NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16 : Perhatian Dokter Arga

Sebuah mobil abu-abu metalik baru saja memasuki halaman Pabrik Roti Juragan Warso.

Brumm...

Dokter Arga turun dari mobil. Seperti biasa, ia datang beberapa menit sebelum jam pulang untuk menjemput Winarsih.

Namun baru beberapa langkah memasuki halaman pabrik, ia langsung menyadari suasana yang berbeda. Biasanya para karyawan masih terdengar bercanda sambil membereskan peralatan. Kali ini, semuanya justru berdiri diam dengan wajah muram.

Arga mempercepat langkah. "Juragan... ada apa?"

Juragan Warso menghela napas panjang. "Dokter..."

Ia menoleh ke arah sudut ruangan. Di sana, Winarsih terduduk di bangku kayu dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya menggenggam erat sebuah amplop cokelat. Bahunya sesekali bergetar pelan, tetapi ia berusaha keras menahan tangis.

Arga langsung menghampiri. "Mbak Winarsih..."

Mendengar suara Arga, Winarsih buru-buru mengusap air matanya dengan tangga. Ia mencoba tersenyum meski wajahnya tampak pucat.

"Maaf, Dok...."

Arga mengernyit. "Ada apa?"

Winarsih hanya menggeleng. "Tidak apa-apa...." Suara itu terdengar lirih dan nyaris tak terdengar. Juragan Warso akhirnya menyerahkan amplop yang berada di meja kepada Arga.

"Tadi ibu mertuanya datang."

Arga menerimanya lalu membaca isi surat itu. Seketika wajahnya berubah serius. "Surat gugatan cerai?"

Juragan Warso mengangguk pelan. "Benar."

Arga menoleh kepada Winarsih. Wanita itu masih menundukkan kepala. Air mata kembali jatuh membasahi surat yang masih digenggamnya, tetapi ia tetap memilih diam.

Tak ada satu pun penjelasan keluar dari bibirnya. Melihat itu, Arga tidak bertanya lebih jauh. Ia sadar, ada luka yang terlalu dalam untuk diceritakan saat itu juga.

Arga hanya mengambil sebotol air mineral dari meja, lalu menyodorkannya perlahan. "Mbak... minum dulu."

Winarsih menerima botol itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Dok."

Hanya itu yang sanggup ia ucapkan. Tak lama kemudian, Arga menoleh kepada Juragan Warso.

"Juragan, kalau juragan mengizinkan... hari ini biar saya antar Mbak Winarsih pulang."

Juragan Warso mengangguk. "Tolong, Dok. Saya khawatir melihat kondisinya."

Arga kembali menatap Winarsih. "Mari Mbak... kita pulang."

Winarsih sempat menggeleng pelan. "Saya tidak ingin merepotkan Dokter."

"Tidak merepotkan." Jawaban Arga singkat, tetapi terdengar tulus. "Kalau Mbak sudah siap, saya antar pulang."

Winarsih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan. "Iya, Dok...."

Beberapa saat kemudian, Winarsih berdiri perlahan dari bangku kayu. Jemarinya masih menggenggam erat amplop cokelat itu.

Rudi segera mengambil tas kerja Winarsih yang sejak tadi tergeletak di atas meja.b"Mbak... ini tasnya."

Winarsih menoleh pelan. "Terima kasih, Mas."

Rudi hanya mengangguk. Melihat mata Winarsih yang masih sembap, ia ingin mengatakan sesuatu untuk menghibur, tetapi kata-kata itu seperti tertahan di tenggorokannya.

Juragan Warso mendekati Winarsih. "Nak."

Winarsih mengangkat wajahnya.

"Pulanglah dulu. Istirahat yang cukup. Besok kalau memang belum sanggup bekerja, tidak apa-apa. Bapak mengerti."

Winarsih langsung menggeleng pelan. "Insyaallah... besok saya tetap masuk kerja, Juragan."

Juragan Warso tersenyum tipis, meski tatapannya masih dipenuhi rasa iba. "Kamu memang anak yang kuat."

Winarsih hanya menundukkan kepala. Tak lama kemudian, Arga berjalan lebih dulu menuju halaman pabrik. Ia membuka pintu mobil penumpang depan, lalu menoleh ke arah Winarsih.

"Silahkan, Mbak."

Winarsih tampak ragu sejenak sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.

Brumm...

Mobil perlahan meninggalkan halaman Pabrik Roti Juragan Warso.

Di dalam mobil, suasana begitu sunyi. Winarsih duduk dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuannya. Amplop cokelat itu masih berada di tangannya.

Tatapannya lurus ke luar jendela. Sesekali ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Arga melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan.

Ia sengaja tidak mengajak bicara. Menurutnya, saat seperti ini Winarsih lebih membutuhkan ketenangan daripada pertanyaan. Hanya suara mesin mobil yang terdengar mengiringi perjalanan mereka.

Beberapa menit kemudian....

Tanpa disadari, setetes air mata kembali jatuh membasahi punggung tangan Winarsih. Ia segera mengusapnya diam-diam, berharap Arga tidak melihat.

Namun gerakan kecil itu tetap tertangkap oleh Arga dari kaca spion. Dokter muda itu tetap tidak bertanya. Ia hanya memperlambat laju mobil saat melewati jalan yang berlubang agar perjalanan terasa lebih nyaman.

Tak lama kemudian, Arga meraih sekotak tisu yang berada di samping kursinya. Tanpa menoleh, ia menyodorkannya ke arah belakang.

"Mbak..."

Winarsih sedikit terkejut. "Iya, Dok?"

"Tisunya."

Winarsih menatap kotak tisu itu beberapa detik sebelum menerimanya. "Terima kasih."

Arga hanya mengangguk kecil. "Tidak apa-apa."

Setelah itu, suasana kembali hening. Tak ada lagi percakapan di antara mereka. Namun, diamnya Arga justru membuat Winarsih merasa sedikit lebih tenang.

Ia tidak dipaksa menjelaskan, tidak ditanya macam-macam. Dan kali ini ia merasa ada seseorang yang menghargai kesedihannya tanpa harus mengetahui seluruh isi luka yang sedang ia simpan.

Tak jauh dari Pabrik Roti Juragan Warso...

Seorang pria yang sejak tadi mengamati keadaan dari kejauhan kembali menatap layar ponselnya. Di tangannya, tampak beberapa foto yang baru saja ia ambil. Salah satunya memperlihatkan mobil Dokter Arga yang membawa Winarsih meninggalkan pabrik.

Merasa tugasnya selesai, ia segera menghubungi Clarissa.

Tut... tut...

"Halo Nona."

"Iya. Gimana?" Suara Clarissa terdengar dari seberang telepon.

"Saya berhasil memotret Dokter Arga saat mengantar pulang Winarsih."

"Bagus. Ada informasi lain?"

"Ada, Nona."

"Apa?"

"Saya sempat berbicara dengan orang kita yang bekerja di dalam pabrik."

Clarissa langsung memperhatikan. "Terus?"

"Dia bilang, beberapa hari yang lalu Dokter Arga datang menemui Juragan Warso."

"Untuk apa?"

"Ia meminta izin kepada Juragan supaya diizinkan mengantar dan menjemput Winarsih."

Clarissa terdiam sejenak. "Meminta izin langsung?" ucapnya sambil berusaha menahan emosi.

"Iya, Nona."

"Baik, lanjutkan..."

"Orang kita juga bilang, awalnya Winarsih sempat menolak karena merasa tidak enak. Tapi akhirnya dia menerima setelah Dokter Arga menjelaskan maksudnya."

Clarissa menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Apa mereka sudah berpacaran?"

"Saya kurang tahu kalau soal itu, Nona."

"Lalu, apalagi?"

"Selama mengamati, orang kita belum pernah melihat mereka bersikap seperti pasangan. Mereka juga jarang berbicara."

"Lalu kenapa dia menyimpulkan Dokter Arga menyukai Winarsih?" tanya Clarissa agak ketus.

"Karena perhatian Dokter Arga berbeda, Nona. Ia sampai meminta izin langsung kepada Juragan Warso hanya demi bisa mengantar dan menjemput Winarsih. Menurut orang kita, perhatian seperti itu tidak biasa."

Clarissa mengangguk pelan. "Baik. Bilang ke dia supaya terus mengawasi keadaan di dalam pabrik."

"Siap, Nona."

"Oh ya."

"Iya, Nona?"

"Nanti saya kirim uangnya. Minta dia kirim nomor rekeningnya."

"Baik, Nona. Nanti saya sampaikan."

"Kalau ada perkembangan sekecil apa pun, segera laporkan."

"Siap."

Tut...

Sambungan telepon pun berakhir.

Clarissa membuka aplikasi pesan. Beberapa foto yang baru saja dikirim Dimas langsung ia perhatikan satu per satu. Dalam salah satu foto, tampak jelas mobil Dokter Arga yang sedang membawa Winarsih pulang.

Clarissa menyipitkan mata. "Sepertinya... benar dugaanku kalau mereka memang memiliki hubungan. Sial kenapa sainganku gadis desa seperti dia sih!"

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!