Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2 : Tawaran Sang Iblis.
Begitu melihat Damian keluar dari ruangan Oma Rosalina, Luca, asisten sekaligus tangan kanan Damian segera mengiringi langkahnya. Keduanya berjalan melewati lorong yang sunyi, menuju pintu utama rumah sakit.
"Don, ada laporan dari jaringan bawah tanah. Kelompok saingan mulai melancarkan gangguan di wilayah utara."
Damian terus berjalan. Wajahnya tetap dingin dan datar tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Ia menjawab singkat, suaranya rendah dan mematikan.
"Urusi." Matanya tetap menatap lurus ke depan. "Beri mereka peringatan tegas. Jika mereka melawan, habisi saja."
"Siap, Don."
Tiba-tiba langkah Damian terhenti mendadak. Tubuhnya tegak kaku di tengah lorong, seakan terpaku di tempatnya. Mata gelapnya yang biasanya tak punya celah emosi, kini tertuju lurus ke arah tak jauh dari sana.
Di sana, di depan meja perawat, seorang wanita berdiri memohon dengan sisa martabat yang ia punya. Tangannya mencengkeram lengan dokter wanita itu erat-erat. Matanya berkaca-kaca penuh keputusasaan, napasnya memburu menahan tangis yang nyaris pecah.
"Dokter... tolong beri saya waktu sedikit lagi..." suaranya bergetar. "Saya mohon... operasi Ibu saya tidak bisa ditunda lagi..."
Dokter itu menatapnya dengan iba, namun tetap tegas. "Saya paham, Celine. Tapi CT Scan terakhir menunjukkan pendarahan di otak Ibumu sudah semakin besar. Kalau kita tunda sampai pagi, ada kemungkinan besar Ibumu tidak akan bangun lagi. Operasi harus dilakukan jam dua belas malam ini. Untuk biaya emergency dan tim dokter jaga malam harus lunas satu jam sebelumnya."
Celine terhuyung mundur. Wajahnya pucat seketika. Kakinya lemas, namun ia tetap memaksa dirinya berdiri tegak.
"Malam ini juga..." gumamnya nyaris tak terdengar. Air matanya jatuh membasahi pipi. "Dua ratus juta... dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sesingkat ini..."
Damian tetap berdiri mematung. Tatapannya tak beralih sedikit pun dari sosok wanita yang rapuh itu. Namun di balik rapuhnya, ada tekad yang membuatnya tetap berdiri.
Luca yang berdiri di sampingnya melirik sejenak. Jarinya bergerak cepat di atas layar ponsel.
"Dia sering ke sini dua minggu terakhir, Don." bisiknya pelan. "Ibu nya dirawat di VIP karena tumor otak stadium 3. Kondisinya kritis. Dan sepertinya... dia tidak punya 200 juta untuk malam ini."
"Namanya Celine Atharaya."
Damian terdiam. Tak sepatah kata pun terucap. Hanya rahangnya yang mengeras perlahan, menegaskan ketegasan yang tak terlihat di wajahnya yang datar.
Ia kembali melangkah dan membelokkan arah langkahnya. Bukan menuju pintu keluar seperti yang Luca duga. Melainkan melangkah menuju Celine yang kini berdiri rapuh sendirian.
Langkahnya berat dan penuh tekanan. Setiap hentakan seakan menggetarkan lantai rumah sakit yang dingin itu. Ia berhenti tepat satu langkah di hadapan wanita yang sedang berusaha menahan isak tangisnya. Dengan tinggi tubuhnya yang mencapai seratus sembilan puluh sentimeter, Damian seketika menaungi tubuh Celine yang begitu rapuh dan gemetar. Bayangannya menutupi sepenuhnya sosok wanita itu, seakan menelan seluruh cahaya di sekitarnya.
"Nona Atharaya." suaranya rendah, berat, dan terdengar begitu dekat meski bibirnya tak bergerak banyak.
Celine mendongak perlahan. Matanya yang bengkak dan merah memandang tak percaya ke arah pria yang tampak begitu berkuasa dan dingin di hadapannya.
"S—Siapa Anda..." suaranya tercekat, nyaris tak terdengar.
Damian menatapnya dari atas ke bawah. Tatapannya tajam, meneliti, dan tanpa sedikit pun kehangatan. Seakan sedang menilai sebuah benda, bukan manusia. Perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, senyum yang dingin, penuh perhitungan, dan tak menyisakan sedikit pun kelembutan.
"Saya adalah orang yang bisa melunasi dua ratus juta itu." Ucapnya pelan namun menancap tajam. "Malam ini juga."
Mata Celine seketika membelalak. Napasnya tertahan di kerongkongan. Seluruh tubuhnya tertegun.
"Benarkah..." suaranya bergetar penuh harap namun penuh kewaspadaan. "Apa syaratnya?"
Damian melangkah selangkah lebih dekat, hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan. Ia menunduk perlahan, mendekatkan bibirnya tepat ke telinga Celine, seakan tak ingin ada satu pun makhluk lain yang mendengar kalimat itu. Bisikannya terdengar rendah, berat, dan mematikan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku." bisikannya sedingin es, menghantam gendang telinga Celine. "Dan aku akan berikan ibumu dokter terbaik. Operasi malam ini juga."
Celine tersentak hebat. Seakan baru saja ditampar. Matanya terbelalak tak percaya, air mata yang tadi tertahan kini tumpah lagi. Dengan cepat dan tangan gemetar, ia mendorong dada pria di hadapannya itu sekuat tenaga.
"Kau gila!" makinya dengan suara pecah. "Kita tidak saling kenal! Aku bukan pelacur! Aku tidak mau!"
Damian tidak bergeming sedikit pun. Dorongan itu baginya seperti angin. Ia hanya menegakkan tubuhnya kembali, merapikan jasnya yang sedikit kusut.
Tatapannya masih sedatar dan sedingin sebelumnya. Seakan penolakan Celine tidak berarti apa-apa.
"Terserah kau saja." ucapnya datar. Suaranya rendah, tanpa emosi. "Pilihan ada di tanganmu, Nona Atharaya. Antara kehormatanmu... atau nyawa ibumu."
Ia berbalik. Meninggalkan Celine yang berdiri gemetar dengan isakan tertahan. Luca yang dari tadi diam, mengikuti langkah Damian tanpa sepatah kata. Hanya suara sepatu Damian yang menggema, menjauh, meninggalkan lorong dingin itu.
Celine berdiri terpaku di tempatnya. Matanya menatap punggung pria itu yang berjalan menjauh, semakin mengecil ditelan kegelapan ujung lorong.
"Antara kehormatanmu... atau nyawa ibumu..."
Kalimat itu berputar berulang kali di kepalanya, menghantam kewarasannya berkali-kali lipat. Dadanya sesak. Tangannya mengepal.
"Teman ranjang?" bisiknya masih tak percaya, suaranya pecah. "Dasar tidak waras."
Ia mengangkat tangan kirinya, jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 22.15. Operasi Ibunya di jadwalkan pukul 00.00. Waktu tersisa tinggal 1 jam 45 menit. Dan dia tidak punya uang 200 juta itu.
-
-
-
Damian berdiri bersandar pada mobil hitam mewahnya yang terparkir megah di halaman rumah sakit. Tangannya tetap berada di dalam saku celana, wajahnya sedingin biasa, tak sedikit pun tampak gelisah atau ragu.
Luca berdiri di sampingnya, melirik sekilas ke arah pintu keluar rumah sakit yang masih sepi.
"Don, sudah tiga puluh menit," ucap Luca pelan, "Sepertinya wanita itu tidak akan datang."
Sudut bibir Damian terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang penuh keyakinan dan perhitungan. Ia menatap lurus ke depan, tanpa sedikit pun keraguan.
"Dia akan datang." Suaranya rendah namun tegas. "Dia akan memilih nyawa ibunya. Bukan harga dirinya."
Damian mengangkat tangan kirinya perlahan. Matanya jatuh menatap jarum jam di pergelangan tangannya yang berdenyut teratur. Di dalam hatinya, ia mulai menghitung dengan tenang.
Tiga...
Dua...
Satu...
Tepat detik itu juga, pintu kaca rumah sakit terbuka lebar. Celine berlari keluar. Napasnya memburu hebat, rambutnya berantakan tertiup angin malam. Wajahnya pucat, mata bengkak, dan pakaian yang ia kenakan sudah sedikit kusut.
Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri seperti mencari-cari sesuatu, lalu berhenti pada sosok Damian yang berdiri tenang menunggu tak jauh dari sana.
Ia menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan kekuatan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Damian, kakinya mulai melangkah mendekat dan berhenti tepat satu meter dari hadapan pria itu.
Keheningan menyelimuti. Hanya suara angin malam dan detak jam di pergelangan Damian.
Damian tidak bergerak. Ia hanya menatap, lalu ia membuka pintu mobil belakang untuknya.
"Masuk." Perintahnya singkat.
Celine masih diam, tubuhnya gemetar samar. Damian menatapnya sedetik, matanya sedatar es.
"Kita ke La Famiglia dulu." Suaranya rendah, tanpa nada tanya. "Kontrak dan transfer harus selesai malam ini juga. Setelah itu, kau akan ikut aku ke mansion Salvatore."
--
--
--
Bersambung...