Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam Diam Rindu
Setelah percakapan sore itu, hubungan Alya dan Raka mulai membaik. Mereka sudah kembali saling menyapa dan sesekali mengobrol, tetapi masih ada jarak kecil yang belum benar-benar hilang.
Bukan karena marah.
Melainkan karena keduanya sama-sama berhati-hati agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
---
Festival sekolah tinggal tiga hari lagi.
Setiap pulang sekolah, panitia sibuk menghias aula, memasang lampu, dan menata stan. Alya hampir selalu berada di ruang multimedia untuk mencetak foto-foto yang akan dipajang, sedangkan Raka menghabiskan waktunya di lapangan membantu persiapan permainan basket.
Kesibukan itu membuat mereka jarang bertemu.
Kalaupun bertemu, paling hanya beberapa menit di koridor.
“Lya, udah makan?”
“Udah. Lo?”
“Baru mau.”
“Jangan telat.”
“Siap.”
Lalu mereka kembali ke urusan masing-masing.
Percakapan yang singkat, tapi entah kenapa tetap ditunggu-tunggu.
---
Suatu malam, Alya sedang mengedit foto di laptop ketika tanpa sadar membuka folder lama.
Di dalamnya ada banyak gambar hasil jepretannya selama beberapa bulan terakhir.
Foto langit sore.
Lapangan basket.
Taman kecil tempat mereka pernah minum es teh.
Dan tentu saja, beberapa foto Raka yang tidak sengaja tertangkap kamera.
Ada yang sedang tertawa bersama Dion.
Ada yang fokus latihan.
Ada juga yang sedang memegang payung saat hujan turun.
Alya tersenyum sendiri.
“Banyak juga ya…”
Ia tidak pernah sengaja mengumpulkan foto-foto itu.
Semuanya terjadi begitu saja.
Namun semakin diperhatikan, semakin ia sadar bahwa Raka sering muncul di momen-momen yang ingin ia abadikan.
---
Di rumahnya, Raka juga mengalami hal yang hampir sama.
Saat membersihkan meja belajar, ia menemukan sebuah amplop kecil.
Isinya tiket pertandingan basket beberapa minggu lalu.
Di bagian belakang tiket itu ada tulisan tangan Alya.
> “Semangat. Main yang tenang.”
Tulisan itu sebenarnya sederhana.
Tapi Raka menyimpannya sampai sekarang.
Ia memasukkan kembali tiket itu ke dalam laci sambil tersenyum kecil.
“Gue juga aneh.”
Padahal bisa saja tiket itu dibuang.
Namun ada perasaan yang membuatnya ingin menyimpan kenangan kecil tersebut.
---
Keesokan harinya, Nadya melihat Alya beberapa kali melamun saat pelajaran berlangsung.
“Lya.”
“Hm?”
“Dari tadi dipanggil Bu Guru hampir nggak nyaut.”
“Maaf, lagi kepikiran.”
“Kepikiran siapa?”
Alya langsung menoleh.
“Nggak ada.”
“Raka?”
Alya pura-pura sibuk membuka buku.
Nadya terkekeh pelan.
“Jawabannya kelihatan.”
Di sisi lain kelas, Dion juga sedang menggoda Raka.
“Lo lihat pintu kelas mulu dari tadi.”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Lagi nunggu guru.”
“Guru dari arah kantin?”
Raka akhirnya ikut tertawa.
“Iya deh, iya.”
“Rindu ya?”
Raka tidak menjawab.
Namun senyum kecil di wajahnya sudah cukup memberi jawaban.
---
Sore itu hujan turun cukup deras.
Karena membawa kamera, Alya memilih menunggu di teras sekolah daripada nekat pulang.
Tak lama kemudian, seseorang duduk di bangku sebelahnya.
Raka.
“Belum pulang?”
“Nunggu hujan reda.”
“Sama.”
Beberapa menit mereka hanya mendengarkan suara air yang jatuh di atap.
Lalu Raka membuka percakapan.
“Kayaknya udah lama kita nggak ngobrol santai.”
“Padahal baru beberapa hari.”
“Iya juga.”
“Tapi rasanya lama.”
Ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Alya.
Ia langsung menunduk, sedikit malu.
Raka menatap hujan di depannya sambil tersenyum.
“Gue juga ngerasa gitu.”
Suasana kembali hening.
Namun kali ini tidak terasa canggung.
Justru nyaman.
Seolah mereka tidak membutuhkan banyak kata untuk saling mengerti.
---
Saat hujan mulai reda, mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Di sana, Kevin kebetulan sedang menunggu jemputan.
Melihat Alya dan Raka datang bersama, ia melambaikan tangan.
“Hati-hati di jalan!”
“Lo juga!” balas Alya.
Setelah Kevin pergi, Raka berkata pelan,
“Dia baik ya.”
“Iya.”
“Untung kita nggak jadi musuhan gara-gara salah paham.”
Alya mengangguk.
“Kadang yang bikin ribet itu bukan orangnya, tapi pikiran kita sendiri.”
“Setuju.”
Mereka sama-sama tertawa kecil.
---
Malamnya, Alya menerima pesan singkat dari Raka.
> Raka:
Makasih ya.
> Alya:
Buat apa?
> Raka:
Udah nggak marah lagi.
Alya mengetik balasan cukup lama sebelum akhirnya mengirim satu kalimat.
> Alya:
Soalnya gue juga nggak suka kalau kita diem-dieman.
Tak sampai semenit, balasan datang.
> Raka:
Berarti kita sama.
Alya memandangi layar ponselnya sambil tersenyum.
Ia baru sadar, beberapa hari tanpa banyak berbicara dengan Raka ternyata terasa lebih berat dari yang ia kira.
Sementara di rumahnya, Raka meletakkan ponsel di samping bantal.
Hari itu tidak ada kejadian besar.
Tidak ada pertandingan.
Tidak ada pertengkaran.
Hanya percakapan singkat dan pesan sederhana.
Namun justru dari hal-hal kecil itulah ia menyadari satu hal.
Ternyata rasa rindu bisa datang diam-diam.
Tidak perlu perpisahan panjang.
Cukup beberapa hari tanpa tawa yang biasa, tanpa obrolan receh, atau tanpa saling mengejek seperti dulu.
Dan ketika rindu itu muncul, keduanya sama-sama tahu bahwa perasaan di antara mereka sudah jauh melampaui sekadar teman biasa.