NovelToon NovelToon
Loud Girl, Cold Engine

Loud Girl, Cold Engine

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Akhir Dokumentasi

Hari Senin berikutnya, atmosfer di dalam ruang pameran bersama Gedung Rektorat Universitas Wikerta terasa begitu megah sekaligus menegangkan. Replika maket prototipe mesin bertenaga hibrida hasil rancangan Bima berdiri kokoh di atas meja utama, bersanding dengan booklet narasi estetis dan infografis filosofis yang disusun rapi oleh Kirana. Hari ini adalah puncaknya—hari di mana seluruh tim harus melakukan presentasi akhir dan serah terima dokumen proyek di depan jajaran dekan gabungan.

Sejak pukul delapan pagi, Bima sudah sibuk memeriksa ulang setiap sekrup dan kabel konektor pada maketnya. Penampilannya sangat rapi, kemeja PDL Tekniknya disetrika licin, namun raut wajahnya tetap sedatar papan besi. Sejak insiden pesan singkat hari Sabtu kemarin, cowok itu sama sekali tidak membahas masalah Danu. Ia kembali ke mode profesionalnya yang kaku dan penuh perhitungan efisiensi.

Kirana berdiri di samping meja, merapikan tumpukan jilidan draf laporan akhir bersampul hardcover biru dongker. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena cemas menghadapi para penguji, tetapi juga karena sikap diam Bima yang terasa berkali-kali lipat lebih dingin dari biasanya.

"Bim," panggil Kirana pelan, memecah keheningan di antara mereka berdua di sudut stan. "Ini draf laporan finalnya udah gue cetak rangkap lima sesuai instruksi lo kemarin. Semua grafik efisiensi yang lo revisi sendiri juga udah masuk."

Bima menghentikan gerakannya. Ia menegakkan tubuh, menatap tumpukan laporan di tangan Kirana, lalu beralih menatap wajah gadis itu. Sepasang mata hitamnya terkunci lekat pada jemari Kirana yang kini bersih tanpa plester beruang kecil lagi.

"Bagus," jawab Bima pendek, suaranya terdengar berat dan formal. "Parameter administrasinya udah lengkap. Setelah presentasi ini selesai dan tim penilai menandatangani berita acara, proyek kita resmi ditutup. Tanggung jawab gue sebagai ketua tim selesai."

Kirana tertegun. Ada rasa lega karena beban tugas besar ini akhirnya melesat menuju garis akhir, namun entah kenapa, mendengar kata 'resmi ditutup' dan 'selesai' dari mulut Bima membuat dada Kirana mendadak terasa sedikit lowong. Sebelum ia sempat mencerna perasaan asing itu, waktu presentasi mereka tiba.

Selama empat puluh lima menit berikutnya, kombinasi logika Teknik Bima dan retorika Sastra Kirana berhasil memukau jajaran dekan. Bima memaparkan data numerik dan grafik dengan sangat presisi, sementara Kirana mengemasnya menjadi sebuah presentasi yang hidup, humanis, dan mudah dipahami. Begitu ketua tim penguji mengetukkan palu dan menandatangani lembar pengesahan terakhir, tepuk tangan riuh terdengar di dalam ruangan.

Proyek kolaborasi lintas fakultas mereka resmi dinyatakan selesai dengan nilai sempurna.

Begitu para dosen meninggalkan ruangan, Kirana langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi stan dengan napas lega yang panjang. "Hah... gila, akhirnya selesai juga, Bim! Kita beneran dapet nilai A!" seru Kirana dengan senyum cerah yang lepas, menatap Bima yang sedang merapikan kabel laptopnya.

Bima tidak langsung merespons kegembiraan Kirana. Ia memasukkan laptopnya ke dalam ransel, lalu berbalik menghadapi Kirana. Ekspresi ketatnya yang mengeras sejak hari Sabtu perlahan mengendur, menyisakan tatapan mata yang sulit diartikan namun terasa sangat intens.

"Selamat, Ra. Kerja lo bagus," kata Bima, sebuah pujian langka yang meluncur tulus dari bibirnya. Ia melangkah mendekati meja Kirana, menaruh map pengesahan final di sana. "Karena proyek ini udah kelar, lo udah nggak punya kewajiban lagi buat standby nungguin pesan revisi dari gue."

Kirana mendongak, menatap Bima dengan dahi berkerut pelan. "Maksud lo?"

Bima bersedekap, bersandar pada tepi meja dengan gaya pasif-agresifnya yang khas. "Ya artinya lo bebas. Lo bisa main ke mal deket stadion lagi, atau nemenin orang lain nyari kado kapan aja tanpa perlu mikirin draf grafik gue yang ngeganggu waktu lo."

Mendengar sindiran yang dikemas dengan nada datar itu, Kirana seketika terkesiap. Otak sastranya yang biasanya lambat mendeteksi maksud tersembunyi, kali ini berhasil menangkap sinyal yang sangat jelas. Bima tidak sedang membicarakan efisiensi proyek; cowok kaku di depannya ini sedang menunjukkan rasa tidak relanya dengan cara yang sangat defensif.

Sebelum Kirana sempat memberikan balasan atau membela diri, sebuah bayangan tinggi melangkah masuk ke area stan mereka.

"Kirana? Bima? Selamat ya atas presentasinya! Tadi aku sempat dengar dari anak-anak di luar kalau proyek kalian dapet nilai tertinggi," sapa Danu yang tiba-tiba muncul dengan senyuman hangatnya yang seperti biasa, sangat rapi dan menenangkan. Danu membawa sekotak kue kecil premium sebagai bentuk perayaan atas keberhasilan Kirana.

Danu meletakkan kotak kue itu di depan Kirana dengan lembut. "Ini buat merayakan keberhasilan kamu, Ra. Kamu hebat banget bisa nyelesaiin laporan setebal ini." Danu lalu melirik Bima, mengangguk hormat dengan tatapan kompetitif yang kembali menyala tipis. "Kerja bagus juga buat lo, Bim. Desain maket lo beneran diakui sama dekanat."

Bima menatap kotak kue di meja, lalu menatap Danu dengan rahang yang kembali mengeras. Gengsi tekniknya langsung naik ke tingkat tertinggi. "Thanks, Dan. Tapi proyek ini selesai karena kerja keras tim, bukan karena logistik luar." Bima beralih menatap Kirana, menyambar kunci motor tuanya yang tergeletak di meja. "Gue balik ke lab sekarang. Berkas lo bawa aja, Ra."

Kirana menatap kotak kue dari Danu yang tampak sangat manis, lalu beralih menatap punggung tegap Bima yang mulai berjalan menjauh menembus pintu keluar rektorat dengan langkah tegas.

Di satu sisi, perhatian Danu yang selalu hadir tepat waktu membuat hatinya merasa sangat dihargai dan hangat. Namun di sisi lain, sikap ketus dan protektif Bima yang baru saja selesai berjuang bersamanya dalam proyek ini meninggalkan rasa sesak yang aneh di dada Kirana.

Kirana berdiri di samping Danu dengan perasaan yang benar-benar terbelah, menyadari bahwa meskipun proyek kampusnya telah resmi berakhir, kerumitan di dalam hatinya justru baru saja dimulai.

1
Taro
akhirnya up thor🥹
minttea_: huhu iya nihh kemaren author lagi sibuk, maaf yaa🥺
total 1 replies
Taro
teringat sama film pupus kalau baca novel ini. semangat thor
minttea_: wahhh iya kahhhh, makasihh banyak atas dukungannya🥰✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!