Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan Malam
"Argh, malu banget! Aku nggak mau keluar kamar selama seminggu, pokoknya!"
Mawar memukul-mukul permukaan kasur dengan kasar, lalu menenggelamkan wajahnya jauh ke dalam bantal empuk berbau wangi sabun itu. Rasanya ia ingin sekali menghilang dari muka bumi saat itu juga, atau seandainya bisa, ia ingin menukar wujudnya menjadi benda mati agar tak perlu menatap siapa pun atau bertemu siapa pun sepanjang hari ini. Rasa malu yang menyengat masih terasa membakar pipinya, seolah-olah kejadian memalukan tadi pagi baru saja berlangsung sedetik yang lalu. Bayangan tatapan Kak Bima yang tenang namun tajam terus berputar di kepalanya, membuatnya semakin meringkuk malu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar jelas, memecah keheningan dan lamunan sedih Mawar. Gadis itu perlahan mengangkat kepalanya, mengusap sisa air mata yang sempat menggenang di sudut matanya dan membasahi pipi. Ia juga mengelap hidungnya yang sedikit berair dengan ujung kaos yang dikenakannya.
"Siapa?" tanya Mawar, suaranya terdengar serak dan berat, masih tersisa jejak kekesalan dan rasa malu.
Tak ada jawaban yang terdengar. Hanya ketukan itu yang terdengar kembali, kali ini lebih keras dan lebih berirama, seolah orang di balik pintu itu sudah tidak sabar lagi.
"Bu, aku tahu itu Ibu! Pokoknya hari ini aku nggak mau keluar dari kamar ini. Nanti saja aku temui mereka kalau penampilanku sudah rapi dan aku sudah siap menghadapi siapa pun!" seru Mawar dengan suara sedikit meninggi, berharap sang ibu akan mengerti keadaannya dan pergi meninggalkannya sendirian.
Namun orang di balik pintu seolah sama sekali tidak mengerti atau mungkin sengaja tidak mau mengerti. Ketukan itu terus terdengar, makin lama makin sering, seakan tidak akan berhenti sebelum pintu itu dibukakan.
"Kenapa sih Ibu tidak bisa mengerti rasanya dipermalukan begini?" geram Mawar dalam hati, dada mulai naik turun menahan kesal.
"Kalau dibiarkan terus, pasti Ibu akan mengetuk berkali-kali sampai aku terpaksa keluar. Menyebalkan sekali!"
Dengan langkah yang berat, seolah kakinya terikat beban berat, Mawar berjalan mendekati pintu kayu itu. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, lalu membuka pintu itu dengan gerakan kasar dan cepat.
"Ibu, bisa tidak jangan ganggu aku—"
Ucapan Mawar terpotong seketika di tengah kalimatnya. Mulutnya sedikit terbuka, matanya terbelalak kaget.
Di ambang pintu itu tidak berdiri sang ibu. Yang berdiri di sana justru Kak Bima, suami dari kakak kandungnya, Jingga.
Mawar tertegun kaku di tempat. Matanya bergerak cepat melirik ke kanan dan ke kiri, menelusuri sepanjang lorong rumah yang sepi itu. Tidak ada siapa-siapa lagi. Hanya mereka berdua saja yang ada di sana.
"Lho... Kak Bima? Kenapa Kakak ada di sini? Mana Ibu dan Kak Jingga?" tanya Mawar, suaranya mendadak berubah menjadi sangat pelan dan halus, hilang sama sekali nada kesal yang tadi terdengar.
Seketika itu juga, kejadian memalukan di ruang tamu tadi pagi terlintas kembali jelas di benaknya, saat ia berlari masuk dengan rambut berantakan dan pakaian serba santai. Wajah gadis itu perlahan memerah merona, mulai dari pipi, menjalar naik hingga ke telinga dan ke pangkal lehernya. Ia buru-buru menundukkan pandangan, menatap lantai keramik yang mengkilap itu, tak berani menatap mata pria di hadapannya.
Bima tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat lembut namun di baliknya tersimpan makna yang sulit dibaca. Tatapannya menelusuri wajah Mawar perlahan, menatap lekat-lekat seolah sedang mengamati sesuatu yang sangat berharga dan indah.
"Ibu dan Kak Jingga ada urusan mendadak di luar rumah. Ada kerabat jauh yang datang berkunjung dan mereka harus menyambutnya, mungkin baru akan pulang larut malam nanti," jawab Bima dengan suara rendah yang berat dan tenang.
"Kakak lewat di depan pintu ini, lalu melihat kamu belum keluar kamar sejak tadi. Pasti kamu belum makan siang, kan? Pasti juga sudah lapar sekali di dalam sini?" tanyanya lagi dengan nada lembut, persis seperti seorang kakak yang penuh perhatian.
Kemudian Bima mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan sebuah kantong kertas cokelat yang beraroma sangat harum dan menggugah selera.
"Ini, Kakak belikan makanan untukmu. Tahu saja kamu pasti belum sempat makan apa-apa."
Mawar mencium bau khas kuah santan kental berpadu dengan aroma rempah-rempah yang kuat dan lezat. Aroma daging empuk dan daun jeruk yang wangi itu segera memenuhi ruang sempit di sekitarnya. Mata gadis itu berbinar tak sadar, rasa lapar yang sedari tadi tertutup rasa malu dan kesal, kini kembali menyerbu masuk dengan kuat.
"Soto daging...? Kok Kak Bima tahu aku lagi pengen banget makan ini? Padahal aku tidak pernah bilang pada siapa pun," gumam Mawar, rasa malu di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan rasa heran dan penasaran.
"Tentu saja tahu. Kakak sudah kenal kamu sejak kamu masih sekecil ini," ucap Bima sambil mengangkat tangannya setinggi pinggangnya, seraya tertawa pelan dan rendah.
"Enak saja bicara! Waktu Kakak menikah dengan Kak Jingga dulu, aku sudah duduk di bangku kelas satu SMP, lho! Sudah besar dan pintar, tidak sekecil dan tidak sepolos itu tahu!" bantah Mawar dengan mendengus pelan, namun sudut bibirnya tak kuasa menahan senyum kecil yang mulai terukir.
"Iya, iya... Benar juga," jawab Bima sambil mengangguk-angguk pelan, namun senyumnya perlahan berubah, menjadi lebih dalam dan penuh makna. Tatapannya menatap wajah Mawar begitu lekat, seolah ingin menghafal setiap lekuk wajah gadis itu.
"Memang kamu sudah besar sekarang. Sudah tumbuh menjadi gadis yang dewasa, anggun... dan jauh lebih cantik dari yang Kakak bayangkan. Bahkan... jauh lebih cantik daripada Kak Jingga sendiri."
Suasana mendadak berubah menjadi hening dan canggung. Angin sepoi-sepoi yang masuk dari celah jendela terasa begitu jelas terdengar.
Mawar menunduk lebih dalam lagi, kedua tangannya meremas ujung bajunya. Jantungnya berdegup kencang, berpacu cepat tak beraturan, membuat dadanya terasa sesak dan hangat. Pujian itu terdengar berbeda, terasa berat dan hangat, bukan seperti pujian biasa yang diucapkan seorang kakak kepada adiknya. Ada sesuatu yang lain terselip di sana, sesuatu yang membuat dadanya terasa berdebar-debar tak menentu.
Melihat reaksi Mawar yang diam membisu dan wajahnya yang semakin merah padam, Bima berdeham pelan, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang itu.
"Sudah, ayo kita makan dulu. Nanti makanannya dingin dan rasanya berubah tidak enak lagi. Sebelum berangkat tadi, Ibu dan Kak Jingga juga sempat menitip pesan agar kita berdua makan malam lebih dulu, jangan menunggu mereka pulang nanti kelaparan."
"O... oke, ayo..." jawab Mawar terbata-bata. Ia segera melangkah lebih dulu berjalan menuju ruang makan, berusaha keras menyingkirkan rasa aneh dan gelisah yang baru saja menyelinap masuk ke dalam hatinya.
***
Di meja makan panjang yang terbuat dari kayu jati tua itu, rasa lapar yang mendesak akhirnya mengalahkan segala rasa canggung dan pikiran-pikiran aneh yang memenuhi kepala Mawar. Gadis itu duduk, lalu mulai menyantap soto daging yang masih mengepul panas dengan sangat lahap. Ia makan dengan nikmat sampai kuah terakhir di dalam mangkuknya habis tak bersisa, perutnya pun terasa penuh dan nyaman.
"Enak sekali... Makasih ya, Kak. Aku sudah kenyang dan puas sekali," ucap Mawar sambil mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Ia berdiri perlahan, lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
"Kalau begitu aku kembali ke kamar dulu ya, Kak. Aku mau beristirahat sebentar." tandasnya.
"Baiklah."
Bima menjawab dengan suara pelan dan lembut, namun matanya sama sekali tidak beralih, terus menatap punggung dan langkah kaki Mawar sampai gadis itu menghilang sepenuhnya di balik pintu kamar. Di balik senyum tenangnya, tergambar jelas sorot mata penuh hasrat dan keinginan yang selama ini ia pendam rapat-rapat, tersembunyi di balik kedok kesopanan dan kasih sayang sebagai kakak ipar.
***
Sesampainya kembali di kamar, Mawar langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Perutnya sudah kenyang dan nyaman, rasa lelah mulai menyerang tubuhnya, dan matanya perlahan-lahan mulai terasa berat dan sulit dibuka. Perlahan-lahan, kesadaran gadis itu mulai melayang dan menjauh, didorong rasa kantuk yang makin kuat.
Namun, tepat saat ia hampir terlelap sepenuhnya, tepat saat pikirannya mulai gelap dan tenang, tiba-tiba Mawar merasakan sesuatu yang hangat, basah, dan kenyal menjelajah perlahan di kulit halus lehernya. Sentuhan itu bergerak lambat, lembut namun pasti, bergerak naik turun mengikuti garis lehernya, meninggalkan jejak basah yang terasa panas dan merinding.
Mawar terkejut setengah mati. Matanya terbuka lebar seketika, rasa kantuknya lenyap seketika digantikan rasa takut dan gelisah yang luar biasa.
Ia berusaha ingin berteriak, ingin bergerak, namun tubuhnya terasa berat dan kaku, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang menahan seluruh anggota tubuhnya agar tak bisa bergerak sedikit pun. Di dekat telinganya, terdengar suara napas berat dan hangat, yang terdengar sangat dekat, sangat nyata, dan sangat mengerikan.
Bersambung...