NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15

Undangan pertama datang dari Dira Pradipta.

Bukan undangan kertas.

Pesan pribadi.

`Alya, minggu ini ada acara syukuran kecil di rumah Daren. Ibu-ibu keluarga dan beberapa teman yayasan datang. Akan lebih baik kalau kamu hadir. Orang-orang mulai banyak bertanya tentangmu dan Arga. Jangan khawatir, acaranya santai.`

Alya membaca pesan itu saat sedang memeriksa daftar vendor makanan rumah Arga.

Santai.

Kata paling tidak santai dalam keluarga besar.

Arga duduk di sofa ruang kerja, membaca laporan lama dengan wajah menderita. Ia sudah membaca lima halaman dan mengeluh tiga kali.

"Siapa?" tanyanya tanpa mengangkat kepala.

"Dira."

"Istri Daren?"

"Mengundangku ke syukuran."

Arga akhirnya menoleh. "Jangan datang."

"Kenapa?"

"Karena itu bukan syukuran."

"Aku tahu."

"Kalau tahu, kenapa bertanya?"

"Aku ingin mendengar alasanmu."

Arga meletakkan laporan. "Dira tidak bergerak tanpa Daren. Daren tidak mengundang tanpa tujuan. Kalau mereka ingin kamu muncul di acara keluarga, berarti mereka ingin mengukurmu di depan perempuan-perempuan mereka."

"Ibu-ibu yayasan, istri komisaris, kerabat yang pandai tersenyum?"

"Dan pandai membunuh dengan kalimat."

"Bagus."

"Bagus?"

"Aku butuh mengenal medan."

Arga menatapnya seperti ia baru saja mengatakan ingin berjalan di jalan tol.

"Kamu baru membuat Ratna dan Daren marah. Sekarang kamu ingin datang ke tempat mereka menguasai tamu, kursi, makanan, dan cerita?"

"Justru karena itu."

"Alya."

"Arga."

"Aku serius."

"Aku juga."

Arga menghela napas. "Kamu tidak bisa menahan diri?"

"Aku bisa. Aku hanya memilih kapan tidak."

"Itu bukan menenangkan."

Alya meletakkan tablet. "Dengar. Kalau aku tidak datang, mereka akan membuat cerita bahwa aku takut, tidak tahu adat, melarangmu bertemu keluarga, atau menyembunyikan sesuatu tentang kesehatanmu. Kalau aku datang, mereka akan mencoba menjebakku. Setidaknya pilihan kedua memberi kita data."

"Kita lagi."

"Kamu keberatan lagi?"

"Aku mulai curiga kata itu selalu berarti aku harus khawatir."

"Itu tanda kamu hidup."

Arga memijat kening. "Bawa Lilis."

"Ke acara ibu-ibu?"

"Bawa siapa pun."

"Aku akan bawa Yusuf sebagai sopir dan menunggu di luar. Di dalam, aku sendiri."

"Tidak."

"Kamu tidak punya hak melarang."

"Aku suamimu."

"Yang baru bisa membaca lima halaman sebelum pusing."

Arga menatapnya tajam.

Alya balas menatap.

Akhirnya Arga berkata, "Aku ikut."

"Tidak."

"Kamu baru bilang aku tidak punya hak melarang. Kamu juga tidak punya hak melarang."

"Kondisimu belum stabil."

"Maka stabilkan."

"Arga."

"Alya."

Lilis yang kebetulan masuk membawa obat berhenti di pintu, lalu perlahan mundur lagi.

Alya melihatnya. "Masuk, Lilis."

Lilis masuk dengan wajah seolah berharap lantai menelan dirinya.

"Menurutmu Tuan Arga boleh menghadiri acara keluarga tiga jam minggu ini?" tanya Alya.

Lilis menatap Arga.

Arga menatap Lilis.

Lilis menelan ludah. "Kalau... kalau hanya duduk dan tidak terlalu lama, mungkin bisa. Tapi harus ada obat darurat, kursi yang nyaman, dan tidak boleh stres."

Alya menunjuk Arga. "Dia akan stres."

Arga menunjuk Alya. "Dia sumber stres."

Lilis tampak ingin menangis.

Alya akhirnya berkata, "Baik. Kita konsultasi Dokter Mira. Kalau dia mengizinkan, kamu ikut maksimal satu jam."

"Dua."

"Satu."

"Satu setengah."

"Satu jam. Atau aku pergi sendiri."

Arga menatapnya.

"Kamu selalu menang?"

"Tidak. Aku hanya memilih lawan yang kondisinya lemah."

Arga tertawa kesal.

Lilis menunduk untuk menyembunyikan senyum.

Hari acara tiba tiga hari kemudian.

Dokter Mira mengizinkan Arga ikut dengan banyak syarat. Tidak boleh berdiri lama. Tidak boleh makan sembarangan. Tidak boleh minum apa pun yang tidak dibawa sendiri. Jika napas pendek, langsung pulang.

Alya menambahkan satu syarat: tidak terpancing Daren.

Arga menambahkan satu syarat sendiri: Alya tidak boleh meninggalkannya sendiri dengan Ratna.

"Kamu takut?" tanya Alya di mobil.

"Aku tidak bodoh."

"Itu belum tentu."

"Istriku sangat romantis."

"Aku berusaha konsisten."

Acara digelar di rumah Daren dan Dira, sebuah rumah modern di kawasan Menteng. Tidak sebesar rumah utama, tetapi lebih hangat. Terlalu hangat malah. Bunga segar, aroma kue, meja prasmanan, perempuan-perempuan berkebaya dan berkerudung rapi, tawa kecil yang berhenti begitu Alya dan Arga masuk.

Dira menyambut mereka dengan senyum cerah.

"Alya! Arga! Senang sekali kalian datang."

Ia memeluk Alya ringan, lalu menatap Arga dengan perhatian yang terlihat cukup meyakinkan.

"Arga, kamu terlihat jauh lebih baik."

Arga menjawab, "Terima kasih. Semua orang mengatakannya."

Dira tertawa sedikit canggung. "Itu karena kami benar-benar senang."

Ratna duduk di tengah ruangan bersama beberapa wanita sepuh. Ia memakai kebaya biru tua, wajahnya tenang. Saat melihat Arga, matanya berubah halus.

"Arga, sini duduk dekat Mama."

Arga berhenti.

Alya menoleh kepadanya.

Seluruh ruangan menunggu.

Jika Arga menolak terlalu keras, ia akan terlihat durhaka. Jika ia menurut, Ratna menang.

Alya tersenyum dan berkata, "Bu Ratna baik sekali. Tapi Dokter Mira meminta Arga duduk di kursi dengan sandaran tinggi dan tidak terlalu dekat AC. Kursi di sebelah sana lebih cocok."

Semua mata berpindah ke kursi yang ditunjuk Alya.

Kursi itu berada di sisi ruangan, cukup terlihat, tetapi tidak dalam lingkaran Ratna.

Ratna tersenyum. "Alya sangat teliti."

"Untuk urusan kesehatan suami, memang harus."

Dira segera berkata, "Tentu. Aku minta kursinya dipindahkan sedikit."

Arga duduk di tempat yang dipilih Alya.

Ratna kehilangan panggilan pertama.

Kecil.

Tapi semua perempuan di ruangan itu melihat.

Setelah doa singkat, acara berubah menjadi percakapan ringan. Ringan menurut ukuran mereka berarti pertanyaan yang dibungkus gula.

Seorang tante dari pihak Ratna berkata, "Alya, kamu pasti lelah ya. Baru menikah sudah harus mengurus suami sakit."

Alya menjawab, "Tidak apa-apa. Lebih melelahkan kalau pura-pura tidak melihat masalah."

Wanita itu tertawa kaku.

Yang lain mencoba. "Katanya kamu sampai mengganti dokter?"

"Tidak mengganti. Menambahkan dokter independen."

"Wah, berani sekali. Biasanya menantu baru mengikuti aturan keluarga dulu."

"Saya mengikuti aturan medis."

Dira tersenyum. "Alya memang punya latar rumah sakit, Tante."

Ratna meletakkan cangkir. "Punya latar bukan berarti bisa mengambil alih semuanya."

Ruangan langsung menegang.

Alya menoleh. "Betul, Bu. Karena itu saya memakai hasil lab."

Ratna menatapnya.

Salah satu wanita berbisik, "Hasil lab?"

Dira cepat menyela, "Mungkin kita bicara hal lain. Hari ini acara syukuran."

Ratna tersenyum. "Justru kita bersyukur Arga lebih sehat. Alya, semua orang di sini keluarga. Tidak perlu terlalu tertutup. Bagikan kabar baiknya. Obat apa yang membuat Arga sekarang bisa datang?"

Pertanyaan itu halus.

Tapi jebakan.

Kalau Alya menjawab detail medis, ia dianggap membuka aib suami. Kalau diam, Ratna bisa mengendalikan cerita.

Alya mengambil gelas air yang dibawanya sendiri.

"Kabar baiknya sederhana. Arga membaik setelah obat yang tidak jelas dihentikan."

Ruangan hening total.

Arga menunduk, menyembunyikan senyum di balik gelas.

Ratna berkata pelan, "Alya."

"Bu Ratna yang meminta saya membagikan kabar baik."

Dira tampak pucat.

Seorang wanita sepuh menatap Ratna. "Obat tidak jelas?"

Ratna tersenyum tipis. "Ada sedikit salah paham medis. Sedang dibereskan."

"Benar," kata Alya. "Sedang dibereskan dengan hasil lab dan pengacara."

Dira hampir tersedak.

Di sudut ruangan, Daren yang baru masuk mendengar kalimat itu. Wajahnya tidak berubah, tetapi langkahnya berhenti sepersekian detik.

Alya melihatnya.

Arga juga.

Daren mendekat dengan senyum.

"Wah, pembicaraan serius sekali."

Alya berkata, "Mas Daren datang tepat waktu."

"Untuk apa?"

"Untuk ikut bersyukur. Arga bisa datang hari ini karena tidak diberi obat yang salah."

Mata Daren bertemu mata Alya.

Dira berdiri beberapa langkah di belakang suaminya. Tangannya menggenggam ujung clipboard sampai buku jarinya memutih. Ia jelas ingin menghentikan percakapan itu, tetapi tidak punya keberanian untuk memotong Daren ataupun Ratna.

Alya melihatnya dan menyimpan catatan kecil di kepala. Dalam keluarga ini, tidak semua orang yang berdiri di sisi musuh benar-benar merasa aman di sana.

Di antara tawa palsu, gelas teh, dan aroma kue, perang kecil itu resmi berpindah dari kamar sakit ke ruang sosial keluarga.

Dan Alya tahu, setelah hari ini, mereka tidak akan menyerangnya hanya dengan kata-kata.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!