"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 17
"Sagara!"
"Hanin," ujarku setelah sadar dan menyambut uluran tangan darinya. Ia melirik sekilas pada koper blue sky sampingku lalu mengerutkan kening.
"Mau jadi bridesmaid, apa kabur dari kampung karena dijodohin sama laki-laki tua?"
Aku mendelik, "Mas Sagara cenayang, ya?" sengitku lalu memintanya duduk dulu.
"Aku pesan kopi dulu," seruku kemudian beranjak, tak berselang lama kembali membawa satu cup kopi hangat untuknya.
"Kenapa bisa mengenaliku?" tanyaku langsung. Selain nomor ponsel, apa Mbak Wina memberinya fotoku? Sungguh, diri ini merasa malu setengah mati.
"Wina mengirim foto terjelekmu!"
Aku mendelik, dan ia malah tertawa. Ingin rasanya memaki, tapi hanya sanggup dalam hati.
Eh tunggu...
Kenapa ketawanya nular sekali?
"Kenapa malah tertawa?" aku bersungut-sungut. Sumpah demi apapun, dia tampan maksimal kalau lagi ketawa.
Eh eh...
"Lucu aja! Btw, makasih kopinya."
Aku mengangguk, "makasih juga tumpangannya buat ke Jakarta. Mas Saga atau Mas Gara nih aku panggilnya?"
"Gara, Mas Sayang juga boleh!"
Mampus! Lepas dari mantan lucknut malah ketemu buaya rawa.
"Whehehe, lawak nih Mas Gara."
"Gara aja, biar lebih akrab."
"Oke, Gara! Lagian, keliatannya kamu masih muda, mungkin seumuran sama aku."
"Sok tahu," serunya kemudian tertawa. Heran, dia sering kali tertawa karena perkataanku, apa aku terlihat aneh?
Mobil melaju setelah memastikan tak ada yang tertinggal. Keheningan menyapa kami sepanjang tol Bandung - Jakarta. Namun, mataku membola demi rentetan pesan yang masuk berjejalan.
'Nin, are you oke?' hanya dengan pesan pertama Mas Firman itu, aku tahu ia mengkhawatirkanku.
'Nin, tiba-tiba heboh kamu hilang. Aku hampir tertuduh bawa kamu kabur di tengah pernikahan Harsa sama Nau.'
Keningku mengkerut, "kok bisa?"
"Kenapa, Nin?" Gara mungkin terkejut karena mendengar pertanyaanku meski bukan tertuju padanya.
"Enggak, ini di kampung lagi heboh."
"Baru nyadar apa, pengantin wanitanya kabur?" Gara menaikkan alisnya, melirikku sekilas.
"Aku bukan pengantin, kakak perempuanku yang menikah!" Tanpa sadar, nadaku naik satu oktaf, kesal.
"Atau jangan-jangan pengantin prianya adalah mantan kekasihmu?" tebaknya.
"Garaaaa, please deh. Kita bahkan baru ketemu gak ada dua jam."
'Nau dan Harsa akan mencarimu di perusahaan lamamu, mereka menemukan kartu nama boss Wijaya grup di kamarmu. Jaga diri baik-baik Hanin, jangan biarkan mereka menemukanmu.'
"Heh, apa-apaan ini Mas Firman. Malah menakut-nakutiku!" Aku membatin kesal. Jika menggerutu, pria sebelahku ini akan main tebak-tebakan lagi. Sialnya, tebakan Gara selalu benar.
Sampai beberapa jam perjalanan, aku sadar sedari tertidur.
"Lho!" Terkejut aku menatap sekeliling. Hotel mewah dimana Gara mengantarku.
"Turun, disini tempat pernikahannya Wina dan Madel. Kamu akan gabung dengan bridesmaid yang lain."
"Oke, aku akan menghubungi temanku. Btw, makasih Gara," ucapku tulus.
Gara malah menatapku, "aku anter aja, takut kamu nyasar ke kamar duda atau ceo dingin dan kejam!"
Aku melipat bibir, "teganya! Aku emang habis ditinggal nikah, tapi gak gitu juga sampai mau tidur sama cowok lain." Seketika aku menutup bibir karena keceplosan.
"Jadi karena ditinggal nikah nih?" godanya. "Turun, yuk? Aku anter kamu ke Wina, tar malah ilang lagi."
Menghela napas, aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan tingkah Gara. Tak ada daya untukku mendebatnya, sampai langkah kaki kami berada di depan resepsionis hotel dan kita mendapatkan akses masuk.
"Hanin, aku spechless lho kamu mau dampingin aku besok di hari yang bahagia dibelain datang dari Bandung. Btw, kalian gak kesusahan kan buat ketemunya?" tanya Mbak Wina menatapku dan Gara gantian.
Aku mengangguk senyum, ia nggak tau aja kalau kebetulan aku butuh bantuan kabur. Mungkin, setelah pernikahan Mbak Wina, aku akan mencari kos-kosan sementara sebelum kembali mencari kerja.
"Gara, btw makasih. Soal Hanin biar jadi urusanku, toh yang lain juga pada nginep disini termasuk Alina," jelas Mbak Wina.
Itu artinya, nggak buruk. Ada Mbak Alina yang bisa jadi teman ngobrolku selama di hotel.