~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
****
Tubuh Melani yang limbung hampir saja terperosok ke dalam lereng jurang yang licin dan curam. Namun, sebelum tanah gembur menyapu tubuhnya, sepasang lengan kekar Rangga Wira dengan refleks secepat kilat merengkuh ramping pinggang Melani. Dalam satu tarikan yang bertenaga, Rangga menarik tubuh bidan muda itu ke dalam dekapan tegapnya.
Srettt!
Melani menabrak dada lapang Rangga yang keras bagai batu karang. Belum sempat Melani menghela napas lega atau memprotes, jemari besar dan hangat milik Rangga langsung membekap lembut mulut Melani, menghentikan jeritan susulan yang hendak meluncur dari bibir manisnya.
"Diam," bisik Rangga, napas hangatnya yang beraroma kayu cendana menyapu lembut pelipis Melani.
Di dalam keheningan malam yang mencekam dan di bawah pendar rembulan yang tipis, pandangan Melani terkunci tepat pada paras pria di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat—hanya tersisa beberapa sentimeter. Mata jernih Melani menatap lurus ke dalam manik mata Rangga Wira yang hitam tajam, menyusuri garis rahang tegas dan tegap yang memancarkan wibawa alami seorang pemimpin tertinggi suku. Dada Melani berdegup kencang secara tak beraturan, bukan lagi hanya karena terkejut, melainkan oleh getaran asing yang mendadak melingkupi perasaannya.
Sementara itu, di tepi tebing jurang, Sutan yang panik melangkah mundur. "Siapa itu?! Siapa yang bersembunyi di sana?!" teriaknya dengan suara bergetar takut.
Melihat bayangan tinggi tegap melangkah samar di balik semak-semak, Sutan kehilangan akal sehatnya. Dengan panik, ia melempar bumbung bambu berlepotan getah hitam itu ke dalam kegelapan jurang, lalu berbalik dan lari terbirit-birit menembus belukar hutan untuk melarikan diri.
Byur! Pyar!
Suara bumbung bambu jatuh tenggelam ke dasar jurang yang dalam bersahut-sahutan di dalam kegelapan.
Melihat Sutan melarikan diri dan membuang barang bukti berharga itu, Melani secara refleks melepaskan bekap tangan Rangga dan melangkah hendak mengejar. "Buktinya dibuang! Pak Rangga, kita harus menahannya sekarang!"
Namun, jemari kekar Rangga Wira kembali menahan lengan Melani, menahan langkah gadis itu dengan kelembutan yang pasti.
"Tidak perlu dikejar, Melani," bisik Rangga tenang. Suaranya terdengar begitu terkontrol, tanpa ada kepanikan sedikit pun.
Melani membalikkan badan, menatap Rangga dengan raut wajah bingung sekaligus gemas. "Tapi Pak Rangga! Dia baru saja membuang bumbung racun itu ke jurang! Tanpa bambu itu, kita tidak punya bukti fisik untuk membongkar kejahatan mereka di hadapan warga besok pagi!"
Rangga Wira menatap wajah cantik Melani yang tampak sangat cemas. Jemari kasarnya perlahan terangkat, merapikan helai rambut hitam Melani yang berantakan tertiup angin malam dengan gerakan yang sangat lembut.
"Simpan energimu untuk esok pagi, Bidan Melani," bisik Rangga, sorot matanya yang tajam menatap dalam ke mata Melani. "Besok, datanglah ke Rumah Adat seperti biasa. Hadirlah sebagai tenaga medis yang telah menjalankan tugasmu... dan saksikan sendiri bagaimana hukum tanah ini bekerja."
Melani yang belum sepenuhnya paham hanya terpaku. Gadis itu mengangguk pelan, keputusannya menyerah pada pesona dan rasa percaya yang memancar dari wajah tampan serta intimidatif sang Ketua Adat.
**
Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing di Ujung Timur Desa Hulu Rawa. Udara pagi yang berembun tak mampu mendinginkan suasana panas yang kembali membakar pelataran Rumah Adat.
Ratusan warga telah berkumpul memenuhi halaman. Di barisan depan, beberapa keluarga yang anak-anaknya telah sembuh berkat olahan arang aktif dan air kelapa muda ciptaan Melani berdiri dengan raut wajah berterima kasih. Namun, tidak sedikit warga yang masih menatap Melani dengan ragu, dipengaruhi oleh sisa-sisa hasutan hari kemarin.
Melani berdiri tegap di bawah tangga Rumah Adat dengan pakaian tenun birunya yang rapi. Wajah manisnya berseri, memancarkan optimisme alami.
Di atas teras Rumah Adat, Bi Naya berdiri mengandalkan tongkat kayunya, diapit oleh Sutan yang tampak pucat dan gelisah dengan menyembunyikan kedua tangannya di balik kain selendang.
"Batas waktu dua puluh empat jam sudah habis, Ki Rangga!" seru Bi Naya nyaring, memecah keheningan sidang adat. "Anak-anak memang membaik, tapi itu cuma peredam sementara! Bidan kota ini tetap tidak bisa membuktikan dari mana asal racun tersebut! Hukum adat harus dijatuhkan!"
Melani melangkah satu anak tangga maju. "Saya sudah membuktikan dengan ilmu medis bahwa ini adalah racun luar! Anak-anak sembuh bukan karena mantra, tapi karena zat beracun di lambung mereka diserap oleh arang aktif yang saya berikan!"
"Cukup alibi manismu, Bidan!" potong Bi Naya dengan senyum sinis. "Di mana buktinya? Di mana wujud racun yang kamu tuduhkan itu?! Tidak ada, bukan?!"
Bi Naya menoleh pada Rangga Wira yang duduk tenang di kursi kayu ukirnya. "Ki Rangga, sebagai pimpinan adat, Anda sudah berjanji kemarin! Jika tidak ada bukti fisik racun yang ditemukan, perempuan ini harus diserahkan untuk menerima sanksi adat!"
Mbah Baya dan para tetua senior saling pandang, mengangguk ragu. "Bi Naya ada benarnya, Ki Rangga. Tanpa bukti siapa pelakunya atau dari mana racun itu berasal, tuduhan Bidan Melani tidak memiliki pijakan hukum adat."
Suasana pelataran mendadak tegang. Beberapa warga mulai berbisik-bisik panik. Melani mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya bergemuruh tegang saat melihat Bi Naya menyunggingkan senyum kemenangan.
Tepat pada saat ketegangan mencapai puncaknya, Rangga Wira perlahan bangkit berdirinya. Tubuh tegapnya yang dibalut jubah adat kebesarannya melangkah ke depan teras, menyapu pandangan ke seluruh warganya.
"Siapa bilang tidak ada bukti?" suara bariton Rangga Wira menggelegar tenang, seketika membungkam seluruh riuh pelataran.
Bi Naya tersentak. Sutan di sampingnya makin memucat, peluh dingin merembes di keningnya.
Rangga Wira menepuk tangannya dua kali. Dari balik pintu Rumah Adat, Seno melangkah keluar membawa sebuah bejana tanah liat berukuran besar yang berisi air bening yang menebarkan aroma wangi dedaunan hutan tertentu. Bejana itu diletakkan tepat di tengah teras Rumah Adat.
"Ki Rangga... air apa itu?" tanya Mbah Baya bingung.
Rangga Wira menatap warganya dengan sorot mata yang penuh otoritas. "Leluhur kita tidak pernah meninggalkan kita tanpa petunjuk. Air di dalam bejana ini adalah Air Penitis—rebusan daun getah penawar yang direstui oleh hukum tanah ini. Air ini memiliki sifat khusus dari alam."
Rangga Wira melangkah mendekati bejana tersebut. "Siapa pun yang kulit tangannya pernah menyentuh atau memegang akar getah hitam beracun dalam kurun waktu dua puluh empat jam terakhir... saat tangannya dicuci di dalam air ini, zat getah tersembunyi di pori-pori kulitnya akan bereaksi dan mengubah warna tangannya menjadi hitam pekat seketika!"
Seluruh pelataran gempar! Warga saling pandang dengan rasa takjub dan penasaran. Melani yang berdiri di bawah tangga membelalakkan matanya yang jernih, mengagumi kejeliusan dan kearifan lokal yang dimainkan oleh Rangga Wira.
"Untuk membuktikan kebersihan seluruh warga dan pengurus desa dari racun yang menimpa anak-anak kita..." seru Rangga Wira nyaring, "Saya perintahkan seluruh tetua, pengurus, dan siapa pun yang berada di teras ini untuk mencuci tangan mereka di dalam bejana ini!"
"Saya yang pertama!" tegas Mbah Baya tanpa ragu. Tetua berjanggut putih itu maju dan mencelupkan kedua tangannya ke dalam air. Begitu diangkat, tangannya tetap bersih dan basah oleh air jernih.
Satu per satu tetua adat maju dan mencuci tangan mereka. Semuanya bersih tanpa perubahan warna.
Hingga akhirnya, hanya tersisa Bi Naya dan Sutan yang berdiri kaku di sudut teras.
"Giliranmu, Bi Naya... dan kamu, Sutan," ujar Rangga Wira pelan, tatapannya menembus langsung ke dalam jiwa Sutan yang gemetar hebat.
"S-saya... saya tidak perlu mencuci tangan! Ini kekanak-kanakan!" pekik Bi Naya mencoba mengelak.
"Apakah kamu takut pada kebenaran air tanahmu sendiri, Bi Naya?" bentak Rangga Wira penuh intimidasi, membuat sang dukun tua bungkam tak berkutik.
Dengan tubuh gemetar dan napas berburu, Sutan yang tak bisa lagi melarikan diri dari kepungan warga terpaksa melangkah maju. Tangannya yang dingin perlahan dicelupkan ke dalam bejana air penitis tersebut.
Detik-detik berlalu dalam hening yang mencekam.
Saat Sutan menarik kedua tangannya keluar dari air... keajaiban dan fakta mengerikan membentang di hadapan semua orang.
Telapak hingga punggung tangan kanan Sutan seketika berubah warna menjadi hitam pekat bagaikan jelaga, memperlihatkan bekas resapan getah racun yang tersisa di pori-pori kulitnya akibat memegang bumbung bambu semalam!
Gasp!
Jeritan kaget dan napas tertahan bergema di seluruh pelataran Rumah Adat!
"Hitam! Tangan Sutan berubah jadi hitam!" teriak seorang warga histeris.
"Sutan! Kamu yang meracuni sumur anak-anak kami?!" amuk Seno dari barisan depan, hendak melompat menaiki tangga.
Sutan yang ketakutan setengah mati langsung jatuh berlutut di tanah, menangis tersedu-sedu. "Ampun, Ki Rangga! Ampun! Saya cuma dituruh! Bi Naya yang menyuruh saya menaruh getah hitam di sumur Pustu! Bi Naya yang memberi saya ramuan itu agar Bidan Melani disalahkan dan diusir dari desa!"
Seluruh warga Hulu Rawa terperanjat luar biasa. Pandangan penuh kemarahan kini terarah sepenuhnya pada Bi Naya yang berdiri membeku dengan wajah pucat bagai mayat.
Kebenaran akhirnya terkuak benderang di bawah naungan langit pagi Hulu Rawa. Bidan Melani sepenuhnya bersih dan terbukti tak bersalah.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭