Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KELAS SIHIR
Hari pertama kegiatan belajar mengajar di Akademi Sihir Agung Kerajaan berlangsung dengan penuh antusiasme. Setelah kegemparan ledakan Batu Uji Purba kemarin, sosok Elena menjadi pusat perhatian seluruh siswa. Meskipun mengenakan seragam akademi sederhana buatan ibunya dan bersikap sangat ramah, aura misterius sebagai "anak petani berkekuatan monster" tetap melekat padanya.
Pagi itu, kelas sihir terfavorit di Akademi sedang berlangsung di lapangan rumput yang luas: Pelajaran Sihir Pemanggilan Familiar (Familiar Summoning Class).
Pelajaran ini diampu oleh Profesor Vane, seorang penyihir senior berkacamata tebal yang sangat dihormati karena keahliannya menjinakkan berbagai makhluk sihir.
"Dengarkan baik-baik, anak-anak!" seru Profesor Vane seraya menyesuaikan letak kacamatanya dengan bangga. "Sihir pemanggilan familiar membutuhkan konsentrasi mana yang jernih. Familiar yang kalian panggil adalah cerminan dari jiwa dan kapasitas sihir kalian. Makin tinggi energi mana kalian, makin langka makhluk yang akan merespons panggilan kalian!"
Para murid bangsawan saling berbisik penuh semangat.
"Maju pertama! Pangeran Rupert!" panggil Profesor Vane.
Pangeran Rupert yang hadir sebagai murid senior sekaligus pengawas kelas melangkah maju. Ia menggoreskan lingkaran sihir di tanah, mengalirkan mana apinya, dan merapalkan mantra.
FWOOSH!
Dari dalam lingkaran cahaya, muncul seekor Elang Api Bertanduk (Flame Horn Eagle) yang gagah. Elang itu mengepakkan sayapnya yang memercikkan api hangat, membuat seluruh siswa bertepuk tangan kagum.
"Luar biasa, Pangeran Rupert! Makhluk sihir tingkat Tinggi (High-Tier)!" puji Profesor Vane penuh kekaguman.
Rupert tersenyum miring dan mengangguk pelan, walau di dalam hatinya ia membatin: "Tch, elang ini tidak ada apa-apanya dibanding Ignis yang suka dijadikan guling oleh Elena..."
Selanjutnya, giliran anak bangsawan sombong yang kemarin diremehkan oleh fakta Batu Uji Purba. Ia maju dengan percaya diri dan berhasil memanggil seekor Kucing Bayangan (Shadow Cat) bertanduk dua.
"Selanjutnya... Elena!" panggil Profesor Vane seraya melirik catatannya.
Elena melangkah ke tengah lapangan rumput dengan senyum cerianya. Ia tidak membawa tongkat sihir atau buku mantra apa pun.
Putri Rosalind dan Putri Fiona yang menonton di tepi lapangan mendadak merasa penasaran.
"Sihir pemanggilan butuh mantra kuno... Apakah Elena tahu mantranya?" bisik Fiona pelan.
Elena berdiri di tengah lapangan. Ia tidak memegang tongkat sihir, melainkan hanya menangkupkan kedua tangan mungilnya di depan dada dan memejamkan mata. Di dalam pikirannya, Elena hanya merindukan suasana rumah kayunya di Hutan Kelam.
"Teman peri... ayo main di sekolah!" bisik Elena tulus.
SHINNNNNG!
Tanpa goresan lingkaran sihir di tanah, pendar cahaya keemasan yang begitu murni dan harum seperti wangi Pohon Kehidupan meluap dari tubuh Elena. Sebuah retakan sihir ruang-waktu kecil berkilat warna pelangi mendadak terbuka di udara tepat di atas kepala Elena!
POP!
Dari dalam retakan ruang yang terhubung langsung ke pekarangan rumah Kayy di Hutan Kelam, meluncur keluar sesosok peri kecil seukuran genggaman tangan. Peri itu memegang sebuah kuki/biskuit mentega yang setengah tergigit di tangannya!
Itu adalah Lumi, salah satu Peri Suci Purba (Ancient High Fairy) yang tinggal di dahan Pohon Kehidupan rumah Kayy!
"L-Lumi?!" seru Elena kaget sekaligus gembira. "Kamu lagi makan biskuit buatan Ibu ya?"
Lumi si peri kecil berkedip bingung, menatap sekeliling lapangan Akademi yang asing baginya, lalu menatap Elena.
"Lho? Elena?!" cericit Lumi dengan suara nyaring nan imut. "Aku tadi lagi asyik santai di dahan Pohon Kehidupan sambil makan biskuit buatan Lady Alya! Kenapa tiba-tiba ditarik sihir pemanggilan ke sini?!"
Hening seketika.
Seluruh murid bangsawan, prajurit pengawas, hingga Profesor Vane membeku kaku bagaikan patung batu.
"P-PERI SUCI PURBA?!" teriak Profesor Vane histeris seraya memegangi dadanya, wajahnya pucat pasi. "M-Makhluk mitos tingkat dewa yang hanya ada di dongeng purba... dipanggil langsung dari sarangnya oleh anak kecil berumur 7 tahun?!"
Peri kecil itu terbang berputar-putar riang di udara, mengibaskan sayap transparannya yang memercikkan debu cahaya suci. Ia kemudian hinggap tepat di atas jepit rambut bunga matahari milik Elena, lalu mengunyah sisa biskuitnya dengan santai.
"Tapi ya sudah deh! Berhubungan ini Elena, aku mau jadi familiar-mu!" seru Lumi gembira seraya memeluk pipi Elena.
"Huraay! Terima kasih, Lumi!" balas Elena riang seraya mengelus kepala peri kecil itu dengan ujung jarinya.
Anak bangsawan sombong yang tadi memamerkan Kucing Bayangannya mendadak mendekat dengan wajah curiga dan iri. "I-Ini pasti serangga sihir biasa! Mana mungkin anak petani bisa memanggil Peri Purba sungguhan—"
Lumi yang merasa kenikmatan makan biskuitnya diganggu, melirik anak sombong itu dengan cemberut. Ia mengacungkan tongkat dandelion mungilnya.
TING!
POOF!
Hidung anak bangsawan sombong itu seketika berubah menjadi bunga mawar merah raksasa yang mekar di tengah wajahnya!
"HYAAAAKK! HIDUNGKU JADI BUNGA!" jerit anak sombong itu panik seraya berlari terbirit-birit di sekeliling lapangan, membuat seluruh murid lain tertawa terbahak-bahak.
Pangeran Rupert, Putri Rosalind, dan Putri Fiona hanya bisa menepuk jidat mereka masing-masing seraya tersenyum pasrah.
"Sudah kuduga..." gumam Rupert menggelengkan kepala. "Jarak ratusan kilometer dari Hutan Kelam ke Akademi bisa ditembus sihir Elena hanya untuk memanggil peri tetangga rumahnya."
Profesor Vane berlutut lemas di tanah seraya mencatat dengan tangan gemetaran: Elena - Pemanggilan Familiar: Peri Suci Purba Nilai (SSS+).
Elena dan Lumi hanya tertawa riang saling berbagi cerita, sementara rahasia keajaiban rumah kayu Kayy kembali membuat seluruh Akademi Kerajaan terkagum-kagum tanpa mereka sadari!