NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 018: Dia Mulai Curiga

Pada 2 Januari, Kiara Hartono tidak pergi ke kantor.

Ia duduk di lantai kamar, punggung bersandar pada sisi ranjang, laptop terbuka di meja rendah, ponsel di sebelah tangan kanan. Di luar jendela, Rumah Anggrek sudah kembali ke rutinitasnya: pelayan menyapu teras, mobil keluarga keluar masuk, suara Ratna sesekali terdengar memerintah seseorang di koridor.

Di dalam kamar Kiara, semuanya berhenti pada satu nama.

Arga Pratama.

Ia membuka folder "?".

Video bank.

Video helikopter.

Foto Arga di dapur pukul dua pagi.

Foto buram di acara keluarga.

Artikel Cakra Capital.

Kiara mengambil buku catatan kecil dari laci dan mulai menulis. Kepalanya tidak sanggup lagi menahan semua potongan itu sekaligus.

1. Bank.

Ia menulis: gerakan terlalu profesional, mengosongkan pistol, Wulan Saraswati.

2. Hotel Mulia.

Ia berhenti sebentar sebelum menulis: datang dalam sebelas menit, sudah ada tim, bukti botol.

3. Helikopter.

Cakra Capital membutuhkan tanda tangan Anda.

4. Pengadilan.

Dua perampok. Arga tidak panik. Brimob bertanya pernah dinas.

5. Laporan keluarga.

Veteran militer. Informasi terkunci.

Kiara menatap daftar itu.

Kalau satu hal terjadi, ia bisa menyebutnya kebetulan.

Kalau dua, mungkin rahasia kecil.

Lima hal bukan kebetulan.

Ia membuka mesin pencari dan mengetik:

Arga Pratama.

Hasil pertama hanya potongan video bank yang diunggah ulang dengan judul "pahlawan bank". Hasil kedua artikel kecil tentang penyelamatan di jalan pada 1 Januari, tanpa nama lengkap. Hasil ketiga foto buram dari acara alumni yang memperlihatkan helikopter Cakra, caption-nya penuh spekulasi.

Pencarian itu kosong dari profil pekerjaan, wawancara, jejak kampus, sampai media sosial aktif.

Seolah dua tahun ia hidup dengan laki-laki yang di internet hanya ada sebagai bayangan orang lain.

Kiara mengetik lagi:

Arga Pratama Kopassus.

Tidak ada hasil relevan.

Arga Pratama Cakra Capital.

Tidak ada.

Ia menatap layar.

Orang miskin sering tidak punya jejak karena tidak pernah diberi panggung. Jejak Arga terasa lebih aneh: seperti sengaja disapu.

Kiara membuka arsip foto lama di ponselnya.

Dua tahun pernikahan mereka ternyata tidak banyak meninggalkan gambar. Ada foto pernikahan yang kaku, foto makan malam keluarga yang membuat Arga berdiri di pinggir, foto ulang tahun Galang ketika seseorang sengaja memotong setengah tubuh Arga dari bingkai. Di hampir semua foto, laki-laki itu ada, tetapi seperti tidak dianggap bagian dari cerita.

Kiara memperbesar satu foto.

Arga sedang berdiri di belakangnya saat makan malam Lebaran. Semua orang memakai pakaian baru. Galang tertawa dengan sepupu. Ratna tersenyum kepada tamu. Bu Agung duduk di kepala meja. Arga memegang gelas air, diam, mata mengawasi pintu kaca di belakang ruang makan.

Dulu Kiara mengira itu ekspresi canggung.

Sekarang ia melihat sesuatu yang lain.

Kebiasaan memeriksa pintu keluar.

Kebiasaan berdiri di posisi yang bisa melihat seluruh ruangan.

Kebiasaan tidak membelakangi jendela besar.

Ia membuka foto lain. Acara amal keluarga. Semua orang melihat kamera, kecuali Arga. Matanya berada di sisi kanan, ke arah lorong tempat seorang pelayan sedang membawa nampan.

Kiara merasakan dingin kecil di tengkuk.

Ini bukan laki-laki yang tiba-tiba menjadi berbahaya.

Ini laki-laki yang sejak awal hidup dengan cara membaca bahaya.

Ia mulai menulis halaman kedua di buku catatan.

Kebiasaan:

- Selalu duduk menghadap pintu.

- Tidak pernah mabuk di acara keluarga.

- Tidak pernah meninggalkan Kiara sendirian ketika banyak orang asing.

- Hafal nomor polisi mobil keamanan Rumah Anggrek.

- Tahu jadwal satpam lebih baik daripada Galang.

Kiara meletakkan pena.

Selama ini keluarga Hartono menyebut semua itu sikap rendahan yang terlalu waspada. Mereka menertawakannya karena Arga tidak pandai bicara di meja besar, tidak membanggakan pekerjaan, tidak membalas hinaan dengan hinaan.

Kiara tiba-tiba menyadari betapa mudahnya orang kaya menyebut kewaspadaan orang lain sebagai rasa minder.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Ratna:

Jangan lupa nanti malam makan bersama. Jangan buat Eyang bertanya-tanya lagi soal hubunganmu dengan Arga.

Kiara menatap pesan itu dan tidak membalas.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ibunya sedang takut kehilangan kendali atas cerita.

Kiara menutup laptop dengan pelan.

Siang itu, ia berjalan ke ruang kerja kecil di sisi timur Rumah Anggrek. Arga sedang berada di sana, membaca dokumen yang bukan milik keluarga Hartono. Ia datang karena Kiara mengirim pesan pendek:

Aku perlu bicara.

Arga menutup map begitu ia masuk.

"Kamu sudah lebih tenang?"

Kiara tidak duduk. "Kamu dulu kerja apa?"

Pertanyaan itu langsung.

Arga menatapnya beberapa detik.

"Pernah tentara," katanya. "Sudah pensiun."

Kiara menunggu lanjutan.

Tidak ada.

"Tentara apa?"

"TNI AD."

"Bagian mana?"

Arga meletakkan map di meja. "Kiara."

Nada itu bukan teguran. Lebih seperti batas.

Kiara merasakan batas itu, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak mundur sepenuhnya.

"Keluargaku menyelidikimu."

"Aku tahu."

"Mereka dapat tulisan 'veteran militer' dan informasi terkunci."

"Kalau begitu mereka sudah cukup tahu untuk berhenti."

"Aku bukan mereka."

Kalimat itu keluar cepat.

Arga diam.

Kiara melanjutkan lebih pelan, "Aku tidak bertanya untuk mempermalukanmu. Aku bertanya karena aku sadar aku tidak tahu apa-apa tentang laki-laki yang pernah tinggal serumah denganku selama dua tahun."

Wajah Arga tetap tenang, tetapi matanya berubah sedikit.

"Aku pernah tentara," katanya lagi. "Aku pensiun. Setelah itu aku menjalani beberapa pekerjaan yang tidak cocok dibicarakan di ruang keluarga Hartono."

"Cakra?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar.

Arga tidak menjawab.

Diamnya bukan pengakuan.

Tetapi bagi Kiara, diam itu lebih keras daripada bantahan.

"Arga."

"Belum waktunya."

Kiara tertawa kecil, pahit. "Itu jawaban favoritmu sekarang?"

"Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberi tanpa menyeretmu masuk ke sesuatu yang belum siap kamu hadapi."

"Kamu selalu memutuskan aku siap atau tidak."

"Tidak." Arga berdiri. "Aku memutuskan kapan rahasiaku boleh melukai orang lain."

Kiara terdiam.

Kalimat itu membuat kemarahannya tersangkut.

Ada jawaban yang terdengar sombong karena orang yang mengucapkannya ingin terlihat besar.

Ada juga jawaban yang terdengar sombong karena orang yang mengucapkannya benar-benar memegang sesuatu yang berat.

Kiara tidak tahu Arga berada di sisi mana. Namun ia tahu satu hal: ia tidak lagi sanggup menganggap semua ini sebagai drama laki-laki miskin yang tersinggung harga diri.

"Apakah rahasia itu berbahaya untukku?" tanyanya.

Arga menatapnya lama.

"Bisa."

Jawaban jujur itu lebih menakutkan daripada kebohongan manis.

"Untuk keluargaku?"

"Kalau mereka berhenti ikut campur, tidak."

"Mereka tidak akan berhenti."

"Aku tahu."

Kiara menelan ludah. Ia ingin marah pada kepastian itu, tetapi ia mengenal keluarganya. Bu Agung tidak mundur ketika mencium sesuatu yang bernilai. Ratna tidak berhenti ketika merasa martabatnya ditantang. Galang bahkan mungkin menganggap bahaya sebagai panggung untuk membuat dirinya terlihat penting.

"Kalau aku terus bertanya?" Kiara bertanya.

Arga mengambil napas pelan. "Maka kamu harus siap mendengar jawaban yang membuatmu tidak bisa kembali menjadi penonton."

Kata penonton menancap di dada Kiara.

Selama dua tahun ia memang seperti itu. Penonton di pernikahannya sendiri. Penonton ketika keluarganya merendahkan suaminya. Penonton ketika Arga pergi dari rumah dengan punggung lurus dan tidak meminta siapa pun menahannya.

Dan sekarang, ketika layar-layar kecil mulai menunjukkan sosok lain dari laki-laki itu, ia masih ingin berdiri di tepi cerita sambil menuntut semua jawaban datang tanpa risiko.

Kiara membenci kenyataan bahwa Arga benar.

Sebelum pergi, Arga mengambil botol air di meja dan meletakkannya lebih dekat ke Kiara, kebiasaan kecil yang dulu tidak pernah ia perhatikan.

"Istirahat," katanya.

Ia keluar dari ruang kerja.

Kiara tetap berdiri di sana.

Laptop di kamarnya masih menyimpan halaman pencarian. Ketika ia kembali dan membuka layar, mesin pencari menampilkan satu berita rekomendasi di sisi bawah:

Cakra Capital: siapa di balik dana paling misterius di Indonesia?

Kiara menatap judul itu dua detik.

Jarinya hampir bergerak.

Lalu ia menggeser halaman itu pergi.

Belum.

Tetapi kali ini, ia tahu ia akan kembali ke judul itu.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!