NovelToon NovelToon
Sekretaris yang Tak Tersentuh

Sekretaris yang Tak Tersentuh

Status: tamat
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / Kehidupan di Kantor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:58.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.

Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.

Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.

Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.

Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.

Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.

Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.

**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**

---

*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Rumah yang Terlalu Penuh

Rumah Khiu tidak pernah benar-benar luas, tetapi sejak Vania datang, setiap sudut terasa punya napas baru.

Kamar tamu menjadi kamar Vania. Kasur lipat Keira pindah ke ruang tengah. Meja makan yang biasanya cukup untuk tiga orang kini harus bergeser sedikit agar semua bisa duduk. Di rak sepatu, sandal kecil Vania berdiri di sebelah sepatu kerja Keira seperti tanda bahwa rumah ini menerima satu cerita baru.

Vania bangun paling pagi.

Hari pertama, ia menyapu teras sebelum Mama Lina selesai menanak nasi. Hari kedua, ia mencuci piring sarapan sampai terlalu bersih. Hari ketiga, ia mencoba menyetrika kemeja Papa Hendra dan hampir membuat bekas panas di lengan.

"Vania," kata Mama Lina lembut, mengambil setrika dari tangannya, "di rumah ini kamu boleh istirahat."

Vania menunduk. "Kalau aku tidak bantu, aku merasa numpang."

"Memang numpang."

Vania terkejut.

Mama Lina tersenyum. "Semua anak pernah numpang di rumah orang tua. Keira juga masih numpang cinta Papa Mama sampai sekarang."

Keira yang sedang minum teh langsung tersedak. "Ma, kenapa aku ikut?"

"Biar Vania tahu, di sini tidak ada yang dihitung pakai nota."

Vania menggigit bibir, lalu mengangguk.

Keira mengurus sekolah dan dokumen Vania di sela pekerjaan. Karena kasus Om Anton masih berjalan, beberapa surat keluarga berantakan. Papa Hendra membantu menghubungi kerabat, tetapi sebagian besar hanya memberi saran dari jauh.

Di kantor, Keira membawa map Vania bersama map Gemilang. Saat Rayhan meminta laporan vendor, tanpa sengaja ia melihat fotokopi ijazah di antara dokumen.

"Itu bukan dokumen kantor."

"Urusan keluarga, Pak. Saya tidak mencampur file."

"Keluarga yang kemarin datang?"

Keira menutup map lebih rapat. "Iya."

Rayhan tidak bertanya detail. Ia hanya berkata, "Kalau butuh izin setengah hari untuk urus dokumen, ajukan ke Ci Lien."

Keira menatapnya, sedikit terkejut.

"Bapak tidak marah?"

"Kamu tetap menyelesaikan pekerjaan."

Jawaban itu sederhana, tetapi memberi ruang. Keira tidak tahu harus menaruh rasa terima kasih kecil itu di mana, jadi ia hanya menjawab, "Baik, Pak."

Saat keluar, ia bertemu Sanya di koridor. Sanya memakai dress longgar dan berjalan pelan. Mereka saling menatap sebentar, sama-sama membawa rahasia keluarga di tangan masing-masing, lalu sama-sama tidak bicara.

"Kasihan Vania, tapi rumahku penuh."

"Anak seperti itu harus diawasi, nanti ikut-ikutan bapaknya."

"Jangan terlalu lama ditampung, nanti jadi kebiasaan."

Keira mendengar semua lewat telepon Mama Lina dan merasakan amarah naik sampai leher.

"Ma, matikan saja."

Mama Lina menutup ponsel, lalu mengaduk sayur. "Orang yang tidak mau membantu biasanya paling banyak nasihat."

Arya datang sore itu membawa formulir beasiswa pelatihan komputer.

"Aku tanya teman di dinas," katanya pada Vania. "Ada program untuk lulusan SMA. Kalau kamu mau, aku bantu daftar."

Mata Vania berbinar untuk pertama kalinya. "Boleh, Mas?"

"Boleh. Tapi kamu harus belajar serius."

"Aku mau."

Keira melihat mereka dari dapur. Bagian dirinya yang lelah merasa hangat. Arya memang bisa begitu: datang dengan solusi yang tepat, bicara lembut, membuat orang merasa masa depan masih ada.

Namun setelah Vania masuk kamar untuk mengambil ijazah, Arya mendekati Keira.

"Kamu belum pulang ke apartemen?"

"Belum. Vania masih adaptasi."

"Aku bisa bantu jaga dia. Kamu tidak harus terus di sini."

"Ini bukan soal menjaga. Ini soal membuat dia merasa rumah."

Arya menatap ruang tengah yang penuh barang. "Lalu kita?"

Keira menghela napas. "Mas Arya, jangan tanyakan 'kita' setiap kali aku sedang mengurus orang lain."

"Aku hanya takut kita tidak pernah punya waktu."

"Waktu bukan hilang. Aku sedang membaginya."

"Dan bagianku selalu menunggu."

Kalimat itu tidak keras, tetapi melelahkan. Keira tiba-tiba ingin tidur selama dua hari.

Ponselnya bergetar. Kevin.

Ci, aku belum bisa ke rumah. Jangan cerita ke Tante Lina dulu.

Keira mengetik dengan jari kaku.

Besok. Tidak ada tawar.

Kevin tidak membalas.

Malam itu, saat semua orang makan nasi goreng buatan Mama Lina, Vania mulai bercerita sedikit. Om Anton awalnya hanya ikut investasi teman. Lalu meminjam nama orang, mengambil uang tetangga, dan saat semua runtuh, ia tidak punya cara mengembalikan. Vania tidak tahu detail hukum, hanya ingat orang-orang datang ke rumah, mengetuk pagar, memaki ibunya.

"Mama pergi karena takut," kata Vania, menatap piring.

Papa Hendra menaruh sendok. "Takut boleh. Meninggalkan anak yang takut sendirian, itu yang tidak boleh."

Vania menangis lagi, tetapi kali ini ia tidak meminta maaf karena menangis.

Tepat setelah makan malam, pagar rumah diketuk keras.

Papa Hendra berdiri. Keira ikut keluar.

Dua pria berdiri di depan pagar. Salah satunya memegang map plastik dan memasang senyum yang tidak sampai mata.

"Malam, Pak. Kami cari keluarga Anton Khiu."

Keira merasakan Vania berdiri membeku di belakangnya.

Pria itu melirik ke dalam rumah. "Katanya anaknya ada di sini. Bagus. Berarti utang bapaknya bisa dibicarakan baik-baik."

Papa Hendra membuka pagar setengah, tubuhnya menjadi dinding.

"Bicara dengan saya. Jangan lihat anak itu."

Pria itu tertawa kecil. "Utang tetap utang, Pak. Mau anaknya nangis atau tidak."

Keira mengeluarkan ponsel dan menekan rekam suara.

"Sebut nama dan lembaga kalian dulu," katanya dingin. "Kalau mau menagih, kita mulai dari cara yang legal."

Senyum pria itu menghilang.

1
Evy
Instuisi Keira tajam banget ya...
Evy
Selene yang licik dan serakah pada akhirnya akan menghancurkan dirinya sendiri..
Evy
Harusnya Sanya jujur sama suaminya..biar masalah tidak berlarut larut.. mereka kan hanya nikah bisnis aja..
Nur Ajlina
cerita nya keren👍👍
ANJ
bagusss bangettt ..
Wardah Saiful
baguus
ariyan
menarik ceritanya, selalu bikin penasaran
Khaliz11 Satrian: bahasa novel terlallu kaku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!