Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Harga dari Terlalu Bersemangat
Tebasan kedua datang lebih cepat dari yang bisa diantisipasi Petra. Ia menghindar setengah, cukup untuk menghindari luka fatal, tidak cukup untuk menghindari sepenuhnya. Mata pedang menggores lengan kirinya, dari bahu sampai siku, dan panas menjalar sebelum rasa sakit menyusul sepersekian detik kemudian.
Ia terhuyung mundur, membentur dinding gudang kayu. Debu jatuh dari atap.
"Kau bergerak seperti seseorang yang baru satu tahun memegang pedang," kata pria itu, melangkah maju tanpa terburu-buru. "Tapi kau bertahan lebih lama dari yang kuduga."
Petra mengangkat pedangnya lagi. Lengan kirinya tidak lagi menurut sepenuhnya, jari-jarinya kebas sampai ke ujung.
"Aku bisa saja membiarkanmu pergi," pria itu melanjutkan, memiringkan kepala, "tapi kau sudah melihat wajahku."
Ia menyerang sekali lagi. Petra menahan dengan pedangnya, lengan kanan bergetar hebat menahan beban, kakinya terdorong mundur satu langkah, dua langkah, sepatu botnya menggaruk tanah berdebu.
Sebuah pedang menghunjam dari samping, menahan tebasan berikutnya sebelum mencapai Petra.
"Menjauh darinya."
Arden berdiri di antara mereka, pedang masih terkunci melawan pedang lawan, otot lengannya menegang menahan tekanan yang jauh lebih besar dari yang seharusnya ia rasakan dari lawan setingkat gelombang penyerang biasa.
Pria berjubah itu mundur satu langkah, memandanginya dari kepala sampai kaki.
"Ah," katanya. "Pemimpin mereka."
...----------------...
"Petra, mundur," kata Arden, tanpa menoleh.
"Aku bisa membantu—"
"Mundur."
Petra menahan diri di dinding gudang, satu tangan menekan lukanya, darah merembes di antara jari-jarinya. Ia meluncur duduk, punggung masih bersandar kayu, matanya tidak lepas dari punggung Arden.
Pria berjubah itu berputar, memutar pedangnya sekali di udara, gerakan yang terlalu santai untuk seseorang yang baru saja diinterupsi di tengah pembunuhan.
"Kau mendengar tentang kami," katanya, "atau kau hanya kebetulan lewat?"
Arden tidak menjawab. Ia mengukur jarak, mengukur postur lawan, cara kakinya berpijak, cara bahunya condong sedikit ke kiri sebelum setiap serangan, kebiasaan yang bisa dibaca kalau tahu apa yang dicari.
Serangan datang dari kanan. Arden menahannya, memutar pergelangan tangan, mengalihkan tenaga lawan ke samping alih-alih menahannya penuh. Pedang lawan tergelincir dari jalurnya. Arden membalas dengan tebasan pendek ke rusuk. Mengenai, tapi tidak dalam.
Pria itu mundur, menyentuh lukanya sekilas, lalu tersenyum.
"Bagus."
Ia maju lagi, lebih cepat kali ini. Arden merasakan dorongan familiar di dadanya, aliran Anima yang mulai naik dengan sendirinya, siap dipanggil untuk menyeimbangkan kecepatan yang mulai timpang.
Ia menahannya.
Ingatan tentang altar, tentang kakinya yang kehilangan kekuatan di tengah pertarungan, tentang tubuhnya sendiri yang berhenti tanpa peringatan, muncul cukup jelas untuk membuatnya menarik napas dan mengunci diri sendiri lebih dulu, sebelum tubuhnya sempat melakukannya secara paksa.
Ia bertahan dengan apa yang ada. Kecepatan yang terlatih, bukan yang dipompa berlebihan.
Pengalaman bertahun-tahun membaca gerakan, bukan tenaga mentah.
Tebasan berikutnya nyaris mengenai lehernya. Arden memiringkan kepala, merasakan angin dari bilah pedang lewat sejengkal dari kulitnya. Ia balas menebas ke pergelangan tangan lawan.
Kali ini benar-benar mengenai.
Pria itu mendesis, pedangnya jatuh berdenting di tanah. Arden tidak menunggu, langsung menendang lututnya, membuatnya ambruk ke satu kaki, lalu mengunci lengan yang masih sehat dengan gagang pedangnya sendiri.
"Menyerah," kata Arden, "dan kau masih bisa hidup malam ini."
Pria itu tertawa. Suara pendek, kering, tanpa humor sama sekali.
"Hidup bukan sesuatu yang kutakuti kehilangannya."
Ia menyentak, mencoba melepaskan diri dengan gerakan tiba-tiba, cukup untuk membuat Arden bereaksi, menusuk lebih dalam dari yang direncanakan untuk menghentikan gerakan itu.
Bilah pedang menembus perutnya.
...----------------...
Ilsa tiba tepat saat pria itu ambruk ke lutut, tangan Arden masih menopang gagang pedang yang menembus tubuhnya. Ia berhenti di ambang gudang, napas terengah, matanya berpindah cepat dari Arden ke Petra yang masih duduk bersandar dinding, lengan tertekan.
"Petra."
Ilsa berlutut di sisinya, memeriksa luka itu dengan tangan yang tiba-tiba jauh lebih pelan dari gerakannya sepanjang malam ini.
"Aku baik-baik saja," kata Petra.
"Diam. Biar aku lihat."
Arden menarik pedangnya perlahan. Pria berjubah itu ambruk sepenuhnya, punggung menyentuh tanah, napas tersengal dengan bunyi basah yang tidak pernah ingin didengar siapa pun yang cukup lama hidup dari pertarungan.
Arden berlutut di sisinya. Bukan untuk mengejeknya, hanya untuk mendengar, kalau memang masih ada yang bisa didengar.
Mata pria itu terbuka setengah, menatap langit malam di atas atap gudang yang sudah terkoyak sebagian akibat pertarungan.
"Kau pikir ini berakhir," katanya, suaranya nyaris berbisik, "karena kau membunuhku."
Arden diam.
"Lantai itu tidak akan diam selamanya," katanya, setiap kata keluar lebih pelan dari sebelumnya, "tidak peduli berapa banyak dari kami yang kalian bunuh malam ini."
Napasnya berhenti di tengah kalimat berikutnya, dadanya turun sekali lagi dan tidak naik lagi.
Arden berlutut di sana beberapa detik lebih lama, menatap wajah yang sudah tidak bergerak itu, sebelum akhirnya berdiri, pedangnya masih basah, tangannya bergetar dengan cara yang tidak pernah ia biarkan terlihat di depan siapa pun sebelumnya.
"Arden."
Ilsa memanggilnya, satu tangan menekan kain yang sudah ia robek dari bajunya sendiri ke lengan Petra, darah sudah membasahi separuh kain itu.
"Kita perlu Yuna. Sekarang."
...----------------...
Sepanjang jalan kembali menuju balai desa, api di perbatasan hutan sudah mulai padam, sisa asap membubung tipis ke langit yang perlahan kembali gelap tanpa cahaya jingga. Tomas dan Doran berdiri di dekat gerbang, mengawasi hutan yang kini sunyi, tubuh-tubuh berjubah abu tergeletak berserakan di sepanjang jalan, sebagian tidak bergerak lagi, sebagian lain sudah tidak ada, mundur ke dalam kegelapan bersama sisa-sisa kelompok mereka begitu pemimpin lapangan mereka tumbang.
Corym dan Halden bergabung tak lama kemudian, keduanya penuh luka gores kecil, mata mereka mencari Arden di antara kerumunan sebelum akhirnya berhenti di sosok Petra yang dipapah Ilsa, lengannya sudah dibalut sementara.
"Petra," kata Corym, cepat, mendekat.
"Aku baik-baik saja," kata Petra, suaranya bergetar setiap kali mengucapkan itu.
Sister Yuna sudah menunggu di depan balai desa bersama beberapa warga yang terluka, dan begitu melihat Petra, ia segera membersihkan tangannya, memberi isyarat pada Ilsa untuk membaringkannya di bangku terdekat.
"Duduk," kata Yuna, sudah berlutut, kedua telapak tangannya menyala cahaya kebiruan lembut saat ia menutupnya di atas luka Petra. "Ini akan terasa dingin dulu, lalu panas."
Petra mengangguk, giginya mengatup, matanya berkaca-kaca menatap langit-langit balai desa.
Arden berdiri beberapa langkah dari sana, menyaksikan, tidak mendekat, tangannya masih menggenggam gagang pedang yang belum sepenuhnya ia sarungkan kembali.
Beberapa warga desa mulai keluar dari persembunyian mereka, wajah pucat, sebagian menuntun anggota keluarga yang terluka, seorang pria tua dipapah dua anaknya, lengannya patah karena terjatuh saat berlari. Kepala desa Aldric berdiri di ambang pintu balai desa, menatap sisa-sisa desanya, beberapa rumah masih mengeluarkan asap tipis, halaman dipenuhi jejak pertempuran yang beberapa jam lalu belum ada sama sekali.
"Berapa banyak yang kita kehilangan?" tanya Corym, mendekati Aldric.
"Aku belum tahu pasti," kata Aldric. "Tidak ada yang tewas, sejauh yang bisa kuhitung. Tapi banyak yang terluka. Rumah-rumah..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya menatap ke arah deretan bangunan yang sebagian atapnya sudah runtuh terbakar.
Arden berjalan mendekat, menyarungkan pedangnya sepenuhnya, berdiri di sisi Aldric.
"Kami akan membantu apa pun yang kalian butuhkan," katanya, "malam ini, dan sampai kalian benar-benar aman."
Aldric mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi, matanya masih menatap desanya yang baru saja diselamatkan dengan harga yang terlalu mahal untuk sebuah tempat sekecil ini.
Di dalam balai desa, Petra masih duduk di bangku, luka di lengannya sudah tertutup separuh berkat kekuatan penyembuhan Yuna, tapi matanya masih menatap kosong ke depan, kata-kata terakhir pria berjubah itu masih terngiang di kepalanya meski ia tidak sepenuhnya mendengarnya sendiri.
Lantai itu tidak akan diam selamanya.
Ia tidak sepenuhnya tahu apa artinya. Tapi ia tahu, dari cara Arden berdiri diam sejenak sebelum masuk ke balai desa, bahwa kalimat itu berarti sesuatu bagi pemimpinnya, sesuatu yang lebih besar dari sekadar racauan seorang yang sekarat.