Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Rahasia dan Retaknya Benteng Kesetiaan
Asap rokok membumbung tinggi, terhempas angin malam yang dingin di teras rumah Rangga. Pria beruban itu duduk bersandar, memandangi ujung rokoknya yang membara merah di kegelapan. Tangannya masih sedikit bergetar. Bayangan getaran bibir Winta, tatapan lukanya di lorong toilet, dan kehangatan singkat yang sempat tercipta, terus berputar bak kaset rusak di kepala Rangga. Logikanya berteriak agar ia sadar, tapi dadanya terlalu sesak oleh rindu yang terlarang.
Ia benar-benar lupa, atau sengaja lupa, bahwa tadi ia memboyong anak dan istrinya ke pusat perbelanjaan.
Di tempat lain, di kediaman Winta, suasana tak kalah tegang.
Dinda berdiri di hadapan ibunya dengan tangan bersedekap. Kecurigaannya sejak dari mal akhirnya terbukti setelah ia mendesak Winta yang tampak terus melamun sepanjang perjalanan pulang.
"Mama jujur sama Dinda,"
desak Dinda pelan tapi menekan.
"Pria beruban yang keluar dari lorong toilet tadi... itu pak Rangga, kan? Pria yang sama yang bikin Mama gelisah dari semalam?"
Winta menunduk dalam-dalam, tak sanggup menatap mata putrinya. Penyesalan dan kelelahan emosional melingkupi wajahnya.
Dengan napas terengah pelan, Winta akhirnya mengangguk.
"Iya, Dinda... Mama ketemu Rangga di sana. Tapi cuma sebentar, Nak. Mama cuma..."
"Mama, please!"
potong Dinda dengan nada kecewa bercampur cemas.
"Ingat umur, Ma! Ingat cucu-cucu Mama! Dia itu punya istri, punya anak yang masih kecil. Mau sampai kapan Mama menyimpan perasaan berisiko seperti ini?"
Air mata Winta menetes melintasi pipinya yang makin keriput.
"Mama tahu, Dinda... Mama tahu ini konyol. Tapi hatinya Mama..."
Winta tak sanggup melanjutkan kalimatnya, memilih terisak pelan sambil meremas jemarinya sendiri.
Kembali ke teras rumah Rangga, pintu kaca geser mendadak terbuka agak keras. Viona keluar dengan wajah keruh, memegang timangan Thresia yang sudah tertidur lelap di dalam kamar.
"Mas Rangga!"
panggil Viona, suaranya sarat akan kekesalan yang ditahan sejak siang.
"Bisa matikan rokoknya? Asepnya masuk ke kamar Thresia!"
Rangga tak langsung menjawab. Ia menekan puntung rokoknya ke dalam asbak batu hingga padam sepenuhnya, lalu menghela napas panjang tanpa menatap istrinya.
"Maaf."
Melihat respons Rangga yang dingin dan sangat acuh, kekesalan Viona meledak. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di samping kursi Rangga.
"Kamu ini kenapa sih, Mas?!"
celetuk Viona tajam.
"Sejak di mal tadi kamu melamun terus! Dipanggil Viona diam saja, dimintai pendapat soal mainan Thresia cuma mengangguk-angguk seperti orang linglung! Sebenarnya otak kamu itu ada di mana?"
Rangga memejamkan mata sejenak, menahan pusing yang makin menghantam kepalanya.
"Aku cuma capek, Viona. Ponselku rusak, banyak urusan pekerjaan yang terhambat. Tolong jangan tambah beban pikiranku malam ini."
"Pekerjaan atau orang lain, Mas?!"
tembak Viona tepat sasaran. Matanya memicing curiga.
"Jangan jadikan ponsel rusak sebagai alasan! Kamu pikir aku nggak tahu? Waktu di depan toilet mal tadi, aku lihat kamu berjalan terburu-buru seperti orang ketakutan. Kamu habis ketemu siapa di lorong sepi itu?"
Dada Rangga berdesir hebat, namun ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar.
"Kamu ngomong apa sih? Aku cuma dari toilet pria. Nggak ada siapa-siapa di sana!"
"Jangan bohong, Mas!"
suara Viona meninggi, matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah dan ketakutan.
"Sikap kamu beberapa hari ini aneh banget! Kamu ada di rumah tapi pikiranmu melayang entah ke mana. Kalau memang sudah bosan sama aku dan Thresia, bilang, Mas! Jangan bikin aku merasa seperti orang bodoh di rumah ini!"
"Viona, cukup! Jangan mulai drama malam-malam!"
tegur Rangga dengan suara berat dan dalam, berusaha menghentikan perdebatan itu sebelum tetangga mendengar.
"Aku nggak drama! Aku cuma butuh suami aku ada di sini, secara fisik dan pikiran!"
Viona menepis udara dengan tangannya, melangkah mundur menuju pintu.
"Terserah kamu, Mas. Terserah!"
Brak!
Pintu kaca ditutup rapat dari dalam. Rangga kembali sendirian di dalam kegelapan teras yang dingin. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding, memejamkan mata rapat-rapat. Di dalam rumah ada istri dan anaknya yang membutuhkan kehadirannya, sementara di dalam hatinya, nama Winta berteriak begitu lantang memanggilnya. Rangga tahu, badai besar baru saja dimulai.
Bersambung