NovelToon NovelToon
SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

SUAMIMU BUKAN SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:87.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.

Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."

Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.

Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Semakin Kesal, Semakin Penasaran

Aksa terdiam sesaat ketika pintu lift terbuka. "Gadis ini lagi."

Ia sempat mendengar perempuan itu menggerutu, tetapi suaranya terlalu pelan sehingga Aksa tidak bisa menangkap dengan jelas apa yang dikatakannya. Namun, dari ekspresi wajahnya, jelas sekali perempuan itu terlihat tidak senang melihat dirinya.

Aksa mengernyit.

Entah mengapa, setiap kali bertemu perempuan ini, reaksinya selalu sama. Seolah-olah keberadaannya benar-benar mengganggu.

Hal itu sedikit mengusik egonya.

Selama ini, hampir semua perempuan yang ditemuinya setidaknya akan menunjukkan ketertarikan ketika berhadapan dengannya. Ada yang tersipu, ada yang mencuri pandang, bahkan ada yang sengaja mencari alasan untuk mengajaknya berbicara.

Namun perempuan ini?

Jangankan terpesona. Melihatnya saja sudah membuat wajahnya terlihat kesal.

Aksa baru hendak melangkah keluar ketika Aynara bergerak masuk.

Aynara memilih sisi kiri. Aksa tanpa sengaja bergerak ke kiri pula. Aynara berhenti. Aksa ikut berhenti. Perempuan itu kemudian bergeser ke kanan. Aksa juga mengambil arah yang sama.

Aynara menatapnya tidak percaya. "Serius? Lagi?"

Kejadian yang sama seperti di gedung perusahaan kembali terulang.

Aynara menarik napas panjang, berusaha menahan kesabaran. Namun melihat Aksa yang masih berdiri di hadapannya membuat kesabarannya semakin menipis. Ia akhirnya mendongakkan wajah.

"Hei, Tuan, tolong menyingkir."

Aksa mengangkat alis. "Tuan?"

"Iya, Tuan." Aynara menunjuk ke arah pintu lift. "Saya mau masuk."

Aksa melirik ke belakang, kemudian kembali menatap Aynara. "Silakan."

Aynara mengernyit. "Kalau saya bisa masuk, saya gak akan minta Anda menyingkir."

Aksa terdiam. "Benar juga."

Ia baru menyadari bahwa dirinya memang berdiri tepat di tengah pintu lift. Namun bukannya langsung bergeser, Aksa justru menatap Aynara beberapa detik.

"Kenapa Anda selalu terlihat kesal setiap bertemu saya?"

Pertanyaan itu membuat Aynara terdiam. Ia sebenarnya ingin menjawab bahwa pria di depannya memang menyebalkan. Namun, ia tidak ingin memperpanjang masalah.

Aynara mengembuskan napas. "Saya gak kesal."

Aksa mengamati wajah wanita di depannya. "Benarkah?"

"Benar," jawaba Aynara malas.

Aksa memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Kalau begitu, kenapa wajah Anda seperti ingin memukul saya?"

Aynara langsung menatapnya tajam. "Karena Anda menghalangi jalan saya."

Aksa hampir tersenyum. Perempuan ini benar-benar berani. "Padahal saya baru dua kali bertemu Anda."

"Dan dua-duanya selalu menghalangi jalan saya," tukas Aynara.

Aksa terdiam. Entah kenapa jawaban itu justru membuat sudut bibirnya hampir terangkat. Ia kemudian bergeser ke samping, memberi jalan. "Nah. Sekarang silakan."

Aynara langsung melangkah masuk tanpa mengucapkan terima kasih. Namun, saat berbalik untuk menekan tombol lantai, ia mendadak berhenti.

Aksa masih berdiri tepat di tengah pintu lift sambil menatapnya. Mata mereka bertemu.

Dada Aynara naik turun. Tangannya mengepal menahan kesal. "Jangan-jangan pria ini memang sengaja?"

"Kenapa lihat-lihat?" sentaknya. "Dan kenapa Anda masih berdiri di situ? Minggir! Anda menghalangi pintu."

Aksa mengangkat alis. "Saya hanya heran."

"Heran apa?" tanya Aynara tak sabar.

Aksa menunjuk Aynara dengan dagunya. "Anda."

Aynara semakin kesal. "Apa yang aneh dari saya?"

Aksa memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Sejak pertama kali bertemu, Anda selalu terlihat tidak suka kepada saya."

Aynara mendengus pelan. "Memangnya saya harus suka?"

Aksa terdiam. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Aynara kemudian memalingkan wajah. "Kalau gak ada lagi yang mau dibicarakan, tolong menyingkir dari pintu."

Aksa akhirnya tersenyum tipis. "Silakan."

Aynara menekan tombol lantai. Pintu lift mulai menutup. Namun sebelum pintu benar-benar tertutup, Aksa masih sempat melihat wajah perempuan itu yang jelas-jelas menunjukkan kekesalan.

Aneh. Seharusnya ia merasa tersinggung. Namun entah mengapa, justru ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang perempuan tersebut.

"Siapa dia?"

Kenapa setiap bertemu dengannya selalu ada saja hal yang membuatnya kesal? Dan yang paling mengganggunya...

Kenapa ia justru terus mengingat perempuan itu?

Aksa menghela napas pelan. "Benar-benar aneh."

 

Sementara di dalam lift, Aynara menyandarkan punggungnya pada dinding sambil mengembuskan napas panjang.

"Kenapa sih harus ketemu dia lagi?"

Ia menatap angka lantai yang terus berubah.

"Dan kenapa orang itu selalu muncul di saat aku lagi gak mau lihat dia?"

Padahal ia memang tidak pernah ingin melihat pria itu lagi sejak ia diusir dari kediaman Wicaksono.

Aynara menggeleng kesal. "Dasar Merak Rimba. Menyebalkan."

***

Aynara sedang menyusun bahan makanan yang baru dibelinya ke dalam kulkas ketika suara pintu apartemen terdengar.

Tak lama kemudian, Riva muncul dengan wajah penuh semangat. "Ra! Kamu tahu gak?!"

Aynara menoleh. "Apa?"

Riva langsung menghampirinya. "Si Aksa! Pria terganteng di kantor itu!"

Tangan Aynara yang sedang meletakkan daging ke dalam freezer mendadak berhenti. "Kenapa dia?"

"Dia yang semula cuma manajer, tiba-tiba hari ini diangkat jadi CEO!"

Aynara terdiam. Pikirannya langsung teringat perkataan Wicaksono beberapa waktu lalu. Kakek Aksa memang pernah mengatakan bahwa cucunya akan dinaikkan menjadi CEO jika ia berhasil memiliki anak dengan dirinya.

Namun, jangankan memiliki anak... Mereka bahkan belum pernah tidur bersama.

"Padahal posisi CEO itu memang milik keluarga Wicaksono, pemilik Aksara Group," lanjut Riva. "Jadi... Aksa itu benar-benar pewaris Aksara Group?"

"Memang." Jawaban Aynara keluar begitu saja.

Riva langsung menoleh. "Hah? Kamu tahu?"

Aynara tersadar.

"Eh..." Riva menatap Aynara penuh selidik. "Kamu tahu dari mana?"

Aynara buru-buru menutup pintu freezer. "Aku gak sengaja dengar Pak Gunadi bicara dengan seorang pria."

Mata Riva sedikit melebar. "Pak Gunadi?"

"Iya," jawab Aynara sambil mengambil sayuran.

Riva mengangguk cepat. "Oh, beliau memang tangan kanan Tuan Wicaksono. Jadi benar dong Aksa itu pewaris Aksara Group?"

Aynara hanya mengangguk.

Riva langsung bersiul. "Ya ampun... sudah ganteng, tajir--"

"Sombong dan angkuh pula." Aynara kembali keceplosan.

Riva mendadak diam. Aynara juga membeku. Keduanya saling menatap.

Riva perlahan menyipitkan mata. "Eh..."

Aynara pura-pura sibuk menyusun sayuran.

Riva menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tunggu dulu."

"Apa?" tanya Aynara tanpa menatap Riva. Perhatiannya tetap pada sayuran yang ia susun.

"Sejak tadi aku bahas Aksa, kamu kok kayak gak suka banget?"

Aynara berusaha terlihat santai. "Biasa aja."

"Biasa dari Hong Kong." Riva mendekat. "Bukan cuma sekarang. Tadi di kantor juga begitu. Waktu aku bilang dia ganteng, kamu malah mukanya kayak habis lihat utang jatuh tempo."

Aynara mendengus. "Karena dia memang nyebelin."

Riva semakin penasaran. "Nyebelin dari mana? Kamu baru ketemu dia sekali."

Aynara terdiam.

Riva langsung menunjuk wajahnya. "Nah! Diam!"

"Apa?" Aynara beralih mengambil buah.

"Kamu pasti nyembunyiin sesuatu," tebak Riva.

"Gak ada," elak Aynara.

"Jangan bohong." Riva menatapnya penuh curiga. "Jangan-jangan..."

Aynara mulai waspada. "Jangan-jangan apa?"

Riva tiba-tiba menyeringai. "Kamu pernah punya hubungan sama Aksa?"

Aynara hampir tersedak. "HAH?!"

"Kenapa kaget?" Riva makin curiga.

Aynara mendengus. "Karena pertanyaanmu gak masuk akal!"

Riva terkekeh. "Ya siapa tahu. Soalnya reaksimu kalau dengar nama Aksa itu bukan reaksi orang yang baru kenal."

Aynara menghela napas panjang. "Kamu kebanyakan nonton drama."

"Justru karena aku sering nonton drama, instingku tajam." Riva begitu percaya diri.

Aynara menggeleng sambil kembali menata belanjaan. "Sudah. Jangan bahas dia lagi."

Riva semakin menyeringai. "Semakin kamu melarang, semakin aku curiga."

 

...🔸🔸🔸...

...“Jangan mengukur nilai seseorang dari seberapa banyak orang yang mengaguminya. Terkadang, orang yang tidak terpesona oleh kelebihan kita justru bisa menjadi cermin yang menunjukkan kekurangan yang selama ini tidak pernah kita sadari.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Regan yang sedang berada di taman rumah sakit, dadanya terasa nyeri sejak melihat Asti menangis.

Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.

Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.

Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.

Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.

Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Anonim
Berkas-berkas yang dibawa Gunadi untuk diperiksa Regan, sudah diperiksa semua.

Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.

Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.

Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.

Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Anonim
Regan ingin pulang, merasa sudah baik dan tidak ada keluhan apapun.

Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.

Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Anonim
Doni menyuruh seseorang mengunggah kecelakaan yang menimpa Aksa.

Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.

Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Anonim
Doni mengusik keluarga Wicaksono dengan menyuruh seseorang untuk menyebarkan kabar tentang kondisi Aksa Wicaksono setelah kecelakaan.

Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.

Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Doni nanti musuhnya Regan. G
Anonim
Gunadi sudah berada di ruangan dokter yang menangani Aksa.


Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.

Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.

Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.

Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.

Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.

Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Anonim
Andai kakek Wicaksono sadar dari koma, beliau pasti bisa langsung mengenali cucunya.

Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.

Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.

Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.

Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.

Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.

Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Anonim
Asti juga merasa ada yang janggal. Aksa aekarang seperti bukan dirinya.

Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Anonim
Aynara emosinya mudah tersulut setiap berada di dekat Aksa. Apalagi melihat wajah Aksa, ia langsung ingat semua perkataan yang sangat menyebalkan.

Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.

Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.

Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Anonim
Regan seperti tak habis pikir, Aynara bisa memaafkan Aksa.

Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.

Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.

Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.

Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.

Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Anonim
Aynara selesai mengetik nomornya di ponsel Regan. Untuk memudahkan berkomunikasi.

Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.

Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.

Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.

Aynara memaafkan Aksa.
Anonim
Aynara datang, Asti belum pergi.

Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.

Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.

Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.

Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.

Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.

Aynara menyelesaikan ceritanya.

Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Anonim
Regan dengan ponselnya menghubungi Joseph ketika Asti baru di dalam kamar mandi.

Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.

Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.

Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.

Juga tentang pekerjaan Aksa.

Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Anonim
Doni anaknya Ria, gundiknya ayahnya Aksa yang mencelakai Aksa ya.

Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Anonim
Mereka tahu kecelakaan cukup parah. Sopir meninggal di tempat. Mobil mengalami rusak parah.

Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.

Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Anonim
Siapa yang datang ?
Anonim
Regan diperiksa dokter - katanya dari pemeriksaan awal, ada tanda gangguan ingatan 😄. Padahal kenyataannya Regan akting mendalami 6perannya sebagai Aksa yang dia masih bingung mau bagaimana.

Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.

Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.

Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Anonim
Aynara memanggil dokter, yang tidak lama kemudian datang.

Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.

Bikin Asti khawatir saja nih.
Anonim
Regan mulai memainkan perannya sebagai Aksa yang bingung mau bicara apa.

Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.

Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.

Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.

Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.

Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.

Regan membuat hidupnya rumit sendiri.
Anonim
Regan memang pinter otaknya cerdas. Kalau tidak, mana mungkin dia dengan cepat bisa punya inisiatif memakai identitas Aksa yang kebetulan wajahnya mirip dengannya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!