Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bercerai Setelah Tiga Bulan Menikah?
Jelang Asar, keluarga Wirawan berpamitan pulang karena mereka pun akan bersiap-siap menyambut acara resepsi nanti malam.
Kini, tersisa Yudha seorang diri. Dia duduk menemani Pak RT dengan perasaan serba salah, merasa benar-benar terabaikan di sana.
Kegelisahan Yudha tak luput dari pandangan Anita. Sebenarnya, terselip rasa iba di hatinya, sekalipun rasa kecewa dan amarahnya pada Yogi belum reda. Anita bisa menangkap ketulusan Yudha saat pria itu mengutarakan niat untuk menggantikan posisi sang kakak. Namun, watak keras Danur membuatnya tak berkutik.
"Na, coba kamu bilang sama Yudha, suruh dia istirahat di kamar kakakmu!" Akhirnya Anita mengambil tindakan, menginstruksikan Karina untuk menghampiri Yudha.
"Memangnya sama Papa boleh, Ma?" Karina ragu melakukan apa yang diminta mamanya.
"Terus? Kamu mau membiarkan dia bengong sendirian di depan?" cetus Anita meminta Karina mencari solusi lain.
"Dia nggak melamun, kok. Lagi mengobrol sama Pak RT," sahut Karina polos.
"Sudah, sana! Disuruh malah mengajak debat!" Anita mendorong lengan Karina, agar anaknya itu segera menjalankan tugasnya.
"Tapi, kalau Papa marah, Mama yang tanggung jawab, lho!" Karina mewanti-wanti, enggan dijadikan disalahkan oleh papanya.
"Iya, iya, cepat!" Anita mengibaskan tangan, tidak sabar menghadapi bantahan putrinya.
Karina pun melangkah ragu, setengah mengendap-endap. Sepasang matanya mengedar ke segala penjuru, memastikan sang papa tidak menangkap basah pergerakannya.
Begitu jaraknya cukup dekat, ia berbisik setengah menunduk, "Mas Yudha, kata Mama kalau mau istirahat, di kamar Kak Yaya saja."
Yudha sempat terkejut saat Karina tiba-tiba menghampirinya. Keterkejutannya bertambah ketika Karina memyampaikan pesan dari Anita yang mempersilakannya untuk beristirahat di kamar Kanaya.
Yudha sempat mengira ia akan terus diabaikan di rumah ini. Ternyata, mama Kanaya masih peduli padanya
."Oh, iya, Mbak. Terima kasih," sahut Yudha.
Tak ingin membuang waktu, Yudha segera berpamitan kepada Pak RT. Sejak tadi, ia memang berharap diizinkan menyusul sang istri ke kamar.
Yudha melangkah mengekor di belakang Karina. Dia belum tahu di mana letak kamar istrinya. Namun, koper pakaian miliknya ternyata
sudah dipindahkan ke sana.
"Silakan beristirahat, Mas," ucap Karina begitu mereka tiba di depan pintu. Setelah mempersilakan Yudha masuk, wanita itu langsung bergegas pergi.
Dengan tangan sedikit ragu, Yudha memutar handle pintu. Begitu daun pintu terbuka, aroma wangi bunga khas kamar pengantin langsung menyeruak ke indra penciumannya.
Netranya menyapu ruangan dan langsung menangkap sosok Kanaya yang tengah berbaring di atas ranjang. Dia pun melangkah mengendap-endap, bergerak sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengusik tidur istrinya.
Setelah mengambil baju ganti dari koper, Yudha bergegas melepas beskapnya, kemudian memilih duduk di sofa yang terletak persis di depan ranjang pengantin.
Sepasang matanya kini terpaku, menatap lurus pada punggung Kanaya yang tidur membelakanginya, tak menyadari keberadaannya di kamar itu.
Netra Yudha lalu bergerak mengedar ke seluruh sudut ruangan berwarna hijau mint. Tak terlalu besar, namun tertata rapih. Meskipun disulap menjadi kamar pengantin, tak ada benda yang tercecer di kamar itu.
Beberapa foto yang terpajang di dinding kamar tak luput dari perhatian Yudha, termasuk foto Kanaya wisuda diapit kedua orang tuanya.
Setelah cukup puas memperhatikan seluruh isi ruang kamar Kanaya, ia mulai merelaks-kan tubuhnya. Dengan menengadahkan kepala, ia bersandar di sofa dan mulai memejamkan mata. Rasa penat mulai merayapi tubuhnya hingga akhirnya ia pun tertidur dalam posisi terduduk.
Setengah jam kemudian
Kanaya menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Menatap ke arah jam dinding, saat ini waktu menunjukkan pukul 15.45 menit.
Kanaya bergegas bangkit. Namun, saat kakinya menjejak ke lantai, ia terkesiap melihat sosok pria yang tertidur di sofa dengan kepala mendongak ke atas dan tangan berlipat di dada.
Sontak Kanaya meraba pakaiannya, memeriksa jika semuanya baik-baik saja. Dia khawatir Yuda melakukan sesuatu padanya saat ia tertidur, ternyata masih aman.
Kanaya tak tahu Sejak kapan Yudha ada di dalam kamarnya. Seketika ia teringat surat yang semalam ia buat. Tanpa pikir panjang, ia beranjak dari tempat tidur untuk segera mengambilnya.
Brraakk!
Sebuah benda ikut meluncur ke bawah bersamaan ia turun dari peraduan. Ternyata ponsel Kanaya yang ia letakkan di sisinya saat tertidur ikut jatuh ke lantai, menimbulkan suara yang membuat Yudha terbangun.
"Ada apa?" tanya juga spontan dengan mengerjapkan mata.
"Oh, maaf, jadi bikin kamu terbagun." Sambil berjongkok mengambil ponselnya, Kanaya menoleh pada Yudha dan meminta maaf.
"Ah, nggak apa-apa, Mbak." Justru Yudha yang kini merasa tak enak hati karena berada di dalam kamar Kanaya. Dia juga kembali menggunakan nada dan panggilan formal untuk menghormati Kanaya yang usianya berada di atasnya.
"Bu Anita yang mengizinkan saya masuk ke kamar dan Mbak Karina yang mengantar saya ke sini." Khawatir dianggap lancang, Yudha menjelaskan kalau keberadaannya di kamar Itu atas izin Ibu mertuanya.
"Hmph, nggak apa-apa." Mengabaikan rasa canggung Kanaya meneruskan langkahnya meja kerjanya untuk mengambil surat pernyataan yang ingin Ia sodorkan pada Yudha.
Surat itu kini berada dalam genggamannya. Kanaya menoleh ke arah Yudha yang sedang memperhatikannya.
"Saya tahu pernikahan ini nggak kamu inginkan. Mungkin kamu juga merasa tersiksa harus bersanding saat akad tadi dan akan berlanjut sampai resepsi nanti malam." Kanaya mengucapkan kalimat itu dengan sangat tenang dan tanpa beban.
Yudha terdiam. Bukan karena kehabisan kata-kata. Dia justru menunggu apa yang akan disampaikan Kanaya selanjutnya, sebab kertas yang ada di tangan Kanaya membuatnya curiga.
"Apa kamu juga punya kekasih?" tanya Kanaya secara tiba-tiba.
Yuda terkesiap mendapatkan pertanyaan itu dari Kanaya.
"Jawab jujur aja, nggak apa-apa, kok." desak Kanaya meminta Yudha tak menutupi jika memang mempunyai seorang kekasih.
Yudha menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Saat ini dia memang tidak mempunyai kekasih. Namun, ia sedang gencar melakukan pendekatan pada rekan kerja yang baru dua bulan ini dimutasi ke devisi keuangan. Namun, tak mungkin secara terang-terangan ia mengakui itu karena saat ini ia adalah suami Kanaya.
"Ummm, saya nggak punya kekasih, baru dalam tahap mencari-cari saja." Yudha memilih bahasa yang sangat halus agar tak membuat Kanaya tersinggung.
"Aku tahu kakakmu salah dan kamu nggak sepantasnya menanggung rasa bersalah atas ulah kakakmu itu." Dengan langkah pasti Kanaya mendekat ke arah Yudha lalu menyodorkan surat kesepakatan yang ia ketik semalam. "Kamu bacalah dulu sebelum menandatanganinya!" ujarnya kemudian.
Yudha memperhatikan surat itu beberapa saat, tak langsung menerimanya. Tatapannya kini terarah pada Kanaya. Wanita itu terlihat tenang tanpa riak kemarahan yang terpancar di wajahnya.
Dengan ragu-ragu ia mengambil surat itu dan membacanya dengan kening mengerut. Namun, beberapa saat kemudian, bola matanya membeliak lebar.
"Bercerai setelah tiga bulan menikah?" tanyanya tak percaya.
❤❤❤
Bersambung....
apa harus melihat perbedaan usia di saat menikah ya
mau Naya lebih tua dari Yudha apa hak kamu,,toh mereka serasi ko,,
julid amat loh
seolah olah Kanaya yang salah padahal pihak keluarga Yogi dan Yudha yang bikin masalah.
besoknya anggap angin lalu. siapa tau jodoh sebenarnya udah deket
terima nasib aja ayy,positif thinking aja kalau Yudha bukan jodohmu. jangan coba2 buat nikung ya,..