NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia

Pewaris Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.

Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.

Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?

Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?

Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.

Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)

Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Butuh Sosok Ayah

"Mami...! Dicariin ternyata ada di sini." Kenzie berlari menuju halaman di mana Ayuna sedang mengobrol dengan Hana. Niat Ayuna ingin menjauhkan anaknya dengan wanita itu malah anaknya keluar tanpa tahu kedatangan wanita itu.

"Loh, bukannya ini anak kecil yang waktu itu." Hana langsung mengenalinya, begitupun juga dengan Kenzie, dia masih ingat betul wajah wanita yang sudah dibantunya.

"Loh, bukannya ini nenek yang tasnya dibawa kabur oleh pencuri? Kok nenek ada di sini?"

Ayuna menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia pura-pura tak tahu mereka saling mengenal.

"Jadi kalian sudah saling mengenal?"

"Iya mam, ini nenek yang aku ceritakan kemarin."

"Kalian juga saling mengenal?" tanya Hana menatap mereka bingung.

"Iya tentu nenek, ini kan mami kami," sahut Kenzie.

"Oh..., jadi ini mami kamu?" Hana tercengang tak menyangka ternyata bocah yang dicarinya anak dari wanita yang menyerupai Luna Wijaya. "Terus yang satunya lagi kemana? Maksudnya kemarin kalian berdua kan, sekarang yang satunya ke mana?" tanya Hana dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling halaman yang tak mendapatkan keberadaan salah satu dari bocah laki-laki yang sudah menolongnya.

"Maksudnya bang Kenzo nek?" Kenzie yakin wanita itu tengah mencari kembarannya, karena orang yang paling berjasa sudah membantunya adalah Kenzo.

"Iya benar, maksudnya teman kamu yang udah berhasil nyelamatin tas nenek," jawab Hana.

"Dia ada di dalam nek, lagi bantu mami nyapu lantai."

Di situ Ayuna hanya bisa diam, biarpun dalam hatinya tak bisa tenang.

"Kalau nenek sendiri ngapain ada di sini? Apa nenek lagi nyari kontrakan buat tempat tinggal?"

Hana menggeleng. "Tidak nak, nenek datang ke sini memang ingin bertemu dengan kalian," cicit Hana. "Bisakah kita mengobrol di dalam saja?"

Hana membuyarkan lamunan Ayuna hingga membuat wanita itu tergugup. "Ah..., iya, tentu, ayo mari silahkan masuk nyonya!"

Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah Hana mendapati bocah yang menolongnya tengah membersihkan lantai.

"Pintarnya? Masih kecil begini sudah bisa bantu orang tua." Wanita itu melempar pujian dengan mengulas senyum pada Kenzo.

Kenzo membalas senyumnya. Rupanya dia masih ingat betul wanita tua yang memujinya itu.

"Nenek, bukannya ini nenek yang tasnya dibawa kabur oleh pencuri?"

"Dan yang mengambil kembali tas nenek dari pencuri itu kamu bocah," sahut Hana dengan terkekeh.

Kenzo langsung melangkah dan menyalaminya. "Nenek apa kabar?"

"Alhamdulillah nenek baik nak, gimana dengan kamu sendiri?"

"Seperti yang nenek lihat, aku baik dan sehat."

Hana mengacak rambutnya. "Anak cerdas," pujinya lagi. "Ngomong-ngomong kalian di sini tinggal sama siapa? Apakah ada orang tua atau ~~

"Em..., kami hanya tinggal bertiga saja nyonya," sahut Ayuna.

Hana mengerutkan keningnya. "Bertiga? Lalu suami kamu ke mana?"

Ayuna menunduk. Haruskah ia menjawab pertanyaan itu? Betapa malunya ia memberinya jawaban, tapi ia juga tidak bisa berbohong. Takdir menuntutnya untuk bersikap jujur meskipun itu sangatlah menyakitkan.

"Em..., saya belum menikah nyonya," jawabnya lirih, terpaksa.

"Lalu mereka ini?"

"M—mereka terlahir karena kebodohan saya."

"Maksudnya?"

"Saya mengalami kecelakaan di tempat kerja. Saya dirudapaksa oleh seseorang."

Hana tercengang mendengar penjelasan dari Ayuna. "Dirudapaksa? Siapa yang melakukannya? Apa itu bos kamu?"

Ayuna menggeleng. "Bukan nyonya, dulu dia itu sebagai pengunjung di tempat saya bekerja. Kebetulan saya bekerja di sebuah hotel sebagai home skiping, dan dia yang dalam kondisi mabuk berat langsung menyeret saya dan meminta pelayanan dari saya. Apalah saya yang hanya wanita lemah."

Setiap mengingat kejadian itu membuatnya hancur berkeping-keping. Bahkan semua orang mencacinya dan menganggapnya perempuan murahan. Ia sudah banyak berjuang untuk keluarga angkatnya, demi mereka ia sampai berkorban harga diri, bahkan ia harus menanggung malu seumur hidup.

"Kurang ajar sekali laki-laki itu!" Hana mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. "Selama ini apa dia pernah menemuimu atau ada niatan untuk bertanggungjawab?"

Ayuna menggeleng. "Saya tidak mau berurusan dengannya lagi nyonya," cicit Ayuna. " Lagi pula  kejadian itu dia tidak sepenuhnya sadar. Saya juga tidak akan memintanya untuk bertanggungjawab."

"Loh, mana bisa begitu?! Di sini kamu sudah dijadikan korban. Kalau kamu nggak peduli dengan dirimu sendiri setidaknya kamu peduli sama anak-anakmu. Mereka butuh sosok Ayah," cicit Hana. "Mungkin kamu bisa menjadi ibu yang baik buat mereka, tapi sekiranya apa kamu bisa memenuhi kebutuhannya? Sekarang mereka masih kecil, tapi lambat laun mereka akan butuh biaya besar. Bukankah saya menghina kamu nggak mampu, tapi seharusnya itu tanggung jawab ayah kandungnya."

Ayuna diam tak bergeming. Memang ada benarnya apa yang dikatakan oleh Hana, tapi haruskah ia meminta pria itu untuk menikahinya? Sedangkan statusnya bagai bumi dan langit.

"Saya hanya orang miskin yang tak pantas untuk meminta pertanggungjawaban darinya, Nyonya," jawab Ayuna setelah lama membisu. "Lagi pula kejadiannya sudah cukup lama."

"Berapa umur anak-anak sekarang?"

Ayuna menoleh mereka yang duduk cukup jauh dan seolah-olah tak mendengarkan percakapannya.

"Anak-anak umurnya..., sekitar enam tahunan Nyonya."

"Mami gimana sih? Kita kan masih lima tahun. Dua bulan yang lalu kita merayakannya dengan tiup lilin. Apa mami sudah lupa?"

Lagi-lagi Kenzie tak mendukungnya. Niatnya ingin berbohong tapi salah satu dari anaknya protes jika apa yang dikatakannya itu memang tidaklah benar.

"Jadi umur kalian masih lima tahun?" tanya Hana menoleh pada mereka.

"Iya nenek, bahkan mami janji kalau sudah ada rezeki bakalan kasih hadiah dan kue yang besar. Kemarin saat tiup lilin kuenya kecil banget, dimakan kita berdua aja kurang."

Hana terkekeh mendengar celotehan bocah itu. Ia langsung Dejavu, teringat pada masa kecil anak-anaknya yang selalu merayakan ulang tahunnya begitu meriah. Sangat berbeda dengan bocah yang ada di depannya itu, kehidupannya suram gara-gara ulah manusia tak bertanggungjawab.

"Sayang, ayo sini duduk deket nenek. Ini nenek ada sedikit hadiah buat kalian."

Dua bocah itu beranjak dan mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Ini nenek punya kue buat kalian."

Hana menyodorkan paperbag yang dibawanya. Ada beberapa kue kering di dalamnya.

"Nenek, nggak usah repot-repot," cicit Kenzo.

Hana terkekeh. "Nenek tidak repot kok sayang. Ini hanya makanan kecil saja. Kemarin kalian buru-buru pergi, jadi nenek nggak bisa ngobrol banyak dengan kalian."

"Em..., nyonya tunggu sebentar ya? Saya akan ambilkan minum."

Ayuna beranjak namun segera ditahan oleh Hana. "Tidak usah repot-repot, saya tidak lama kok," cicit Hana. "Saya bersyukur datang ke sini dan bisa bertemu dengan mereka. Saya jadi kepikiran terus sebelum bisa bertemu dengan mereka." Hana membuka tasnya dan mengambil amplop lalu menyerahkan pada Ayuna. "Ini ada sedikit uang untuk tambahan jajan buat mereka."

"Ah..., tidak  perlu nyonya!" Ayuna menolak dan ia merasa tak pantas untuk menerimanya.

"Saya mohon diterima ya, memang nominalnya tidak seberapa, tapi saya tidak akan bisa tenang jika pemberian saya ditolak. Ini kartu nama saya, kalau ada perlu sesuatu, jangan sungkan buat datang atau menghubungi saya."

Ayuna terdiam dengan perasaan yang tak tenang. Dia terpaksa menerima uang pemberian Hana karena wanita itu terus mendesaknya agar mau menerima pemberiannya.

"Sayang, nenek pulang dulu ya, lain waktu kita akan bertemu kembali." Hana beranjak dan mengusap surai dua bocah itu bergantian.

1
Rohmi Yatun
sukaaa cerita nya. sat set.. tdk bertele2 👍.. lanjut thor
Rohmi Yatun
cerita yang menarik 👍
Rohmi Yatun
masih teka teki ni.. 🤔sebenarnya apa yg terjadi di masa lalu
Rohmi Yatun
mampir Thor.. sepertinya cerita nya menarik ni.. 👍
Ika Dw: terimakasih kak... 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!