Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pria itu mengangkat senjatanya sedikit lebih tinggi.
“Matilah kau!”
Sreeekk!
“Aaakkhhhh...!”
Semuanya terjadi dalam sekejap.
Tetapi sebelum pria itu sempat melakukan apa pun, Kael bergerak lebih cepat. Aurora yang berada di dalam mobil hanya mampu berteriak ketika melihat Kael melumpuhkan pria tersebut dengan gerakan yang begitu cepat hingga sulit diikuti mata.
Pria itu terhuyung dan kehilangan keseimbangan. Kael berdiri tegak di hadapannya dengan tatapan dingin, sementara Aurora membeku di tempat duduknya.
Jantung Aurora berdetak begitu keras. Lututnya terasa lemas, bahkan tubuhnya seolah kehilangan tenaga untuk bergerak.
“Apa... yang baru saja terjadi?” bisiknya.
Pria tadi akhirnya tersungkur di dekat mobil dan tak lagi mampu melanjutkan perlawanan.
Kael menarik napas pendek. Tanpa banyak bicara, ia mendekati pria tersebut dan mengambil senjata yang terjatuh di dekatnya. Benda itu mungkin bisa berguna nanti—setidaknya sebagai petunjuk untuk mengetahui siapa sebenarnya kelompok yang telah menyerang kawasan mereka.
Aurora masih terpaku. Pemandangan malam itu membuatnya sadar bahwa dunia Kael jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.
“El...” panggilnya lirih.
Kael menoleh.
“Ayo pergi,” katanya singkat. “Kita tidak tahu apakah masih ada orang lain di sekitar sini.”
Aurora mengangguk pelan.
Kael kemudian kembali ke sisi mobil dan memastikan keadaan di sekitar mereka sebelum membawa Aurora meninggalkan tempat tersebut.
Dalam hitungan detik, situasi yang semula tampak mustahil untuk dilewati berhasil ia kendalikan.
Aurora hanya bisa menatapnya dengan campuran takut dan tak percaya.
Pria itu benar-benar bergerak secepat kilat.
“El... apa kau tadi melukai orang itu?” Suara Aurora terdengar gemetar. Ia masih sulit menerima apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
Kael tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan mengitari mobil, membuka pintu pengemudi, lalu masuk ke balik kemudi. Mesin dinyalakan dan mobil segera bergerak meninggalkan kawasan yang masih dipenuhi kekacauan.
Aurora duduk kaku di kursinya. Tangannya gemetar tanpa bisa ia kendalikan. Kael mengambil beberapa lembar tisu dari tempat penyimpanan di dekat dasbor, lalu mengulurkannya kepadanya.
“Bersihkan wajahmu.”
Aurora menerimanya dengan tangan yang masih bergetar. Ia mencoba mengatur napas, tetapi bayangan kejadian tadi terus berputar di kepalanya.
“El...” suaranya nyaris berbisik. “Kau benar-benar tidak takut setelah melakukan itu?”
Kael tetap memusatkan perhatian pada jalan.
“Takut bukan sesuatu yang bisa mengubah keadaan.”
Aurora menelan ludah. “Tapi... orang tadi jatuh tepat di depan mataku. Aku benar-benar ketakutan.”
Kael meliriknya sekilas.
“Ck. Kau terlalu banyak memikirkan hal yang sudah berlalu.”
Aurora menatapnya tidak percaya. “Bagaimana mungkin kau berkata seperti itu? Bagiku, apa yang terjadi barusan bukan sesuatu yang biasa.”
Suasana di dalam mobil mendadak sunyi. Hanya suara mesin dan deru angin malam yang terdengar.
Kael akhirnya bersuara dengan nada datar.
“Kalau kau terus berada di sisiku, kau akan melihat banyak hal yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya.”
Aurora terdiam.
Ia tahu pria di sampingnya tidak sedang bercanda.
“Mulai malam ini,” lanjut Kael, “kau harus belajar memahami bahwa dunia yang kujalani tidak selalu memberi seseorang kesempatan untuk hidup dengan tenang.”
Aurora menundukkan pandangan. Ketakutan masih memenuhi dadanya, tetapi untuk pertama kalinya ia mulai menyadari bahwa perjalanan bersama Kael mungkin akan mengubah hidupnya jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
“Mulai sekarang, kau harus membiasakan diri melihat hal-hal semacam itu.”
Ucapan Kael yang datar membuat Aurora terdiam.
Membiasakan diri?
Bagaimana mungkin seseorang berbicara setenang itu setelah menyaksikan kejadian mengerikan beberapa saat lalu? Untuk sesaat, Aurora bahkan bertanya-tanya apakah pria di sampingnya benar-benar tidak memiliki rasa takut.
Dada Aurora terasa sesak.
Baru sekarang ia kembali mengingat kenyataan yang jauh lebih besar: dirinya telah terikat dalam sebuah pernikahan dengan Kael, seorang pria yang hidup di tengah dunia penuh bahaya. Dan ia bahkan tidak tahu berapa lama ikatan itu akan berlangsung.
Aurora memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Pemandangan di luar perlahan berubah. Hamparan rumput terbentang di sepanjang jalan, diselingi pepohonan tinggi yang berdiri dalam bayangan malam. Beberapa pohon pinus dan cemara tampak berjajar di kejauhan.
Ia baru menyadari bahwa di balik hiruk-pikuk kota, ternyata masih ada bagian kota yang begitu tenang dan dipenuhi pepohonan.
“Ini sebenarnya di mana?” tanya Aurora lirih. “Kita sedang menuju ke mana?”
Kael tidak langsung menoleh.
“Kau akan ikut denganku ke rumah,” jawabnya tenang. “Setelah itu, ikuti aturan yang sudah kutetapkan.”
Aurora kembali terdiam.
Tidak ada jawaban yang sanggup ia berikan. Pikirannya terlalu penuh dengan ketakutan dan kebingungan.
Beberapa saat kemudian, pandangan Aurora tanpa sengaja jatuh pada bahu Kael.
Wajahnya seketika berubah.
Ada noda merah yang perlahan merembes pada pakaian pria itu. Luka yang didapatkannya dalam kekacauan sebelumnya rupanya masih mengeluarkan darah.
“El...” panggil Aurora pelan.
Kael hanya melirik sekilas.
“Apa?”
“Bahu kamu...” Aurora menunjuk dengan tangan gemetar. “Masih berdarah.”
Kael kembali memandang jalan seolah luka itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
“Aku tahu.”
Aurora mengerutkan kening. Di tengah ketakutannya, muncul kekhawatiran yang sulit ia sembunyikan.
Pria itu memang terlihat begitu kuat, tetapi malam ini Aurora mulai menyadari satu hal—Kael bukanlah seseorang yang tidak bisa terluka.
Ia hanya terlalu terbiasa menyembunyikan rasa sakitnya.
“Kau terluka.” Suara Aurora terdengar panik ketika melihat noda merah yang semakin jelas di bahu Kael.
“Aku sudah terbiasa dengan luka seperti ini.”
Jawaban Kael begitu tenang, seolah rasa sakit yang ia rasakan bukan sesuatu yang perlu dipikirkan.
Aurora belum sempat mengatakan apa-apa ketika mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar. Dari luar, bangunan itu tampak sederhana dan tidak berlebihan, tetapi ukurannya membuat Aurora spontan terdiam.
“Turun.”
Kael membuka pintu dan menuntun Aurora masuk.
Begitu melewati pintu utama, mata Aurora langsung membesar. Bagian dalam rumah itu jauh berbeda dari tampilannya. Ruangan luas tersebut dipenuhi furnitur elegan yang tertata rapi, memberikan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan.
Di beberapa sudut terdapat guci dekoratif dan karya seni yang tampak bernilai tinggi. Lukisan-lukisan besar menghiasi dinding, membuat Aurora tanpa sadar memperlambat langkahnya untuk memperhatikan setiap detail.
Di salah satu area bahkan terdapat akuarium besar dengan ikan-ikan eksotis yang tampaknya dirawat dengan sangat baik. Lampu gantung di ruang utama juga mencuri perhatian Aurora karena dihiasi ornamen kristal yang berkilauan ketika terkena cahaya.
“Rumah ini...” gumam Aurora pelan. “Benar-benar berbeda dari yang kubayangkan.”
Kael tidak menanggapi. Ia hanya terus berjalan membawanya menuju sudut ruangan.
Di sana terdapat sebuah lift pribadi.
Aurora kembali terdiam ketika pintunya terbuka.
Kael masuk terlebih dahulu, kemudian memberi isyarat agar Aurora mengikutinya.
Ia menekan tombol lantai empat.
Pintu lift menutup perlahan.
Di dalam ruang sempit itu, Aurora kembali menyadari bahwa pakaian Kael masih ternoda akibat luka di bahunya. Namun pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengeluh.
Beberapa detik kemudian, lift berhenti.
Ting.
Pintu terbuka.
Kael melangkah keluar dan membawa Aurora menuju sebuah kamar.
Sesampainya di depan pintu, ia membuka kuncinya.
“Masuk.”
Aurora berdiri sejenak di ambang pintu, sebelum akhirnya mengikuti Kael masuk ke dalam.
“Masuk.”
Aurora menuruti perintah itu meskipun langkahnya masih terasa ragu. Begitu berada di dalam, ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
Kamar Kael ternyata cukup luas, tetapi suasananya terasa dingin dan sederhana. Warna hitam serta abu-abu mendominasi hampir seluruh bagian ruangan. Tidak banyak perabot di sana—hanya sebuah ranjang, sofa, meja, dan televisi yang menghadap langsung ke area duduk.
Selebihnya, ruangan itu tampak begitu kosong dan tertata.
Aurora bahkan tidak menemukan lemari pakaian biasa. Ia menduga pakaian Kael mungkin disimpan di sebuah walk-in closet yang berada di balik salah satu sisi kamar.
Kael berhenti di dekat meja, lalu melepas jam tangan yang masih melingkar di pergelangan tangannya.
“Bersihkan dirimu terlebih dahulu. Setelah itu, aku ingin kau membantuku.”
Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi.
Aurora masih memikirkan sesuatu. Ia menatap Kael dengan ragu.
“Lalu... Kakakku ada di mana?”
Kael mengangkat pandangan.
“Aku tidak tahu. Sekarang pergi bersihkan dirimu. Kondisimu membuatku tidak nyaman.”
Aurora terdiam sesaat, tetapi rasa khawatir terhadap kakaknya membuatnya kembali bertanya.
“Tapi aku ingin tahu di mana Kakakku.”
Tatapan Kael berubah tajam.
“Jangan membuatku mengulang perkataan yang sama.”
Seketika Aurora bungkam.
Kael kemudian mengibaskan tangannya di depan wajahnya beberapa kali, seolah berusaha mengusir aroma asap dan debu yang masih melekat setelah kekacauan sebelumnya.
Aurora hanya berdiri kaku di tempatnya.
Di tengah kemewahan kamar tersebut, pikirannya justru dipenuhi satu hal: ke mana kakaknya pergi, dan apakah ia akan baik-baik saja?
Sementara Kael tampak sama sekali tidak ingin membicarakannya.
...****************...
tapi aku yakin walau adrian memilih seorang lelaki yg baik pun pasti kael tetap akan menggalkan pernikahan aurora😁
dan sekarang kamu memperlakukan aura seperti itu 🤬
dasar kael ... awas ya kamu kalo sampe bucin pada aurora
maap,unfollow dan unsubscribe