Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.
Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Capek...
Begitu pintu kamar itu tertutup rapat, Naresa tidak langsung melangkah mendekati ranjang. Ia tetap berdiri di dekat pintu, memandangi sosok suaminya yang terbaring terlentang tanpa bergerak. Kemeja yang siang tadi masih tampak rapi kini kusut di beberapa bagian, sementara dua kancing teratas terbuka begitu saja. Pemandangan seperti itu terasa asing di mata Naresa. Selama mengenal Ardan, laki-laki itu hampir tidak pernah membiarkan penampilannya berantakan, bahkan setelah seharian bekerja.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah mertuanya tadi, Kale nyaris tidak mengatakan apa-apa. Keheningan di dalam mobil justru membuat pikiran Naresa dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Ardan menyuruh Kale menjemputnya. Namun, begitu pintu kamar ini dibuka, aroma alkohol langsung memenuhi indra penciumannya, semua pertanyaan itu perlahan menemukan jawabannya.
Perlahan, Naresa melangkah menghampiri ranjang. Langkahnya berhenti di ujung tempat tidur sebelum akhirnya ia duduk membelakangi Ardan. Pandangannya lurus mengarah ke pintu kamar, sementara pikirannya masih sibuk mencerna keadaan yang sedang berada di hadapannya. Tak ada satu pun yang keluar dari bibir Naresa.
“Sayang...”
Suara serak itu terdengar begitu lirih dari belakang punggung Naresa.
Ia tidak langsung menoleh. Beberapa detik kemudian, tubuh Ardan bergerak pelan. Dalam keadaan mata yang masih terpejam, ia memiringkan tubuhnya lalu bergeser mendekat hingga dahinya menyentuh punggung bawah Naresa. Salah satu lengannya terangkat pelan, kemudian melingkari pinggang perempuan itu dengan pelukan yang begitu longgar, seolah hanya mengikuti refleks tubuhnya sendiri.
“Maaf...” gumamnya lirih dari balik tubuh Naresa. “Aku belum makan masakan kamu, Res.”
Naresa menunduk sekilas menatap lengan Ardan yang masih bertumpu lemah di pinggangnya. Tanpa tergesa, ia melepaskan pelukan itu dengan hati-hati, lalu berbalik menghadap suaminya. “Masih pusing?”
Ardan menggeleng pelan. “Enggak..." jawabnya lirih. “Aku mau makan sup yang tadi kamu bawa.”
Sudut bibir Naresa bergerak tipis, entah ingin tersenyum atau justru menghela napas.
“Sayang... kamu marah?”
Kelopak mata Ardan terbuka sedikit. Pandangannya tampak sulit fokus saat berusaha mencari wajah Naresa. Dengan kedua siku sebagai tumpuan, ia mencoba mengangkat tubuhnya untuk duduk.
Melihat itu Naresa membantu menopang bahunya hingga Ardan berhasil duduk bersandar pada kepala ranjang. Laki-laki itu mengembuskan napas panjang, lalu memejamkan mata kembali sambil menggeleng pelan beberapa kali, seolah berusaha mengusir pening yang terus berputar di kepalanya.
“Ganti baju dulu, ya.”
Usai mengucapkan itu, Naresa beranjak menuju lemari yang berada di sudut kamar. Ia mengambil satu setel pakaian rumahan, lalu berjalan menuju meja kecil di samping ranjang. Dari tumbler besar yang tersedia di kamar, ia menuangkan air putih ke dalam sebuah gelas. Setelah itu, ia masuk sebentar ke kamar mandi, mengisi sebuah wadah dengan air hangat menggunakan water heater, kemudian membawa keluar handuk kecil.
Barulah ia kembali menghampiri Ardan. Laki-laki itu sudah kembali memejamkan mata. Wajahnya masih memerah, sementara beberapa bulir keringat tipis tampak menghiasi pelipisnya, padahal suhu ruangan cukup sejuk berkat pendingin udara yang terus menyala.
Naresa meletakkan semua barang yang dibawanya di atas nakas, lalu duduk di samping Ardan.
“Ganti baju dulu, ya Kak,” ucapnya sekali lagi, kali ini lebih pelan, seolah benar-benar sedang meminta izin.
Baru saja jemari Naresa hendak membuka kancing berikutnya, tangan Ardan perlahan menggenggam pergelangan tangannya.
“Sayang...”
“Iya, Kak.” Naresa menatap wajah suaminya sesaat sebelum kembali tersenyum simpul. “Ganti baju dulu, ya. Biar tidurnya lebih nyaman”
Genggaman itu perlahan mengendur. Naresa pun melanjutkan pekerjaannya, membuka satu per satu kancing kemeja Ardan dengan sabar hingga pakaian itu akhirnya berhasil dilepaskan seluruhnya.
Ia mengambil handuk kecil yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat, memerasnya perlahan, lalu mengusap wajah Ardan dengan lembut. Sentuhan hangat itu membuat Ardan sedikit tersentak sebelum kembali memejamkan mata. Dari wajahnya, usapan itu turun ke leher, bahu, dada, hingga kedua lengannya, membersihkan sisa keringat yang menempel setelah seharian beraktivitas.
“Dingin, Res...”
“Iya, Kak. Sebentar aja.”
Begitu selesai, Naresa mengambil kaus rumahan yang tadi ia siapkan. Dengan hati-hati, ia memasukkan kaus itu melewati kepala Ardan.
“Tangannya, Kak.”
Alih-alih menurut, Ardan justru kembali membuka mata meski hanya separuh. Pandangannya masih sayu. Perlahan ia meraih tangan Naresa, lalu membawanya mendekat. Kelopak matanya kembali terpejam ketika bibirnya mengecup lembut bagian dalam pergelangan tangan perempuan itu, tepat di atas nadinya.
Bibirnya terlepas beberapa saat kemudian. Barulah Ardan membuka mata kembali dan mendongakkan wajah sedikit, berusaha menatap Naresa. Tatapannya masih kabur, tetapi sudut bibirnya terangkat tipis.
“Resa... ku sayang.” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.
“Iya. iya. Ganti baju dulu.”
Naresa kembali melanjutkan pekerjaannya hingga kaus rumahan itu akhirnya terpasang dengan rapi di tubuh Ardan.
Kini pandangannya beralih pada celana panjang yang masih dikenakan suaminya.
“Kak...” panggilnya pelan. “Bisa ganti celana sendiri nggak?”
Pertanyaan itu bahkan terdengar konyol di telinganya sendiri. Bagaimanapun juga, ia masih belum terbiasa membantu Ardan dalam hal-hal seintim itu.
Alih-alih menjawab, Ardan justru tertawa kecil. Entah karena geli dengan pertanyaan Naresa atau memang pikirannya yang sudah terlalu dipengaruhi alkohol, Naresa tidak tahu.
Melihat tingkahnya, Naresa hanya mendelikkan matanya malas.
Butuh waktu lebih lama dari yang seharusnya hanya untuk mengganti pakaian Ardan. Beberapa kali laki-laki itu kembali meracau, sesekali menggumamkan kalimat yang bahkan Naresa sendiri tidak benar-benar pahami. Namun pada akhirnya, seluruh pakaian kerja itu berhasil berganti menjadi pakaian rumahan yang lebih nyaman.
Setelah Ardan selesai minum air putih, Naresa membantu membaringkan tubuh laki-laki itu, menyelimutinya hingga menutupi bagian perut Ardan.
“Tidur yang nyenyak, ya. Kak.” katanya sembari mengusap lembut rambut Ardan.
Setelah itu, Naresa bangkit dari sisi ranjang sambil membawa wadah kecil berisi air hangat yang uapnya mulai menghilang. Baru beberapa langkah menuju kamar mandi, suara serak Ardan kembali memanggilnya.
“Capek, Res...”
Langkah Naresa seketika terhenti.