Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.
Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.
Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK YANG DIBERI NAMA PERTAMA
Pintu kediaman tua itu terbuka perlahan.
Yuán Zhēn memasuki ruangan bersama Lù Shān. Udara di dalamnya terasa pengap, sementara aroma kayu tua dan kertas usang memenuhi setiap sudut.
“Fāng Démíng?” panggil Yuán Zhēn.
Seorang lelaki tua muncul dari balik rak buku. Ia mengenakan jubah sederhana, tetapi ketika melihat wajah Kaisar, ia langsung berlutut.
“Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia.”
Yuán Zhēn mengangkat tangannya.
“Bangunlah. Aku datang bukan untuk menghukummu. Aku hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pada malam dua bayi dilahirkan di Paviliun Han Mei.”
Wajah Fāng Démíng menegang.
“Yang Mulia seharusnya tidak datang ke tempat ini.”
“Apakah karena kau takut kepada keluarga Zhāng?”
“Bukan hanya keluarga Zhāng.”
Lelaki tua itu memandang pintu yang baru saja dilewati Yuán Zhēn, seolah-olah memastikan tidak ada orang lain yang mengikuti mereka.
“Ada orang-orang yang telah menjaga rahasia itu jauh sebelum Paman Agung Zhāng memperoleh kekuasaannya. Jika mereka mengetahui bahwa hamba telah berbicara, Yang Mulia pun akan berada dalam bahaya.”
Yuán Zhēn mendekat.
“Kalau begitu, katakan kepadaku siapa mereka.”
Fāng Démíng terdiam lama sebelum akhirnya menggeleng.
“Hamba tidak bisa menyebutkan semua nama tanpa bukti. Namun, ada satu hal yang harus Yang Mulia ketahui. Pada malam itu, tidak pernah ada keputusan resmi untuk menghapus nama Putri Ning dari silsilah kerajaan.”
Yuán Zhēn mengernyit.
“Lalu siapa yang melakukannya?”
“Orang yang memegang stempel kerajaan setelah mendiang Kaisar jatuh sakit.”
“Bukankah ayahku masih memegang stempel itu?”
“Benar, Yang Mulia. Tetapi pada malam tersebut, stempel itu sempat berada di tangan orang lain.”
Ruangan mendadak sunyi.
Yuán Zhēn teringat dokumen yang ditunjukkan Paman Agung Zhāng di Paviliun Han Mei. Dokumen itu memang memuat tanda tangan ayahnya, tetapi tidak pernah menjelaskan siapa yang mengubah catatan kelahiran.
“Apakah kau mengatakan seseorang menggunakan stempel ayahku tanpa izin?”
Fāng Démíng menunduk.
“Hamba mengatakan bahwa ada dokumen yang dibuat atas nama mendiang Kaisar, tetapi tidak semuanya ditulis berdasarkan perintahnya.”
Yuán Zhēn mengepalkan tangan.
Selama ini, ia mengira ayahnya mengetahui seluruh kejadian. Kini ia mulai menyadari bahwa mungkin saja sang Kaisar terdahulu juga telah ditipu oleh orang-orang yang dipercaya.
“Di mana salinan asli perjanjian kerajaan?” tanyanya.
Fāng Démíng menatapnya dengan mata lelah.
“Tidak ada di tempat yang bisa ditemukan melalui penggeledahan biasa.”
“Jadi, kau tahu tempatnya?”
“Aku tahu siapa yang menyimpannya.”
“Siapa?”
Fāng Démíng baru hendak menjawab ketika terdengar bunyi benda jatuh dari ruangan sebelah.
Lù Shān langsung menghunus pedangnya dan bergerak ke arah suara itu.
“Yang Mulia, tetaplah di sini!”
Namun, saat Lù Shān membuka pintu samping, ruangan itu ternyata kosong. Jendelanya terbuka, tirainya berkibar tertiup angin.
Di lantai tergeletak selembar kertas dengan gambar bunga teratai yang satu kelopaknya dihitamkan.
Yuán Zhēn mengambil kertas itu.
Lambang yang sama muncul pada surat peringatan untuk Liān Huā.
Seseorang telah mengetahui bahwa mereka datang.
Dan orang itu mungkin sudah berada di kediaman tersebut sebelum mereka tiba.
---
Sementara itu, di Paviliun Han Mei, Liān Huā berdiri di hadapan Putri Ning.
Gelang giok utuh yang ditemukan di kediaman tua telah dibawa seorang pengawal ke istana melalui jalur rahasia. Setelah menerima kabar tentang penemuan tersebut, Liān Huā segera meminta ibunya memeriksanya.
Putri Ning memegang gelang itu dengan kedua tangan.
“Ukirannya benar-benar sama,” bisiknya.
“Apakah Ibu pernah melihat gelang ini sebelumnya?”
“Pernah. Pada malam kau dilahirkan, aku melihat dua gelang serupa. Satu dikenakan padamu, dan satu lagi diberikan kepada orang yang bertanggung jawab atas keselamatan bayi lainnya.”
Liān Huā menatapnya.
“Bayi lainnya adalah Yuán Zhēn?”
Putri Ning mengangguk perlahan.
“Setidaknya, itulah yang selama ini dipercayai semua orang. Namun, aku tidak pernah melihat wajah bayi kedua setelah ia dibawa pergi.”
Liān Huā terdiam.
“Jadi, Ibu tidak bisa memastikan apakah Yuán Zhēn adalah bayi yang sama?”
“Tidak tanpa bukti lain.”
Jawaban itu membuat Liān Huā merasa seolah-olah tanah di bawah kakinya bergeser.
Selama ini, ia berusaha menerima kenyataan bahwa dirinya adalah putri yang identitasnya disembunyikan. Ia juga percaya bahwa Yuán Zhēn adalah anak yang dipilih untuk menerima takhta.
Namun, jika bayi-bayi itu pernah dibawa ke tempat berbeda dan catatan mereka diubah, bagaimana mereka bisa mengetahui siapa sebenarnya yang mengenakan gelang tertentu?
“Ibu,” katanya pelan, “apakah mungkin seseorang menukar gelang itu setelah kami dilahirkan?”
Putri Ning menghela napas.
“Mungkin. Tetapi jangan biarkan dugaan membuatmu menganggap seseorang bersalah sebelum kita menemukan bukti.”
Liān Huā mengangguk.
Ia kemudian memperhatikan bagian dalam gelang giok itu. Di dekat ukiran nama, terdapat tulisan kecil yang hampir tidak terlihat.
“Lihat ini, Ibu.”
Putri Ning mendekat.
Tulisan itu berbunyi:
Nama pertama adalah perlindungan. Nama kedua adalah warisan.
Liān Huā membaca kalimat tersebut berulang kali.
“Apa maksudnya?”
Putri Ning menggeleng.
“Aku tidak tahu. Tetapi mungkin kalimat itu menjelaskan mengapa seseorang memilih memberi dua nama kepada satu anak, atau mengapa nama kedua anak itu sengaja disembunyikan.”
Tiba-tiba, Xiǎo Yàn bergegas memasuki ruangan.
“Putri, ada kabar dari kediaman keluarga Zhāng.”
“Apa yang terjadi?”
“Paman Agung Zhāng memerintahkan semua arsip keluarga kerajaan dipindahkan ke kediamannya. Ia mengatakan bahwa beberapa dokumen lama harus diamankan karena berpotensi menimbulkan kekacauan.”
Liān Huā langsung berdiri.
“Dia sedang mencoba mengambil bukti sebelum kita menemukannya.”
Putri Ning memandang gelang di tangannya.
“Kalau begitu, kita tidak boleh membiarkannya menguasai semua dokumen.”
Ia menyerahkan gelang tersebut kepada Liān Huā.
“Simpan ini. Jangan serahkan kepada siapa pun, kecuali Yuán Zhēn sendiri.”
Liān Huā menerima gelang itu dengan hati-hati.
Namun, sebelum ia sempat menyimpannya, terdengar suara dari balik pintu.
“Sayang sekali, Putri. Kalian terlambat.”
Pintu terbuka.
Xiǎo Lán berdiri di ambang pintu, ditemani dua pengawal istana.
Di tangannya terdapat sebuah surat perintah yang dibubuhi stempel kerajaan.
“Berdasarkan perintah Dewan Istana, semua benda yang berkaitan dengan penyelidikan silsilah kerajaan harus diserahkan untuk diperiksa.”
Liān Huā menatap surat itu.
“Siapa yang mengeluarkan perintah ini?”
Xiǎo Lán tersenyum tipis.
“Orang yang berhak menjaga kehormatan keluarga kerajaan.”
Putri Ning berdiri di depan putrinya.
“Jangan gunakan kehormatan kerajaan sebagai alasan untuk merampas bukti.”
Senyum Xiǎo Lán menghilang.
“Yang Mulia, hamba hanya menjalankan perintah.”
“Kalau begitu, tunjukkan surat yang memerintahkanmu mengambil gelang tersebut.”
Xiǎo Lán mengangkat suratnya.
“Perintahnya jelas.”
Putri Ning membaca dokumen itu dengan saksama. Beberapa saat kemudian, ia mengangkat wajah.
“Surat ini tidak memerintahkan pengambilan gelang. Surat ini hanya menyebutkan pemeriksaan arsip.”
Xiǎo Lán tidak menjawab.
Liān Huā segera memahami bahwa perempuan itu sedang menggunakan perintah resmi untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diizinkan.
“Pengawal,” kata Liān Huā tegas, “kalian boleh memeriksa arsip yang tercantum dalam perintah ini. Tetapi gelang tersebut tidak termasuk di dalamnya.”
Kedua pengawal saling pandang. Mereka tampak ragu untuk melangkah lebih jauh.
Xiǎo Lán menatap Liān Huā dengan kebencian yang tidak lagi disembunyikan.
“Jangan mengira karena Kaisar melindungimu, kau dapat bertindak sesuka hati.”
Liān Huā mengangkat dagunya.
“Aku tidak meminta perlindungan untuk melanggar aturan. Aku hanya meminta kalian mematuhinya.”
Setelah beberapa saat, Xiǎo Lán berbalik dan pergi bersama kedua pengawal itu.
Namun, sebelum meninggalkan ruangan, ia menoleh sekali lagi.
“Suatu hari nanti, Putri, kau akan berharap tidak pernah menemukan kebenaran ini.”
---
Malam tiba ketika Yuán Zhēn kembali ke istana.
Ia langsung menuju Paviliun Han Mei setelah menerima kabar mengenai kedatangan Xiǎo Lán. Di sana, Liān Huā menunggunya bersama Putri Ning.
“Fāng Démíng mengatakan bahwa stempel kerajaan pernah berada di tangan seseorang selain ayahku,” ujar Yuán Zhēn. “Ia juga mengetahui siapa yang menyimpan salinan asli perjanjian.”
Liān Huā menunjukkan gelang giok utuh kepadanya.
“Kami menemukan tulisan di bagian dalamnya.”
Yuán Zhēn membaca kalimat tersebut.
Nama pertama adalah perlindungan. Nama kedua adalah warisan.
Ia mengerutkan kening.
“Kalimat ini seolah-olah membedakan dua hal: nama yang diberikan untuk menyelamatkan seseorang, dan nama yang menentukan haknya.”
“Apakah itu berarti nama kami pernah diubah?” tanya Liān Huā.
“Mungkin. Tetapi aku tidak akan menyimpulkan siapa pun berhak atau tidak berhak atas takhta hanya berdasarkan gelang ini.”
Yuán Zhēn meletakkan gelang tersebut di atas meja.
“Kita membutuhkan perjanjian asli.”
Putri Ning mengangguk.
“Fāng Démíng mungkin mengetahui siapa yang menyimpannya, tetapi kita juga harus menemukan Putri Yǎn. Jika ia masih hidup, ia mungkin mengetahui mengapa semua ini dilakukan.”
Yuán Zhēn mengeluarkan kertas bergambar bunga teratai.
“Aku menemukan ini di kediaman Fāng Démíng. Seseorang telah mengawasi penyelidikan kita.”
Liān Huā memandangi gambar itu.
“Orang yang mengirim surat kepadaku menggunakan lambang yang sama.”
“Berarti ada pihak yang ingin kita berhenti menyelidiki, tetapi belum tentu pihak itu sama dengan orang yang memalsukan catatan kelahiran.”
Mereka bertiga terdiam.
Tiba-tiba, seorang kasim datang membawa sebuah kotak kecil yang tidak memiliki nama pengirim.
“Yang Mulia, kotak ini ditemukan di depan gerbang Paviliun Han Mei. Tidak ada seorang pun yang melihat siapa yang meletakkannya.”
Yuán Zhēn membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah halaman tua yang tampaknya telah dipotong dari buku catatan kerajaan.
Tulisan di bagian atasnya masih terbaca jelas:
Catatan Kelahiran Kerajaan — Malam Ketujuh Bulan Kesembilan
Di bawah judul itu tercantum dua baris.
Bayi pertama: diberi nama Zhēn.
Bayi kedua: diberi nama Huā.
Namun, ada sesuatu yang ganjil.
Di samping kedua baris tersebut, seseorang telah menuliskan keterangan tambahan dengan tinta berbeda.
Urutan kelahiran tidak menentukan urutan pewarisan.
Yuán Zhēn menatap halaman itu lama sekali.
“Siapa yang mengirimkannya?”
Kasim itu menggeleng.
“Tidak diketahui, Yang Mulia.”
Yuán Zhēn mengangkat halaman tersebut ke arah cahaya pelita. Di bagian bawah, hampir tersembunyi oleh lipatan kertas, terdapat tanda tangan mendiang Kaisar.
Namun, tinta tanda tangan itu tampak jauh lebih baru daripada tulisan lainnya.
Liān Huā mendekat.
“Apakah tanda tangan itu asli?”
Yuán Zhēn tidak segera menjawab.
“Aku harus membandingkannya dengan dokumen lain milik ayahku.”
Ia melipat halaman tersebut dengan hati-hati.
“Besok pagi, aku akan memanggil semua pejabat yang pernah menangani catatan kelahiran kerajaan.”
Putri Ning memandang mereka berdua.
“Berhati-hatilah. Jika seseorang berani memalsukan tanda tangan Kaisar, ia mungkin juga berani memalsukan bukti lainnya.”
Yuán Zhēn mengangguk.
Namun, ketika semua orang mulai meninggalkan ruangan, ia melihat ada satu tulisan kecil di balik halaman tersebut.
Tulisan itu hanya terdiri dari beberapa kata.
Yang Mulia, jangan percaya kepada orang yang menyimpan salinan asli.
Di bawahnya terdapat sebuah nama.
Nama seseorang yang selama ini berdiri paling dekat dengan Yuán Zhēn, mendampinginya dalam setiap urusan istana, dan dipercaya untuk menjaga rahasia-rahasia kerajaan.
Lù Shān.
Yuán Zhēn membeku.
Ia membaca nama itu sekali lagi, berharap dirinya salah melihat.
Di luar ruangan, langkah kaki Lù Shān terdengar mendekat.
“Yang Mulia,” suara pengawal itu terdengar dari balik pintu. “Saya telah menemukan tempat persembunyian Putri Yǎn.”
Yuán Zhēn menggenggam halaman tersebut.
Untuk pertama kalinya, ia tidak segera mempersilakan pengawalnya masuk.
Sebab kini ia harus menghadapi satu pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada rahasia kelahirannya sendiri.
Apakah Lù Shān sedang membantunya menemukan kebenaran—
atau sejak awal, lelaki itu telah memastikan bahwa kebenaran hanya akan sampai kepadanya dalam bentuk yang telah dipilih orang lain?