sebuah kisah dua orang asing yang ditakdirkan menjadi keluarga. tanpa tau bahwa pertemuan mereka akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zean amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
tittt, titttttt..... bunyi klakson.
"woy, minggir"
"macet ini. lu ga bisa liat" teriak salah satu pengendara motor.
yah, jalanan macet dan orang orang sedang terburu buru. sedangkan, hujan lebat dan angin menganggu penglihatan mereka.
tidak lama, terdengar pertengkaran kecil dari para pengendara yang memperebutkan jalan. mereka tidak peduli kondisi sama sekali.
.....
"zean, aku pulang duluan yaa" pamit arine.
zean hanya mengangguk dan mulai menyapu agar besok dia tidak perlu piket.
tik,. tik.. bunyi hujan yang mulai turun.
zean menoleh ke arah air hujan itu. dirinya kemudian kebingungan bagaimana cara dia pulang.
"nak zean" sapa satpam.
"ah, ya pak? "
"ga pulang nak? teman temannya sudah pada pulang. " ucap satpam itu
"iya pak, tapi ternyata hujan. jadi, saya tunggu reda dulu saja" jawab zean.
satpam itu seakan peka dengan zean, dia kemudian menuju posko nya dan mengambil sebuah payung.
"ini nak pakai payung bapak"
"loh, tidak perlu pak terima kasih. " zean menolaknya tapi satpam itu kekeh memberikan payung itu.
"kalau saya pakai payung ini. bapak nantinya pulang pakai apa? " satpam itu kemudian tertawa ramah.
"owalah, hahha. gapapa nak, ini bapak bawa jaket kalo nanti ga berhenti hujannya. lagian, bapak masih ada pekerjaan" dan zean ber 'oh' saja sambil mengangguk paham.
setelahnya zean berterima kasih dan menggunakan payung itu untuk pulang.
'CTARR'
Bunyi petir menyambar, disertai angin yang bertiup kencang.
Hujan turun semakin deras, membuat jalanan di depan Zean hampir tidak terlihat dengan jelas.
Sesekali Zean berhenti untuk berteduh. Ia takut petir menyambar payung yang dibawanya.
Setelah hujan sedikit mereda, Zean kembali melanjutkan langkahnya.
Rumahnya sudah tidak jauh lagi. zean mulai bisa melihat rumahnya.
Namun, langkah Zean tiba-tiba melambat.
Dari kejauhan, ia melihat sesuatu yang membuat keningnya berkerut.
Rumahnya dikerumuni banyak orang.
Beberapa tetangga berdiri di halaman. Ada pula beberapa orang yang keluar-masuk rumah dengan wajah yang terlihat muram.
Zean menghentikan langkahnya.
"Kenapa ramai sekali?"
Perasaan aneh mulai muncul di dalam dirinya.
Ia mempercepat langkahnya, lalu berusaha menerobos kerumunan.
"Permisi..."
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa orang justru menatapnya dengan tatapan yang membuat Zean semakin bingung.
"Ada apa?" tanyanya lagi.
Saat itulah seseorang yang dikenalnya datang menghampiri.
Arine..
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Zean,arine justru langsung memeluknya.
Zean terdiam.
"Kenapa?ada apa? " Zean bertanya kembali.
Pelukan itu semakin erat.
"Zean..." suara arine terdengar bergetar.
"Ayahmu..."
Zean mulai merasa tidak tenang.
"Ada apa dengan Ayah?"
Sahabatnya terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan,
"Kamu harus kuat, Zean."
Zean menatapnya dengan bingung.
"Kenapa aku harus kuat?"
Tak ada jawaban.
Hanya suara hujan dan gemuruh petir yang terdengar di antara mereka.
Kemudian, arine perlahan melepaskan pelukannya.
"Masuklah." ucap Arine pelan
Zean menatap pintu rumahnya.
Entah kenapa, untuk pertama kalinya ia merasa takut untuk melangkahkan kaki ke dalam rumahnya sendiri.
Zean kemudian masuk ke dalam rumahnya.
Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, tubuhnya tiba-tiba membeku.
Tatapannya tertuju pada seseorang yang terbaring di ruang tengah.
"Ayah...?"
Suaranya nyaris tak terdengar.
Zean melangkah perlahan. Satu langkah, lalu satu langkah lagi. Kakinya terasa berat, seolah tubuhnya sendiri menolak untuk mendekat.
Semakin dekat, semakin jelas sosok yang terbaring di hadapannya.
Itu ayahnya.
Zean berhenti tepat di hadapan jasad sang ayah. dia terduduk lemas dan tidak percaya semua ini.
"Zean, ayahmu mengalami kecelakaan saat mengantar barang. dan dia,.. dia tidak bisa diselamatkan" ucap salah satu orang di dalam ruangan itu.
"ga. ini ga mungkin. ga, ini ga mungkin.. " Zean mengulang ngulang ucapan itu sambil menggeleng kan kepala. dengan tangan gemetar dan air mata yang sudah mulai menetes jatuh ke pipinya dia meraih tangan ayahnya dan memanggil ayahnya. berharap ayahnya itu bangun dan mengatakan kalau dia hanya bercanda.
"ga, ayah ga bisa begini. ayah bangun, ayah.. mereka bilang ayah tiada. ayah, bilang pada mereka kalau ayah hanya bercanda. ayah,... " dan banyak lagi.. Zean meracau tak jelas, dia menangis histeris dan memeluk ayahnya.
"Zean, tenanglah" arine mendekati Zean yang meracau disana.
"ga, ga arine. katakan kalau ini bohong. ayah ga mungkin tiada, hikss.. " Zean menangis dalam pelukan arine. arine memeluk Zean berusaha menenangkan nya.
.....
Zean menangis sampai tertidur.
"ayo kita buat persiapan untuk pemakamannya".. suara samar terdengar oleh Zean. dia perlahan membuka matanya dan melihat jika ayahnya sudah dibersihkan dan akan dibawa pergi.
melihat hal itu, Zean merangkak dan melepaskan pelukan arine. dia memegang tangan ayahnya.
"mau kalian bawa kemana ayah? " dia bertanya sambil sedikit membentak.
"nak, kita akan menyiapkan pemakamannya" jawab salah satu nya.
Zean menatap mereka satu per satu, seolah tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan.
"GA. ayah ga akan pergi kemana mana. aku belum bercerita pada ayah,..dia pasti ingin mendengarkan tentang ujianku. ayah pasti ingin mendengarkan nya.. ya kan ayah?hiks.... " dan banyak lagi yang Zean ucapkan.
"Zean,. heyy, Zean. sadarlah. jangan begini" ucap arine sambil ikut menangis melihat sahabatnya seperti ini. ia berusaha melepaskan genggaman nya ditangan ayahnya.
"arine. arine,... hiks, arine. dia mau bawa ayah pergi arine. arine hentikan mereka arine. " teriak Zean melihat ayahnya sudah dibawa ke luar.
"suttt, tenanglah Zean. " arine berusaha menenangkannya.
hiks... Zean kembali menangis di pelukan arine. dia benar-benar terpukul dengan kejadian yang menimpa ayahnya. Ia masih belum mampu menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini menjadi tempatnya pulang kini telah pergi untuk selamanya.
....
setelah dirasa tenang, mama arine menghampiri mereka berdua.
bibi tersebut mengatakan jika pemakaman akan segera di lakukan. dan dengan mata yang bengkak dan penampilan yang kacau, Zean menghadiri pemakaman tersebut. tentunya dengan menangis dan sambil memeluk mama nya arine. dan arine disamping nya berusaha menenangkannya.
pemakamanpun, berlangsung...
pemakaman itu dilakukan dibawah hujan yang deras, payung payung terbuka di antara orang-orang, untuk melindungi mereka dari guyuran hujan.
....
pemakaman berjalan dengan lancar. orang orang kemudian berpamitan untuk pulang. begitu juga dengan arine dan mamanya
"Zean.kamu benar benar tidak apa-apa? " tanya arine memastikan kembali.
Zean menggeleng dan berusaha tersenyum.
"terima kasih arine telah membantu acara pemakaman ayahku"
arine mengangguk dan tersenyum.
"nak. yang kuat ya, bibi yakin pasti ada sesuatu yang jauh lebih baik yang sedang menunggu mu dibalik semua ini" ucap mama nya arine. Zean tersenyum.
mereka pun berpamitan untuk pulang.
shaaa,.. bunyi hujan dan angin..
Zean terdiam melihat ruangan itu..
'kenapa ayah meninggalkan Zean sendirian? Zean hanya punya ayah' Zean kembali menangis dan mendekati foto ayahnya itu.
Malam itu, Zean kehilangan satu-satunya orang yang selama ini selalu mendukungnya.
Dan untuk pertama kalinya, rumah itu terasa begitu asing baginya.