NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Mereka bersembunyi di gubuk nelayan tua di tepi rawa, jauh dari jangkauan jalan raya dan sinyal seluler. Kecewa menyelimuti suasana—gagal masuk ke ruang arsip pribadi Rusli terasa seperti mundur jauh, padahal mereka sudah berani menyusup hingga ke dalam rumahnya sendiri.

“Kita tidak bisa menyerang secara langsung lagi,” kata Surya sambil memandangi peta lusuh di atas tanah. “Pertahanan Rusli terlalu rapat, dan dukungan publik yang ia bangun membuatnya hampir tak tersentuh. Jika kita salah langkah, kita justru akan ditangkap sebagai penjahat.”

Pak Udin yang sejak tadi diam memandang buku catatan lamanya, tiba-tiba menunjuk satu baris yang digarisbawahi pelan: “Kedatangan tamu dari Sulawesi. Dokumen kunci diserahkan lewat jalur laut, tidak lewat kantor. Rusli tidak berani menyimpannya di sini.”

Rendra menegakkan badannya. “Maksudnya dokumen proyek Langit Baru tidak ada di rumahnya, tidak ada di markas Pulau Beras? Lalu di mana dia menyimpannya?”

“Di kapal lamanya,” jawab Pak Udin mantap. “Ada satu kapal kargo tua bernama ‘Samudra Damai’ yang sudah dinyatakan tidak layak operasi dan diikat di teluk tersembunyi. Rusli tidak pernah menjualnya. Dia bilang kapal itu adalah kenangan pertama usahanya. Tapi saya sering melihat dia pergi ke sana sendirian di malam hari, membawa tas tertutup rapat.”

Malam itu juga, mereka menyusuri pantai menuju teluk yang dimaksud. Tempat itu dikelilingi tebing batu karang tinggi, sehingga tidak terlihat dari laut lepas. Di sana, di tengah air yang tenang, terlihat kapal tua itu—catnya sudah pudar, jendelanya gelap, dan tampak tak berpenghuni. Namun Dika segera menggeleng saat melihat sisi lambung kapal.

“Lihat di sana,” bisiknya. “Kawat halus tersembunyi di antara karat. Begitu ada yang menyentuhnya, sinyal bahaya langsung terkirim. Dan di bagian bawah air, terpasang kamera yang berputar perlahan.”

Mereka memutar perahu kecil ke sisi belakang kapal. Di sana ada lubang ventilasi yang sudah lama tidak dipakai, tertutup lumut tebal. Dengan hati-hati mereka masuk satu per satu, merangkak di antara pipa berkarat hingga sampai ke ruang penyimpanan tengah.

Ruangan itu gelap, tapi begitu Dika menyalakan senter redup, mata mereka terbelalak. Di sana tidak ada barang dagangan, hanya deretan lemari besi yang tertutup rapat dan tumpukan dokumen yang disusun rapi.

“Ini dia,” bisik Pak Haris dengan suara bergetar. “Arsip asli yang tidak berani dia simpan di darat.”

Mereka bekerja cepat. Dika menyalin data digital ke perangkat cadangan, sementara yang lain memotret halaman demi halaman dokumen fisik. Di situ terungkap bagian pertama dari rencana mengerikan: proyek Langit Baru bukan sekadar menguasai jalur perdagangan—mereka berencana mengambil alih hak pengelolaan laut teritorial dan sumber daya alam di perbatasan, lalu membaginya dengan kekuatan asing dengan imbalan dukungan politik dan senjata.

“Mereka akan menjual kekayaan negeri ini demi kekuasaan mutlak,” kata Rendra marah sambil menahan suaranya. “Dan semua ini dilakukan dengan kedok kemajuan daerah.”

Namun saat sedang memeriksa berkas terakhir, sebuah dokumen tertutup segel merah menarik perhatian Pak Haris. Ia membukanya perlahan, dan wajahnya berubah pucat.

“Ini surat perintah langsung dari pemimpin pusat,” katanya pelan. “Isinya memerintahkan Rusli untuk bersiap mundur ke Sulawesi jika ada ancaman serius. Dan… tertulis di sini: semua bukti yang berhubungan dengan Jawa Timur harus diserahkan ke Bimo, bukan disimpan lagi.”

Belum sempat mereka memproses informasi itu, bunyi langkah kaki terdengar di dek atas. Pintu ruang penyimpanan terbuka lebar. Rusli berdiri di sana, diiringi lima orang bersenjata lengkap. Kali ini tidak ada senyum—wajahnya dingin dan penuh amarah yang tertahan.

“Kalian benar-benar tak tahu rasa takut,” katanya tajam. “Kapal ini adalah tempat terakhir yang saya kira kalian berani datangi.”

“Kami sudah tahu segalanya, Rusli,” kata Rendra berdiri tegak. “Kalian ingin menjual masa depan negeri ini demi ambisi kalian sendiri. Dan Bimo adalah orang yang akan melindungi kalian jika rencana ini terbongkar.”

Rusli tertawa sinis. “Kalian tahu sebagiannya, tapi tidak semuanya. Bimo bukan sekadar pelindung—dia adalah tangan kanan yang akan mengeksekusi apa yang tidak berani saya lakukan. Dan kalian tidak akan pernah sampai ke Sulawesi untuk membuktikannya.”

Ia memberi isyarat untuk menurunkan jembatan besi. Namun tiba-tiba terdengar suara ledakan kecil dari arah mesin kapal. Seluruh kapal berguncang hebat, dan lampu darurat menyala berkedip merah.

“Saluran bahan bakar bocor!” teriak salah satu pengawal. “Kita harus segera meninggalkan kapal!”

Kekacauan itu memberi celah bagi mereka. Mereka segera masuk kembali ke lubang ventilasi, melompat ke perahu kecil di bawah sana, dan mendayung secepat mungkin menjauh. Saat mereka menoleh ke belakang, api mulai membesar di geladak kapal tua itu—Rusli sengaja memerintahkan membakarnya agar sisa dokumen lain tidak jatuh ke tangan mereka.

Di tengah gelap malam, mereka melihat api itu menyala terang menerangi teluk. Mereka berhasil mendapatkan bukti kunci, dan tahu arah selanjutnya adalah Sulawesi menemui Bimo. Tapi mereka juga sadar: musuh di sana jauh lebih disiplin, lebih berbahaya, dan sudah menunggu mereka dengan persiapan yang jauh lebih matang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!