NovelToon NovelToon
JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

JANJI ULAR PUTIH (IKRAR ABADI)

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.

Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.

Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.

Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: MAYAT TANPA DARAH

Fajar belum benar-benar menyingsing di atas Desa Wuxi. Kabut tebal yang dingin masih mengendap di sela-sela gubuk kayu, membawa aroma embun es dan tanah basah. Namun, kedamaian pagi itu hancur berkeping-keping oleh jeritan histeris seorang perempuan tua dari arah perumpunan kayu utama. Suaranya melengking tinggi, membelah kesunyian lembah dan memicu kehebohan di seluruh penjuru pemukiman terpencil tersebut.

Dalam hitungan menit, kerumunan warga desa telah berkumpul di depan salah satu gubuk terpencil di ujung timur desa. Wajah-wajah mereka pucat pasi, dipenuhi oleh kepanikan, ketakutan, dan desakan amarah yang membakar. Langkah-langkah kaki yang terburu-buru meretakkan tanah mudas yang membeku, menciptakan ketegangan yang kian membumbung tinggi.

Shen Rui melangkah menembus kerumunan warga yang memberi jalan secara refleks. Jubah tempur abu-abu gelap bersulam garis perunggu milik Paviliun Tianjian berkibar pelan tertiup angin fajar. Mata sang pemburu siluman menyempit begitu menginjakkan kaki di ambang pintu gubuk tersebut. Bau amis yang sangat pekat dan menusuk hidung langsung menyergap inderanya—sebuah aroma kematian yang tidak wajar.

Di atas lantai kayu yang dingin dan berdebu, tergeletak tiga mayat pencari kayu. Mereka adalah warga desa yang semalam menyambut kedatangan Shen Rui dengan penuh rasa hormat.

Kondisi ketiga mayat itu amat mengerikan hingga sanggup membuat prajurit berpengalaman sekalipun memalingkan wajah. Tubuh mereka mengering bagaikan mumi tua yang telah terbaring ratusan tahun di dalam makam beku. Kulit mereka mengecut, menempel ketat pada tulang-tulang pembentuk tubuh tanpa menyisakan setetes darah pun di dalam jaringan pembuluh darah mereka. Mata mereka melotot lebar, sementara mulut mereka terbuka dalam ekspresi jeritan ketakutan yang luar biasa—seolah-olah kehidupan mereka ditarik paksa dalam hitungan detik oleh sesuatu yang sangat jahat.

Namun, yang paling memicu gejolak dingin di dada Shen Rui bukanlah kematian mengerikan itu semata, melainkan apa yang tergeletak tepat di atas dada salah satu mayat.

Sebuah sisik ular berwarna putih perak, bening bagai kristal es, memancarkan pendar pualam yang sangat tipis di tengah keremangan ruangan. Sisik itu tampak melayang samar di atas kain kusam sang pencari kayu, seolah sengaja diletakkan di sana sebagai penanda keberadaan sang pembunuh.

"Siluman ular!" jerit seorang warga desa dari luar pintu, menunjuk-nunjuk sisik putih itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Ini pasti perbuatan siluman ular putih yang dibawa oleh Tuan Pemburu semalam! Tidak ada makhluk lain di lembah ini yang bersisik putih!"

"Benar! Semalam gadis itu menghilang saat bulan purnama!" sahut warga lainnya penuh histeria dan amarah yang meluap. "Dia menumbalkan warga desa kita untuk memulihkan kekuatannya yang lemah! Dialah pembunuhnya! Dialah iblisnya!"

Bisik-bisik ketakutan dengan cepat berubah menjadi gelombang amarah massal. Warga desa yang ketakutan mulai menggenggam obor, arit, dan obeng kayu, menatap Shen Rui dengan kombinasi kecurigaan dan desakan agar keadilan segera ditegakkan. Bagi warga awam yang tidak tahu-menahu tentang seluk-beluk alam gaib, fakta di depan mata mereka sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkan vonis hukuman mati.

Shen Rui tidak langsung menjawab tuduhan warga yang bersahut-sahutan di belakang punggungnya. Dengan gerakan teratur, ia berlutut di samping mayat pencari kayu tersebut. Ia mengeluarkan sehelai kain sutra mantra dari dalam jubahnya, lalu meraih sisik putih perak itu tanpa menyentuhnya dengan kulit telanjang.

Ia mengamati sisik itu dengan sangat teliti. Secara kasat mata, warna, ketebalan, dan corak geometrisnya memang sangat mirip dengan sisik yang sempat muncul di pergelangan tangan Lian Yue semalam sewaktu terpaan bulan purnama menyinari Kuil Seribu Bayang. Siapa pun yang melihatnya akan langsung menuding Lian Yue sebagai satu-satunya tersangka.

Namun, sewaktu Shen Rui mendekatkan sisik tersebut ke dadanya dan mengerahkan qi spiritual dari danau meridiannya untuk memeriksa jejak esensi energi yang tersisa, ada anomali yang sangat terasa.

Sisa qi yang tertinggal di sisik ini berbau pembusukan yang pekat, penuh dengan racun penyerap darah dan anomali hawa iblis kelam—sangat bertolak belakang dengan aura murni bagai kristal es yang dipancarkan oleh Lian Yue. Aura Lian Yue terasa murni dan menentramkan jiwa, sementara energi pada sisik ini terasa memusnahkan dan tengik.

Ini bukan sekadar pembunuhan biasa oleh siluman liar; ini adalah rekayasa yang dirancang dengan sangat rapi untuk menjelekkan nama sang ular putih dan memicu pembantaian.

"Tuan Pemburu dari Paviliun Tianjian!" seorang tetua desa melangkah maju dengan wajah mengeras dan janggut putih yang bergetar. "Kau membawa iblis itu ke desa kami! Jika kau tidak segera menangkap dan membakarnya hidup-hidup di atas kayu pancang sebelum matahari terbenam, kami akan melaporkan kegagalan dan kelalaian ini langsung ke perguruan agung Tianjian!"

Shen Rui berdiri perlahan. Ia menggenggam kain sutra berisi sisik perak tersebut, lalu menyimpannya di balik jubah. Tatapannya yang sedingin es menatap lurus ke arah kerumunan warga desa yang terbakar oleh amarah dan ketakutan.

"Aku yang bertanggung jawab atas penangkapan pelaku yang sebenarnya," ujar Shen Rui dengan suara rendah, namun memancarkan daya intimadasi yang begitu tebal hingga sanggup membungkam teriakan warga desa dalam sekejap. "Jangan ada satu pun dari kalian yang menyentuh mayat-mayat ini atau melangkah keluar dari batas perbatasan desa sebelum aku kembali."

Sementara itu, di pinggiran Hutan Bambu Hitam yang menyelimuti perbatasan barat Desa Wuxi, Lian Yue terbangun dari lelapnya oleh getaran ganjil yang merambat di dalam tanah.

Ia berdiri di antara batang-batang bambu raksasa yang meliuk perlahan ditiup angin pagi. Jemari tangannya secara refleks memegangi dada kiri. Jantungnya berdetak cepat dan tidak teratur, dihantam oleh rasa cemas menusuk yang tak beralasan. Udara pagi yang dihirupnya terasa amat berat, membawa aroma amis darah dan gelombang hawa membunuh yang samar-samar diarahkan tepat ke tempat persembunyiannya.

Qing Luo mendadak muncul dari balik rimbunnya dedaunan bambu, melompat turun dari ketinggian tanpa suara. Wajah zamrudnya tampak tegang, sementara sepasang mata hijaunya berkilat penuh kewaspadaan.

"Kita harus pergi sekarang juga, Lian Yue," kata Qing Luo cepat seraya meraih pergelangan tangan sang perempuan. "Tempat ini sudah tidak aman lagi. Warga desa dan pemburu Tianjian itu sedang bergerak menuju ke sini!"

"Ada apa, Qing Luo?" tanya Lian Yue bingung. Matanya yang berwarna perak menatap tajam ke arah wajah Qing Luo yang panik. "Mengapa mereka mencari kita lagi? Apakah karena aku ketahuan semalam?"

"Seseorang telah membantai tiga pencari kayu di desa semalam dan sengaja meninggalkan sisik buatan yang meniru esensi milikmu!" jawab Qing Luo dengan gigi terkatup gusar. "Seluruh warga desa kini berteriak menuntut kepalamu! Mereka menuduhmu sebagai monster penyerap darah! Bagi manusia, mereka tidak membutuhkan bukti yang benar—mereka hanya butuh alasan untuk melampiaskan ketakutan dan membakar seekor siluman!"

Lian Yue terpana. Kata-kata Qing Luo terasa bagai hantaman godam di dadanya. Matanya melebar penuh ketidakpercayaan saat membayangkan warga desa yang tadi malam memberinya tempat bernaung kini menuntut kematiannya.

"Tapi... bukan aku pelakunya!" bisik Lian Yue, suaranya bergetar menahan perih. "Aku bahkan tidak tahu cara menyakiti manusia! Mengapa ada orang yang sengaja melakukan hal kejam seperti itu?"

"Dunia manusia itu penuh dengan tipu daya dan kebencian, Lian Yue!" bentak Qing Luo seraya menyentakkan lengan baju Lian Yue untuk memaksanya melangkah. "Jangan buang waktu dengan mempertanyakan keadilan mereka! Ayo pergi sebelum lingkaran pengepungan mereka sempurna!"

Namun sebelum mereka sempat mengambil sepuluh langkah menembus rapatnya deretan bambu hitam, suara desakan udara yang dahsyat mendadak membubung tinggi dari atas langit rimba.

Brakkk!

Puluhan suar api suci berwarna kuning emas menyambar turun dari udara, menghantam tanah di sekeliling Hutan Bambu Hitam secara serentak. Api perunggu meledak tinggi, membakar batang-batang bambu dan menciptakan barikade kobaran api suci yang mengurung pergerakan Lian Yue dan Qing Luo di tengah pelataran sempit.

Dari balik gulungan asap pembakaran api suci yang membumbung tinggi, sosok Shen Rui muncul melangkah tegap. Pedang Zhaoyang terhunus penuh di tangan kanannya, memancarkan kilatan baja perunggu yang mengancam di bawah temaramnya sinar matahari fajar.

"Shen... Rui?" bisik Lian Yue pelan, menatap sosok pria yang berdiri di balik kobaran api dengan mata peraknya yang dipenuhi oleh kebingungan dan kepedihan mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!