"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dugaan yang Menghancurkan Hati
“Dari mana kamu mendapatkan kalung ini, Sean?”
Pertanyaan Abian membuat Sean terdiam. Tatapannya terpaku pada kalung berliontin biru yang sejak tadi berada di tangannya.
Ia sendiri masih sulit mencerna semua penjelasan papanya. Ada terlalu banyak hal yang tidak masuk akal.
Jika Ayunda benar-benar diculik bertahun-tahun lalu, seharusnya kalung ini ikut dibawa bersamanya. Lantas, mengapa benda yang diyakini begitu berkaitan dengan Ayunda justru ditemukan di ruang rahasia milik Aretha?
Belum lagi satu fakta lain yang membuat pikirannya semakin kacau.
Diandra juga memiliki kalung dengan liontin biru yang bentuknya hampir sama.
“Sebentar, Pa. Jangan tanya aku terus. Kepala aku lagi pusing.”
Sean memijat pelipisnya. Luka akibat pertarungannya dengan Bastian belum benar-benar pulih. Sekarang, pikirannya justru dibuat semakin rumit oleh pertanyaan papanya.
Abian mendengus.
“Papa cuma tanya satu hal. Dari mana kamu dapat kalung itu?”
“Dari Mama.”
“Aretha?”
Sean mengangkat alis.
“Memangnya aku punya mama lain?”
“Jangan bercanda. Kenapa mama kamu bisa menyimpan kalung seperti ini?”
Sean mengangkat kedua bahunya.
“Aku juga nggak tahu. Papa tanya saja langsung sama Mama.”
Abian hendak mengambil kalung itu, tetapi Sean buru-buru menahannya.
“Eh, jangan dibawa, Pa!”
Sean langsung merebut kembali kalung tersebut dan menggenggamnya erat.
“Ini punya aku. Mama yang kasih.”
“Untuk apa Mama memberikan kalung seperti ini kepadamu?”
“Katanya indah.”
Sean mulai mencari alasan.
“Waktu melihat kalung ini, Mama bilang dia langsung teringat sama anaknya yang paling tampan dan rupawan.”
Abian menatap putranya datar.
“Papa nggak percaya.”
“Kenapa?”
“Kamu pasti mengambilnya diam-diam dari Mama.”
Sean terkekeh kecil.
“Papa ini terlalu mengenal aku.”
“Karena Papa tahu kelakuanmu.”
Abian kembali melangkah pergi.
“Papa tunggu!”
Sean segera mengambil jaketnya lalu menyusul.
Selama hidupnya, Sean hampir tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar. Pernikahan Abian dan Aretha selalu terlihat harmonis. Sesekali memang ada pertengkaran kecil karena Aretha merasa Abian terlalu sibuk bekerja, tetapi tidak pernah sampai membuat hubungan mereka benar-benar retak.
Bagi Sean, Abian adalah sosok suami sekaligus ayah yang luar biasa.
Papanya bukan pria yang suka bermain perempuan. Tidak pernah terdengar kabar tentang perselingkuhan atau hubungan gelap. Namun Abian memiliki satu sifat yang terkadang membuat Sean kesal.
Sekali percaya kepada seseorang, papanya akan mempercayai orang itu sepenuh hati.
Namun jika kepercayaan tersebut dikhianati, Abian bisa berubah menjadi orang yang sangat sulit memaafkan.
“Pa, tunggu!”
Abian sudah masuk ke dalam mobil ketika Sean membuka pintu sebelahnya dan ikut duduk.
“Kita buru-buru banget mau ke mana?”
“Papa mau bertanya langsung kepada Mama.”
Abian menyalakan mesin mobil. Sebelum melajukan kendaraan, ia mengambil ponsel lalu menghubungi Aretha.
Tak lama, panggilan tersambung.
“Halo, Pa. Kenapa?”
“Mama di mana?”
“Ada di store. Kenapa?”
“Papa ke sana sekarang.”
Aretha terdengar tertawa kecil dari seberang.
“Ada apa sih? Papa kangen, ya?”
Abian tersenyum tipis.
“Memangnya nggak boleh kangen sama istri sendiri?”
“Boleh. Kalau begitu datang saja. Nanti kita makan siang bersama.”
“Love you.”
“Love you too.”
Panggilan berakhir.
Sean yang duduk di sampingnya hanya tersenyum geli.
“Romantis juga Papa.”
“Diam.”
“Padahal katanya buru-buru.”
“Memangnya salah bilang sayang sama istri?”
Sean tertawa kecil.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil Abian berhenti di depan sebuah butik perhiasan mewah.
Store itu merupakan hasil kerja keras Aretha selama bertahun-tahun. Ia adalah seorang perancang perhiasan berbakat yang berhasil membangun bisnisnya sendiri dari nol.
Namun store tersebut bukan sepenuhnya milik Aretha.
Dahulu, ia membangunnya bersama Ayunda.
Keduanya pernah menjadi sahabat sekaligus partner bisnis. Mereka bekerja siang dan malam, merancang berbagai koleksi, membangun nama merek, hingga perlahan butik itu dikenal banyak orang.
Sayangnya, semua kenangan itu berubah sejak Ayunda pergi.
Bagi Aretha, keberhasilan store tersebut selalu terasa kurang sempurna tanpa kehadiran sahabat yang dulu membangun semuanya bersamanya.
Abian turun dari mobil.
Sean ikut menyusul sambil memasukkan kalung berliontin biru itu ke dalam saku jaketnya.
Entah mengapa, sejak mengetahui kisah di balik kalung tersebut, Sean merasa benda kecil itu menyimpan rahasia besar.
Dan tanpa mereka sadari, rahasia tentang Ayunda yang selama ini terkubur perlahan mulai menemukan jalan untuk terungkap.
Awalnya hanya ingin menunjukkan kalung kepada mamanya justru akan berubah menjadi sesi interogasi keluarga.
Terlebih lagi, ia masih menyimpan satu rahasia yang belum diketahui kedua orang tuanya—kalung berliontin biru yang sejak tadi berada di dalam saku jaketnya.
Kalung yang entah bagaimana berkaitan dengan Ayunda.
Dan mungkin juga dengan Diandra.
Sean baru saja hendak menjawab pertanyaan Aretha, tetapi Abian lebih dulu mengambil alih perhatian istrinya.
“Ma, nanti saja urusan luka Sean. Papa ingin membicarakan sesuatu yang jauh lebih penting.”
Sean yang mendengar itu hanya mengangkat alis.
Yasudah, daripada harus menjelaskan panjang lebar, ia memilih mundur dan berpura-pura sibuk memperhatikan koleksi perhiasan yang terpajang di etalase.
Namun telinganya tetap terpasang baik-baik.
Aretha menatap suaminya dengan penasaran. Tangannya terangkat, mengusap pipi Abian dengan lembut.
“Memangnya Papa mau membicarakan apa sampai terlihat serius begitu?”
Meski usia Abian sudah lebih dari setengah abad, penampilannya masih terlihat gagah. Tubuhnya tetap tegap karena ia menjaga pola makan dan tidak pernah meninggalkan olahraga.
“Papa mau tanya sesuatu.”
Abian memasukkan tangannya ke saku jas. Beberapa detik kemudian, ia mengeluarkan sebuah kalung berliontin biru.
“Kalung ini.”
Begitu melihat benda tersebut, ekspresi Aretha langsung berubah.
Senyumnya lenyap.
Napasnya tertahan seolah-olah baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah muncul di hadapannya lagi.
“Dari mana Papa mendapatkan kalung itu?”
Suara Aretha terdengar jauh lebih pelan.
Abian justru semakin memperhatikan perubahan wajah istrinya.
“Justru itu yang ingin Papa tanyakan. Sean bilang Mama yang memberikan kalung ini kepadanya.”
Aretha spontan menoleh ke arah putranya.
Sean yang sejak tadi pura-pura memperhatikan sebuah gelang langsung tersenyum kaku.
“Hai, Ma.”
Tatapan Aretha membuat senyumnya perlahan menghilang.
Dari mana Sean mendapatkan kalung itu?
Seingat Aretha, benda tersebut disimpan jauh di dalam ruang rahasia yang bahkan tidak semua orang tahu keberadaannya.
Dan yang lebih membuatnya gelisah, kalung itu hanya ada satu.
Bukan barang yang dibeli dari toko lain.
Aretha sendiri yang merancang dan membuatnya bertahun-tahun lalu.
Kenangan lama yang selama ini berusaha ia kubur mendadak kembali menyeruak.
Ayunda.
Nama itu melintas begitu saja di dalam pikirannya.
Aretha segera mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Namun Abian sudah terlalu lama mengenal istrinya.
“Kenapa Mama diam?”
“Aku...”
Aretha kehilangan kata-kata.
Abian menatapnya lekat-lekat, kemudian mengalihkan pandangan kepada Sean.
“Dari reaksi Mama saja, Papa sudah bisa menyimpulkan sesuatu.”
Sean menelan ludah.
“Apa?”
Abian mengangkat kalung itu sedikit.
“Sepertinya kamu memang mengambil kalung ini dari ruang rahasia Mama.”
Sean langsung membelalakkan mata.
“Bukan begitu, Pa!”
“Lalu bagaimana?”
Sean terdiam.
Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya menemukan kalung itu secara tidak sengaja tanpa menjelaskan keberadaan ruang rahasia Aretha.
Sementara Aretha masih berdiri membisu.
Bukan tuduhan Sean yang membuatnya takut.
Melainkan fakta bahwa kalung yang selama ini ia sembunyikan kini berada di tangan suaminya.
Dan jika Abian mulai mencari tahu asal-usul kalung tersebut, rahasia tentang Ayunda yang selama puluhan tahun ia pendam mungkin tidak akan bisa disembunyikan lagi.
“Baiklah, Pa. Aku mengaku. Memang aku mengambilnya dari Mama.”
Sean akhirnya berjalan mendekati Abian dan berdiri di samping papanya.
Aretha langsung pucat.
Jantungnya berdetak tidak beraturan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, sementara tenggorokannya terasa kering.
Jangan sampai Sean mengatakan tentang ruang rahasia itu.
Di balik ruangan tersebut tersimpan berbagai dokumen lama dan benda-benda yang selama ini sengaja Aretha sembunyikan dari siapa pun, termasuk Abian.
“Kalau memang mau jujur, bicara saja. Jangan bikin Papa penasaran,” desak Abian.
Sean menarik napas.
“Aku mengambilnya dari ruang rahasia Mama.”
Darah Aretha seolah berhenti mengalir.
Abian langsung mengernyit.
“Ruang rahasia?”
Sean mengangguk santai.
“Iya. Tanya saja Mama.”
Sean kemudian menatap Aretha dengan ekspresi seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Aku juga sebenarnya penasaran. Kenapa Mama punya ruangan rahasia di dalam perpustakaan?”
Abian perlahan mengalihkan tatapannya kepada istrinya.
“Aretha, ruang rahasia apa yang dimaksud Sean?”
“I-itu...”
Aretha mati-matian mencari alasan yang masuk akal.
Ia tidak boleh membiarkan Abian mendatangi ruangan tersebut. Sekali saja suaminya melihat isi di dalamnya, semua yang selama ini ia rahasiakan bisa terbongkar.
Abian menunggu.
“Papa masih menunggu jawaban Mama.”
Ia mengangkat kalung berliontin biru itu.
“Dan ada satu hal lagi yang ingin Papa tahu. Dari mana Mama mendapatkan kalung ini? Jangan-jangan selama ini Mama sudah menemukan Ayunda?”
Aretha terdiam.
Kakinya bergerak gelisah di tempat. Pertanyaan Abian terasa seperti menekan tepat pada bagian yang paling ingin ia lindungi.
“Ma?”
Sean ikut memanggil.
“Mama?”
Aretha akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Iya. Baiklah.”
Ia menyerah untuk menghindari pertanyaan mereka.
“Ruang rahasia itu sebenarnya hanya tempat Mama menyimpan barang-barang antik dan beberapa koleksi lama. Tidak ada sesuatu yang penting.”
Abian masih menatapnya penuh curiga.
“Dan kalung itu?”
“Ya, Mama juga menyimpannya di sana.”
Sean langsung menyela.
“Tapi aneh, Ma. Aku melihat brankas di sana. Isinya bukan cuma barang antik. Ada banyak dokumen dan uang juga.”
Aretha langsung melotot kepadanya.
“Sean!”
Sean mundur selangkah.
“Apa?”
“Kamu benar-benar keterlaluan. Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruangan Mama?”
“Kan aku cuma penasaran.”
“Penasaran bukan alasan untuk memasuki ruangan pribadi orang lain!”
Aretha berusaha mengendalikan emosinya. Meskipun Sean sering membuatnya kesal, jauh di dalam hati, anak itu tetap putra kesayangannya.
Namun kali ini, Sean benar-benar membuatnya hampir kehilangan kendali.
“Itu dokumen bisnis Mama. Salinan transaksi pelanggan, sertifikat perhiasan, dan berbagai arsip perusahaan. Semuanya harus disimpan dengan aman.”
Aretha kemudian menatap putranya tajam.
“Dan kamu masuk tanpa izin, membuka brankas Mama, lalu sekarang membicarakannya di depan Papa?”
Sean mengangkat kedua tangan.
“Oke, oke. Jangan marah.”
“Bagaimana Mama tidak marah?”
Aretha mendengus kesal.
“Kamu sama sekali tidak menghargai privasi Mama. Bahkan sekarang kamu membuat Papa berpikir seolah-olah Mama menyembunyikan sesuatu yang besar darinya.”
Setelah mengatakan itu, Aretha menoleh kepada Abian.
Tatapannya berubah menjadi kesal sekaligus gugup.
“Papa percaya sama Mama, kan?”
Abian tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru semakin dalam, seakan berusaha membaca sesuatu dari wajah istrinya.
Dan untuk pertama kalinya, Aretha merasa Abian mulai meragukan kejujurannya.
Sementara di sisi lain, Sean hanya diam.
Ia tahu alasan sebenarnya mengapa Mama begitu panik.
Sebab ia bukan hanya menemukan kalung itu di ruang rahasia.
Ia juga menemukan sesuatu yang jauh lebih besar.
Sebuah petunjuk tentang Ayunda yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun.
“Pa, memangnya kenapa kalau aku memiliki kalung ini?”
Aretha menunjuk kalung berliontin biru yang masih berada di tangan Abian.
“Memang bentuknya mirip dengan kalung yang dulu Mama buat untuk Ayunda. Tapi kalung itu bukan milik Ayunda.”
Aretha menarik napas panjang. Sorot matanya mulai berkaca-kaca.
“Waktu itu Mama sangat merindukan Ayunda. Mama teringat pernah membuat kalung khusus untuknya. Karena rasa rindu itu tidak tertahankan, Mama akhirnya membuat kalung yang sama.”
Suaranya bergetar.
“Setiap kali Mama merindukan Ayunda, Mama masuk ke ruang rahasia dan memeluk kalung itu. Rasanya seperti sedang memeluk Ayunda.”
Air mata akhirnya jatuh di pipinya.
“Bukan cuma Papa yang kehilangan Ayunda. Mama juga merindukannya...”
Abian seketika terdiam.
Rasa bersalah langsung memenuhi dadanya. Ia paling tidak tahan melihat orang yang dicintainya menangis, terlebih Aretha.
“Sudahlah, Ma. Jangan menangis.”
Abian meletakkan kalung itu di atas meja, kemudian menarik Aretha ke dalam pelukannya.
“Papa minta maaf. Papa nggak bermaksud membuat Mama sedih.”
Sean yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa melongo.
Beberapa menit lalu Abian masih terlihat begitu serius dan penuh kecurigaan. Namun begitu Aretha meneteskan air mata, pertahanan papanya langsung runtuh.
Sean menggeleng-gelengkan kepala.
“Hebat sekali Mama.”
Ia akhirnya mengerti kenapa Serly memiliki sifat dramatis yang kadang sulit dikalahkan.
Ternyata bakat itu diwarisi dari Ibunya.
Di tengah suasana haru tersebut, Aretha masih terisak dalam pelukan Abian.
“Kenapa Papa masih sering membicarakan Ayunda?”
Aretha mendongak.
“Memangnya Mama kurang baik sebagai istri Papa? Setiap kali Papa membicarakan Ayunda, hati Mama terasa sakit.”
“Bukan begitu, Ma.”
Abian mengusap punggung istrinya.
“Papa hanya terkejut melihat kalung itu. Papa tidak bermaksud membandingkan Mama dengan Ayunda.”
Aretha kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya.
Sementara Sean menghela napas panjang.
Sepertinya tidak ada lagi yang bisa ia lakukan di sini.
Diam-diam, ia melirik kalung yang tergeletak di atas meja.
Satu detik.
Dua detik.
Sean mengambilnya tanpa suara.
Kemudian ia memasukkan kalung tersebut ke dalam saku jaketnya dan berjalan keluar sebelum kedua orang tuanya menyadari kepergiannya.
Sesampainya di luar, Sean menghentikan sebuah taksi dan segera kembali ke apartemennya.
Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak pernah lepas dari kalung tersebut.
Ia mengeluarkannya dari saku lalu memperhatikan liontin biru itu dengan saksama.
“Kenapa semuanya terasa terlalu kebetulan?”
Sean mengernyit.
Kalung yang pernah dilihatnya dikenakan Diandra memiliki bentuk yang hampir sama persis dengan benda ini.
Yang lebih aneh lagi, Diandra pernah mengatakan bahwa kalung tersebut merupakan satu-satunya peninggalan dari orang tua kandungnya yang meninggalkannya di panti asuhan.
Sementara Ayunda—istri pertama Abian—dinyatakan hilang setelah diculik bertahun-tahun lalu.
Dan menurut cerita yang selama ini Sean dengar, saat diculik, Ayunda juga mengenakan kalung dengan liontin biru.
Sean menatap benda itu semakin lama.
“Kalau memang ini bukan kalung Ayunda...”
Ia terdiam.
“Lalu kenapa kalung milik Diandra bisa sama persis?”
Sebuah dugaan perlahan muncul di kepalanya.
Dugaan yang terdengar mustahil, tetapi semakin ia pikirkan, semakin sulit untuk diabaikan.
Sean menggenggam kalung itu erat.
“Jangan-jangan... Diandra punya hubungan dengan Ayunda?”
Untuk pertama kalinya, Sean merasa bahwa rahasia keluarganya mungkin jauh lebih besar daripada yang selama ini ia bayangkan.
Sean menelan ludah dengan susah payah. Semakin ia memikirkan semua petunjuk yang ada, semakin kepalanya terasa berat.
“Jangan-jangan...”
Ia segera menggeleng kuat.
“Nggak mungkin Diandra anak Tante Ayunda.”
Sean tertawa hambar, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Kalau benar begitu, berarti Diandra juga anak Papa. Nggak mungkin. Dunia nggak mungkin sesempit ini.”
Namun pikirannya justru semakin kacau.
“Gila... jangan sampai Diandra ternyata kakakku sendiri.”
Sean menatap kalung di tangannya sebelum kembali memasukkannya ke dalam saku.
“Gue kan sudah jatuh cinta sama dia. Bahkan gue berniat menikahinya.”
Dadanya terasa sesak.
Ia mencoba mencari penjelasan lain.
“Diandra pernah bilang kalungnya dicuri Ola di Club. Setelah itu Ola meninggal dan kalung tersebut juga dinyatakan hilang.”
Sean mengerutkan kening.
“Tapi kenapa kalung yang sama justru ditemukan di brankas Mama?”
Satu kemungkinan muncul di benaknya.
“Nggak mungkin Mama mengambil kalung milik Ola.”
Sean langsung menggeleng.
“Mama nggak mungkin melakukan hal seperti itu.”
Ia menarik napas panjang.
“Mungkin Mama memang membuat kalung yang baru. Bisa jadi kalung milik Diandra benar-benar hilang.”
Namun lagi-lagi pikirannya terbentur pada satu fakta.
“Kalau begitu, kenapa desainnya sama persis?”
Sean memejamkan mata.
“Dan kenapa Tante Ayunda juga memiliki kalung yang sama?”
Tangannya naik mengusap wajah dengan kasar.
Semakin ia mencoba menyatukan semua potongan, semakin banyak pertanyaan baru yang muncul.
“Tidak.”
Sean mencengkeram rambutnya sendiri.
“Ini cuma kebetulan.”
Ia mengulang kalimat itu berkali-kali, seolah dengan mengucapkannya terus-menerus semua ketakutan tersebut akan lenyap.
“Diandra nggak mungkin anak Tante Ayunda dan Papa.”
Tatapannya kosong menembus kaca jendela mobil.
“Dia nggak mungkin kakakku.”
Sean mengepalkan tangannya.
Ia tidak sanggup menerima kemungkinan itu.
Sebab jika dugaan tersebut benar, seluruh perasaan yang selama ini ia simpan untuk Diandra akan berubah menjadi sesuatu yang tidak mungkin pernah mereka miliki.
“Aku mencintai Diandra...”
Suaranya terdengar lirih.
“Aku ingin menikah dengannya.”
Sean mengalihkan pandangan ke luar jendela. Pemandangan kota berlalu begitu saja tanpa benar-benar ia perhatikan.
Di dalam kepalanya hanya ada satu harapan.
Semoga semua petunjuk itu memang tidak lebih dari kebetulan.
Semoga Diandra bukan anak Ayunda.
Dan semoga perempuan yang dicintainya bukan saudara kandungnya sendiri.