Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Instalasi Forensik.
Keesokan hari, Ardi datang ke rumah sakit ketika istirahat makan siang. Ia janji bertemu dengan Ani di mesjid rumah sakit. Mereka bersama-sama akan ke Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah untuk tes DNA Fardan dan Malika. Ketika ia menginjakkan kaki di halaman mesjid, ia melihat Ani sedang duduk di teras mesjid. Ardi mendekati Ani.
“Sudah nunggu lama?” tanya Ardi kemudian ia duduk di sebelah Ani.
“Belum lama, baru datang beberapa menit yang lalu,” jawab Ani.
Ardi memberikan sebuah kartu undangan kepada Ani. Kartu undangan itu berwarna merah muda dan dibungkus plastik. “Undangan dari Edwin,” kata Ardi.
Ani membaca kartu undangan tersebut. Namanya tertulis di depan kartu undangan. Ani membuka plastik lalu mengeluarkan kartu undangan dari dalam amplop. Ia membaca isi undangan. “Saya tidak bisa datang,” kata Ani usai membaca undangan dari Edwin. Ia memasukkan kembali kartu undangan ke dalam amplop.
Ardi menoleh ke Ani. “Ibu ada acara?” tanya Ardi menatap wajah Ani.
Ani menggelengkan kepala. “Tidak ada. Hanya saja waktunya tidak tepat. Suami saya sedang dalam keadaan koma, tapi saya malah pergi ke pesta,” jawab Ani. “Lagipula di sana tidak ada yang saya kenal.” Ani memasukkan kartu undangan ke dalam tas.
“Ibu datang bareng dengan saya. Saya juga tidak ada yang menemani. Nanti Ibu saya jemput,” ujar Ardi sambil membuka tali sepatu.
Ani menoleh ke Ardi. “Tidak usah! Saya tidak akan datang ke pesta pernikahan Edwin. Sampaikan saja ucapan selamat menempuh hidup baru dari saya untuk Pak Edwin.”
“Edwin menyuruh saya mengajak Ibu. Kata Edwin, biar Ibu ada hiburan,” kata Ardi.
Ani tersenyum dipaksa lalu menunduk. “Bapak kan bisa mengajak Malika,” ujar Ani.
“Kalau saya bawa Malika, Ibu mau pergi dengan saya?” tanya Ardi sambil menatap wajah Ani yang sedang menunduk.
Ani menarik napas panjang. Ia sudah tahu Ardi akan terus memaksa agar ia mau pergi bersama Ardi. “Baiklah. Saya akan ikut ke undangan pernikahan Pak Edwin,” jawab Ani. Setidaknya mereka tidak pergi berdua, ada Malika dan Tri pergi bersama mereka. Ardi tersenyum setelah mendengar jawaban Ani.
Ardi membuka kedua sepatunya lalu diletakkan di sebelah kaki Ani. “Saya titip sepatu. Saya sholat dulu.” Ani menjawab dengan mengangguk. Ardi berdiri lalu ia berjalan menuju ke tempat wudhu. Ani tetap duduk di tempat itu menjaga sepatu Ardi.
Lima belas menit kemudian Ardi datang. Ia duduk di sebelah Ani lalu mengeluarkan jam tangan dari saku celana. “Baru jam 12 lewat 15 menit. Masih istirahat makan siang. Lebih baik kita makan dulu.” Ardi memasang jam di pegelangan tangan kiri.
“Tadi saya sudah makan di rumah,” jawab Ani.
Ardi menoleh ke Ani. “Kalau begitu temani saya makan,” ujar Ardi lalu mengeluarkan kaos kaki dari dalam sepatu.
Setelah Ardi selesai memakai sepatu, mereka pergi menuju kantin yang berada di lingkungan rumah sakit. Di dalam kantin banyak orang yang sedang makan. Ardi berjalan menuju ke meja prasmana, sedangkan Ani mencari tempat duduk kosong.
Beberapa menit kemudian Ardi datang ke meja mereka. Ia membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Ardi menaruh nampan di atas meja. Ia mengambil gelas yang berisi teh manis lalu diletakkan di depan Ani.
“Ini minuman untuk Ibu,” ujar Ardi. “Tadi saya mau pesankan jus untuk Ibu. Tapi saya ingat kemarin Ibu sakit, jadi saya pesankan teh manis.”
“Nggak apa-apa, ini juga cukup. Terima kasih,” ucap Ani. Ani meneguk teh manis panas sambil melihat ke layar telepon seluler.
Setelah Ardi selesai makan, mereka pergi meninggalkan kantin. Mereka berjalan menuju Instalasi Forensik dan Pemulasaraan Jenazah. Di sanalah tes DNA akan dilakukan. Ardi mengatakan maksud dan tujuan kedatangan mereka kepada suster. Mereka disuruh untuk berkonsultasi dulu dengan dokter.
Setelah selesai berkonsultasi dengan dokter mereka menuju ke loket pembayaran untuk membayar biaya tes DNA. Ardi membayar biaya tes DNA di loket pembayaran sedangkan Ani menunggu di tempat duduk yang di sediakan. Setelah selesai membayar Ardi kembali ke tempat duduk semula. “Berapa biayanya, Pak?” Mata Ani melihat ke secarik kertas yang dipegang Ardi.
Ardi memberikan bukti pembayaran kepada Ani. Alangkah terkejutnya Ani setelah membaca bukti pembayaran. “Mahal sekali,” kata Ani. Ardi harus membayar jumlah yang cukup besar untuk tes DNA Fardan dan Malika. Semestinya biaya tes DNA menjadi tanggungan berdua. Namun, Ani tidak punya uang untuk bayar tes DNA. Ia tidak mungkin meminta bantuan kepada keluarganya karena ia menyembunyikan kasus Fardan dari keluarganya.
“Nggak apa-apa. Ini demi kepentingan kita bersama,” ucap Ardi.
Tak lama kemudian pegawai rumah sakit memanggil nama Fardan. Ardi bangun dari tempat duduk. “Ayo, kita kembali lagi ke sana.” Ani bangun dari tempat duduk, mereka kembali ke Instalasi Forensik untuk menyerahkan sampel untuk tes DNA.
.
.
Sabtu siang Ani sudah berpenampilan rapih. Ia akan pergi ke undangan pernikahan Edwin. Ia janjian bertemu dengan Ardi di mini market di pinggir jalan raya. Ia tidak mau Ardi menjemputnya di rumah. Ia takut ada tetangga yang melihat Ardi dan ia menjadi bahan gunjingan para tetangga.
Ani berjalan kaki menuju ke minimarket. Sesampai di minimarket, ia melihat mobil Ardi sudah terparkir di minimarket. Ani berjalan menghampiri mobil tersebut. Ketika sampai di depan mobil, mobil Ardi dalam keadaan kosong.