NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Ceo Dingin

Istri Rahasia Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / CEO / Rumah Tangga / Cinta Murni
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Armelia Melmel

Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.8 Pertemuan Pertama nyonya Morley dan Lily

 Ke esokan paginya.

Seperti sebelumnya. Lily bangun lebih dulu daripada sang suami.

 Dia membersihkan diri dan mengenakan pakaian kerja. Kali ini, wanita itu mulai mengenakan hiasan tipis.

 Dari atas tempat tidur. Eldrick mengamatinya.

"Sayang."

 Eldrick beranjak dari tempat tidur dan menghampiri sang istri.

"Jika kamu mengenakan itu. Orang-orang akan mengira jika kamu masih gadis sayang. Apa kamu tidak ingin memiliki anak? Sekarang kamu sudah bekerja."

Harapan terbesar Eldrick adalah memiliki seorang anak.

 Lily terdiam sejenak.

Dia menoleh kepada suaminya.

"Khmmm. Bisa kita menundanya lagi? Aku masih belum mencapai apa pun."

Eldrick hanya tersenyum kecil.

 Dia berjalan ke kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Jauh di dalam hatinya, dia merasakan kekecewaan untuk kesekian kalinya.

Lily menoleh kepada suaminya.

"Maafkan aku sayang. Aku janji jika aku sudah menjadi karyawan tetap. Mari kita punya anak. Aku hanya ingin berdiri di atas kaki ku sendiri. Kamu tidak pernah merasakan bagaimana rasanya perbedaan kasta di keluarga."Batin Lily.

Hembusan nafas kasar terdengar jelas dari bibirnya. Hatinya terasa berat. Dia menikamati kemewahan tapi dia tetap merasa kosong. Bukan karena dia tidak bersyukur. Tapi dia ingin membuktikan diri di hadapan keluarganya jika dirinya juga mampu berdiri sendiri.

 Lily kembali menghembuskan nafas kasar. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya. Dia meraih tasnya dan berjalan pergi.

  Seperti biasa, Lily ke kantor naik taksi. Dia berhenti di depan perusahaan.

Begitu turun dari mobil. Lily berusaha melupakan masalah pribadinya dan hanya fokus pada pekerjaannya hari ini.

 "Permisi nona."

 Suara parau penghentikan langkah Lily.

Lily menoleh ke belakang.

 Netranya terpaku pada sosok wanita tua. Tangan Lily seketika bergetar.

"Nyonya Morley. Apa yang dia lakukan di sini?"Batin Lily.

Jantungnya berdegup kencang. Tangannya sedikit gemetar. Sebisa mungkin dia berusaha bersikap tenang.

Ini adalah hari pertama mereka ketemu. Lily hanya melihatnya di tv.

 "Ada yang bisa saya bantu nyonya?" Lily bertanya.

Dia berusaha bersikap tenang di hadapan nyonya Morley.

"Bisa kamu tunjukkan di mana ruangan Ceo?"

 Lily tersenyum.

Nyonya Morley menatap Lily.

"Cantik sekali wanita ini. Pembawaannya begitu lembut dan tenang."Batin nyonya Morley.

Sejenak dia terpaku dengan kecantikan Lily.

 "Tentu saja nyonya."

"Terimah kasih."

Nyonya Morley melangkahkan kakinya.

 "Nenek."

Nyonya Morley dan Lily menghentikan langkahnya.

 Keduanya menoleh.

 Nyonya Morley tersenyum.

 "Mereka saling mengenal?" Batin Lily di penuh tanda tanya.

"Kamu boleh pergi. Calon menantuku yang akan membawa ku ke sana."Ujar nyonya Morley.

 "Baik nyonya."

Lily berbalik.

Tangannya gemetar. Kakinya terasa lemas.

"Calon menantu."Kata-kata itu mengganggu pikirannya.

 Eldrick tidak pernah mengatakan apa pun. Lily berjalan masuk ke dalam.

Di sisi lain, Ana terlihat begitu puas. Kali ini dia sangat yakin jika Lily terkejut.

Nyonya Morley jelas mengatakannya jika dirinya adalah calon menantunya. Ana tertawa puas di dalam hatinya.

 Ana menggandeng nyonya Morley masuk ke dalam. Dia jelas sengaja melakukan hal itu demi menunjukkan siapa dirinya.

 Benar saja, tujuannya berhasil. Para karyawan saling berbisik ketika melihat kedekatan mereka berdua.

"Untung saja kita berpihak kepada Ana."Ujar Amber.

"Kamu benar sekali. Kita harus bersikap lebih baik lagi kepada Ana."Timpal Jane.

 Keduanya segera menuju ke meja kerjanya. Di sisi lain, Lily sudah duduk di meja kerjanya.

"Pagi."Grace menyapa.

"Pagi Grace."Lily tersenyum kecil menyapa.

  Jane dan Amber yang baru saja tiba segera mengatakan apa yang baru saja dia lihat.

 Grace menoleh kepada Lily.

"Aku dengar kamu juga bertemu nyonya Morley." Bisik Grace.

"Khmm. Kami bertemu di depan kantor. Tapi Ana datang dan mereka sepertinya saling mengenal."Jawab Lily yang sudah bisa menebak arah percakapan mereka.

"Aku dengar jika Ana akan di jodohkan kepada cucu Morley."Bisik Grace.

Lily tersenyum kecil. Beritanya tersebar dengan sangat cepat.

"Aku dengar tuan Eldrick punya adik. Mungkin sama adiknya. Jika melihat tuan Eldrick rasanya mereka sangat tidak cocok." Bisik Grace kembali.

Lily tersenyum kecil.

"Aku rasa sama adiknya juga tidak cocok sama Ana."

Lily dan Grace tertawa kecil.

 Sementara itu, Eldrick baru saja tiba. Pria itu melangkah masuk tanpa ekspresi.

 Dia belum tahu apa yang terjadi. Setibanya di dalam ruangan. Netra Eldrick menangkap sosok yang tidak begitu ia sukai.

 Tanpa menyapa neneknya. Eldrick berjalan ke meja kerjanya. Nyonya Morley merasa kesal dengan sikap dingin cucu pertanya itu.

"Kamu mengabaikan nenek Eldrick?"

 Eldrick menghembuskan nafas kasar.

 Dia menoleh kepada neneknya.

"Apa yang dia lakukan di sini?"

"Maaf tuan. Saya hanya mengantar nenek."Jawab Ana segera membela diri.

"Nenek yang memintanya. Lagi pula sebentar lagi dia akan menjadi istrimu."

Tangan Eldrick mengepal kuat.

"Saya tidak pernah setuju dengan hal itu nenek. Tidak akan ada pernikahan."Tegas Eldrick.

"Eldrick."

Beberapa detik kemudian.

Marco berjalan masuk. Dia terlihat membisikkan sesuatu. Hal itu semakin membuat Eldrick kesal. Wajahnya memerah menahan amarah.

"Jangan datang lagi ke sini nek jika hanya ingin menyebarkan berita yang tidak benar."

Nyonya Morley berdecak kesal.

"Siapa bilang aku menyebarkan berita tidak benar? Cepat atau lambat kalian berdua akan tetap menikah." Ujar nyonya Morley dengan pendiriannya.

Eldrick kembali menghela nafas. Hal itu tidak akan pernah terjadi.

 "Kalau begitu saya permisi nek."

 Ana segera pamit setelah merasakan ketegangan di dalam ruangan itu. Biarlah cucu dan nenek itu yang menyelesaikannya sendiri. Dia hanya ingin mendapatkan hasil.

 Ana melenggang pergi tanpa merasa bersalah setelah apa yang terjadi. Dia kembali ke meja kerjanya.

Baru saja duduk. Amber dan Jane sudah menghampirinya.

"Pagi Ana."Sapa Amber dan Jane bersamaan.

"Hai." Sapa Ana meski enggan untuk menyapa mereka.

"Kami dengar jika kamu adalah calon menantu keluarga Morley?" Tanya Jane.

Ana hanya tersenyum kecil. Dia juga tidak menyangkalnya.

"Kembalilah bekerja."

"Baiklah."

Ana menoleh kepada Lily. Sepupunya itu terlihat begitu tenang.

"Apa dia tidak mendengarnya? Tidak mungkin! Berita itu sudah tersebar di mana-mana. Tidak mungkin dia tidak tahu. "Batin Ana tersenyum kecil.

"Pagi Lily."

Ana memilih menyapa lebih dulu.

Lily menoleh.

"Pagi Ana."

Lily kembali melihat ke arah layar komputernya. Ana yang melihat hal itu sedikit kesal. Lily mengabaikan dirinya.

Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Morley. Mery duduk di ruang tamu.

Dari raut wajahnya. Wanita paruh baya itu terlihat mengkhawatirkan sesuatu.

"Pagi mah."Sapa Alex.

Alex hendak pergi keluar. Pria itu menghentikan langkahnya ketika melihat mamahnya tampak mengkhawatirkan sesuatu.

"Ada apa mah?"

"Alex, mamah khawatir. Nenek pergi ke perusahaan kakak mu. Bagaimana jika mereka berdebat di sana?"

Alex tertawa kecil.

"Mamah terlalu khawatir. Mamah tahu dengan jelas bagaimana kakak ku itu."

Alex terlihat begitu santai.

"Kamu tidak mengerti Alex. Semua ini gara-gara wanita itu. Kamu tahu jika keluarga Morley sangat mementingkan kasta." Mery benar-benar tidak bisa tenang saat ini.

"Aku pergi mah. Jangan terlalu khawatir. Aku akan mampir sebentar melihat Eldrick."Ujar Axel melangkah pergi.

"Beritahu mamah apa yang terjadi."

"Siap mah."

Axel melangkah masuk ke dalam mobil sport miliknya. Dengan kecepatan penuh, pria itu meninggalkan mansion.

Di dalam mobil Axel melihat sesuatu di ponselnya. Detik berikutnya dia tersenyum kecil.

"Mari kita melihat kakak ipar."

1
Armelia Melmel
terimah kasih kak.
Nabila
bagus
Armelia Melmel: terimah kasih kak.
total 1 replies
Nabila
lanjut thor.. ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!