NovelToon NovelToon
Bukan Takdir Yang Kupilih

Bukan Takdir Yang Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Alisha Chanel

Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.

Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.

Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghilangkan Jejak

Udara pagi yang semula terasa dingin kini berubah menyesakkan, seakan langit pun ikut menahan napas menyaksikan apa yang hendak terjadi. Di tepi jurang curam yang dihimpit hutan lebat, suara angin menderu tajam, membelah dedaunan di bawah kedalaman yang tak terlihat dasarnya, hanya kabut tebal dan kegelapan yang menyambut siapa pun yang jatuh ke dalam sana.

Bima berdiri di sana, napasnya memburu, keringat dingin menetes di pelipis meski udara begitu sejuk. Di kakinya terbaring tubuh Gala yang masih terengah lemah, wajahnya berlumuran darah, matanya yang sebelah tertutup perban sederhana yang kini sudah basah merah. Kesadaran pria itu masih samar, namun sesekali bibirnya bergerak, menyebut nama Mawar dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Jingga berdiri tak jauh dari sana, kedua tangannya meremas lengan baju hingga kainnya terlipat kusut. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, seakan seluruh darah di tubuhnya telah tersedot habis.

"Mas... apa yang kau rencanakan... jangan katakan..." suara Jingga pecah, matanya tak lepas dari pandangan ke arah jurang yang menganga lebar di hadapan mereka.

Bima berlutut sejenak, memastikan Gala belum sepenuhnya sadar, lalu bangkit berdiri tegak, menatap sang istri dengan tatapan yang dingin dan tajam. "Inilah satu-satunya jalan, Jingga. Kalau dia hidup, semuanya berakhir. Nama baik kita, kedudukan kita, masa depan kita, semuanya akan hancur bersamaan."

"Jalan apa? Membunuhnya?!" Jingga melangkah mundur, matanya membelalak tak percaya. "Kau gila, Mas! Itu pembunuhan! Kita tidak bisa melakukan hal seburuk itu!"

"Kalau tidak kita lakukan, kita yang akan binasa!" Bima mendekat, suaranya rendah namun tegas, penuh tekanan. "Dia tahu segalanya, tentang apa yang kau lakukan malam itu pada Mawar! Sekalinya dia membuka mulut, siapa yang akan disalahkan duluan? Kau, Jingga! Kau kakak yang menendang adikmu sendiri sampai lari ke hutan! Kau yang semua orang curigai!"

Jingga tertegun, seakan dipukul tepat ke ulu hati. Kata-kata Bima itu benar, rasa takut yang selama ini ia sembunyikan kini terungkap begitu saja.

"Aku... aku tidak bermaksud..." suaranya melemah, air mata menetes tanpa izin. "Tapi membunuhnya... itu bukan jawabannya, Mas... kita bisa bicara, kita bisa menjelaskan..."

"Menjelaskan apa?!" Bima menyela cepat, mendekat hingga wajahnya hanya beberapa jengkal dari sang istri. "Kau pikir ada yang mau mendengar penjelasan kita setelah semua yang terjadi? Gala akan menyebarkan kecurigaan ke mana-mana. Kalau dia hidup, kita mungkin akan dipenjara! Kau mau itu terjadi?"

"Tidak... tentu saja tidak..." Jingga menggeleng kuat, namun kakinya terasa lemas. "Tapi membunuhnya... Tuhan pasti melihat..."

"Kita tidak punya pilihan lain!" Bima mencengkeram bahu sang istri, mengguncang pelan namun kuat. "Dengar aku, Jingga. Kita berdua di sini. Tidak ada orang lain. Tidak ada saksi. Kalau dia jatuh ke jurang ini, semua orang akan mengira dia kehilangan keseimbangan karena luka-lukanya, tersesat, atau nekat. Tidak ada yang akan menyalahkan kita."

Jingga diam, menunduk dalam. Pikirannya berkecamuk, di satu sisi, rasa ngeri membayangkan mencabut nyawa orang lain, di sisi lain, ketakutan akan dibuang, dihukum, dan kehilangan segala yang ia miliki.

"Jangan..." bisiknya pelan, namun suaranya tak lagi mantap. "Kita cari cara lain, Mas... tolong..."

"Tidak ada cara lain!" Bima melepaskan cengkeraman Jingga, berbalik menatap tubuh Gala yang mulai bergerak pelan. "Kalau kau tidak mau membantu, biarkan aku sendiri. Tapi ingat, kalau aku tertangkap, aku tidak akan diam sendirian. Aku akan bilang kau yang menyuruhku. Aku akan bilang semua ini atas perintahmu."

Jingga mendongak, matanya membelalak. "Mas... bagaimana bisa kau bicara begitu... aku istrimu..."

"Karena aku tidak mau hancur sendirian!" Bima menatapnya tajam, tanpa belas kasihan. "Pilihlah, Jingga. Bersamaku menutup rapat rahasia ini, atau ikut hancur bersamaku. Tidak ada jalan ketiga."

Keheningan menyelimuti mereka, hanya terdengar suara angin yang menderu di antara pepohonan. Jingga menatap wajah Bima, pria yang dulu ia percaya seumur hidupnya, kini terlihat asing, mengerikan, siap mengorbankan siapa pun demi dirinya sendiri. Namun ketakutan perlahan menguasai hatinya, ketakutan dianggap penjahat, dibenci semua orang, kehilangan tempat bernaung.

Dengan tangan yang gemetar hebat, langkah Jingga perlahan bergerak mendekat. Setiap langkah terasa berat, seakan ada rantai yang mengikat kakinya. Air mata terus mengalir, membasahi pipi yang terasa dingin.

"Baiklah..." suara Jingga serak, nyaris tak terdengar. "Baiklah, Mas... aku bantu... tapi janjikan padaku... tidak akan ada yang tahu... tidak akan ada yang tahu..."

Bima menghela napas lega, sedikit pun tak tampak rasa bersalah di wajahnya. "Tenanglah. Tidak ada yang tahu. Ini rahasia kita berdua selamanya."

Mereka berdua berlutut di sisi Gala. Pemuda itu membuka matanya perlahan, pandangannya kabur, namun ia bisa melihat sosok di hadapannya, Bima, dan Jingga.

"Jingga..." suara Gala lemah, berdarah di sudut bibirnya. "Kau... katakan... ke mana Mawar..."

Jingga memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata pria itu. "Maafkan aku, Gala..." bisiknya lirih.

Bima langsung mencengkeram bahu Gala, menariknya kasar hingga tubuh pemuda itu terhuyung. "Sudah waktunya kau beristirahat, Gala. Dan bawa semua rahasiamu ke tempat yang tak akan ada yang bisa menemukannya."

"Apa... maksudmu..." Gala berusaha melawan, namun tenaganya sudah habis. Ia menatap Jingga yang berdiri diam, menunduk, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. "Jingga... tolong... jangan biarkan dia..."

Jingga mengatupkan matanya rapat-rapat, menahan isak tangis yang hendak meledak. Ia ingin berteriak, ingin mencegah, namun rasa takut menahan lidahnya.

Bima menarik tubuh Gala mendekati tepi jurang. "Bantu aku, Jingga! Cepat!" perintahnya tajam.

Tangan Jingga gemetar luar biasa saat menyentuh tubuh Gala. Rasanya terasa panas, seakan membakar kulitnya. Setiap sentuhan terasa seperti dosa yang membekas di jiwa.

"Maafkan aku..." ia bergumam berulang-ulang, tak tahu apakah kepada Gala atau kepada dirinya sendiri. "Aku takut... aku begitu takut..."

Bersama-sama, mereka mendorong tubuh itu perlahan, lalu dengan satu sentuhan terakhir yang terasa mematikan, tubuh Gala meluncur turun. Suara desingan angin menyambutnya, diikuti bunyi dedaunan yang terinjak, lalu keheningan mendalam.

Jingga meluruh ke tanah, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar tak terkendali. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya akhirnya pecah, memecah keheningan hutan yang mencekam.

"Aku melakukannya... aku benar-benar melakukannya..." isaknya, merasa seakan jiwanya ikut jatuh ke dalam jurang itu.

Bima berdiri tegak, menatap ke bawah tanpa perasaan. Ia merapikan pakaiannya, memastikan tak ada jejak yang tertinggal. "Sudah selesai. Sekarang ingat, Jingga kita tidak pernah ke sini. Kita tidak tahu apa-apa. Gala tersesat, jatuh sendiri. Mengerti?"

Jingga mengangguk lemah, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tahu tak ada rahasia yang bisa tertutup selamanya.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!