NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Sidang selesai

Pagi ini cerah.

Gedung kantor sudah dipenuhi kesibukan sejak dini hari, langkah kaki yang tergesa, suara kertas dibalik, dan percakapan singkat yang saling berpotongan di lorong-lorong panjang. Berbeda dengan suasana di salah satu ruangan di lantai atas.

Ruangan itu tenang. Rak-rak tinggi berjajar di sisi dinding, penuh buku hukum yang tersusun rapi. Cahaya matahari masuk lewat jendela besar, jatuh tepat di meja kerja tempat Blair duduk dengan postur tegak dan ekspresi netral.

Keheningan itu pecah ketika pintu terbuka keras.

Lucas masuk hampir terhuyung, napasnya tersengal, berkas-berkas di tangannya sedikit kusut.

“Blair!” serunya tanpa sempat merapikan napas.

Blair menghela napas pelan. Ia mengangkat kepala dari dokumen yang sedang dibacanya, menatap Lucas dengan sorot mata jelas tidak senang.

“Apa kau tidak bisa masuk dengan tenang di pagi hari?” tanyanya datar.

Lucas menggeleng cepat. “Tidak bisa,” katanya singkat. “Aku membawa berita penting.”

Alis Blair terangkat tipis. Ia memiringkan kepala, satu tangannya menopang sisi wajahnya dengan santai.

“Berita penting apa?”

Tanpa banyak kata, Lucas meletakkan laporan itu di atas meja Blair.

Judul besar terpampang jelas.

Ditemukan Mayat dengan Kondisi Sangat Hancur.

Keterangan di bawahnya membuat napas Lucas semakin berat: kedua lengan dan kaki korban remuk, wajah penuh luka, tubuhnya ditemukan terikat di dalam karung di sebuah gang sempit, tak jauh dari kantor kepolisian.

Identitas korban: Tuan Victor.

Lucas menatap Blair, menunggu reaksi.

Namun Blair hanya membaca sekilas, lalu mengangguk pelan. Wajahnya tetap santai.

“Ohh, Tuan Victor… mati?” ujarnya ringan. Ia mengangkat pandangannya. “Lalu kenapa kau memberitahuku? Kematian seseorang adalah urusan polisi.”

Lucas tertegun. Ia melangkah mendekat, menarik kursi di depan meja Blair, lalu duduk sambil merapatkan jarak.

“Apa maksudmu?" suaranya meninggi tanpa ia sadari. "Bagaimana bisa itu hanya urusan polisi?”

“Pagi hari dia menjalani sidang. Malamnya ditemukan tewas. Dan kau....” Lucas menatap Blair tajam, “....sama sekali tidak terlihat terkejut.”

Bahu Blair terangkat sekilas. Ia memalingkan wajah, seolah percakapan itu tak lebih dari gangguan kecil.

“Hakim tidak mengurusi kematian terdakwa,” katanya dingin. “Biarkan polisi menangani bagian mereka.”

Namun sebelum Lucas sempat menjawab, Blair melirik ke arah jendela.

Dari sana, gedung kepolisian terlihat jelas dengan kokoh, sibuk, penuh cahaya pagi. Ujung bibir Blair terangkat sedikit, nyaris tak terlihat.

'Sidang selesai.'

Lucas mencemberut, jelas tidak menyukai sikap acuh tak acuh Blair sejak tadi. Namun saat menangkap sekilas ekspresi aneh di wajah gadis itu, senyum tipis yang tidak biasanya muncul, alisnya langsung mengerut.

“Apa?” tanyanya curiga. “Apa yang kamu senyumkan?”

Blair menoleh. Senyum itu lenyap seketika. Tatapannya berubah tajam, menusuk, cukup untuk membuat Lucas refleks menelan ludah.

“Bukan ada urusanmu.” jawab Blair dingin.

Rasa penasaran Lucas langsung menguap. Ia mendengus pelan, merapatkan bibirnya, lalu menggeleng seolah menyerah.

“Anggap aja aku nggak nanya apa-apa,” gumamnya.

Mendengar itu, Blair hanya memutar bola mata malas. Ia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri.

“Aku keluar sebentar.”

Ia melangkah melewati Lucas begitu saja.

“K-KELUAR—”

Lucas langsung tersentak. Kata itu seperti mantra terlarang. Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil dan lebih dulu sampai di pintu, lalu membentangkan tangannya, menghalangi jalan Blair.

Blair berhenti mendadak. Keningnya mengerut.

“Apa-apaan ini, Lucas?”

Lucas menegang. Bahunya kaku, wajahnya dipaksa tersenyum, senyum gugup yang gagal menyembunyikan kepanikan.

“I-ini masih jam kerja,” katanya cepat. “Kalau kamu keluar lagi sekarang, seperti kemarin, Tuan Pengawas bakal tahu.”

Blair menyipitkan mata.

“Dan?”

“Dan...” Lucas menelan ludah. “...Dan dia bakal marah. Sangat marah.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit, menurunkan suara seolah sedang membicarakan sesuatu yang tabu.

“Atau mungkin… kepalaku yang akan dipenggal duluan karena nggak bisa menahanmu.”

Blair menatapnya datar.

Lucas akhirnya mengatupkan kedua telapak tangannya, memasang wajah memelas yang nyaris putus asa.

“Tolong,” katanya lirih. “Demi nyawa aku. Jangan keluar dulu. Setidaknya… sampai jam kerja selesai.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!