itu.
“Siap, Bos. Gue instruksiin anak-anak buat standby sekarang.”
Arka berjalan mendahului Doni keluar ruangan, melangkah mantap menyusuri koridor kantor yang megah. Di balik kepalanya yang kini sepenuhnya fokus pada strategi bisnis, secuil ingatan tentang tawa geli Naya di apartemen sempat melintas sekilas.
Namun, dengan kedipan mata yang cepat, Arka kembali mengunci rapat-rapat pintu batinnya.
*
*
Suasana di ruang rapat utama lantai atas terasa begitu dingin dan mencekam. Meja rapat panjang berlapis kayu jati gelap itu dikelilingi oleh jajaran petinggi PT Samudera yang tampak duduk dengan postur kaku. Keringat dingin bahkan tampak merembes di pelipis sang direktur utama perusahaan logistik tersebut, pria paruh baya bernama Hartono, yang sedari tadi mencoba mempertahankan senyum gelisahnya.
Di ujung meja, Arka duduk dengan punggung tegap bersandar pada kursi kulit hitamnya. Wajahnya dingin tanpa ekspresi, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat siapa pun berpikir dua kali untuk sekadar bernapas terlalu kencang.
Di sebelah kanannya, Doni duduk siaga dengan tablet di tangan, siap menyodorkan data jika diperlukan.
“Jadi... bagaimana, Pak Arka? Apakah penawaran ekspansi yang kami ajukan bisa dipertimbangkan untuk disetujui dalam waktu dekat?” Hartono membuka suara, memecah keheningan yang sejak tadi menekan. Suaranya sedikit bergetar.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menautkan kedua jemarinya di atas meja, menatap tajam ke arah Hartono seolah sedang membedah isi kepala pria tua itu tanpa pisau bedah.
“Dipertimbangkan?” Arka mengulang dengan suara baritonnya yang rendah namun menggema di seluruh penjuru ruangan.
“Pak Hartono datang ke perusahaan saya, meminta suntikan dana serta kolaborasi eksklusif untuk menyelamatkan logistik kalian yang nyaris limbung musim lalu. Tapi yang kalian tawarkan di atas kertas justru klausul kerja sama yang berat sebelah.”
Hartono menelan ludah susah payah.
“Kami rasa pembagian margin keuntungan itu sudah cukup adil, Pak, mengingat jaringan distribusi kami yang—”
“Cukup adil bagi kalian, hancur bagi saya,” potong Arka telak, suaranya tajam mengiris udara.
Pria itu memiringkan sedikit kepalanya, memberi gestur kepada Doni untuk memajukan dokumen.
Doni dengan sigap menggeser lembaran analisis finansial tepat ke hadapan para petinggi PT Samudera.
“Coba kalian buka halaman empat belas,” lanjut Arka dingin.
“Tim keuangan saya sudah membedah tuntas pembukuan kalian. Utang operasional kalian menumpuk di kuartal ketiga, dan kalian berharap pendanaan dari kami dipakai untuk menutup lubang itu, alih-alih ekspansi murni.”
Skakmat.
Wajah Hartono dan dua orang direktur di belakangnya mendadak pucat pasi. Tidak ada yang berani membuka suara. Ruangan itu kembali terbungkam, menyisakan suara deru AC yang berputar pelan.
Di tengah ketegangan yang mencengkeram itu, Arka kembali menyandarkan tubuhnya, menatap lurus para tamunya dengan sorot pemangsa.
“Saya beri kalian dua pilihan,” ucap Arka tenang, namun penuh tekanan mutlak.
“Revisi ulang kontrak ini dengan porsi kepemilikan saham operasional di bawah kendali penuh perusahaan saya, atau kerja sama ini kita batalkan sekarang juga. Silakan tentukan pilihan dalam waktu lima menit.”
Suasana semakin menegang. Para petinggi PT Samudera saling berpandangan dengan panik, menyadari bahwa mereka tidak punya kartu tawar lagi di hadapan CEO muda yang dikenal dingin dan tak terkalahkan itu.
Waktu lima menit berjalan terasa begitu lambat bagi jajaran direksi PT Samudera. Ruangan rapat utama itu benar-benar dikuasai oleh keheningan yang mencekam, hanya diisi oleh suara ketukan pelan jari Arka di atas meja marmer.
Hartono melirik rekan di sebelah kirinya, lalu menatap sekilas ke arah lembaran revisi kontrak yang disodorkan Doni. Tidak ada jalan keluar lain. Jika kerja sama ini dibatalkan, perusahaan logistik mereka dipastikan bakal ambruk sepenuhnya sebelum akhir tahun.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Hartono menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya mendongak menatap sang CEO muda.
“Baik, Pak Arka,” ucap Hartono pasrah, suaranya parau menahan kekalahan telak.
“Kami... menerima opsi pertama. Revisi kontrak dengan penyerahan porsi kepemilikan saham operasional di bawah kendali perusahaan Anda akan kami setujui.”
Arka menghentikan ketukan jarinya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, bukan sebuah senyuman ramah, melainkan menyeringai tipis penuh kemenangan.
“Keputusan yang bijak, Pak Hartono,” balas Arka tenang namun penuh wibawa.
“Saya benci membuang waktu untuk negosiasi yang tidak realistis. Doni, siapkan dokumen addendumnya sekarang. Pastikan legalitasnya rampung sore ini juga.”
“Siap, Bos!” jawab Doni sigap, menyunggingkan senyum penuh kepuasan melihat bagaimana bos besarnya itu melibas habis perundingan tanpa celah.
“Kalau begitu, meeting selesai. Terima kasih atas waktunya, Pak Hartono.” Arka langsung berdiri dari kursinya tanpa menunggu basa-basi lebih lama.
Ia merapikan jasnya, memutar badan, dan melangkah keluar ruangan rapat dengan punggung tegak dan aura dominasi yang masih pekat.
Namun, begitu ia kembali masuk ke ruang kerjanya dan pintu tertutup rapat, menyisakan dirinya seorang diri di balik meja besar, topeng CEO dingin itu perlahan melunak.
Ia menghela napas panjang, melonggarkan kembali dasinya yang terasa mencekik, lalu tanpa sadar ia tersenyum kecil. Bayangan Naya tiba-tiba kembali melintas di kepalanya, kontras dengan kerasnya dunia korporat yang baru saja ia taklukkan.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak