Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Liquid Ether: Iron Flesh Corps Army
Tiga belas jenderal Dragonoid mengangkat senjata mereka serentak, dan aura masing-masing klan meledak ke udara malam.
"Art Of Triwikrama: …,!" teriak ketiga belas jenderal Draconis serentak.
Tubuh mereka berubah dalam sekejap. Sisik menutupi kulit, cakar menggantikan jari, dan ekor panjang terkibas membelah angin. Tiga belas wujud naga raksasa berdiri gagah mengelilingi medan perbatasan, masing-masing memancarkan warna berbeda sesuai klan mereka.
Transformasi mereka membentuk naga raksasa Wyrm, Feydragon, Hydra, Wyvern, Amphiptera, Nagaraja, Lindworm, Basilisk, Behemoth, Sea Orc, Coatyl, Drake, dan Fairy Dragon.
Harjasa sendiri berubah menjadi naga Hydra berkepala tujuh, lehernya yang panjang berkelok ganas ke arah barisan Flesh Corps Army yang masih tersisa.
"Habisi mereka semua!" perintahnya.
Tiga belas naga itu menerjang serentak. “Groaar! Mati kalian semua!”
Cakar, taring, dan ekor menghantam tanpa ampun. Mayat hidup yang tersisa dari Flesh Corps Army hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
Brama Kumbara menggelinding di antara kaki para naga, menghantam apapun yang masih bergerak. “Wraith Roller Ball!”
Dyah Ayu melesat di udara dengan Arc Ball yang berubah-ubah bentuk, menebas tanpa henti. “Arc Ball: Seven Legendary Weapon!”
Dalam waktu singkat, medan perbatasan yang tadinya dipenuhi pasukan mayat hidup kini hanya menyisakan reruntuhan, dan satu sosok berjubah hitam yang masih berdiri tegak di tengahnya.
"Kita menang!" seru Jenderal klan Wyvern dengan suara menggelegar penuh kemenangan.
Kalawidya tidak bergerak sedikit pun.
Topeng tulangnya menatap reruntuhan itu dengan ketenangan yang tidak wajar.
"Bagus sekali," ucapnya pelan, "Tapi kalian lupa satu hal."
Kemudian tangannya terangkat ke udara. "Flesh Corps Army hanyalah fase pertama!"
Tanah di sekeliling Kalawidya terbelah serentak. Dari celah-celah itu muncul sosok-sosok baru, bukan lagi daging busuk yang rapuh, melainkan kerangka berlapis baja hitam yang berkilat mengerikan di bawah cahaya bulan.
"Flesh Corps Army: Iron Phase!" serunya.
Puluhan sosok baja itu menerjang dengan kecepatan yang jauh melampaui gelombang sebelumnya.
Harjasa menyambut serangan pertama dengan cakarnya, namun lengan baja itu menahan tanpa tergores sedikit pun. Sebuah pukulan balik menghantam dada naganya, melemparkannya mundur hingga menabrak salah satu jenderal lain.
"Pertahanan macam apa ini!" geram Harjasa sambil bangkit kembali.
Dyah Ayu mencoba menebas dengan Arc Ball yang sudah berubah jadi pedang merah darah. Namun mata pedangnya hanya meninggalkan goresan tipis di permukaan baja sebelum tubuhnya terpental oleh hantaman balik.
"Sialan, keras sekali!" makinya sambil terhuyung bangkit.
Brama Kumbara mencoba menggelinding menabrak salah satu sosok baja itu. Namun tubuhnya justru memantul mundur seperti bola karet yang menghantam tembok besi.
"Sakit," gumamnya dengan nafas tersengal, "Tapi aku masih lapar."
Harjasa bangkit dengan sisa tenaga, dan memekik perintah terakhir.
"Serang titik yang sama bersamaan!" perintahnya.
Tiga belas naga menerjang dari segala arah sekaligus. Cakar, taring, dan ekor menghantam satu titik di dada kerangka baja itu tanpa henti. Untuk sesaat, retakan mulai menjalar di permukaannya.
"Berhasil!" seru jenderal klan Basilisk dengan suara penuh harapan.
Namun kerangka baja itu meledakkan Ether dari dalam, lalu melemparkan ketiga belas naga ke segala penjuru.
Dyah Ayu terhempas ke tanah dengan suara berdebam keras. Brama Kumbara terpental hingga menabrak reruntuhan tembok. Harjasa terjerembab dengan sisik robek dan luka baru di sekujur tubuhnya.
Kalawidya menyaksikan semuanya dari kejauhan dengan tawa pelan yang menggetarkan udara malam.
Harjasa bangkit dengan sisa tenaga, memekik perintah terakhir.
"Konsentrasikan serangan di leher sambungan kerangka, itu titik terlemahnya!"
Lima naga yang masih kuat menerjang serentak. Cakar mereka menemukan celah di antara lempengan baja, dan merobek sambungan logam hingga satu kerangka itu ambruk berkeping-keping.
"Kena juga akhirnya!" seru jenderal klan Lindworm dengan nafas tersengal.
Namun kemenangan kecil itu hanya bertahan sedetik.
Belasan sosok Iron Flesh Corps Army lain langsung mengepung kelima naga, dan menghantam dari segala arah tanpa memberi celah. Satu per satu naga itu terjerembab ke tanah dengan luka yang semakin parah.
Dyah Ayu mencoba bangkit, tetapi dua sosok Iron Flesh Corps Army langsung mengapitnya dari kiri, dan kanan. Tangannya menggenggam Arc Ball, dan membentuknya menjadi perisai seadanya. Hantaman pertama meremukkan perisai itu seperti kertas. Hantaman kedua melemparkannya menghantam tanah hingga tanah di bawahnya retak.
Ia mencoba bangkit lagi. “Aaargh! Jangan menyerah!”
Hantaman ketiga menghantam punggung Dyah Ayu, lalu menghempaskannya kembali ke tanah dengan wajah berlumuran debu dan darah.
"Kenapa baja sialan ini tidak bisa ditembus?" makinya dengan nafas tersengal, kedua tangannya gemetar menopang tubuhnya sendiri.
Brama Kumbara memaksa dirinya kembali ke wujud bola, menggelinding menabrak satu Iron Flesh Corps Army dari samping.
Kerangka itu bergeser setengah langkah, dan Brama memantul mundur dengan tulang rusuknya yang terasa seperti retak.
"Sakit sekali," gumamnya dengan nafas yang semakin tersengal, "Tapi aku masih lapar."
Kalawidya melangkah maju melewati medan pertempuran yang sudah menjadi pesta kekalahan.
"Lihatlah!" ucapnya sambil menunjuk ke arah ketiga belas naga, Brama, dan Dyah Ayu yang sudah berlumuran darah dan memar, "Inilah perbedaan sesungguhnya antara kekuatan jumlah, dan kekuatan kualitas."
Tawa pelan kembali bergema dari balik topeng tulangnya.
Namun di tengah reruntuhan tembok perbatasan, Arjuna membuka matanya yang merah membara.
Kalkulasinya tidak pernah berhenti bekerja, bahkan dalam kondisi sekarat sekalipun.
"Setiap kali Iron Flesh Corps Army diaktifkan," batinnya dengan nafas yang terputus-putus, "Ranah miliknya turun jauh lebih tajam dari Flesh Corps Army biasa. Namun Sekarang ranahnya masih diatas Hatjasa.”
Matanya menyipit menatap sosok berjubah hitam yang masih berdiri angkuh.
"Tidak, ranahnya sekarang sudah jatuh ke setara Harjasa. Enam tingkat lebih rendah dari awal pertarungan."
Sebuah senyuman tipis terbentuk di sudut bibirnya yang berlumuran darah. Namun senyuman itu tidak bertahan lama.
Kalawidya tiba-tiba berhenti tertawa. Topeng tulangnya menoleh perlahan ke arah Arjuna, seolah merasakan sesuatu yang tidak kasat mata.
"Kau menghitung lagi?" tanya Kalawidya dengan nada yang berubah dingin total. "Manusia murni yang keras kepala."
Tangannya terangkat tinggi, dan seluruh sisa Liquid Ether di tubuhnya berkumpul menjadi titik hitam pekat di atas telapak tangannya.
"Baiklah," lanjutnya, "Jika ranahku harus jatuh sampai ke titik terendah sekalipun, aku akan pastikan kalian semua mati malam ini juga!"
Iron Flesh Corps Army berbalik serentak, lalu mengarahkan seluruh kekuatan mereka langsung ke Arjuna yang sudah tidak bisa bergerak.