Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu
Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. salah tumbal
''Tidak mungkin, bagaimana ini?!'' Dina menatap Susanto.
''Jadi dia sudah tidak perawan lagi?'' Susanto juga merasa tidak percaya.
Mila yang ikut membongkar lemari itu juga merasa kaget setelah melihat penemuan begitu banyak di dalam lemari milik Lisa, sama sekali tidak pernah mereka sangka bahwa Lisa telah mengalami hal begitu buruk sehingga dia pasti sangat tertekan sehingga menyimpan semua tespek di dalam lemari tersebut.
Bahkan Dina dan Susanto terdiam dalam kebingungan yang semakin tidak terkendali karena mereka telah mengambil korban yang salah, Susanto membutuhkan tumbal anak perawan namun yang dia dapat justru gadis yang sudah tidak perawan lagi dan memiliki masa lalu begitu kelam.
Melihat begitu banyak alat tes kehamilan di dalam lemari maka sudah pasti Lisa sering bergonta-ganti pasangan untuk memuaskan hasrat yang ada di dalam diri ini, Dina juga salah sehingga dia tidak bisa memastikan terlebih dahulu siapa yang akan menjadi tumbal untuk ritual pesugihan milik mereka saat ini.
Andai saja dia bisa lebih teliti maka pasti tidak akan terjadi kesalahan dan Susanto harus menanggung semua masalah itu sendiri, entah konsekuensi apa yang harus dia rasakan nanti ketika telah memberikan tumbal salah seperti itu kepada iblis yang dia puja untuk mendapatkan harta berlimpah seperti tahun-tahun belakangan ini.
''Kita dalam masalah!'' Susanto sudah panik dan tidak tahu harus bagaimana.
''Kenapa kamu tidak bisa membedakan terlebih dahulu sebelum mengambil dia?!'' Dina juga menyalahkan sang suami.
''Mana mungkin aku tahu dia masih perawan atau tidak, sedangkan aku hanya melakukan ritual itu secara fokus dan tidak banyak tingkah!'' ujar Susanto karena dia tidak terima disebut seperti itu oleh Dina.
''Salah kau tanggung sendiri dan aku tidak ingin ikut campur!'' Ketus Dina dan dia segera berlalu pergi dari hadapan Susanto.
''Dina! kau tidak bisa meninggalkan aku seperti ini tanpa memberikan masukan terlebih dahulu.'' Susanto berteriak keras agar Dina mau kembali lagi menatap dia.
''Ada apa ini?'' Mila bingung sendiri melihat para juragan sibuk bertengkar.
''Kau urus semua alat ini, jangan sampai ada yang tertinggal!'' Susanto memberikan tugas kepada Mila.
''Baik, Tuan.'' Mila tidak banyak protes karena takut juga nanti akan kena marah bila banyak bertanya dalam situasi yang begitu buruk seperti sekarang.
Susanto berlalu pergi dari hadapan mereka semua dan dia ingin berbicara langsung berdua bersama dengan Dina untuk mengurus masalah yang sedang mereka hadapi, saat itu tidak ada konsekuensi langsung yang dikatakan oleh rombongan para iblis sehingga Susanto juga masih bingung apakah ini nanti akan menimbulkan reaksi atau tidak sama sekali.
''Aku mohon bantu aku sekarang!'' Susanto memohon kepada Dina karena dia sangat panik.
''Kalian memang telah memuja seorang siluman kan?!'' Aura muncul dan dia langsung membicarakan masalah itu.
''Hentikan pembicaraan ini dan kau sudah tidak usah ikut campur lagi!'' Dina membentak sang adik agar dia diam.
''Kak, Apa kau tidak merasa Jera dengan apa yang telah kita alami dulu?'' Aura bertanya dengan suara gemetar.
''Arum, tolong berhenti dan kau tidak usah ikut campur dalam urusan yang telah aku ambil.'' Dina masih berusaha untuk sabar agar Arum mau pergi dari hadapan dia saat ini.
''Bukan kah saat ini Aura masih perawan?'' Susanto mendadak saja bertanya demikian sehingga membuat Dina semakin merasa kaget.
''Kau jangan terlalu kurang ajar seperti itu!'' bentak suara Vera yang baru saja datang.
''Ah astaga, Kenapa rombongan manusia tidak berguna ini datang kembali dan selalu saja ikut campur dalam urusan yang aku miliki!'' Susanto semakin kesal ketika melihat kedatangan Vera dan Mateo.
Matteo yang Mendengar hal itu sebenarnya sangat geram dan ingin marah kepada Susanto karena pria itu terlalu banyak tingkah dan terus memberikan serangan dengan ucapan pedas, tapi Vera terus berusaha menahan dia agar tidak terjadi pertengkaran di dalam keluarga ini dan mereka bisa hidup dengan tenang.
''Aku bertanya seperti itu demi hidup Aura juga, zaman kini sudah semakin tidak karuan dan aku takut bila dia terlibat dalam pergaulan bebas!'' Susanto berkilah.
Aura yang melihat Susanto terus saja membuat keributan seperti itu maka dia segera menarik Vera untuk pergi dari ruangan tersebut, lebih baik mereka berbicara berdua terlebih dahulu agar tidak banyak lagi yang ikut campur dalam urusan ini. Aura sangat yakin bahwa Dina telah menyembunyikan sesuatu yang sangat tidak biasa, Oleh sebab itu dia ingin berbicara langsung dengan Vera dan kemungkinan besar Dina memang telah masuk ke dalam pesugihan yang sama seperti milik ayah mereka dulu.
''Tolong jangan terus menambah masalah seperti ini karena aku sudah sangat pusing!'' Dina berlalu pergi dan dia segera masuk ke dalam kamar.
''Din, kamu harus membantu aku untuk segera mencari tumbal perawan!'' Susanto juga masuk ke dalam kamar dan mereka berdebat.
''Itu tanggung jawab kamu sendiri dan aku tidak ingin ikut campur!'' Dina menolak untuk membantu.
''Kau juga menikmati harta kekayaan yang kita dapat jadi Mana mungkin aku bisa bergerak sendiri tanpa bantuan dari dirimu!'' Susanto berteriak marah.
''Mas, Tolong jangan menambah beban di dalam hati ku saat ini.'' Dina tidak ingin memperpanjang debat itu lagi.
Susanto menarik nafas panjang Karena dia tidak tahu harus bagaimana untuk membujuk Dina agar mau mencari gadis perawan untuk mereka jadikan tumbal, mencari gadis perawan di kota ini memang sulit sekali karena mereka pasti terlibat dalam pergaulan yang sangat bebas dan bergonta-ganti pasangan, beda dengan yang di kampung karena mereka selalu menjaga diri dengan sangat baik.
''Aku akan kembali ke desa itu untuk mencari mangsa!'' putus Susanto akhirnya.
Dina sama sekali tidak memberikan reaksi karena dia lebih nyaman dalam kediaman seperti ini, setelah kejadian itu memang Dina banyak berubah karena dia lebih memilih untuk tetap diam dan tidak banyak bertanya kepada orang yang ada di sekitar, bahkan terkadang orang mengajak dia berbicara pun ia tolak juga.
''Kalian memang tidak berguna sama sekali.'' Susanto membanting pintu dengan sangat keras.
Braaaaaak.
''Apa?!'' bentak Susanto ketika dia baru keluar dari kamar dan langsung bertatap mata dengan Matteo.
''Kau telah masuk ke dalam lingkaran para setan.'' tuduh Mateo secara langsung.
Pria yang ada di hadapan Matteo ini semakin merasa kesal karena dia semakin bingung untuk menjelaskan kepada semua orang bahwa dirinya saat ini begitu pusing memikirkan tentang tumbal yang salah itu, Padahal kemarin dia sudah merasa lega karena mendapatkan satu tumbal dan hanya membutuhkan enam tumbal lagi.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍