NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Dekap yang Mengganti Dingin

Aroma interior kulit mewah dan wangi maskulin khas Baskara yang pekat menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Aruna saat kesadarannya perlahan mengapung kembali. Sayup-sayup, suara deru mesin mobil sedan yang konstan dan ketukan rintik hujan di kaca jendela terdengar menenangkan, sangat kontras dengan gemuruh amarah di koridor barat beberapa saat lalu.

​Aruna mencoba menggerakkan jemarinya. Kulitnya tidak lagi terasa sedingin es, sebuah selimut wol tebal berkelir gelap telah membungkus tubuhnya dengan rapat hingga ke batas dada. Saat ia berusaha menegakkan punggung, rasa pening yang luar biasa langsung menghantam pelipisnya, memaksa sepasang netra bening wanita itu untuk kembali terpejam rapat seraya melontarkan ringisan lirih.

​"Jangan bergerak dulu. Paru-parumu baru saja mendapatkan pasokan oksigen tambahan," sebuah suara bariton yang berat dan dalam mengalun dari sisi kanannya.

​Aruna menoleh cepat, mengabaikan denyut nyeri di kepalanya. Di sampingnya, Baskara Dirgantara sedang duduk bersandar kaku. Jas hitam mewahnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Pria itu tidak menatapnya sepasang netra elangnya lurus memandang draf dokumen di pangkuannya, namun guratan tegang di rahangnya tidak bisa menyembunyikan kecemasan yang mendalam.

​"Turunkan aku, Pak Baskara," desis Aruna, suaranya parau dan bergetar, namun sarat akan penolakan yang absolut. Ia mencengkeram pinggiran selimut, mencoba mencari tuas pintu mobil. "Aku harus kembali ke koridor barat. Warga desa membutuhkan.."

​"Warga desamu aman. Tim pengamanan Dirgantara sudah memblokir seluruh alat berat Prawijaya Group," potong Baskara dingin tanpa riak, akhirnya memalingkan wajahnya untuk mengunci tatapan Aruna. "Saniya juga sudah membawa draf gugatan provisimu ke pengadilan wilayah. Yang tidak aman di sini sekarang... adalah nyawamu sendiri, Aruna."

​Mendengar kalimat itu, Aruna tertawa hambar, sebuah tawa kering yang memicu rasa sesak di dadanya. "Nyawaku? Sejak kapan seorang Pak Baskara Dirgantara peduli pada nyawaku? Bukankah empat tahun lalu di London, Anda sendiri yang menguliti draf skripsiku hingga aku merangkak di lantai ruang dosen tanpa bisa bernapas?!"

​Tuduhan telak itu seketika membuat atmosfer di dalam mobil mewah tersebut membeku. Sudut rahang Baskara mengetat sempurna. Kata-kata Aruna bagai belati yang mengoyak paksa topeng es yang selama ini ia agungkan. Ada riak penyesalan yang teramat pekat melintas di balik mata dingin sang CEO, sebuah ekspresi langka yang membuat Aruna sempat tertegun sejenak.

​Baskara perlahan meletakkan dokumen di pangkuannya. Ia memajukan tubuhnya, mempersempit jarak di antara mereka hingga Aruna bisa melihat dengan jelas guratan lelah di bawah kelopak mata pria itu.

​"Kau benar," suara Baskara merendah, terdengar begitu berat dan sarat akan pengakuan yang menyakitkan. "Aku yang membuatmu pingsan malam itu. Aku yang mengabaikan draf rekam medismu karena keangkuhanku yang mengira kau hanyalah anak orang biasa manja yang mencari alasan. Aku bersalah, Aruna."

​Aruna terdiam. Jantungnya bertalu gila-gilaan, bukan karena trauma, melainkan karena ia tidak pernah membayangkan seorang Baskara yang angkuh akan menurunkan dagunya untuk meminta maaf. Namun, rasa defensif di dalam diri Aruna segera mengambil alih batinnya.

​"Lalu apa arti semua ini, Pak Baskara?" kejar Aruna, matanya mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi yang telanjur membuncah. "Anda sengaja mengalah di ruang rapat kemarin, meloloskan peretasan auditku, dan sekarang berlagak menjadi pahlawan di koridor barat... Apakah semua ini bentuk belas kasihan baru karena Anda tahu aku pernah koma? Aku paling benci dikasihani!"

​"Ini bukan belas kasihan!" Baskara tiba-tiba menaikkan intonasi suaranya, mencengkeram kedua sisi sandaran kursi Aruna, mengunci pergerakan gadis itu sepenuhnya. Napas hangatnya berembus di pucuk hidung Aruna yang pucat. "Aku membiarkanmu meretas auditku karena kau berhak menghancurkanku lewat jalur hukum atas apa yang terjadi di London. Aku menghentikan Vano di lapangan karena aku tidak ingin melihat pembuluh darah di hidungmu kembali pecah karena stres! Jika kau menganggap ini belas kasihan, kau salah besar. Ini adalah cara sekeras kepala sepertiku untuk mematikan rasa takutku sendiri... takut melihatmu kembali tak bernapas di dalam dekapanku."

​Aruna terpaku. Kata-kata Baskara yang sarat akan intensitas emosional tingkat tinggi itu melucuti seluruh argumen yang sudah ia siapkan di kepala. Di dalam kubus logam yang berjalan menembus hujan kota Jakarta ini, jarak di antara mereka mendadak mengabur, digantikan oleh jalinan takdir baru yang kian intim dan berbahaya.

​Sebelum Aruna sempat mencerna debar aneh di dadanya, ponsel genggam Baskara yang tergeletak di konsol tengah bergetar hebat, menampilkan nama panggilan yang membuat atmosfer mobil kembali menegang, Deon Prawijaya.

​Baskara menarik kembali tubuhnya, memasang kembali topeng dinginnya dalam satu kedipan mata. Ia menggeser layar, mengangkat panggilan tersebut tanpa mengalihkan pandangan matanya dari paras Aruna.

​"Ya, Pak Deon," ujar Baskara, suara baritonnya kembali konstan dan berjarak. "Putri Anda ada bersamaku. Dan mengenai koridor barat... draf revisi Pasal 14 yang saya berikan kemarin adalah tawaran damai terakhir dari Dirgantara Group. Jika Anda atau Vano kembali mengusik lahan sekunder tersebut, saya sendiri yang akan merilis laporan anomali audit Prawijaya Group ke otoritas bursa efek besok pagi."

​Baskara mematikan sambungan sepihak bahkan sebelum Deon sempat melontarkan makian marahnya. Pria itu kemudian menoleh kembali pada Aruna yang kini menatapnya dengan sejuta tanda tanya.

​"Pertarunganmu melawan ayahmu sendiri baru saja dimulai, Nona Penasihat Hukum," kata Baskara dingin sembari memakai kembali jas hitamnya. "Dan suka atau tidak, mulai detik ini... kau membutuhkan perlindunganku untuk memenangkan laga catur ini."

​Aruna mencengkeram erat selimut wol yang membungkus tubuhnya. Di luar jendela, lampu-lampu jalanan Jakarta mulai menyala di balik kabut hujan, seolah menandakan bahwa perang taktik korporasi di antara mereka kini tidak lagi sekadar tentang memori kelam masa lalu, melainkan telah bergeser menjadi laga perlindungan emosional yang sarat akan intrik berbahaya, di mana Aruna dipaksa berdiri di persimpangan jalan yang sama dengan pria yang paling ia benci.

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!