"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Saling Menuding
"Karena kamu yang ngaku-ngaku kaya, Rian!" bentak Eriska tak mau kalah, air matanya merusak sisa-sisa bedak tipis di wajahnya. "Kamu yang bilang ke semua orang kalau kamu pria sukses! Ternyata kamu cuma penipu! Kamu cuma pria tak berguna yang hidup dari belas kasihan istri kamu! Kalau tahu kamu cuma numpang di rumah anak pemilik Vantara Group, saya gak bakal mau dekat-dekat sama pria melarat kayak kamu!"
Brak!
Rian menghentakkan kedua tangannya yang terborgol ke sandaran kursi kayu hingga menimbulkan suara benturan yang keras. "Jaga mulutmu, Eriska! Kamu yang gatal dekatin suami orang demi uang!"
"Kamu yang gak tahu diri! Pria pengkhianat!" maki Eriska histeris, mencoba menggapai kemeja Rian dengan tangannya yang terikat.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan palu Hakim Ketua bergema amat keras, meredam pertengkaran cakar-cakaran verbal kedua terdakwa di tengah ruang sidang.
"Terdakwa I dan Terdakwa II! Diikutsertakan petugas untuk menertibkan mereka jika tidak bisa menjaga sikap!" tegur Hakim Ketua dengan suara menggelegar dan wajah amat murka. "Ini ruang sidang pengadilan yang mulia, bukan pasar!"
Dua orang petugas kejaksaan bertubuh tegap segera maju, memegang bahu Rian dan Eriska secara paksa hingga keduanya terdorong kembali ke sandaran kursi masing-masing.
Di barisan kursi pengunjung VIP paling depan, Annisa Septiani menyaksikan adegan saling tuding itu tanpa memalingkan wajahnya sedikit pun.
Annisa duduk dengan sangat tenang. Jemari tangannya yang lentik terlipat rapi di atas pangkuannya. Tidak ada rasa marah, tidak ada kebingungan, dan sama sekali tidak ada rasa iba di sepasang mata indahnya. Bagi Annisa, drama murahan yang dipertontonkan oleh Rian dan Eriska di depan Majelis Hakim tak lebih dari sekadar konfirmasi atas betapa buruknya kualitas dua orang yang pernah merusak hidupnya.
Di sebelah Annisa, Fandi Prasetyo bersedekap dada. Pimpinan Prasetyo Group itu menyunggingkan senyuman tipis yang sangat dingin—sebuah senyuman yang memancarkan penghinaan mendalam atas tingkah laku dua orang di kursi pesakitan tersebut.
"Pengakuan yang sangat tidak bermartabat," bisik Fandi pelan di samping telinga Annisa, suaranya berat dan bernada sangat dewasa. "Mereka sedang menggali lubang kubur hukum mereka sendiri di depan hakim."
Annisa menoleh sedikit ke arah Fandi, lalu menyunggingkan senyuman tipis yang amat berkelas. "Biarkan saja, Mas Fandi. Orang yang membangun hubungan di atas fondasi kepalsuan dan ketamakan memang selalu hancur dengan cara saling memakan satu sama lain."
Fandi mengangguk setuju. Tatapannya yang tajam kembali mengawasi jalannya persidangan.
Sementara itu, Kuasa Hukum Eriska berdiri untuk membaca nota eksepsi versinya sendiri. Dengan nada suara yang terkesan putus asa, pengacara Eriska mencoba melemparkan seluruh kesalahan pada Rian.
"Majelis Hakim yang bijaksana," ujar pengacara Eriska, "Klien kami adalah korban manipulasi dari Terdakwa I. Terdakwa II tidak memiliki akses terhadap sistem keuangan Vantara Land, tidak memiliki kewenangan menandatangani dokumen klaim, dan seluruh transaksi perhiasan dilakukan menggunakan akun dan kartu pribadi atas nama Terdakwa I. Klien kami tidak dapat dikenakan pasal penggelapan maupun TPPU karena kedudukannya murni sebagai penerima hadiah pasif."
Pak Danu, yang duduk di samping Annisa, terkekeh pelan tanpa suara. Pengacara senior Vantara Group itu berbisik pada Annisa.
"Pembelaan yang sangat rapuh, Mbak Annisa," bisik Pak Danu. "Tim kita memiliki rekaman percakapan dan bukti transfer di mana Saudari Eriska secara aktif memberikan nomor rekening toko perhiasan dan menagih konfirmasi pembayaran dari Rian. Begitu JPU mengajukan bukti-bukti itu di sidang pembuktian minggu depan, argumen 'penerima pasif' itu akan rontok total."
"Lakukan sesuai prosedur hukum terbaik, Pak Danu," sahut Annisa tegas namun tenang. "Pastikan pasal tindak pidana pencucian uang menjerat mereka berdua tanpa ada yang lolos."
"Siap, Mbak Annisa," tegas Pak Danu.
Di tengah ruang sidang, Jaksa Penuntut Umum (JPU) berdiri untuk memberikan tanggapan lisan atas eksepsi kedua pengacara terdakwa. Dengan nada mantap dan memotong semua dalih, JPU meminta Majelis Hakim menolak seluruh eksepsi yang diajukan.
"Bahwa dalih saling tuding dan alasan manipulasi emosional yang disampaikan oleh Kuasa Hukum Terdakwa I dan Terdakwa II telah masuk ke dalam pokok perkara yang wajib dibuktikan dalam persidangan," tegas Jaksa. "Fakta bahwa barang-barang bukti bernilai puluhan juta rupiah ditemukan dalam penguasaan Terdakwa II, dan fakta bahwa Terdakwa I mentransfer uang perusahaan ke rekening perusahaan fiktif secara sadar, telah memenuhi syarat materiil untuk melanjutkan persidangan ke tahap pembuktian."
Rian menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai ubin ruang sidang dengan pandangan hampa. Suara pertengkarannya dengan Eriska tadi masih berdengung di kepalanya, namun kini menyisakan rasa malu yang teramat pekat.
Rian melirik ke arah Eriska yang duduk di sampingnya. Wanita yang dulu selalu dipujinya manis, yang dulu selalu membuatnya bangga ketika dipamerkan di depan teman-temannya, kini menatapnya dengan raut wajah penuh kebencian dan rasa jijik.
Tidak ada lagi cinta. Tidak ada lagi sanjungan semu. Yang ada hanyalah dua orang pesakitan yang saling tuduh demi menyelamatkan kulit masing-masing dari dinding penjara.
Rian lalu mengalihkan pandangannya ke barisan depan pengunjung.
Di sana, Annisa Septiani duduk begitu anggun, didampingi Fandi Prasetyo yang begitu gagah dan berwibawa. Mereka berdua tidak melihat ke arahnya dengan kemarahan meledak-ledak. Mereka menatapnya seolah Rian adalah tontonan yang menyedihkan dan tak berharga.
Perbedaan kelas itu terasa bagaikan jurang yang membentang dari langit ke dasar bumi.
Dulu, Annisa adalah istri yang selalu menyambutnya di pintu rumah dengan senyuman tulus, memasakkan makanan hangat untuknya, dan mendengarkan semua keluh kesahnya tanpa pernah memamerkan kekayaannya. Annisa tidak pernah menuntut barang mewah, tidak pernah memaki ketika Rian pulang terlambat, dan selalu menjaga harga dirinya di depan keluarga.
Dan Rian membuang wanita sesempurna itu... demi wanita matre yang kini meludahi namanya di dalam ruang sidang resmi.
Air mata penyesalan yang sangat dingin mengalir lambat di pipi Rian yang kotor. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi kebodohannya yang tak termaafkan.
Hakim Ketua memukul palunya sekali lagi dengan suara nyaring.
Tok!
"Majelis Hakim akan mengambil keputusan sela atas eksepsi para terdakwa," putus Hakim Ketua. "Sidang ditunda hingga hari Kamis mendatang dengan agenda Pembacaan Putusan Sela dan Pemeriksaan Saksi-Saksi. Terdakwa dikembalikan ke tahanan."
Petugas kejaksaan kembali maju, menarik lengan Rian dan Eriska agar berdiri. Eriska berjalan cepat mendahului Rian tanpa menoleh sedikit pun, sementara Rian berjalan terhuyung-huyung dengan langkah terseret.
Saat Rian digiring melewati barisan depan, langkahnya sempat terhenti sejenak di samping bangku Annisa.
"Nisa," bisik Rian dengan suara tercekik, air matanya menetes di atas kemeja leceknya. "Nisa ... maafin Mas."
Annisa tidak menoleh. Ia bahkan tidak mengedipkan matanya. Annisa hanya berdiri dari kursinya dengan gerakan yang sangat anggun, menyambut jas yang dirapikan oleh Fandi Prasetyo, lalu melangkah menuju pintu keluar VIP tanpa memberikan satu lirikan pun pada pria yang pernah menjadi suaminya itu.
Rian ditarik paksa oleh petugas keluar melalui pintu tahanan, tenggelam dalam penyesalan yang makin pekat di balik dinginnya besi penjara.
bersambung...