NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:52.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Bunga Bercahaya Kakak

Cahaya pagi menyinari atap-atap Istana Kerajaan Chen seolah tragedi langit semalam hanyalah mimpi buruk yang telah menguap. Para pelayan kembali menyapu pelataran, sementara prajurit berpatroli dengan kewaspadaan ekstra setelah kejadian yang membuat seluruh penghuni istana jatuh berlutut memuntahkan darah.

Di tengah kesibukan itu, Pangeran Ketiga Lin Chen menyelinap masuk ke dalam Perpustakaan Kerajaan.

Di kehidupan sebelumnya, ia membelah lautan bintang untuk mencari makam para dewa. Kini, ia harus menyelinap di balik rak-rak buku sejarah fana yang berdebu tebal demi mencari pintu masuk menuju anomali energi Yin yang ia rasakan semalam.

Menurut peta arsitektur istana kuno yang sempat ia baca sekilas, terdapat sebuah saluran air tua yang dibangun pada awal berdirinya Kerajaan Chen, membentang tepat di bawah sayap barat istana. Lin Chen berhenti di depan sebuah rak buku besar yang berisi catatan silsilah kerajaan yang tidak pernah disentuh selama ratusan tahun.

Tanpa mengeluarkan Qi, Lin Chen menekan salah satu batu bata di balik rak tersebut menggunakan kekuatan fisiknya.

GRRRKKK...

Rak buku itu bergeser lambat, menampakkan sebuah lorong batu yang gelap, lembap, dan dipenuhi sarang laba-laba. Bau tanah basah dan energi Yin yang dingin langsung menyergap hidungnya.

Lin Chen melangkah masuk. Pintu batu tertutup kembali di belakangnya, menelannya dalam kegelapan mutlak. Bagi mata keemasan Lin Chen, kegelapan bukanlah penghalang. Ia menyusuri anak tangga batu yang menurun tajam, terus melangkah jauh ke dalam perut bumi.

Semakin dalam ia turun, udara fana mulai terasa berbeda.

Sring!

Sebuah bunyi gesekan kawat tipis terdengar. Lin Chen secara tidak sengaja menginjak ubin pemicu jebakan. Dari dinding di sebelah kirinya, tiga batang anak panah melesat dengan kecepatan tinggi mengarah ke leher dan jantungnya.

Namun, anak panah itu tidak memancarkan warna besi biasa. Ujungnya diselimuti kabut biru pucat.

Lin Chen mengangkat dua jarinya, menangkap ketiga anak panah itu secara bersamaan dengan gerakan yang luar biasa santai. Ia menatap ujung panah yang kini membeku mengeluarkan embun beku.

"Jebakan fana yang mulai bermutasi," gumam Lin Chen, mematahkan anak panah itu menjadi debu.

Bocoran Qi dari makam kuno di bawah sana telah merembes ke benda-benda mati di lorong ini. Karat pada bilah jebakan berubah menjadi racun spiritual tingkat rendah, dan lumut yang menempel di dinding mulai hidup, bergerak perlahan layaknya tentakel mencari mangsa.

Lin Chen terus berjalan, membersihkan setiap jebakan mutasi itu tanpa suara. Ia harus memastikan jalan ini aman sebelum ia kembali ke atas.

Namun, saat ia berbelok di sebuah tikungan... Niat Jiwanya mendadak menangkap suara langkah kaki. Langkah itu sangat ringan, tidak memiliki ritme kultivasi, dan sesekali diiringi oleh senandung merdu yang tidak asing.

Mata Lin Chen menyipit memancarkan Niat Membunuh. Siapa yang berani menyusup ke tempat berbahaya ini?!

Lin Chen menyatu dengan bayang-bayang stalaktit, bersiap mencekik leher penyusup itu. Saat sosok itu muncul dari balik tikungan, tangan Lin Chen melesat keluar.

Namun, tangannya berhenti mendadak tepat satu inci dari leher sosok tersebut.

"Wah, mekarnya lebih indah dari minggu lalu!" seru sosok itu dengan nada gembira.

Lin Chen mematung. Matanya membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, kehilangan seluruh wibawa tiraninya.

Berdiri di depannya adalah seorang wanita cantik berusia dua puluh tujuh tahun, mengenakan gaun kuning sederhana dan membawa sebuah keranjang anyaman bambu. Ia adalah Lin Xue, kakak perempuannya!

Lin Xue sedang berjongkok di sudut lorong yang lembap, bersenandung pelan sambil memetik bunga-bunga aneh yang memancarkan cahaya biru neon dalam gelap. Wanita itu sama sekali tidak menyadari bahwa satu jengkal di atas kepalanya, seekor lumut merambat bermutasi sedang bersiap menjatuhkan diri untuk mencekiknya.

WUSSH!

Lin Chen menjentikkan jarinya dalam diam. Lumut bermutasi itu hancur menjadi debu bahkan sebelum sempat menyentuh sehelai rambut kakaknya.

"Kak... Xue?" panggil Lin Chen, suaranya terdengar luar biasa bingung dan kehabisan kata-kata.

Lin Xue tersentak kaget. Ia memutar tubuhnya dan menatap Lin Chen dengan mata terbelalak, persis seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen.

"Chen'er?!" jerit Lin Xue, buru-buru menyembunyikan keranjang bunganya di belakang punggung. "Apa yang kau lakukan di sini?! Ini ruang rahasia Kakak!"

Lin Chen mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. Ia, seorang penguasa abadi, sedang menembus labirin mematikan demi mencari pusaka untuk keluarga. Dan kakaknya... menggunakan labirin beracun ini sebagai kebun bunga rahasianya?!

"Seharusnya aku yang bertanya," Lin Chen berjalan mendekat, menatap bunga-bunga biru bercahaya di keranjang Lin Xue.

Itu adalah Anggrek Hantu, tanaman spiritual tingkat rendah yang memakan energi Yin. Manusia fana yang terlalu sering terpapar bunga ini seharusnya mengalami demam berdarah dan kerusakan organ dalam karena tidak mampu menahan hawa dinginnya.

Namun, Lin Chen segera menyadari sesuatu. Selama bertahun-tahun, ia sering menggunakan Qi-nya secara diam-diam untuk memijat bahu kakaknya saat Lin Xue kelelahan merajut, atau memasukkan setetes embun Qi murni ke dalam teh paginya. Tanpa disadari, tubuh fana Lin Xue telah memiliki kekebalan spiritual dasar.

"Dari mana Kakak tahu tempat ini?" tanya Lin Chen, tersenyum pasrah.

Lin Xue terkikik pelan, merasa aman karena yang menemukannya hanyalah adik kesayangannya. "Aku menemukannya secara tidak sengaja sepuluh tahun lalu saat mengejar kucing istana yang masuk ke balik rak buku. Bunga-bunga di sini bisa menyala dalam gelap, Chen'er! Aku sering mengambilnya untuk dijadikan lampu tidur di kamarku. Sangat cantik, kan?"

Melihat senyum polos kakaknya yang sedang memegang bunga penyerap Yin, Lin Chen tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Jika para jenius Alam Abadi tahu bahwa seorang wanita fana memetik Anggrek Hantu hanya untuk dijadikan lampu tidur, mereka pasti akan memuntahkan darah karena frustrasi, batin Lin Chen.

"Kakak," Lin Chen duduk berjongkok di samping Lin Xue, suaranya berubah lembut namun serius. "Bunga bercahaya ini sangat indah, tapi debusari mereka bisa membuat perut Kakak sakit jika dihirup sembarangan."

Lin Xue memiringkan kepalanya. "Benarkah? Tapi selama ini Kakak tidak pernah sakit."

"Itu karena Kakak belum memetik yang paling terang," Lin Chen mulai memutar otaknya. Ini adalah kesempatan sempurna untuk mulai memperkenalkan fondasi Qi pada kakaknya tanpa membuatnya ketakutan.

"Mau main sebuah permainan rahasia denganku?" tawar Lin Chen dengan mata berbinar jenaka.

"Permainan apa?" mata Lin Xue langsung bersinar tertarik.

"Ini adalah teknik pernapasan rahasia yang aku baca dari gulungan kuno di perpustakaan," bohong Lin Chen dengan sangat lancar. Ia mengambil tangan Lin Xue, lalu menekan lembut titik meridian di pergelangan tangannya. "Tarik napas panjang dari hidung... bayangkan udara itu tidak berhenti di dada Kakak, melainkan turun ke perut bagian bawah. Tahan sebentar... lalu hembuskan pelan-pelan."

Lin Xue tertawa kecil, mengira adiknya sedang bermain tabib-tabiban. Namun ia tetap menurut. Ia menarik napas panjang, dan Lin Chen secara diam-diam memandu embusan energi udara itu menggunakan setitik Qi miliknya untuk menembus meridian Dantian kakaknya yang masih tersegel.

BZZZT.

Mata Lin Xue membelalak terkejut. "Chen'er! Perut Kakak tiba-tiba terasa sangat hangat! Rasanya seperti... ada aliran air kecil yang bergerak di dalam tubuh Kakak!"

"Nah, itu namanya energi alam," senyum Lin Chen merekah. "Mulai sekarang, setiap kali Kakak ingin memetik bunga bercahaya ini, Kakak harus menggunakan napas rahasia itu. Dengan begitu, debusari bunganya tidak akan bisa membuat Kakak sakit, dan Kakak akan merasa jauh lebih sehat. Rahasia kita berdua, oke?"

Lin Xue mengangguk antusias, tidak menyadari bahwa ia baru saja diajari fondasi paling dasar dari Teknik kultivasi Pengumpulan Qi oleh seorang penguasa abadi!

"Ayo, Chen'er! Kakak akan tunjukkan padamu tempat bunga yang paling terang!" Lin Xue menggandeng tangan adiknya, menarik Lin Chen masuk lebih dalam ke dalam labirin.

Sepanjang perjalanan, Lin Xue terus bersenandung dan bercerita tentang gosip pelayan istana, sementara di belakangnya, mata keemasan Lin Chen memindai setiap inci lorong. Setiap kali ada jebakan panah beracun yang nyaris terpicu, atau kelelawar mutasi yang hendak menukik dari langit-langit, Hawa Kekacauan Lin Chen memusnahkan mereka menjadi debu dalam keheningan, memastikan kakaknya tidak melihat apa pun selain dinding batu yang aman.

Langkah mereka akhirnya terhenti di ujung labirin bawah tanah tersebut.

Ruangan itu meluas menjadi sebuah gua raksasa. Di tengah gua, udara terasa membekukan hingga napas mereka berubah menjadi kabut putih.

Di ujung gua, tertanam sebuah pintu perunggu raksasa setinggi sepuluh tombak yang dipenuhi ukiran makhluk-makhluk bersayap yang tidak dikenal. Pintu itu tertutup rapat oleh lumut hijau yang tebal, namun memancarkan penindasan Yin yang luar biasa purba.

Mata Lin Chen langsung tertuju pada tanah tepat di depan pintu perunggu tersebut.

Di sana, tumbuh sekuntum teratai yang kelopaknya berwarna merah darah, batangnya putih pucat menyerupai tulang manusia. Teratai Darah Tulang Bumi!

"Bahan utamanya," bisik Lin Chen puas.

Namun, sebelum Lin Chen melangkah maju untuk memanennya, Lin Xue sudah lebih dulu berlari kecil ke arah pintu perunggu tersebut dengan mata berbinar kagum.

"Wah, pintu apa ini? Ukirannya indah sekali..." gumam Lin Xue, tangannya yang rapuh terulur untuk menyentuh permukaan perunggu yang dingin itu.

"Kak Xue, jangan sentuh—!"

Peringatan Lin Chen terlambat. Jari fana Lin Xue menyentuh permukaan pintu tersebut.

WUUUNGGG!

Seketika, seluruh ukiran makhluk bersayap di pintu perunggu itu menyala merah darah. Hawa Yin yang bergejolak meledak menyingkirkan lumut yang menempel. Tanah di bawah kaki mereka bergetar luar biasa hebat, membuat Lin Xue menjerit dan jatuh terduduk.

Dari balik pintu perunggu raksasa itu... terdengar suara geraman yang sangat berat, serak, dan kuno. Sebuah geraman yang bukan berasal dari binatang fana maupun kultivator, melainkan eksistensi yang telah terkubur selama ribuan tahun, dan kini... ia mencium bau darah manusia segar.

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!