NovelToon NovelToon
Terikat Cinta Sang Mafia

Terikat Cinta Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Nikah Kontrak
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.

‎Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.

‎"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.

‎Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 : Di bawah perlindunganku.

Sementara di ruang makan ketegangan memuncak, di ruang kerja Damian suasana terasa jauh lebih dingin dan kaku. Ruangan itu beraroma kulit tua, cerutu, dan keheningan yang berat. Lampu meja menyala lembut, memantulkan bayangan dua sosok yang berdiri berhadapan di balik meja kerja kayu hitam yang kokoh itu.

‎Damian berdiri di samping jendela besar, memunggungi adiknya. Punggungnya tegak, namun setiap garis tubuhnya tampak tegang seolah menahan sesuatu yang besar. Di belakangnya, Valentina berdiri dengan tangan di pinggang, napasnya masih memburu, seolah menahan ribuan kata yang ingin dilontarkan sekaligus.

‎‎"Kak Damian..." suaranya akhirnya memecah keheningan, sedikit lebih pelan dari sebelumnya namun masih penuh ketegasan. "Kau tahu kan kenapa aku sampai sebegini kerasnya? Bukan karena aku iri atau aku jahat. Tapi karena aku takut."

‎Damian perlahan berbalik, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Takut akan apa, Valen? Takut aku kehilangan kendali? Atau takut posisimu tergeser?"

‎‎Valentina tersentak, matanya berkaca-kaca. "Kakak pikir aku serakah? Aku ini khawatir! Kau pikir mudah menjadi satu-satunya adik perempuan dari pemimpin klan Salvatore? Selama ini aku yang selalu menemani Oma, aku yang selalu tahu semua urusan keluarga, aku yang harus siap mendampingi Kakak di setiap acara resmi! Lalu tiba-tiba... ada wanita yang datang entah dari mana, dan dalam sekejap ia berdiri di posisi yang seharusnya aku hormati dan aku percaya sepenuhnya!"

‎‎"Posisi itu bukan warisanmu, Valen," jawab Damian tenang namun tegas. "Dan Celine bukan datang untuk merebut apa pun darimu. Dia datang untuk menjadi temanku, pendampingku, istriku. Bukan sainganmu."

‎‎"Tapi dia lemah, Kak!" seru Valentina tak terima. "Dia tidak tahu apa-apa soal dunia kita! Belum pernah dia melihat orang mati di depan matanya! Belum pernah dia menerima ancaman pembunuhan setiap pagi saat membuka mata! Bagaimana kalau dia jadi sasaran? Bagaimana kalau karena dia, kita semua celaka? Bagaimana kalau dia justru dijadikan alat oleh musuh-musuh kita tanpa dia sadari?"

‎‎Damian melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan adiknya, menatapnya lekat-lekat.

‎‎"Justru karena dia belum terbiasa dengan semua kekejaman ini, dia tulus, Valen. Dia tidak punya kepentingan tersembunyi. Dia tidak punya agenda kekuasaan. Dan soal bahaya... itulah tugasku melindunginya. Bukan menyuruhnya mundur sebelum sempat melangkah."

‎‎Valentina terdiam, menunduk, air mata mulai jatuh di pipinya yang merah. "Kakak... kau berubah. Dulu Kakak tidak pernah selembut ini pada siapa pun. Dulu Kakak selalu berpikir logis, dingin, dan tak tersentuh perasaan."

‎‎"Manusia berubah, Valen. Saat dia menemukan alasan untuk menjadi lebih baik," Damian menghela napas pelan, lalu nada bicaranya kembali sedikit mengeras namun tetap lembut. "Dan satu hal lagi. Matteo... apa yang dia katakan padamu sebelum kita datang ke sini? Apa dia yang menyuruhmu bicara seperti tadi di meja makan?"

‎Wajah Valentina sedikit memucat, ia menunduk lebih dalam. "Matteo hanya... hanya mengingatkan aku soal resiko keluarga. Dia bilang dia hanya ingin melindungiku dan nama baik klan ini."

‎‎Damian menghela napas panjang, memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.

‎‎"Valen... dengarkan aku baik-baik. Aku tahu Matteo suamimu. Tapi jangan biarkan dia mengatur nada bicaramu, apalagi mengatur pandanganmu soal siapa yang pantas berdiri di sisiku. Kalau ada masalah, bicaralah langsung padaku. Jangan jadi perantara bagi rencana orang lain, bahkan suamimu sendiri."

‎‎Valentina tertegun, menatap kakaknya dengan mata yang masih basah namun kini mulai penuh keraguan. "Kakak... kau mencurigai Matteo?"

‎‎"Aku tidak mencurigai tanpa bukti. Tapi aku juga tidak akan menutup mata terhadap apa pun, termasuk orang terdekatku sekalipun," Damian melangkah menuju pintu, lalu berhenti dan menoleh sekilas. "Sekarang... kembali ke meja makan. Sebelum suamimu itu mengatakan hal yang tidak seharusnya pada istriku."

‎‎Damian membuka pintu, namun langkahnya terhenti seketika. Dari lorong, samar-samar terdengar suara tegas Celine, bergetar namun penuh kekuatan. Kalimat-kalimat yang diucapkannya begitu jelas hingga Damian bisa menangkap seluruh maknanya.

‎‎Pria itu berdiri diam. Mendengar setiap kata itu, matanya perlahan melembut, seolah ada sesuatu yang hangat merambat di dadanya yang selama ini tertutup dinding tebal kehati-hatian.

‎‎Valentina yang berdiri di belakangnya ikut terdiam, mendengar suara itu, dan untuk sesaat kebencian di matanya meredup, berganti rasa bingung yang tak bisa dijelaskan.

‎‎Damian tersenyum tipis.

‎‎"Kau dengar itu, Valen?" bisiknya pelan. "Itu bukan suara wanita yang takut. Itu suara wanita yang memilih bertahan. Dan aku... tidak akan membiarkan siapa pun membuatnya menyesal atas pilihan itu."

‎‎Ia melangkah cepat menuju ruang makan dan langsung menghampiri Celine. Matteo yang hendak membuka mulut langsung terkatup rapat bibirnya saat melihat kedatangan kakak iparnya itu.

‎‎"Kenapa wajahmu pucat begitu, Amore?" tanya Damian rendah namun tegas, satu tangannya terulur menyentuh lembut pipi Celine, lalu beralih meraih pergelangan tangannya untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Ada apa? Apa yang terjadi?"

‎‎Celine menggeleng pelan, berusaha tersenyum walau bibirnya masih terasa kaku. Ia tahu jika ia bicara jujur saat ini, Damian bisa meledak di tempat.

‎‎"Aku tidak apa-apa, Damian..." jawabnya pelan, suaranya terdengar lemah namun berusaha tenang. "Tiba-tiba saja aku hanya merasa sedikit kurang sehat. Mungkin hanya lelah. Tidak perlu dikhawatirkan."

‎‎Damian menatapnya lekat-lekat, menelusuri setiap inci wajah Celine, seolah sedang menyisir setiap goresan kebohongan yang mungkin tersembunyi di balik senyum tipisnya. Namun saat tak menemukan apa pun selain kelelahan yang nyata, ia perlahan berdiri tegak kembali.

‎‎Tanpa suara, tangannya bergerak cepat ke balik punggung, menyelip ke sabuk tersembunyi di pinggangnya.

‎‎Klik.

‎‎Bunyi pengaman senjata dilepas terdengar begitu nyaring membelah keheningan yang sudah terasa berat itu. Pistol hitam pekat terangkat lurus, larasnya menunjuk tepat ke dada Matteo.

‎‎Seketika udara di ruangan itu membeku. Napas seakan tertahan di kerongkongan setiap orang yang berdiri di sana.

‎‎"Pergi," ucap Damian. Hanya satu kata. Namun dingin, tajam, dan mematikan, tak memberi ruang sedikit pun untuk tawar-menawar. "Kalian berdua. Sekarang juga."

‎‎Matteo mundur selangkah, wajahnya berubah pucat namun ia berusaha tetap terdengar tenang. "Kak Damian... ini berlebihan, kan? Kita keluarga—"

‎‎"Tamu yang tahu cara menghormati tuan rumah dan istrinya tidak perlu diusir dengan senjata," potong Damian cepat, suaranya rendah namun menancap. Jari telunjuknya kini menempel di pelatuk, menekan sedikit. "Satu... Dua..."

‎‎BRAK!

‎‎Pintu utama terbuka keras dari luar. Luca melangkah masuk lebih dulu menuju ruang makan, wajahnya datar namun matanya langsung menyapu seluruh ruangan dengan tajam. Di belakangnya, empat pengawal berjas hitam masuk beriringan, tangan mereka sudah terselip di balik jas, di posisi siap. Langkah mereka serempak, berat, dan mengancam.

‎Mata Luca langsung menyipit saat melihat senjata di tangan Damian dan laras yang masih menunjuk lurus ke arah Matteo.

‎‎"Don," sapa Luca pelan namun cukup jelas untuk didengar semua orang di ruangan itu. "Perlu bantuan?"

‎‎Itu kode. Pertanyaan yang sebenarnya berarti: Perlu saya lumpuhkan orang ini sekarang?

‎‎Valentina langsung menjerit histeris, mundur selangkah ke belakang suaminya. "KAK! APA-APAAAN INI?! TURUNKAN SENJATANYA! KAU GILA?!"

‎‎"DIAM!" bentak Damian keras, suaranya menggelegar hingga dinding marmer seolah ikut bergetar. Tatapannya tak lepas sedetik pun dari Matteo, namun ucapannya jelas ditujukan pada adiknya. "Kau pikir hanya karena kau adik kandungku, aku akan membiarkan suamimu menakuti, menekan, dan menawar istriku di rumahku sendiri?!"

‎‎Ia melirik sekilas ke arah Luca, lalu mengangguk kecil — isyarat singkat namun cukup.

‎‎Sekejap keempat pengawal itu langsung menyebar, membentuk formasi mengepung Matteo dan Valentina dari jarak dua meter. Berdiri tegak, siap, tak ada satu pun yang berkedip.

‎‎"Pergi," ulang Damian. Nada bicaranya kini lebih rendah, namun justru terdengar jauh lebih berbahaya dari bentakan tadi. "Sebelum aku lupa bahwa kau adalah adikku, Valen. Dan sebelum Luca di sini lupa bahwa kalian hanyalah tamu di rumah ini."

‎‎Ancaman itu berlapis, jelas, dan tak main-main.

‎‎Wajah Matteo kini benar-benar pucat pasi. Matanya melirik sekilas ke arah Luca, lalu ke arah keempat pengawal yang mengepungnya, dan kembali ke laras senjata yang masih menunjuk tepat ke dadanya. Ia tahu betul siapa Damian Salvatore. Pria itu tidak pernah bercanda soal ancaman. Bergerak sedikit saja, mungkin ia tidak akan keluar dari rumah ini hidup-hidup.

‎‎Tanpa mau menambah masalah lebih jauh, Matteo langsung meraih lengan Valentina dengan kasar namun cepat.

‎‎"Ayo, Sayang. Kita pergi sekarang," desisnya pelan, menarik istrinya yang masih hendak membantah menuju pintu.

‎‎"Tapi Kakak... bagaimana bisa dia..."

‎‎"Sekarang!" potong Matteo tegas, menyeret langkah istrinya keluar.

‎‎Sebelum mereka benar-benar melangkah melewati ambang pintu, suara Damian kembali terdengar, dingin dan tajam, menembus punggung mereka yang berjalan menjauh.

‎‎"Dengar ini baik-baik Matteo Russo. Sekali lagi kau berani menyentuh istriku, entah dengan kata-kata, ancaman, atau cara apa pun... yang datang menjemputmu bukan aku. Tapi peti mati."

‎‎Matteo terdiam kaku sesaat, namun tak berani menoleh. Ia hanya mempercepat langkah, menarik Valentina keluar menuju mobil. Bunyi pintu utama dibanting keras, disusul deru mesin mobil yang menderu kencang lalu perlahan menjauh hingga akhirnya lenyap ditelan keheningan malam.

‎Baru saat itu, Damian perlahan menurunkan tangannya. Napasnya terdengar berat, dadanya naik turun seolah baru saja melepaskan beban yang luar biasa besar dari pundaknya. Dengan gerakan lambat dan teratur, ia mengembalikan pengaman senjatanya ke posisi semula, lalu menyimpannya kembali ke tempat tersembunyi di balik punggungnya.

‎‎Lalu ia berbalik menghadap Celine.

‎‎Dan seketika itu juga, wajah yang tadi tampak mengerikan dan dingin seperti batu, sepenuhnya luluh. Matanya yang tadi tajam kini melembut seketika, penuh kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Ia melangkah pelan mendekat, lalu meraih kedua tangan Celine yang masih terasa dingin dan gemetar pelan.

‎‎"Maafkan aku..." bisiknya, suaranya terdengar serak dan penuh penyesalan yang tulus. "Maafkan aku kalau menakutimu dengan semua ini. Aku sebenarnya tidak ingin kau melihat sisi seperti ini dariku. Tapi aku tidak tahu cara lain yang cukup tegas untuk membuat mereka, dan siapa pun yang berani menyakitimu benar-benar mengerti satu hal, bahwa kau di bawah perlindunganku. Dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang berani menyentuhmu, menakutimu, atau meremehkanmu. Mengerti?"

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
sulit Cel... mana dia bos nya
🍓ADIRA🍓
Yuuhuuuuu 💃 selamat buat kalian berdua yang mau jadi orang tua 🤗
🍓ADIRA🍓
Etdah ini si nona,,, masih aja banyak bacot gak jelas 🙄🙄🙄 perlu diseruduk banteng dulu kayaknya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
bakalan ada Don junior kah 😱
〈⎳ FT. Zira
kecebong sudah berkembang beneran kann🤭
🍓ADIRA🍓
Kalaupun si Matt tak balik, masih ada yang nganggur di depan mu noh Val 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Masih aja dirimu Val /Proud/
〈⎳ FT. Zira
bales aja Cel.. doakan juga yaa sambil ngelus perut🤣
〈⎳ FT. Zira
ketika kekakuan berubah menjdi jelly🤭🤭
🍓ADIRA🍓
Kwkwkwkwk... diriku cuma intip dikit Thoorrr 🫣😂😂
🍓ADIRA🍓: Diriku masih polos Thorrrr 😂😂 janganlah kau nodai dengan kelakuan messyyumm si Revan 😂😂😂
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
jawab apa hayo 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Seketika Val pun lupa dengan gengsinya 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Pamer 🤮🤮🤮
🍓ADIRA🍓
Oh si remote toh 😂😂
MamDeyh
Aku bukan bocil tp emak yg punya bocil, jadi boleh yaaa/Grin/
🔥Violetta🔥: boleh banget... diwajibkan malah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
Siapa. pulak ini /CoolGuy/
🍓ADIRA🍓
Yeeee suka^ Oma donk /Tongue/
MamDeyh
Siapa itu yaaaa
🍓ADIRA🍓
Nah 👏👏👏
🍓ADIRA🍓
Semoga si Oma melunak kali ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!