Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Sekamar dengan Tuan Muda
Arkana Mahendra berdiri di ujung tangga dengan satu tangan masuk ke saku celana. Sorot lampu kristal mansion jatuh samar di wajah tampannya yang dingin. Kemeja hitam yang dipakainya terbuka di bagian atas, memperlihatkan sedikit kulit leher dan tulang selangka tegas. Sementara tatapan matanya membuat seluruh ruangan terasa lebih sunyi.
Kemuning langsung menunduk gugup saat pria itu menatapnya. Jantungnya berdetak terlalu cepat tanpa alasan jelas. Ia belum pernah melihat laki-laki setampan itu sedekat ini sebelumnya. Dan itu justru membuatnya semakin takut.
Arkana turun dari tangga dengan langkah tenang dan berat. Aura dominannya membuat para pelayan otomatis diam menyingkir. Bahkan udara terasa berubah dingin setiap kali pria itu mendekat.
Kemuning tanpa sadar mundur setengah langkah. Tatapan Arkana turun perlahan ke pakaian lusuh Kemuning yang masih sedikit basah. Lalu matanya berhenti pada kaki kecil Kemuning yang kotor oleh lumpur hujan. Ekspresinya tetap datar, tetapi jelas terlihat tidak menyukai situasi tersebut. Seolah dirinya dipaksa menerima sesuatu yang tidak diinginkan.
“Dia akan tinggal di sini sementara.” Mahardika Mahendra akhirnya bicara memecah keheningan.
Arkana mengalihkan pandangan ke arah ayahnya tanpa banyak ekspresi. Namun rahangnya tampak sedikit mengeras. “Berapa lama?” tanya Arkana dingin.
“Selama yang Papa perlukan.” Jawaban Mahardika sama tenangnya.
Tetapi suasana di antara ayah dan anak itu terasa aneh. Tidak ada kehangatan. Tidak ada nada keluarga biasa. Hanya percakapan pendek penuh jarak dan ketegangan tersembunyi.
Kemuning jadi semakin takut berada di tengah mereka. Ia menunduk lebih dalam sambil meremas ujung sweater tipisnya. Rumah ini terlalu besar, terlalu bersih, dan terlalu mewah untuk dirinya. Kemuning merasa seperti pengganggu yang tiba-tiba masuk ke dunia orang lain. Mungkin Arkana juga berpikir begitu.
Saat Arkana berjalan mendekat, napas Kemuning langsung tercekat. Aroma parfum maskulin samar bercampur udara dingin memenuhi inderanya. Tubuh pria itu tinggi dan terlalu dekat membuat Kemuning sadar betapa kecil dirinya. Ia bahkan harus sedikit mendongak hanya untuk melihat wajah Arkana.
Tatapan Arkana jatuh ke pipi Kemuning yang masih merah bekas tamparan. Lalu ke jemarinya yang penuh luka kecil dan kulit lecet. Mata pria itu menyipit samar seolah tidak suka melihatnya. Namun suaranya tetap terdengar datar saat bicara. “Dia terlihat seperti baru kabur dari neraka.”
Kalimat itu menusuk dada Kemuning seketika. Wajahnya langsung pucat dan matanya menunduk malu. Tentu saja pria seperti Arkana pasti jijik melihat dirinya.
Mahardika melirik putranya tajam sebentar. Namun Arkana tidak memberi penjelasan apa pun. Pria itu hanya memalingkan wajah sambil menghela napas pendek. Seolah terlalu malas memperdebatkan keadaan. “Bawa dia ke kamarmu dulu.”
Perintah Mahardika membuat Kemuning langsung panik. Ia refleks mengangkat kepala dengan mata membesar. Tidur… di kamar pria asing?
Arkana tampak tidak senang, tetapi tetap mengangguk tipis. Tanpa bicara lagi, ia berbalik menuju lantai atas.
Kemuning buru-buru mengikuti dari belakang dengan langkah kecil gugup.
Sementara para pelayan memperhatikan mereka dengan tatapan aneh.
Perjalanan menuju kamar terasa sangat sunyi. Hanya suara langkah kaki Arkana yang terdengar jelas di lorong besar mansion. Kemuning berjalan beberapa langkah di belakang sambil memeluk dirinya sendiri. Ia bahkan takut bernapas terlalu keras.
Interior rumah keluarga Mahendra terlihat elegan dan dingin. Dinding marmer putih, lampu gantung mahal, dan lukisan besar memenuhi lorong panjang. Semua terlihat begitu mahal sampai Kemuning takut menyentuh apa pun. Ia merasa dirinya terlalu kotor berada di sana.
Arkana menyadari hal itu diam-diam. Beberapa kali pria itu menangkap Kemuning menarik tangan saat hampir menyentuh meja atau vas. Gadis desa itu terlihat seperti rusa kecil yang tersesat di tempat asing. Dan entah kenapa, itu mengganggu pikirannya.
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna hitam. Arkana membukanya dengan satu tangan tanpa banyak bicara.
Kemuning langsung terdiam saat melihat isi kamar tersebut. Kamar itu bahkan lebih besar dari rumah bibinya. Ranjang king size berdiri di tengah ruangan dengan lampu remang hangat di sampingnya. Aroma maskulin samar memenuhi udara dan membuat pipi Kemuning memanas. Ada sofa abu-abu besar, rak buku mahal, dan jendela kaca tinggi menghadap kota. Suasana kamar itu terasa terlalu intim bagi Kemuning.
“A-aku bisa tidur di lantai saja...” Kemuning bicara cepat sambil menunduk panik.
Arkana yang sedang melepas jam tangan berhenti sesaat. Tatapannya langsung beralih padanya. Pria itu membuka jam tangannya perlahan lalu meletakkannya di meja kecil. Gerakan sederhana itu entah kenapa terlihat sangat dewasa dan menggoda.
Kemuning buru-buru memalingkan wajah karena salah tingkah sendiri. Jantungnya berdetak makin kacau.
“Aku tidak punya kebiasaan membiarkan perempuan tidur di lantai.” Suara Arkana rendah dan tenang.
Namun kalimat itu justru membuat wajah Kemuning merah seketika. Ia salah paham dengan maksud ucapan pria tersebut.
Arkana menghela napas kecil melihat reaksi Kemuning. Pria itu lalu membuka lemari tanpa banyak bicara. Sebuah handuk putih dan kemeja bersih dilempar ke arah Kemuning. Tangannya refleks menangkap benda-benda itu dengan gugup.
“Mandi.”
“Hah?”
“Kau menggigil.” Nada datar Arkana terdengar seperti perintah.
Kemuning baru sadar tubuhnya memang gemetar sejak tadi. Sweater tipisnya masih lembap dan dingin menusuk kulit. Ia menggigit bibir pelan sambil memeluk pakaian milik Arkana. Perasaan aneh kembali memenuhi dadanya.
Kamar mandi di dalam kamar itu sangat besar dan mewah. Kemuning berdiri kaku di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pucat, rambut berantakan, dan bekas tamparan masih terlihat samar. Tubuhnya dipenuhi luka kecil yang selama ini selalu ia sembunyikan.
Kemuning menunduk pelan sambil menahan sesak di dada. Ia benar-benar terlihat menyedihkan dibanding dunia Arkana Mahendra. Pria itu tampan, kaya, dan sempurna. Sementara dirinya hanyalah gadis desa yang dijual keluarganya sendiri.
Air hangat perlahan membasahi tubuh Kemuning. Untuk pertama kali setelah sekian lama, tubuhnya terasa sedikit rileks. Namun semakin nyaman air itu menyentuh kulitnya, semakin ia ingin menangis. Agam pasti sedang mencarinya sekarang.
Setelah selesai mandi, Kemuning memakai kemeja putih milik Arkana dengan tangan gemetar. Ukuran pakaian itu terlalu besar sampai menutupi pahanya sebagian. Aroma parfum maskulin samar masih menempel di kain tersebut. Dan itu membuat pipinya terus terasa panas.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Arkana sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Namun jemarinya langsung berhenti bergerak begitu melihat Kemuning keluar. Tatapan pria itu perlahan naik dari kaki hingga wajah Kemuning. Dan untuk beberapa detik, ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.
Kemuning langsung salah tingkah di bawah tatapan tersebut. Ia refleks menarik ujung kemeja besar itu lebih rapat ke tubuhnya. Kemeja Arkana justru membuat tubuh kecil Kemuning terlihat lebih mungil dan polos.
Tanpa sadar, Arkana memperhatikannya terlalu lama. Pria itu buru-buru memalingkan wajah sambil berdeham pelan. Ekspresinya kembali dingin seperti biasa. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda dalam sorot matanya sekarang. Seolah kehadiran Kemuning mulai mengacaukan ketenangannya.
Ketukan pintu mendadak terdengar memecah suasana aneh itu.
Seorang pelayan masuk sambil membungkuk hormat. “Maaf, Tuan Muda.”
“Kamar tamu baru bisa dipakai besok pagi.”
Kemuning langsung membelalak panik. “Be-besok pagi?” Artinya ia benar-benar harus tidur di kamar Arkana semalaman penuh. Tubuhnya langsung menegang malu.
Pelayan itu buru-buru pergi setelah menyampaikan pesan.
Keheningan kembali memenuhi kamar besar tersebut. Kemuning berdiri kikuk di dekat sofa sambil menundukkan wajah.
Sedangkan Arkana hanya mengusap pelan tengkuknya sendiri. “Tidurlah di ranjang.”
“Aku bisa di sofa.” Kemuning langsung menggeleng panik mendengar ucapan itu.
“Tidak! Aku saja di sofa!” Arkana menatapnya beberapa detik tanpa ekspresi.
“Kenapa?”
“Aku tidak akan memakanmu,” datarnya.
Nada-nada datar Arkana justru membuat Kemuning makin salah tingkah. Wajah gadis itu memerah sampai telinganya. Ia buru-buru berjalan mundur karena gugup luar biasa. Namun langkahnya terlalu terburu-buru di lantai licin dekat ranjang. Tubuh Kemuning mendadak kehilangan keseimbangan.
“Akh—!”
Sebelum tubuhnya jatuh, sebuah tangan besar melingkar cepat di pinggangnya. Arkana menarik tubuh Kemuning kuat ke dadanya secara refleks. Napas Kemuning langsung berhenti sesaat.
Tubuh mereka terlalu dekat. Sangat dekat sampai Kemuning bisa merasakan hangat tubuh Arkana menembus kain tipis. Aroma maskulin pria itu memenuhi kepalanya hingga membuatnya sulit berpikir. Dan jantungnya berdetak kacau tanpa ampun.
Arkana menahan pinggang Kemuning erat sambil menatap wajahnya dari jarak sangat dekat. Mata gelap pria itu terlihat tajam di bawah cahaya remang kamar. Napas Arkana berantakan sambil berbisik, "Aku sudah tidak sabar."
Dan untuk pertama kalinya, Kemuning sadar betapa berbahayanya Arkana Mahendra.