NovelToon NovelToon
Jerat Tiga Sisi

Jerat Tiga Sisi

Status: tamat
Genre:Action / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:445
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

✦ JERAT TIGA SISI ✦

"Pilih dengan bijak, Azira Anandya Gunawan. Menikahi CEO pilihan Papahmu, lari ke pelukan sahabat doktermu, atau kembali menjadi milikku seperti dulu?"

Azira terjebak di antara tiga pria yang memiliki cara berbeda untuk mengurungnya.

Sisi Pertama — Baskara Yudistira Prayoga. Pria berjas mahal yang angkuh. Ia memandang Azira sebagai kewajiban kontrak, namun tatapan matanya perlahan mulai menuntut hak yang lebih dari sekadar status.

Sisi Kedua — Farhan Nalendra. Pria berjas putih dengan senyum hangat yang selalu menyembuhkan luka Azira. Sosok yang kini berani melangkah keluar dari friendzone demi melindungiku.

Sisi Ketiga — Gavin Mantiez. Dan yang paling berbahaya... teman masa kecil Azira sekaligus mimpi buruk yang kembali dengan tatapan penuh kepemilikan gila.

Tiga pria, tiga cara mencintai yang ekstrem, dan satu hati milik Azira yang diperebutkan. Siapakah yang akhirnya akan mendampingi AZira di garis akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandiwara di Meja Mewah

Malam pertemuan yang tidak dinantikan Azirapun tiba, kini dia berada di ruang private dining di hotel bintang lima, yang begitu megah sekaligus mencekik. Cahaya dari lampu kristal besar di langit-langit memantul sempurna, pada deretan alat makan perak dan gelas-gelas kristal, di atas meja panjang yang terkesan anggun.

Di sinilah Azira sekarang, terjebak dalam sandiwara kelas atas yang dirancang rapi oleh Papahnya.

Setiap sudut ruangan ini memancarkan kekayaan, namun bagi Azira, atmosfernya terasa seperti ruang eksekusi.

Di satu sisi meja, duduk kedua orang tua Baskara Yudhistira Prayoga. Mereka adalah gambaran nyata dari dinasti kekuasaan yang sesungguhnya, anggun, berwibawa, dengan pakaian kelas atas dan tatapan tajam yang seolah bisa menembus isi kepala Azira.

Di sebelah mereka, Baskara duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi. CEO muda itu, tampak sangat memesona dengan setelan jas hitam custom-tailored, yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.

Namun, ekspresi wajahnya sedingin es Wall Street. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke depan, sama sekali tidak tersentuh oleh kehangatan, atau keramahan apa pun.

Sementara di sisi meja Azira, suasananya jauh lebih beracun. Papahnya duduk dengan senyum paling lebar yang pernah Azira lihat seumur hidupnya. Pria paruh baya itu sibuk menyanjung dan menjilat keluarga Prayoga, demi mengamankan pangkat komisaris yang begitu diagungkannya.

Di sebelah Papah, sang ibu tiri, Tante Shafira. Sesekali melempar senyum palsu yang manis ke arah orang tua Baskara, namun di bawah meja, jemari Tante Shafira meremas pelan pergelangan tangan Azira. Kuku-kukunya yang panjang sedikit menekan kulit Azira, sebuah ancaman terselubung, dan peringatan keras agar Azira tidak berani membuka mulut, untuk protes atau merusak suasana.

Namun, yang paling membuat atmosfer meja makan ini memuakkan adalah adik tiri Azira, Sendy. Sejak awal mereka duduk, tatapan mata Sendy tidak pernah lepas dari Baskara. Ada binar penuh kekaguman, pesona, sekaligus rasa iri yang mendalam yang tidak bisa dia sembunyikan. Sendy jelas cemburu mengapa kakak tirinya yang kuper bisa mendapatkan pria sekelas Baskara.

Setiap kali orang tua Baskara mengajukan pertanyaan ramah pada Azira, Sendy akan sengaja menyela dengan tawa kecil atau berdeham sinis, seolah ingin menunjukkan pada semua orang di ruangan itu, bahwa Azira adalah wanita membosankan yang tidak pantas berada di sana.

Di tengah kepalsuan, keserakahan, dan kebencian yang berseliweran di atas meja makan mewah itu, Azira merasa seperti terdakwa yang sedang menunggu vonis hukuman matinya dijatuhkan.

Pelayan baru saja menyajikan hidangan utama berupa wagyu steak premium, dengan saus khusus. Aroma daging mahal itu menyeruak ke udara, namun bagi Azira, potongan daging di piringnya terasa sehambar bagai kertas basah. Tenggorokannya terlalu tercekat untuk menelan apa pun.

"Azira," Ibu Baskara membuka suara dengan nada anggun yang sangat berwibawa, memecah keheningan yang kaku.

"Tante dengar kamu lulusan sastra, ya? Baskara ini orangnya kaku sekali, dunianya cuma angka, laporan keuangan, dan grafik saham. Apa nanti kamu tidak bosan mengobrol dengannya di rumah?" lanjut ibu Baskara.

Belum sempat Azira membuka mulut untuk menjawab, suara manja Sendy sudah memotong dari ujung meja, kentara dengan nada yang disengaja.

"Aduh, Tante, justru itu yang kami cemaskan di rumah," Sendy tertawa kecil, suara tawa yang dibuat-buat sembari melirik Baskara dengan tatapan genit yang kentara.

"Kak Azira itu terlalu idealis karena kebanyakan membaca buku sastra. Dia selalu bilang, kalau dunia bisnis itu membosankan, dan pernikahan karena bisnis itu, tidak pakai hati. Kami sekeluarga sampai takut, jika nanti Kak Azira malah merepotkan Kak Baskara, karena dia benar-benar tidak paham cara bersikap, atau mengobrol di depan kolega-kolega penting Prayoga Group." Sambil tersenyum penuh kemenangan.

Namun, Meja makan itu mendadak hening seketika. Kalimat Sendy terdengar seperti candaan keluarga yang polos, tapi maknanya adalah pukulan telak yang sengaja membongkar fakta bahwa Azira menolak perjodohan ini, dan dianggap tidak kompeten sebagai istri seorang CEO.

Papah Azira langsung melotot tajam ke arah Sendy, terkejut dengan kecerobohan anak bungsunya. Wajah pria tua itu mendadak pucat saat menatap orang tua Baskara yang terdiam.

"Maksud Sendy, Azira itu tipe wanita rumahan yang sangat lembut dan penurut..."

"Ah, tidak apa-apa, Papah," Sendy menyela lagi dengan senyum kemenangan. Dia merasa di atas angin saat melihat Azira hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja untuk menahan rasa malu yang membakar dada.

"Aku cuma kasihan saja sama Kak Baskara. Kalau aku yang ada di posisi Kak Azira, aku pasti akan belajar mati-matian tentang saham, investasi, dan perkembangan bisnis Prayoga Group, supaya bisa jadi pasangan yang benar-benar sepadan, dan membanggakan untuk Kak Baskara."

Tante Shafira tersenyum sangat puas di balik gelas anggurnya. Dia merasa bangga melihat anak kandungnya berhasil menyudutkan anak kandung suaminya, di depan calon mertua kaya raya.

Sementara Azira, hanya bisa menunduk, meremas serbet kain di pangkuannya, hingga jemarinya memutih. Dipermalukan oleh keluarga sendiri di depan orang asing yang baru pertama kali ditemui, adalah jenis rasa sakit yang paling mengiris hati, dan menghancurkan harga dirinya.

Namun, keheningan mencekam itu mendadak dipecahkan oleh suara denting pisau dan garpu, yang diletakkan di atas piring porselen dengan ketukan yang tegas.

Semua mata otomatis tertuju pada ujung meja, ke arah Baskara. CEO muda itu menyeka sudut bibirnya dengan saputangan kain secara perlahan, gerakannya begitu elegan namun memancarkan aura dingin yang luar biasa. Gerakannya yang tenang justru memancarkan tekanan intimidasi yang kuat, membuat Sendy yang tadinya tersenyum lebar langsung bungkam ketakutan.

Baskara mendongak. Matanya yang sedingin es tidak menatap Sendy sama sekali, melainkan mengunci lurus menatap ke arah Papah Azira.

"Saya membeli saham sebuah perusahaan, bukan karena saya kekurangan uang, tapi karena perusahaan itu punya nilai yang tidak dimiliki tempat lain," ujar Baskara. Suaranya berat, dalam, dan bergema dengan penuh penekanan di dalam ruangan yang sunyi itu.

"Begitu juga dengan pernikahan ini. Saya memilih Azira karena dia memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain di ruangan ini: prinsip hidup."

Baskara kemudian mengalihkan tatapan tajamnya perlahan ke arah Sendy. Sorot mata sang CEO begitu dingin dan menusuk, membuat adik tiri Azira itu menahan napas dan mencengkeram gaunnya sendiri karena ketakutan.

"Prayoga Group tidak butuh dua orang yang mengerti saham di dalam satu rumah. Itu membosankan," lanjut Baskara dengan nada datar namun mematikan.

"Dan saya sama sekali tidak suka ada orang luar yang mencoba mendikte siapa yang sepadan atau tidak untuk menjadi istri saya."

Sindiran itu begitu telak.

Suasana makan malam langsung berakhir dengan kecanggungan yang luar biasa. Papah, Tante Shafira, dan Sendy pulang lebih dulu dengan wajah masam terlipat, langkahnya terburu-buru, akibat malu disindir habis-habisan oleh Baskara.

Berbeda dengan Azira, ia sengaja memilih untuk tinggal di restoran hotel tersebut, dan menolak keras untuk pulang bersama keluarganya. Baginya, sandiwara ini harus dihentikan, dan ada satu hal penting yang harus diselesaikan malam ini, menuntut jawaban jujur langsung dari Baskara.

Pintu kayu ruang privat itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang mendadak terasa begitu berat dan pekat. Di ruangan luas yang mewah ini, kini hanya ada Azira dan Baskara.

Sang CEO masih duduk tenang di kursinya. Dia mengulurkan tangan untuk melonggarkan sedikit simpul dasi hitamnya, namun ekspresi dingin di wajahnya tetap melekat kuat, sama sekali tidak berkurang sejak awal acara.

Azira menarik napas dalam-dalam. Dia melangkah mendekat, berjalan tegas hingga berdiri tepat di seberang meja mahoni tempat Baskara berada.

Azira menegakkan punggungnya. Dia menolak mentah-mentah untuk terlihat kerdil atau lemah di hadapan pria yang tidak lama lagi akan memegang kendali penuh atas status hukum hidupnya.

"Terima kasih untuk pembelaan Anda di depan Sendy tadi," Azira membuka suara. Nadanya terdengar datar, dingin, tanpa emosi berlebih.

"Tapi pembelaan itu tidak mengubah apa pun di antara kita. Saya butuh jawaban yang jujur dari Anda sekarang, Tuan Baskara." lanjut Azira.

Baskara mendongak perlahan. Sepasang mata tajamnya langsung mengunci tatapan Azira tanpa berkedip. "Jawaban tentang apa?"

"Alasan Anda," sahut Azira cepat.

Dia melangkah satu langkah lebih maju, memperkecil jarak.

"Papah saya haus pangkat dan kekuasaan. Dia rela menukar anak kandungnya sendiri dengan kursi Komisaris Utama di Prayoga Group. Hal itu sangat masuk akal bagi pria korup dan egois seperti dia" tegas Azira.

"Tapi Anda, Anda adalah CEO muda tersukses tahun ini. Anda memiliki kekayaan, takhta, dan pengaruh yang luar biasa. Jadi, beri tahu saya alasan masuk akal, kenapa Anda setuju menikahi wanita asing yang bahkan tidak Anda cintai, Dan tolong, jangan gunakan alasan prinsip hidup, seperti yang Anda katakan di depan keluarga saya tadi untuk membual." lanjut Azira.

Baskara terdiam sejenak. Dia meletakkan gelas kristalnya ke atas meja, dengan bunyi ketukan perlahan yang memecah keheningan malam.

Pria itu kemudian berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap, bahunya yang lebar, langsung membuat ruangan itu terasa dikuasai oleh kehadirannya. Baskara berjalan memutari meja panjang, melangkah perlahan namun pasti ke arah Azira.

Dia mengikis jarak di antara mereka, hingga menyisakan beberapa jengkal saja. Jarak yang sangat intim namun dipenuhi ketegangan yang mengintimidasi.

Aroma parfum maskulin bercampur wangi kayu mahal yang pekat, langsung mengurung indra penciuman Azira, membuat dada wanita itu berdebar kencang karena tekanan atmosfer yang mendominasi.

"Kamu mau alasan yang jujur?" Baskara menunduk sedikit, menatap tepat ke dalam manik mata Azira, dengan sorot mata elang yang sulit dibaca.

"Pernikahan ini adalah benteng, Azira. Di duniaku, musuh tidak selalu menyerang lewat persaingan bisnis di lantai bursa, tapi lewat celah pribadi dan kelemahan domestik. Memiliki istri dari keluarga Gunawan yang haus kekuasaan, membuat semua pergerakan Papahmu bisa ku kontrol penuh di bawah hukum pernikahan kita. Aku tidak butuh cinta untuk mengamankan takhtaku, aku hanya butuh sekutu yang bersih dari intrik."

Baskara menjeda kalimatnya sejenak. Dia menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya dengan gaya yang sangat tenang namun angkuh.

"Dan yang paling penting... aku tahu kamu membenci perjodohan ini sama besarnya denganku. Itu artinya, kamu tidak akan pernah mencoba mencari muka, mencuri asetku, atau bertingkah menjadi istri menyebalkan yang menuntut hati dan perasaan. Kita berdua sama-sama terpaksa, dan keterpaksaan yang saling menguntungkan ini adalah jaminan bisnis paling aman yang pernah kutemukan."

Azira mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih mendengar jawaban sedingin es itu. Sesuai dugaan terburuknya, bagi Baskara Yudhistira Prayoga, dirinya tidak lebih dari sekadar variabel keamanan dalam kalkulasi bisnis jangka panjang sang CEO. Pria ini benar-benar memperlakukan hidup orang lain seperti angka-angka di atas kertas kontrak.

Namun, Azira tidak mundur selangkah pun. Alih-alih terintimidasi oleh tinggi badan dan tatapan tajam Baskara yang mengurungnya, Azira justru mendongak berani. Dia menantang sepasang mata elang itu dengan kilat kemarahan yang membara dari dasar hatinya.

"Kalau begitu, Anda salah besar, Tuan Baskara Prayoga," suara Azira terdengar rendah, namun bergetar penuh penekanan yang mutlak.

"Anda merasa diri Anda begitu hebat, cerdas, dan di atas angin karena menjadi CEO sukses, Bagi saya, Anda tidak ada bedanya dengan Papah saya yang korup itu, Kalian berdua sama saja, pria-pria egois yang hanya mementingkan bisnis, angka, keuntungan, dan takhta, lalu dengan ringannya mengorbankan sisa hidup orang lain demi kalkulasi aman kalian sendiri!"

Baskara sedikit menaikkan sebelah alisnya. Pria itu tampak terkejut, mendengar ada seorang wanita yang berani, menyamakannya dengan pria serakah seperti Gunawan, apalagi menentangnya dengan kata-kata sekeras itu.

Namun sebelum Baskara sempat membalas, Azira sudah mengangkat tangan kanannya. Jari telunjuknya menempel kuat di dada bidang Baskara, tepat di atas jantung pria itu.

"Dengar baik-baik. Jika pada akhirnya pernikahan kontrak ini harus terjadi, karena saya tidak punya kekuatan lagi untuk melawan otoritas gila Papah saya, jangan pernah berpikir sedikit pun bahwa Anda bisa mengontrol hidup saya," tegas Azira.

Napasnya memburu menahan emosi yang meluap-luap. "Saya mungkin terpaksa menikah dengan Anda, tapi harga diri saya tidak bisa dibeli dengan lembaran saham Prayoga Group. Status hukum boleh mengikat nama saya di atas kertas, tapi tidak dengan diri saya, pikiran saya, ataupun kebebasan saya. Anda jalankan bisnis kotor Anda, dan jangan pernah berani mendikte bagaimana saya harus menjalani hidup, dan perlu diingat selama saya bisa, saya akan berusaha menggagalkan perjodohan ini"

Setelah menumpahkan seluruh harga dirinya yang sempat diinjak-injak malam ini, Azira menarik kembali tangannya. Dia menyambar tasnya dari atas kursi dengan gerakan cepat. Tanpa sudi melihat lagi bagaimana ekspresi wajah Baskara yang membeku karena syok.

Dia melangkah lebar dengan sepatu hak tingginya, meninggalkan ruang privat itu tanpa menoleh lagi.

Di balik punggung wanita itu, Baskara berdiri mematung di tengah ruangan yang mendadak kembali sunyi. Untuk pertama kali dalam hidup sang CEO, ada seorang wanita yang berani menunjuk dadanya, menghardik wajahnya, dan menolak mentah-mentah dikendalikan oleh kekuasaannya.

Sudut bibir Baskara perlahan terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius. Itu bukan senyuman kemarahan, melainkan sebuah seringai ketertarikan.

Baskara menyadari, bahwa wanita yang akan dinikahinya ini ternyata jauh lebih berbahaya, liar, dan menarik daripada sekadar boneka pajangan bisnis.

...****************...

Setengah jam kemudian, Azira sudah berdiri di koridor belakang rumah sakit yang sepi dan remang-remang.

Angin malam Jakarta berembus cukup kencang, membuat bahunya yang terbalut gaun malam tipis tanpa lengan agak menggigil kedinginan. Di tempat yang bagi orang lain terasa menakutkan dan berbau duka ini. Lain bagi Azira, di tempat inilah, ia menemukan rasa aman yang hakiki, karena di sinilah Farhan, satu-satunya pelindungnya, berada.

"Zira?"

Azira menoleh cepat dengan mata berkaca-kaca. Farhan berjalan setengah berlari ke arahnya dari dalam gedung dengan langkah terburu-buru. Ekspresi lelah di wajah tampan sang dokter setelah sif panjang belasan jam seketika sirna tanpa bekas.

Tatapannya digantikan oleh rasa cemas yang teramat sangat begitu melihat Azira berdiri sendirian di tengah dinginnya malam dengan mata yang sembap dan merah.

Tanpa ragu atau membuang waktu, Farhan langsung melepas jas putih dokternya yang longgar dan menyampirkannya ke atas bahu Azira yang bergetar, mengusir dingin yang sedari tadi menyiksa wanita itu. Kehangatan dari jas itu langsung menjalar ke tubuh Azira.

"Gimana makan malamnya? Mereka menyakitimu? Apa yang terjadi, Ra?" tanya Farhan bertubi-tubi. Suaranya terdengar begitu lembut, hangat, dan penuh perhatian—berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan semua suara dingin dan tajam yang Azira dengar sepanjang malam ini.

Pertahanan Azira yang ditahannya sekuat tenaga di depan Baskara akhirnya runtuh total tanpa sisa. Di depan Farhan, dia tidak perlu memakai topeng wanita tegar atau putri bangsawan korporasi.

Sambil terisak hebat, Azira menumpahkan segala rasa sakit hatinya. Dia menceritakan kelakuan busuk Sendy dan Tante Shafira yang menghinanya, tentang ambisi gila Papah yang menjijikkan, hingga konfrontasi mautnya dengan Baskara Yudhistira Prayoga di ruang privat tadi.

"Dia persis seperti Papah, Han," tangis Azira pecah, bahunya terguncang hebat di bawah balutan jas dokter Farhan.

Air matanya membasahi pipi. "Pria itu menganggap pernikahan ini cuma jaminan dan benteng untuk keamanan bisnisnya saja! Dia pikir dia bisa mengontrolku sesuka hati dengan kekuasaan dan uangnya. Tapi aku tidak diam saja, Han. Aku menunjuk dadanya! Aku tegaskan kalau aku menolak dikontrol oleh siapa pun, termasuk oleh CEO sekaya dan sesombong dia!"

Mendengar cerita itu, cengkeraman tangan Farhan pada bahu Azira perlahan-lahan menegang kuat. Rahang dokter muda itu mengeras, menahan amarah yang membakar dadanya mendengar bagaimana sahabatnya diperlakukan seperti barang dagangan.

Namun, sepasang mata hangat Farhan juga memancarkan binar kebanggaan yang tulus atas keberanian Azira.

Farhan menarik Azira ke dalam dekapannya. Dia memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat, menyembunyikan kepala Azira di dada bidangnya, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan kesedihan yang dialami wanita itu malam ini.

Aroma antiseptik rumah sakit yang familier bercampur wangi maskulin khas Farhan seketika menenangkan detak jantung Azira yang berantakan. Di dalam pelukan itu, Azira merasa utuh kembali.

"Itu baru sahabatku," bisik Farhan lirih di sela-sela rambut Azira, mengusap punggung wanita itu dengan penuh perasaan dan kelembutan. "Kamu wanita yang kuat, Zira. Jangan pernah biarkan bajingan-bajingan berjas mahal itu mengikis harga dirimu sedikit pun. Aku akan selalu ada di sini."

Farhan mempererat pelukannya, seolah tidak ingin melepaskan wanita itu ke tangan siapa pun. Namun, di balik punggung Azira yang sedang terisak manja, tatapan mata sang dokter menembus kegelapan malam dengan kilat tekad yang berbahaya.

Farhan tahu, waktu yang dia miliki untuk menjaga Azira dari jarak dekat sudah semakin menipis sebelum hukum secara resmi menyerahkan wanita itu ke tangan Baskara Prayoga. Dia harus melakukan sesuatu.

Tanpa mereka berdua sadari, dari balik pilar koridor rumah sakit yang gelap dan tidak terjangkau cahaya lampu, siluet seorang pria yang mengenakan topi hitam memperhatikan kedekatan mereka.

Napas pria misterius itu memburu, menahan amarah dan cemburu yang membakar jiwanya. Jari-jarinya yang bersarung tangan mencengkeram erat sebuah foto lama masa kecil mereka yang sudah kusam dan sedikit robek di dalam saku jaketnya.

“Seharusnya pelukan itu milikku, Azira. Bukan dokter sialan itu, dan bukan pula CEO sombong itu. Aku sudah kembali, dan aku akan mengambil apa yang sudah kamu janjikan padaku dulu... apa pun caranya,” desis pria itu pelan dengan nada manipulatif yang mengerikan, sebelum ia melangkah mundur perlahan dan menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan malam

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!