NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: HARUM MELATI DI BALIK BADAI DAN EMBUN YANG MENYEJUKKAN

Malam melingkupi Kediaman Pratama dengan keheningan yang berbeda dari malam-malam terdahulu. Tidak ada lagi hawa dingin menindas yang dulu membuat Kirana merasa seperti seorang penyusup yang ditoleransi. Cahaya lampu gantung di ruang tengah memancarkan pendar kuning hangat, memantul pada porselen mahal dan ukiran jati yang kini terasa lebih hidup. Namun, bagi seorang wanita dewasa yang telah melintasi badai prasangka, kedamaian yang mendadak hadir sering kali terasa seperti jeda singkat di antara dua gelombang besar.

Kirana duduk di depan meja rias kamar utamanya. Ia baru saja menyisir rambut panjangnya yang hitam pekat, membiarkannya terurai jatuh di atas bahu blus katun ringannya. Di depannya, sebuah cermin berbingkai emas memantulkan bayangan seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun—wanita yang tidak lagi memiliki tatapan ragu seperti saat pertama kali melangkah masuk ke rumah ini sebagai "istri pengganti" dan "ibu tiri pemburu harta".

Sebuah desah napas halus lolos dari bibirnya. Rahasia besar yang dibongkar Sheila di Lembaga Pemasyarakatan tadi siang masih menyisakan getaran halus di dasar dadanya. Leo dan Maya adalah darah daging almarhumah kakaknya, Kak Maya. Takdir yang selama ini dirasakannya begitu kejam dan menyindir kehidupannya—memaksanya menelan hinaan sebagai wanita muda yang menikahi duda kaya demi kemewahan—ternyata hanyalah sebuah jalan berliku yang dirancang Tuhan untuk mengembalikannya pada pelukan anak-anak kakaknya sendiri.

Derap langkah kaki yang mantap namun teredam karpet tebal memecah lamunannya. Melalui pantulan cermin, Kirana melihat Aris melangkah mendekat. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu telah menanggalkan jas mewahnya, kini hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Tatapan matanya yang dulu selalu sarat akan kecurigaan, dingin bagaikan es di kutub, kini meleleh menjadi pendar ketulusan dan kecemasan yang transparan.

Aris meletakkan kedua tangan tegapnya di atas bahu Kirana, meremasnya lembut. "Belum tidur, Kirana?"

Kirana mendongak, menyentuh jemari Aris yang berada di bahunya. "Masih memikirkan semuanya, Mas. Semuanya terasa begitu cepat... dan begitu ajaib."

Aris berlutut di samping kursi rias Kirana. Pria yang memimpin konglomerasi bisnis Pratama Corp—yang keputusannya sanggup mengguncang bursa saham Jakarta—kini menengadahkan wajahnya, menatap istrinya dengan kerendahan hati yang dalam. Ia meraih kedua tangan Kirana, menggenggamnya erat, lalu menempelkannya ke pipinya yang mulai ditumbuhi bayangan janggut tipis.

"Aku yang seharusnya meminta maaf, Kirana," suara Aris terdengar parau, menyimpak rasa bersalah yang mengendap dalam jiwanya. "Tahun-tahun pertama pernikahan kita... aku memperlakukanmu dengan sangat dingin. Aku membiarkan prasangka Sheila menracuni pikiranku. Aku membiarkanmu berjuang sendirian menembus benteng penolakan Leo dan Maya, membiarkanmu menangis di sudut kamar ini sendirian saat aku bersikap seolah kamu hanyalah wanita oportunis."

Aris mengecup telapak tangan Kirana dengan lama, membiarkan kehangatan bibirnya menyerap rasa dingin di kulit istrinya. "Takdir sedang menyindirku dengan sangat keras, Kirana. Aku berpikir aku adalah pria perkasa yang melindungi keluargaku dari wanita asing yang berniat jahat. Tapi kenyataannya? Kamu adalah malaikat penyelamat yang dikirim untuk menyembuhkan luka anak-anakmu sendiri, sementara aku hanyalah pria buta yang terlambat menyadari ketulusanmu."

Kirana menatap Aris, matanya berkaca-kaca namun bibirnya mengulas senyum anggun. Sebagai seorang wanita dewasa, Kirana paham betul bahwa pernikahan bukanlah panggung drama remaja yang dipenuhi janji manis tanpa cela. Pernikahan adalah arena pertarungan nyata antara dua jiwa yang terluka, tempat di mana egosentrisme harus dilebur melalui proses yang sering kali berdarah-darah.

"Mas Aris," ujar Kirana lembut, jarinya mengusap rahang tegas suaminya. "Jangan menyalahkan dirimu atas apa yang tidak kamu ketahui. Kakek Hendra menyembunyikan rahasia ini dari kita berdua karena beliau tahu, jika kamu tahu sejak awal, kamu mungkin akan memandangku dengan rasa kasihan atau keharusan moral, bukan sebagai seorang wanita yang ingin kamu cintai secara utuh. Kakek ingin kita bergelut dengan rasa sakit itu... agar ketika kita menemukannya, cinta itu murni, bukan sekadar pelarian."

Aris memejamkan mata, merasakan kedalaman pemikiran istrinya yang begitu dewasa. Ketulusan Kirana bukanlah ketulusan yang naif; itu adalah kedewasaan spiritual yang lahir dari derpaan rasa sakit dan keputusan untuk tidak membiarkan kebencian menang.

Namun, keheningan malam yang syahdu itu mendadak terganggu oleh ketukan tergesa-gesa di pintu kamar utama.

Ketuk! Ketuk! Ketuk!

"Ibu! Papa!" suara Bibi Mirna, kepala pelayan senior yang telah mengabdi puluhan tahun di Kediaman Pratama, terdengar bergetar dari balik pintu. "Maaf mengganggu malam-malam, Pak, Bu... tapi ada telepon darurat dari Rumah Sakit Medika Pratama!"

Aris langsung berdiri tegak, auranya berubah seketika menjadi wibawa seorang kepala keluarga yang siap bertempur. Kirana ikut bangkit, mengencangkan ikatan blusnya.

Aris membuka pintu kamar. "Ada apa, Bi?"

Bibi Mirna memegang gagang telepon nirkabel dengan tangan gemetar. "Dokter jaga di rumah sakit melaporkan... Ibu Siska Pratama—tante dari Pak Aris—mendadak dilarikan ke ICU akibat serangan jantung usai mendengar kabar penahanan Sheila Kusuma. Dan... dan..."

"Dan apa, Bi?" desak Aris dingin.

"Ibu Siska mengamuk di ICU, Pak. Beliau menolak dipasang alat pacu jantung dan terus berteriak menuntut bertemu dengan Nyonya Kirana. Beliau mengancam akan mencabut sendiri selang oksigennya jika Nyonya Kirana tidak datang malam ini juga!"

Kirana menahan napasnya. Siska Pratama. Adik kandung almarhum Kakek Hendra, wanita paruh baya berhati dingin yang selama tiga tahun pernikahan Kirana selalu menjadi sumber utama penderitaannya di lingkaran keluarga besar Pratama. Siska-lah yang paling vokal menyebut Kirana sebagai "gadis kampung tak tahu diri", wanita yang berulang kali mencoba menjodohkan Aris kembali dengan wanita-wanita dari trah bangsawan atau pengusaha kaya demi menjaga "kemurnian darah Pratama".

Aris mengepalkan tangannya, matanya memancarkan kemarahan kilat. "Wanita tua itu masih belum kapok juga? Setelah semua racun yang disebarkannya bersama Sheila, dia masih berani menuntut kehadiranmu, Kirana? Biarkan dia! Aku tidak akan membiarkanmu dihinanya lagi di RS!"

"Mas, tunggu," Kirana menyentuh lengan Aris dengan tenang. Tatapannya mantap, memancarkan kearifan yang mengatasi emosi sesaat. "Beliau sedang kritis di ICU. Apapun kebencian yang pernah beliau tanam di masa lalu, kita tidak boleh membiarkan seorang penatua keluarga meninggal dalam keadaan menyimpan ganjalan dendam."

"Tapi dia bisa saja memancingmu ke sana hanya untuk melontarkan makian terakhirnya!" seru Aris khawatir. "Aku tidak sanggup melihatmu disakiti lagi, Kirana!"

"Jika dia ingin memaki, biarlah dia memaki," jawab Kirana anggun. "Tapi jika dia mencari kedamaian sebelum napas terakhirnya, aku harus ada di sana untuk memberikannya. Inilah bedanya kita dengan mereka, Mas. Kita tidak dipimpin oleh rasa benci."

Aris menatap istrinya dengan kombinasi rasa kagum dan cinta yang tak terhingga. Pria itu mengangguk pelan. "Baiklah. Tapi aku akan berada tepat di sampingmu. Tidak akan ada satu kata pun yang boleh melukaimu tanpa melewati aku terlebih dahulu."

Tiga puluh menit kemudian, mobil sedan hitam milik Aris membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Rain gerimis tipis menyapu kaca depan, memantulkan lampu-lampu kota yang tampak seperti kilatan neon yang buram.

Di dalam ruangan VIP ICU Rumah Sakit Medika Pratama, bau antiseptik yang tajam menyengat hidung. Suara bip bermetronom dari monitor jantung terdengar monoton dan menegangkan. Di atas ranjang pasien, Siska Pratama terbaring lemah. Wanita yang biasanya selalu tampil anggun dengan perhiasan berlian dan pakaian sutra itu kini tampak sangat rapuh. Kulit wajahnya pucat pasi, kerutan di sekitar matanya semakin jelas, dan dadanya naik turun secara tidak teratur di balik masker oksigen.

Begitu pintu ruang perawatan bergeser terbuka, mata Siska yang samar-samar terbuka lebar. Dari balik masker, terdengar deru napasnya yang berat dan patah-patah.

Aris dan Kirana melangkah masuk. Aris berdiri seperti perisai di sisi kiri ranjang, sementara Kirana mendekati sisi kanan, melangkah tanpa ragu meski aura permusuhan masa lalu masih berhembus samar di ruangan itu.

"Siska Tante..." Aris menyapa dingin, formalitas yang menunjukkan jarak emosional yang tebal. "Kami di sini. Kirana ada di sini. Apa yang sebenarnya Tante inginkan di saat kondisi kritis seperti ini?"

Siska menggerakkan tangannya yang gemetar, mencoba melepaskan masker oksigen dari wajahnya. Kirana dengan sigap memegang lembut jemari keriput wanita tua itu, melarangnya secara halus.

"Jangan dilepas, Tante," bisik Kirana lembut, suaranya seperti embun pagi yang menyejukkan. "Bicaralah perlahan. Kami mendengarkan."

Siska menatap tangan Kirana yang memegang jemarinya. Tidak ada rasa jijik, tidak ada ketakutan, dan yang terpenting: tidak ada rasa dendam di mata wanita muda di hadapannya itu. Yang ada hanyalah belas kasihan murni seorang wanita dewasa yang telah melampaui masa-masa terluka.

Airmata meluncur deras dari sudut mata Siska yang menyipit. Suaranya terdengar sangat parau dan bergetar dari balik masker transparan. "K-Kirana... kamu... kamu benar-benar datang?"

"Saya di sini, Tante," jawab Kirana halus.

"Kenapa...?" bisik Siska, dadanya terengah-engah. "Kenapa kamu... mau datang melihat wanita tua jahat... yang selama tiga tahun ini... selalu menginjak-injak harga dirimu? Yang menyebutmu p-pemburu harta... yang menyuruh orang-orang merendahkanmu di setiap perjamuan keluarga...?"

Kirana menarik kursi kecil dan duduk di samping ranjang. Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Siska yang dingin.

"Karena kebencian Tante di masa lalu tidak bisa mengubah siapa diri saya yang sebenarnya," tutur Kirana dengan nada bicara yang teratur dan sarat makna. "Saya tahu Tante bertindak seperti itu bukan semata-mata karena membenci saya secara pribadi. Tante takut. Tante takut rumah tangga Aris hancur untuk kedua kalinya setelah pengkhianatan Sheila. Tante takut nama besar Pratama tercemar oleh wanita yang Tante anggap tidak memiliki latar belakang yang setara."

Siska membeku. Kata-kata Kirana tepat menyasar dasar hatinya yang paling dalam—sebuah kebenaran yang selama ini dibungkusnya rapat-rapat dengan keangkuhan status sosial.

"Tapi Tante," lanjut Kirana, matanya menatap lurus ke dalam iris Siska yang meredup. "Pernikahan tidak pernah dijamin oleh kedudukan sosial, kekayaan, atau trah bangsawan. Pernikahan diikat oleh ketulusan untuk saling menerima di masa paling gelap. Saya memaafkan semua perkataan Tante di masa lalu. Takdir telah membawa saya ke rumah ini bukan untuk merusak, tapi untuk menyembuhkan. Dan saya tidak akan membiarkan rasa benci Tante menjadi beban saat Tante berjuang untuk sembuh di tempat ini."

Aris yang berdiri di belakang Kirana merasakan tenggorokannya menyempit. Ketegasan sekaligus kelembutan dalam cara Kirana menghadapi musuh utamanya di keluarga Pratama adalah sebuah pemandangan yang mengagumkan. Kirana tidak bertindak sebagai korban yang meratapi nasib, melainkan sebagai seorang pemenang yang memberikan pengampunan dari posisi moral yang tinggi.

Siska menangis terisak-isak, suara tangisnya tertahan di balik masker oksigen. Jemari keriputnya yang semula kaku kini membalas genggaman tangan Kirana dengan sisa-sisa tenaganya.

"Maafkan... maafkan Tante, Kirana..." ratap Siska patah-patah, kepalanya menggeleng perlahan di atas bantal. "Tante begitu buta... Tante terlambat melihat bahwa kamu... kamu adalah perhiasan paling berharga yang pernah dibawa Kak Hendra ke rumah ini... Maafkan aku, Aris... maafkan Tante..."

Aris menghela napas panjang. Kemarahan tebal yang membatu di dadanya selama bertahun-tahun perlahan meluruh, terlarut oleh kebaikan istrinya yang bagaikan air mengikis batu keras.

"Fokuslah pada pemulihan Tante," ujar Aris, nada suaranya kini melunak meski tetap tegas. "Dokter akan melakukan yang terbaik. Soal masa lalu... Kirana sudah memaafkan Tante, maka saya juga memaafkan Tante."

Monitor jantung di samping ranjang mulai menunjukkan grafik yang lebih stabil ketika gelombang emosi yang menyiksa Siska perlahan terurai oleh pengampunan. Dokter spesialis jantung masuk ke dalam ruangan bersama dua perawat, memberikan isyarat bahwa pasien membutuhkan istirahat total usai melewati masa kritis emosionalnya.

Kirana mengusap dahi Siska dengan lembut sebelum berdiri. "Istirahatlah, Tante. Kami akan sering datang berkunjung."

Siska mengangguk lemah, matanya menatap Kirana dengan rasa hormat dan penyesalan yang mendalam—sebuah pengakuan tulus yang akhirnya runtuh di hadapan keagungan sebuah ketulusan.

Saat mereka melangkah keluar dari gedung rumah sakit, fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Jakarta. Angin pagi yang dingin membawa aroma tanah basah sisa hujan semalam. Langit yang semula gelap gulita perlahan berganti menjadi warna keunguan yang hangat, membias sinar keemasan di antara gedung-gedung pencakar langit.

Aris menggandeng tangan Kirana menyusuri selasar rumah sakit menuju area parkir. Pria itu menghentikan langkahnya mendadak di bawah naungan kanopi taman rumah sakit.

"Ada apa, Mas?" tanya Kirana heran.

Tanpa memedulikan beberapa perawat dan staf rumah sakit yang melintas di kejauhan, Aris menarik Kirana ke dalam pelukannya. Ia merengkuh tubuh istrinya begitu erat, menghirup aroma harum melati alami dari rambut Kirana yang selalu menenangankannya.

"Terima kasih, Kirana," bisik Aris di telinga istrinya, suaranya sarat dengan emosi yang dalam. "Terima kasih telah mengajarkanku bagaimana cara menjadi manusia seutuhnya. Dulu aku berpikir, menjadi pria dewasa berarti harus memiliki segalanya—kekuasaan, harta, dan kontrol penuh atas hidup. Tapi bersamamu, aku belajar bahwa kedewasaan sejati adalah keberanian untuk mencintai tanpa syarat dan mengampuni tanpa batas."

Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan hangat. "Pernikahan kita diawali dengan air mata dan sindiran takdir, Mas. Tapi lihat kita sekarang... kita bertumbuh di dalam badai itu."

Aris melepaskan pelukannya, menatap wajah Kirana dengan binar mata yang penuh dengan kepastian masa depan. Ia merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil yang telah disiapkannya sejak beberapa hari lalu namun belum sempat diserahkannya akibat kekacauan rencana Sheila.

Aris membuka kotak itu. Di dalamnya terbaring sebuah cincin emas putih bersahaja dengan satu berlian murni di tengahnya—bukan cincin pernikahan berukuran besar sarat pamer yang dulu dipaksakan Kakek Hendra saat pernikahan formal mereka, melainkan sebuah cincin yang dipilih Aris sendiri dengan penuh pertimbangan.

"Waktu kita menikah dulu, aku menyerahkan cincin keluarga dengan rasa terpaksa," ujar Aris lembut, matanya menatap Kirana tanpa kedipan. "Hari ini, di bawah langit fajar ini, aku ingin melamarmu kembali... bukan sebagai Aris yang terikat wasiat Kakek, bukan sebagai duda beranak dua yang membutuhkan ibu tiri untuk anak-anaknya... tapi sebagai seorang pria biasa yang berlutut memohon agar kamu mau menjadi pendamping hidupku selamanya."

Kirana menahan napasnya. Airmata kebahagiaan—bukan lagi airmata penderitaan atau kepedihan pernikahan—merembes membasahi pipinya.

Aris menarik jemari manis tangan kanan Kirana, menyematkan cincin itu dengan perlahan. Ukurannya pas sempurna.

"Maukah kamu tetap menjadi Nyonya Pratama, menjadi ibu dari Leo dan Maya, dan menjadi satu-satunya pemilik hatiku hingga maut memisahkan kita, Kirana?" tanya Aris lirih namun mantap.

Kirana tersenyum di balik genangan air matanya. Ia mengangguk mantap. "Ya, Mas... aku mau. Dulu, kini, dan selamanya."

Aris mendekatkan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan lembut dan hangat di bibir Kirana. Sebuah ciuman yang mengunci seluruh luka masa lalu, menyegel janji baru di atas puing-puing pertempuran emosi yang telah mereka menangkan bersama.

Pukul delapan pagi, mobil sedan Aris memasuki gerbang Kediaman Pratama.

Taman belakang rumah megah itu tampak berkilauan disiram sinar matahari pagi. Rumput hijau yang basah oleh embun memantulkan cahaya bagaikan hamparan kristal.

Begitu mendengar suara deru mobil, pintu utama rumah terbuka lebar. Dua sosok kecil berlari keluar dengan penuh semangat. Leo mengenakan seragam sekolah dasarnya yang rapi dengan tas punggung hijau, sementara Maya mengikat rambutnya dengan pita merah muda yang lucu.

"Ibu! Papa!" teriak Maya seraya merentangkan kedua tangan kecilnya.

Kirana turun dari mobil dan langsung berlutut di atas rumput basah, merentangkan tangannya lebar-lebar. Leo dan Maya menubruk tubuh Kirana bersamaan, membuat wanita muda itu tertawa lepas seraya memeluk erat kedua keponakan sekaligus anak kandung jiwanya itu.

"Ibu dari mana saja? Maya kangen... Maya mikir Ibu ditinggal Papa lagi," bisik Maya manja sambil mengecup pipi Kirana.

Kirana mencium kening Maya dan Leo bergantian dengan kasih sayang yang membuncah. "Ibu tidak akan pernah meninggalkan kalian, Sayang. Ibu cuma habis menyelesaikan tugas kecil."

Leo menatap Kirana dengan mata bulatnya yang mirip dengan almarhumah ibunya, Kak Maya. "Ibu... hari ini Ibu mau antar Leo sama Maya ke sekolah, kan?"

Kirana menatap Leo, lalu mendongak menatap Aris yang berdiri di samping mereka dengan senyuman hangat yang mengembang sempurna. Kirana menggenggam tangan kecil Leo dan Maya, merasakan aliran darah yang sama yang mengikat mereka dalam sebuah takdir ajaib.

"Tentu saja, Nak," ujar Kirana mantap, suaranya memancarkan kebahagiaan murni seorang ibu. "Mulai hari ini, besok, dan seterusnya... Ibu akan selalu ada untuk menggenggam tangan kalian."

Aris merangkul bahu Kirana dari belakang, menyatukan mereka berempat dalam pelukan hangat di bawah sinar matahari pagi Jakarta yang kian terang.

Takdir mungkin pernah mempermainkan Kirana dengan linangan air mata pernikahan, menempatkannya di tengah benteng prasangka sebagai seorang ibu tiri. Namun, melalui keberanian untuk bergelut, melawan dengan ketulusan, dan akhirnya menyadari makna di balik setiap ujian, Kirana tidak hanya berhasil memenangkan hati suami dan anak-anaknya... ia telah menaklukkan takdir itu sendiri dan mengubah sindiran kehidupan menjadi sebuah simfoni cinta abadi yang tak tergoyahkan.

(Apakah rahasia Kakek Hendra benar-benar sudah tuntas sepenuhnya, ataukah masih ada dokumen rahasia di dalam brankas tua perpustakaan yang akan mengubah peta kepemilikan Pratama Corp dan memicu gejolak baru dari pemegang saham luar? Simak kelanjutannya di BAB 25!)

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!