Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Kabar dari Darto
Hampir dua bulan sejak kepergian Darto ke markas selatan, dan meski Zaki sesekali mendengar kabar tentangnya lewat jaringan kurir yang menghubungkan berbagai pos laskar, tidak ada pertemuan langsung yang bisa mereka lakukan karena kesibukan masing-masing yang terus meningkat.
Pagi itu, ketika Zaki baru kembali dari tugas kurir rutin, seorang pemuda asing muncul di Karangtengah, wajahnya penuh debu perjalanan tapi senyumnya familiar.
"Kang Zaki!"
Zaki menoleh, dan matanya membulat mengenali suara itu, meski wajah di depannya tampak lebih kurus dan matang dari terakhir kali mereka bertemu.
"Darto?!"
Mereka berdua berlari saling merangkul di tengah halaman, tawa dan haru bercampur jadi satu dalam pelukan yang erat.
"Kamu kurus sekali," kata Zaki, menatap sahabatnya dari kepala sampai kaki. "Tapi kelihatan lebih kuat."
"Latihan keras, Kang," jawab Darto, tersenyum lebar meski ada bayangan kelelahan di matanya yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. "Saya dapat izin dua hari untuk mengantar laporan ke sini. Sekalian menjenguk kalian semua."
Mereka duduk di depan lumbung yang dulu menjadi tempat tidur bersama, bertukar cerita tentang berbagai hal yang terjadi selama masa perpisahan mereka. Darto bercerita tentang latihan yang keras, tentang beberapa kali harus bersembunyi dari patroli Belanda, dan tentang kekaguman yang tumbuh terhadap kepemimpinan Gus Hanif di medan yang sesungguhnya.
"Gus Hanif itu pemimpin yang luar biasa, Kang," kata Darto dengan mata berbinar kagum. "Beliau selalu mendahulukan keselamatan anak buahnya sebelum dirinya sendiri. Beberapa kali, beliau maju sendiri untuk memastikan jalur aman sebelum menyuruh yang lain bergerak."
Zaki mendengarkan dengan seksama, rasa hormatnya pada Gus Hanif semakin bertambah mendengar cerita-cerita itu, sekaligus semakin menyadari betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan pemuda itu, tidak hanya di medan perang, tapi juga dalam hal yang lebih personal menyangkut Nafisah.
"Bagaimana dengan kamu, Kang?" tanya Darto akhirnya, menatapnya dengan seringai jahil yang mulai muncul kembali, tanda bahwa meski matang oleh pengalaman, sahabatnya itu masih menyimpan sisi jenaka yang selalu menghangatkan suasana. "Kabar tentang kamu dan Nafisah bagaimana? Saya dengar dari beberapa kurir lain, katanya kalian sudah lebih terbuka sekarang."
Zaki tersenyum, menceritakan perkembangan yang terjadi: percakapan dengan Gus Hanif, restu bersyarat dari Ustaz Zahid, dan surat-surat yang kembali mengalir di antara mereka meski tetap dengan kehati-hatian.
"Alhamdulillah, Kang," kata Darto, menepuk bahunya dengan hangat. "Saya turut senang mendengarnya. Perjuangan kalian berdua akhirnya mulai menemukan jalan terang."
Sore harinya, Darto meminta izin untuk mengunjungi area santriwati, sebuah permintaan khusus yang disetujui Bu Nyai mengingat statusnya sebagai anggota laskar yang sedang bertugas, bukan sekadar santri biasa yang harus menjaga jarak ketat seperti dulu.
Pertemuan itu penuh haru, terutama ketika Nafisah dan beberapa santriwati lain menyampaikan rasa syukur mereka atas keselamatan Darto selama ini, dan duka yang masih mereka rasakan atas kepergian ayahnya.
"Terima kasih atas doa dan dukungan kalian semua," kata Darto, suaranya bergetar menahan haru. "Itu sangat berarti bagi saya, terutama di saat-saat sulit."
Setelah pertemuan singkat itu, Darto sempat menyempatkan diri bicara empat mata dengan Nafisah, sebuah percakapan yang kemudian ia ceritakan kepada Zaki malam harinya, sebelum keberangkatannya kembali ke markas.
"Saya bilang padanya, Kang," kata Darto, duduk berdampingan dengan Zaki di depan lumbung, menatap bintang-bintang yang bertebaran cerah, "kalau dia beruntung mendapatkan orang sepertimu. Jujur, sabar, dan tidak pernah setengah-setengah dalam menjaga kepercayaan yang diberikan."
"Kamu terlalu memuji, Darto."
"Saya cuma jujur, Kang. Sama seperti kamu selalu jujur dalam segala hal." Darto menepuk punggungnya. "Dan Nafisah bilang, dia juga bersyukur, karena di tengah zaman yang penuh kekacauan ini, dia menemukan seseorang yang tetap teguh menjaga hati dan janjinya, meski dengan segala keterbatasan dan ujian yang ada."
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati kebersamaan yang singkat namun berharga itu, sebelum akhirnya Darto harus bersiap untuk kembali ke tugasnya di markas selatan keesokan paginya.
"Kang," kata Darto sebelum mereka tidur malam itu, suaranya lebih serius dari biasanya, "saya dengar kabar, mungkin dalam beberapa minggu ke depan, akan ada perundingan besar antara pemerintah kita dengan Belanda. Kalau berhasil, mungkin keadaan akan lebih stabil, dan rombongan pengungsian bisa mulai memikirkan kepulangan ke Al-Hikmah."
"Semoga, Darto. Saya rindu Al-Hikmah."
"Saya juga, Kang. Rindu tembok tinggi itu, rindu dengkuran Kang Ridwan, rindu semuanya." Darto tertawa kecil, meski ada kerinduan yang tulus di balik candaannya. "Semoga kita semua bisa segera pulang, dan memulai babak baru yang lebih tenang, setelah semua ujian yang telah kita lalui bersama ini."
Zaki mengangguk, merasakan harapan yang sama tumbuh di dadanya. Di tengah kegelapan malam yang mulai terasa lebih bersahabat, mereka berdua tertidur dengan hati yang penuh syukur dan harapan, menantikan hari-hari yang akan datang, entah apa pun yang akan dibawanya, dengan keyakinan bahwa persahabatan, kejujuran, dan kesabaran yang telah mereka jaga bersama, akan selalu menjadi bekal berharga dalam menghadapi apa pun yang menanti di depan.