Amelia Kusumawardhani, seorang dokter forensik yang blak-blakan dengan kehidupan sederhana yang dipenuhi novel, anime, dan kerajinan tangan, tidak pernah menyangka kematiannya akan membawanya ke dalam novel favoritnya.
Lebih buruk lagi, ia terlahir sebagai anak pungut keluarga penjahat dalam cerita asli yang ditakdirkan untuk menghancurkan kerajaan.
Dan dia sendiri?
Ia hanya memiliki satu akhir dalam novel.
Yaitu mati.
Berlatar di sebuah Kerajaan Fantasi bergaya Eropa, akankah Amelia mampu bertahan, menemukan kebenaran, dan mengubah takdir yang seharusnya menjadi miliknya. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinnox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Yang Belum Sembuh
Pelajaran pertama itu berlangsung lebih lama dari yang Eve perkirakan. Setelah mengenal beberapa huruf, Elyndor mulai memperkenalkan kata-kata sederhana, kemudian menjelaskan bahwa tulisan yang digunakan dalam bahasa wilayah tersebut akan sering ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari. Eve berusaha mengingat semuanya, terutama bentuk-bentuk yang kemungkinan besar akan sering dia lihat.
Setelah beberapa waktu, Elyndor akhirnya menutup bukunya.
"Untuk hari ini, cukup sampai sini dulu."
Eve yang sejak tadi serius mengerjakan latihan langsung meletakkan pensil.
"Uda?"
"Untuk bagian ini, ya."
Eve menghela napas lega dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
'Ternyata belajar nggak seburuk yang gue kira.'
Dia kemudian melirik tumpukan buku di meja. Masih banyak yang belum disentuh, termasuk beberapa buku yang berkaitan dengan sejarah dan bahasa. Kalau semua itu benar-benar harus dipelajari, kehidupannya sebagai Eve mungkin akan jauh lebih sibuk daripada yang dia bayangkan.
Namun untuk sekarang, dia tidak keberatan. Semakin cepat dia bisa membaca, semakin cepat pula dia bisa mencari informasi sendiri tanpa harus bertanya kepada orang lain. Dan itu jauh lebih penting baginya.
Terutama karena masih ada satu hal yang belum dia lupakan, tentang kematian Aveline Valois.
Dia belum tahu kapan tepatnya kejadian itu akan berlangsung dan siapa yang bertanggung jawab. Ingatannya tentang novel memang tidak cukup lengkap untuk memberikan jawaban, jadi satu-satunya cara adalah mencari tahu sedikit demi sedikit.
Disisi lain, Elyndor mulai membereskan buku-buku di atas meja. Eve ikut turun dari kursinya dengan bantuan kedua tangannya, lalu berdiri di samping meja sambil melihat papan yang masih penuh dengan huruf. Tidak lama, terdengar ketukan pelan dari pintu perpustakaan. Elyndor menoleh lebih dulu. Seorang pelayan berdiri di ambang pintu dan membungkuk sopan sebelum masuk beberapa langkah.
"Nona Eve, saya datang untuk mengantar Nona kembali ke kamar," ujar pelayan itu.
Eve mengangguk. Setelah duduk cukup lama, kakinya mulai terasa pegal dan dia sudah ingin berbaring sebentar. Eve menoleh kepada Elyndor yang masih merapikan buku-bukunya.
"Pelajalan becok yagi?" tanyanya.
Elyndor berhenti sejenak sebelum mengangguk. "Kalau tidak ada perubahan, ya. Besok kita lanjutkan."
Eve mengangguk kecil. Dia turun dari kursi, lalu menghampiri pelayan yang sudah menunggunya. Sebelum pergi, dia sempat menoleh lagi ke arah rak-rak buku. Sekarang tempat itu tidak lagi terlihat sepenuhnya asing baginya.
'Liat aja gak lama lagi, gue taklukin lu semua. Maju sini!'
Pelayan itu kemudian membawa Eve keluar dari perpustakaan, meninggalkan Elyndor sendirian di sana.
Elyndor memandangi pintu yang baru saja tertutup. Setelah beberapa detik, dia mengambil kertas latihan Eve dan melihat hasil tulisannya. Tidak sempurna, tentu saja, tetapi cukup baik untuk pelajaran pertama.
Anak itu di mata Elyndor terasa aneh. Bukan dalam arti buruk. Justru sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir, Elyndor merasa mengajar seorang anak kecil tidak semenyebalkan yang dia bayangkan. Eve mudah diarahkan, cepat menangkap penjelasan, dan tidak banyak mengeluh. Bahkan ketika menemukan huruf yang sulit, dia tidak langsung menyerah.
Yang membuatnya penasaran justru hal lainnya.
Elyndor mengembuskan napas pelan, lalu menutup buku-buku yang tersisa. Kalau ingin mendapatkan jawabannya, dia tahu satu-satunya orang yang bisa ditanya adalah Lucien.
Tidak lama setelah Eve meninggalkan perpustakaan, Elyndor sudah berada di ruang kerja Duke Valois. Lucien duduk di balik meja kerjanya dengan beberapa dokumen terbuka di hadapan. Seperti biasa, wajahnya tenang dan sulit ditebak.
Elyndor berdiri di depan meja, lalu meletakkan beberapa lembar kertas hasil latihan Eve di atasnya.
"Pelajaran pertamanya selesai," ujar Elyndor. "Dia sudah mengenali beberapa huruf dasar dan bisa membaca kata-kata sederhana. Kemampuan mengingatnya cukup baik."
Lucien mengangkat pandangan dari dokumen.
"Begitukah?"
"Ya"
Lucien mengangguk kecil. Tidak terlihat terkejut maupun terlalu tertarik.
Elyndor memperhatikan reaksinya. "Dia juga tidak banyak mengeluh. Awalnya saya mengira dia akan cepat bosan, tetapi ternyata tidak. Dia cukup mudah mengikuti instruksi."
"Bagus."
Jawaban pendek itu membuat Elyndor menghela napas.
"Responsmu selalu sesingkat itu?"
Lucien kembali melihat dokumen di depannya. "Apa yang kau harapkan? haruskah aku membuat pesta atas perayaan 'Pertama kali belajar'? "
Elyndor tidak menjawab. Dia hanya menatap pria itu beberapa saat sebelum akhirnya menarik kursi dan duduk di hadapannya. Sebenarnya, sejak pertama kali melihat Eve, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Bukan karena anak itu merepotkan. Justru karena kehadirannya sendiri terasa tidak biasa.
Selama bertahun-tahun mengenal Lucien, Elyndor tahu pria itu bukan seseorang yang mudah mengambil keputusan tanpa alasan. Duke Valois terbiasa hidup dengan caranya sendiri, mengurus wilayahnya, mengurus dua putranya, dan menjaga jarak dari berbagai urusan yang tidak dianggap penting.
Lalu tiba-tiba saja pria itu membawa pulang seorang anak dari panti asuhan dan memperkenalkannya sebagai putrinya.
Elyndor tidak bisa memahami alasannya. Dia menatap Lucien yang masih sibuk membaca dokumen.
"Kau pungut dia di mana?" tanyanya akhirnya.
Lucien bahkan tidak mengangkat wajah. "Bukan urusanmu."
Elyndor mengerutkan kening, dia tidak tahu harus merasa kesal atau menyerah.
Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku hanya bertanya. Tidak ada salahnya memberitahuku."
"Kalau tidak ada hubungannya denganmu, tidak perlu tahu."
Elyndor terdiam.
'Benar-benar menyebalkan'
Dia sudah menduga Lucien akan menjawab seperti itu, tetapi tetap saja berharap pria itu setidaknya memberikan sedikit penjelasan. Elyndor mengalihkan pandangan ke jendela. Sebenarnya yang tidak dia mengerti bukan hanya dari mana Eve berasal, melainkan alasan Lucien membawanya masuk ke keluarga Valois.
Duke itu sudah memiliki dua putra. Cedric dan putra keduanya sudah cukup untuk meneruskan nama keluarga. Tidak ada kebutuhan mendesak untuk mengangkat seorang anak lagi, terlebih seorang anak kecil yang masih membutuhkan banyak perhatian dan pendidikan.
Lucien bahkan bukan tipe orang yang terlihat tertarik mengurus anak.
'Lalu untuk apa?' pikit Elyndor dalam hati.
Elyndor kembali menatap pria di hadapannya.
"Selama ini hidupmu baik-baik saja tanpa anak perempuan," katanya, kali ini lebih hati-hati. "Kau sudah punya dua putra. Jadi kenapa tiba-tiba memutuskan membawa Aveline ke sini?"
Lucien berhenti membaca.
Untuk sesaat, ruangan itu hening. Elyndor menunggu jawaban, tetapi Lucien hanya menutup dokumen di tangannya dan menyandarkan tubuh ke kursi.
"Itu keputusan yang kuambil. Kenapa kau selalu bertanya pada hal yang tidak perlu."
Jawaban itu tidak menjawab apa pun. Elyndor menatapnya dengan wajah datar.
"Tentu saja itu keputusanmu. Aku hanya ingin tahu alasannya."
Lucien tidak menjawab.
'Anak itu sebenarnya siapa?'
Elyndor masih duduk di hadapan meja kerja Lucien. Percakapan mereka sebenarnya sudah hampir selesai, tetapi rasa penasarannya belum benar-benar hilang. Ada satu kemungkinan yang sejak tadi berputar di kepalanya. Dia sempat ragu untuk mengatakannya, mengingat bagaimana Lucien biasanya bereaksi jika menyangkut masa lalu keluarganya.
Namun akhirnya Elyndor tetap membuka suara.
"Apa karena dia mirip mendiang Duchess?"
Pena di tangan Lucien langsung berhenti.
"Jangan bawa dia ke dalam pembicaraan ini!"
Suara Lucien tiba-tiba meninggi hingga membuat Elyndor sedikit tersentak. Pria yang biasanya begitu tenang itu bahkan berdiri dari kursinya dengan gerakan kasar. Beberapa lembar dokumen di atas meja ikut bergeser ketika tangannya menekan permukaan meja.
Elyndor terdiam.
Dia sudah mengenal Lucien cukup lama, tetapi jarang sekali melihat pria itu kehilangan kendali seperti ini.
Lucien menarik napas berat. Rahangnya mengeras, tetapi beberapa detik kemudian sorot matanya justru berubah. Kemarahan yang tadi memenuhi wajahnya perlahan digantikan sesuatu yang jauh lebih sulit dibaca.
Ketika akhirnya dia menyebut wanita yang sudah lama meninggal itu, suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang Duke yang sedang memberi perintah.
"Jangan samakan dia dengan istriku."
Kalimat itu keluar lebih pelan.
Lucien menundukkan pandangan. Tangannya yang tadi mencengkeram meja perlahan mengendur, tetapi jemarinya masih terlihat tegang.
"Mendiang Duchess...."
Dia berhenti. Seolah hanya menyebut gelarnya saja sudah membuat sesuatu yang selama ini dia tahan kembali terbuka.
Elyndor memperhatikan perubahan itu tanpa berkata apa-apa.
Lucien menelan ludah sebelum melanjutkan, tetapi suaranya terdengar berat.
"Dia sudah tidak ada. Seharusnya kau tidak perlu membahasnya."
Hanya beberapa kata, tetapi ekspresi Lucien membuat Elyndor tidak lagi merasa perlu bertanya. Pria itu tampak terpukul, seperti seseorang yang masih belum benar-benar menerima kehilangan tersebut meskipun sudah bertahun-tahun berlalu.
Lucien mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu kembali duduk. Gerakannya kali ini jauh lebih lambat.
"Aveline bukan dia," katanya pelan. "Jangan pernah menganggapnya begitu."
Elyndor diam beberapa saat.
"Aku tidak bermaksud mengatakan mereka sama," jawabnya akhirnya. "Aku hanya melihat mereka sedikit mirip."
Lucien tidak segera menjawab.
Tatapannya jatuh pada permukaan meja, sementara wajahnya masih menyimpan sisa emosi yang tadi muncul begitu tiba-tiba. Elyndor melihat dengan jelas bahwa nama mendiang Duchess bukan sekadar bagian dari masa lalu keluarga Valois, tetapi merupakan luka lama yang ada di dalam diri Lucien.
Elyndor menghela napas pelan dan berdiri dari kursinya.
"Baik. Aku tidak akan membicarakannya lagi."
Lucien hanya mengangguk kecil.
"Kalau begitu besok aku akan kembalj lagi."
"Pergilah," Lucien mengusap wajahnya kasar.
Elyndor berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar dia sempat menoleh sekali lagi. Lucien sudah mengambil kembali penanya, meskipun jelas pikirannya tidak lagi tertuju pada dokumen di hadapannya.
Elyndor akhirnya meninggalkan ruangan.
Pintu tertutup pelan.
Barulah Lucien membiarkan tubuhnya bersandar pada kursi. Dia memejamkan mata beberapa saat, dan tanpa diminta, wajah seorang wanita dengan rambut putih kembali muncul dalam ingatannya.
Wanita yang dulu pernah memenuhi kediaman ini dengan suara lembutnya. Wanita yang sekarang hanya tersisa sebagai kenangan.