"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Meskipun Kaenan mengeluh dalam hati, tetapi keputusan telah dia ambil, langkah pun telah dia buat, tidak ada istilah kembali lagi sekarang. Atau semua rencana kakek nya akan hancur berantakan, hanya karena ego nya semata.
Kaenan hanya menundukkan kepala nya, hati nya jijik mengingat siapa wanita yang kelak akan di jodohkan dengan nya itu. Wanita murahan yang jauh lebih tua dari diri nya, bahkan bisa menjadi Tante nya sendiri.
Sementara Syafea lebih banyak diam, hanya sesekali menatap kearah Kaenan sambil berusaha tersenyum ramah.
Namun setiap kali bertatapan dengan gadis itu, bayang bayang kebengisan nya dahulu langsung berputar di ingatan Kaenan, membuat anak muda itu sedikit gemetar, dan buru buru mengalihkan pandangan mata nya kearah bawah.
Gracia memang cantik dan seksi, dengan pinggul bak biola, dada mirip buah pepaya, namun dia bukan tipe kesukaan Kaenan. Karena Kaenan lebih menyukai wanita lembut, Sholehah, dan keibuan seperti Aisyah.
Daya tarik Aisyah terlanjur menguasai hati dan jiwa raga Kaenan, hingga dalam pandangan mata nya, tidak ada lagi wanita yang mampu menandingi Aisyah, baik dari segi kecantikan nya, keramahan nya, ketulusan hati nya, dan yang pasti, Aisyah lah wanita jelita yang pertama kali dia kenal, sedari sama sama menapaki masa masa kanak-kanak mereka dahulu.
Tetapi rasa itu harus dia pendam dalam dalam, karena status mereka yang sangat jauh berbeda sekali, Aisyah seumpama rembulan yang sedang purnama nun jauh tinggi di angkasa, sementara diri nya, hanya seekor Anai anai yang sedang membangun Blambika untuk mencapai nya.
Setelah selesai makan bersama, keluarga belum bubar, masing masing menunggu apa keputusan kakek walaupun semua hampir bisa menebaknya.
Yang terlihat sangat gelisah adalah Gracia, semenjak tahu jika dia akan di jodohkan dengan Kaenan, bukannya kebanggaan yang dirasakan oleh nya, tetapi rasa malu dan amarah di hati nya.
Apalagi melihat keadaan Kaenan yang meskipun sangat tampan, namun terlalu anak anak serta bertubuh kerempeng, bukan seperti Johan, laki-laki impian nya yang mampu membuat nya terus menerus menjerit histeris, saat kedua nya beradu stamina berdua.
Kali ini kata kata tuan besar Baskoro lebih seperti sebuah genderang yang ditaburkan bertubi tubi, memukul dan menyentuh dada Gracia.
Beberapa kali dia menatap kearah Kaenan, mencari remahan remahan rasa itu meskipun sekecil biji sawi, namun yang dia rasakan hanyalah ketidak sukaan dan rasa benci nya saja.
Akhirnya diangkatnya juga wajahnya menatap kearah sang kakek yang duduk bersama Kaenan di ujung meja.
"Kek!, apakah tidak keterlaluan keputusan kakek ini?, aku tidak punya rasa apapun pada nya, selain rasa jijik ku saja, aku sangat malu kek, nanti dikira orang, aku wanita pedofilia, penyuka anak kecil yang masih berbau kencur, mohon kakek tinjau kembali keputusan kakek ini!" sanggah Gracia tidak menyukai keputusan kakek nya. Dia masih mengimpikan Johan sebagai pendamping hidup nya, agar hubungan mereka resmi dan sah menurut agama dan negara, apalagi mereka sudah melangkah terlampau jauh, menikmati rasa buah khuldi Dunia setiap saat. Sehingga di benak Gracia, hanya bayangan pergulatan itu saja yang meracuni akal pikiran nya. Dalam pikirannya, jika hubungan nya dengan Johan bisa di resmikan, tidak ada lagi yang harus mereka takuti, dia akan melakukan nya dengan Johan siang malam, hingga benar benar terpuaskan dahaga nya selama ini.
Namun bayang bayang khayalan nya tiba-tiba saja sirna, melihat pria yang dijodohkan dengan nya hanya seorang anak kecil, yang mungkin Otong nya saja baru tumbuh sebesar jempol, tidak akan mampu memuaskan dahaga nya yang terlampau besar itu.
Itulah khayalan seorang wanita, yang meskipun masih berstatus sebagai seorang gadis, namun sejati nya tidak lebih dari sekedar seorang janda binal.
"Semua sudah ku pikirkan masak masak baik buruk nya, keputusan ini sudah final, mulai sekarang, kau dan Kaenan bertunangan, maka belajar lah untuk saling mengenal dan menerima pasangan masing masing, aku tidak ingin mendengar penolakan kalian, kalau kalian tidak suka, maka keluarlah dari keluarga besar Hanggada, dan konsekuensinya, tidak akan ada warisan sepeserpun juga untuk kalian" ujar tuan besar Baskoro mengunci keputusan nya.
Tidak ada yang berani berkata kata lagi, semua sudah final, tinggal menurut atau keluar dari keluarga besar Hanggada.
Hanya dua orang wanita yang tertunduk tanpa kata, nyonya Carla dan nyonya Shanty sang menantu.
Nyonya Carla merasa sangat bersalah, tak berdaya dengan semua keputusan sang suami, dia merasa seolah-olah ikut menjadikan Kaenan sebagai tumbal kekayaan mereka.
Sementara nyonya Shanty termenung menatap kearah Kaenan, rasa rindu nya membuncah, ingin sekali wanita cantik ini berlari mendekati anak muda itu, lalu memeluk nya erat.
Namun hal itu di tahan nya saja, dia melihat dimata Kaenan, ada goresan luka yang teramat dalam, luka yang masih menganga, dan belum lagi sembuh, kini ditambah dengan luka baru dengan perjodohan yang tidak di harapkan.
Sebagai ibu yang pernah satu kehidupan dan satu detakan jantung dengan Kaenan, Santy bisa merasakan ada sakit yang teramat perih di hati anak muda ini. Luka yang berusaha disembunyikan nya dalam dalam, luka yang mengatas namakan kerukunan dan kebersamaan keluarga. Keluarga yang nampak kokoh dan kuat, padahal rapuh seperti kerupuk.
Nyonya Santy menarik nafasnya dalam-dalam, menyapu dua bulir air mata yang bergelayut di pelupuk matanya, "maaf kan mamah sayang, mamah tidak mampu menjadi pelindung mu, jikalau bukan karena takut dosa, sudah lama mamah akhiri derita mamah ini sayang!" jerit hati Santy, tertunduk menatap sisi meja.
Bahkan Gracia yang semula berapi api, kini diam seribu bahasa, mungkin hanya nyonya Mona yang tertunduk sambil mengukur senyum kemenangan.
Selebih nya, tuan muda Arifin juga tersenyum, merasa sebentar lagi, kemenangan berada di pihak nya, tujuh puluh persen aset Hanggada group, sebentar lagi menjadi milik nya. Dan itu artinya, dialah pemilik Hanggada group.
Hidup bergulir kembali, rutinitas berjalan seperti semula, Gracia masih bekerja di perusahaan kakek nya, meskipun tidak memegang kekuasaan apapun, tetapi semua orang tahu jika gadis itu cucu kandung dari owner Hanggada group.
Sementara itu Kaenan masih bergulat dengan CV Nusa Kamandara milik nya.
Tanpa terasa, seratus hari kerja tinggal tersisa sepuluh hari lagi. Sementara bangunan tinggal finishing saja.
Kali ini Kaenan sudah paham semua hitung hitungan masalah bangunan, dia mencoba ikut lelang tender sendiri di beberapa proyek pemerintah.
Alhamdulillah, dia mendapatkan tiga unit bangunan sekolah dan perkantoran, tanpa sedikitpun ikut campur kakek nya.
Malam itu, ummi Nazeha menerima telpon dari Aisyah di Kairo, menanyakan kabar semua nya.
Ummi Nazeha menceritakan jika dia dan Abi Kiai Nuruddin serta Abang ustadz Salafudin baik baik saja. Dia juga menceritakan tentang Kaenan yang dijodohkan oleh kakek nya dengan suasana sepupu nya sendiri.
Mendengar Khabar dari ummi Nazeha, Aisyah terdiam beberapa saat, tak mampu berkata kata, suara nya terasa tercekat di tenggorokan nya.
"Ayi!, halo Ayi!, Ayi!" suara ummi Nazeha khawatir dengan keadaan sang putri.
Dia ingin merahasiakan semua nya, tapi putri nya menanyakan hal itu.
"Ayi!, kau masih di sana nak!" suara ummi Nazeha semakin khawatir dengan keadaan sang putri.
Di seberang sambungan, nampak Aisyah termenung, handphone masih berada di telinga nya, namun suara ummi Nazeha seperti melintas begitu saja. Dunia tiba-tiba terasa begitu sunyi, sepi seolah tak ada mahluk lain selain diri nya.
"Kaenan telah ditunangkan oleh kakek nya, dengan sepupu nya sendiri!" suara ummi Nazeha tadi seolah bergaung berulang ulang.
"Kaenan telah ditunangkan oleh kakek nya, dengan sepupu nya sendiri!" ....
"Kaenan telah ditunangkan oleh kakek nya, dengan sepupu nya sendiri!" ....
"Ayi!, kau masih di sana nak!" suara ummi Nazeha semakin khawatir dengan keadaan sang putri.
Aisyah tiba-tiba tersadar mendengar suara ummi nya di seberang sambungan telepon sana.
"Eh, i… i… iya ummi, Ayi masih disini" sahut nya.
Ummi Nazeha menarik nafasnya dalam-dalam, "yang sabar ya nak!, ikhlas dan redho itulah kunci nya, ummi tahu semua yang coba Ayi pendam dalam dalam nak, ingat kita pernah hidup dalam detak jantung yang sama, tarikan nafas yang sama, apapun yang Ayi rahasiakan, ummi akan merasakan nya pula nak, bersabar ya nak ya" suara ummi Nazeha bergetar, matanya berkaca kaca.
Meskipun sang putri berusaha menutupi perasaan hati nya kepada Kaenan, namun ummi Nazeha bisa merasakan jika cinta kasih sayang sang putri, sudah bergeser dari cinta kasih kepada saudara, menjadi cinta kasih kepada pasangan pria nya. Cinta yang lahir dari rasa yang paling suci, bukan karena harta, tahta maupun rupa.
Semula ummi Nazeha tidak ingin ikut campur, selama rasa itu masih bertempat di tempat yang wajar.
Namun kini, melihat putri kesayangan nya itu terpuruk pada kenyataan pahit, hati wanita cantik ini pun ikut merasakan sakit nya pula.
"Ayi tidak apa apa ummi, ummi jangan khawatir, jangan pikirkan yang macam macam ya ummi, Ayi ikhlas kok" sahut Aisyah dengan kedua pipinya yang sudah basah.
"Ayi sayang!" panggil ummi Nazeha.
"Iya ummi!" sahut Aisyah lembut, sedikit terisak.
"Kau tahu dengan paman Kamil?, saudara sepupu ummi, dia punya seorang putra sebaya dengan mu, maukah kau mencoba sedikit mengenal nya Ayi?" tanya ummi Nazeha hati hati.
"Maaf ummi, untuk sementara, biarkan Ayi sendirian dahulu, Ayi tidak ingin kelak berdosa dengan pasangan Ayi, jika Ayi tidak mampu mencintai nya, karena hati Ayi ternyata sudah di isi pria lain, Ayi yakin, kelak Allah akan membukakan hati Ayi ummi, untuk sementara, biarkan Ayi sendirian, Ayi akan mendoakan Kae senantiasa ummi, meskipun Allah tidak menjodohkan kami, biarkan rasa ini tetap hidup menemani hari hari Ayi, meski apa pun yang terjadi, rasa sayang Ayi tidak mungkin akan berubah ummi" ucapan Aisyah bercampur dengan Isak tangis nya.
Ummi Nazeha tidak lagi mampu menahan air matanya, jatuh berlinang di pipi putih wanita cantik itu.
"Maafkan ummi nak!, maafkan ummi!, ummi dan Abi tidak bisa berbuat apapun, kita tidak punya wewenang apapun pada diri Kae, ummi sangat menyukai anak saleh itu, namun tidak memiliki wewenang apapun, semua keputusan ada pada kakek nya" ....
"Ayi tau ummi, ummi dengan Abi tidak salah, Kae juga tidak salah, ini hanya permainan takdir hidup Ayi ummi!" ujar Aisyah berusaha tegar.
Memang tidak ada kata kata cinta dan sayang yang keluar dari mulut Aisyah dan Kaenan , namun dari sikap serta perilaku kedua nya, sudah mewakili berjuta kata kata.
...****************...