NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Sebuah Nama di Masa Lalu

Hening malam kembali merayap di dalam kamar bernuansa minimalis milik Aruna. Setelah badai emosi yang menguras seluruh tenaganya di warung bubur tadi, Aruna terduduk di tepi ranjang king size miliknya. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah lantai marmer. Isak tangis yang sempat pecah di hadapan Baskara kini telah reda, menyisakan rongga dada yang terasa kosong dan sepi. Wanita itu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kembali sisa-sisa benteng pertahanannya yang sempat retak.

​Tepat saat ia hendak berbaring, pintu kamarnya diketuk pelan. Sosok Baskara muncul dari balik pintu yang tidak terkunci, membawa segelas susu hangat dan kotak obat yang biasa diminum oleh Aruna. Tatapan mata pria itu masih sama, penuh dengan binar penyesalan dan pemujaan yang mendalam.

​"Aruna... minumlah dulu, lalu biarkan aku menjagamu," ujar Baskara teramat lembut, melangkah mendekat dengan ritme yang sangat hati-hati seolah takut mengejutkan sang pemilik kamar.

​Aruna mendongak. Tidak ada lagi air mata di pipinya, yang ada hanyalah sorot mata yang kembali mengeras bagai batu karang. Ia tidak menerima gelas itu, melainkan menatap Baskara lurus pada manik matanya.

​"Jangan salah paham, Pak Baskara," ucap Aruna, suaranya terdengar begitu datar dan dingin, memotong atmosfer hangat yang coba dibangun pria itu. "Aku meluapkan semua kemarahanku dan menangis di depan Bapak tadi, bukan karena aku ingin memaafkan Bapak. Aku hanya lelah menyimpannya sendirian selama bertahun-tahun ini."

​Kalimat pendek yang diucapkan dengan begitu lugas itu seketika menghantam dada Baskara dengan telak. Langkah kakinya terhenti. Baskara terpaku di tempatnya berdiri, merasakan pasokan udara di sekitarnya mendadak menipis. Kalimat Aruna menyadarkannya pada satu kenyataan pahit yang harus ia telan bulat-bulat, bahwa air mata penyesalan dan sikap manisnya hari ini tidak akan otomatis mendatangkan maaf dari hati yang telah ia hancurkan hingga berkeping-keping. Luka bertahun-tahun di London tidak bisa ditambal hanya dengan satu hari perhatian di Jakarta.

​Keesokan harinya, Aruna benar-benar membuktikan ucapannya. Sikapnya kembali mendingin, bahkan jauh lebih berjarak dari sebelumnya. Ia mulai menjauhkan diri secara total dari radar kehidupan Baskara. Ketika Baskara menawarkan diri untuk mengantarnya pergi, Aruna menolak mentah-mentah dan lebih memilih memesan taksi daring. Pria itu mengirimkan puluhan pesan perhatian setiap jam, namun tidak satu pun yang dibalas oleh Aruna. Panggilan telepon yang berdering dari nomor Baskara pun hanya berakhir pada nada tunggu yang diabaikan.

​Dari penolakan yang konsisten itu, Baskara akhirnya tersadar. Menghapus trauma emosional tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan sejak detik itu pula, Baskara mengambil keputusan besar di dalam hidupnya. Ia berhenti mengucapkan kata-kata klise yang kini terasa tidak berguna di telinga Aruna.

​Baskara berhenti mengemis dengan kalimat "Maafkan aku" atau "Aku mencintaimu". Sebaliknya, sang profesor berhati es itu memilih untuk membuktikannya langsung lewat tindakan nyata yang konsisten tanpa akhir.

​Ketika Aruna mendadak drop dan kondisi jantungnya agak melemah akibat kelelahan, Baskara adalah orang pertama yang tiba di rumah sakit, memastikan dokter spesialis terbaik siaga tanpa perlu Aruna memintanya. Saat Aruna membutuhkan dokumen riset hukum dari perpustakaan pusat yang sulit diakses, buku-buku itu sudah tersusun rapi di meja teras rumahnya tanpa ada nama pengirim, meski Aruna tahu itu adalah ulah Baskara. Dan setiap kali Aruna melayangkan kalimat ketus atau memandangnya dengan tatapan jijik, Baskara tidak pernah lagi membalasnya dengan kilatan amarah, ia hanya menerima semuanya dengan senyuman sabar dan kepala tertunduk jantan. Cintanya kini beralih rupa menjadi aksi nyata yang sunyi namun kokoh, membuktikan bahwa ia siap menjadi tameng pelindung Aruna walau tanpa balasan apa pun.

​Namun, di saat Baskara sedang berjuang mati-matian meruntuhkan dinding es tersebut, takdir justru mempermainkannya dengan menghadirkan sebuah kejutan baru di dalam pusaran hidup Aruna.

​Sore itu, Aruna sedang mengunjungi sebuah pameran arsitektur dan tata kota di salah satu pusat konvensi di Jakarta guna mencari referensi data mengenai konflik lahan petani yang ingin ia bela. Di tengah ramainya pengunjung, seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja kasual rapi dan kacamata berbingkai hitam tipis tampak sedang menjelaskan sebuah maket desain dengan begitu cerdas.

​Saat pria itu berbalik, pandangan mereka tidak sengaja berbenturan. Pria berkacamata itu tertegun sejenak, menatap Aruna dengan dahi berkerut sebelum akhirnya seulas senyum lebar yang sangat cerah terbit di wajahnya yang tampan.

​"Aruna? Kamu Aruna Prawijaya, kan?" tanya pria itu, melangkah mendekat dengan binar mata yang penuh kejutan menyenangkan.

​Aruna mengernyitkan keningnya, merasa asing karena ia merasa tidak mengenal pria tampan di hadapannya ini selama masa-masa kuliahnya di London. "Maaf... siapa, ya?"

​Pria itu terkekeh pelan, membetulkan letak kacamatanya dengan gestur yang sangat ramah. "Wajar saja kamu lupa. Aku Vano. Vano Brahmanta, teman sebangkumu saat kelas sepuluh di SMA Nusantara dulu sebelum aku pindah ke Bandung. Ingat sekarang?"

​Mendengar nama itu, memori masa remaja Aruna yang terkubur langsung mencuat ke permukaan. Wajah kaku Aruna seketika mencair, digantikan oleh binar kebahagiaan yang orisinal, sesuatu yang sudah sangat lama tidak pernah terlihat di wajahnya. "Vano? Ya ampun, Vano kamu yang suka menggambar di meja?"

​Pertemuan tak terduga itu mencairkan seluruh kecanggungan. Berbeda dengan sikap dinginnya pada orang lain, Aruna justru bisa langsung merasa akrab dan nyaman mengobrol dengan Vano. Pria itu kini telah bertransformasi menjadi seorang arsitek muda yang sangat sukses dan cerdas. Gaya bicaranya yang santun, humoris, dan penuh perhatian spontan membuat Aruna merasa dihargai sejak detik pertama mereka kembali bertegur sapa.

​Vano Brahmanta memiliki sesuatu yang sangat krusial, sesuatu yang tidak akan pernah dimiliki oleh Baskara Dirgantara sekaya atau sehebat apa pun pria itu saat ini, Vano memiliki lembaran masa lalu yang bersih dan suci di mata Aruna. Pria berkacamata itu tidak pernah menorehkan luka, tidak pernah menghina harga dirinya, dan kehadirannya murni membawa kembali potongan memori indah masa remaja Aruna yang belum terkontaminasi oleh kepahitan.

​Dari kejauhan, di balik pilar besar aula konvensi, sosok Baskara berdiri membeku dengan tubuh yang menegang sempurna. Sepasang netra elangnya menatap nanar ke arah sudut pameran, di mana Aruna sedang tertawa lepas, sebuah tawa renyah yang teramat tulus yang belum pernah Aruna berikan kepadanya sejak wanita itu terbangun dari koma. Dan tawa itu, kini diberikan dengan begitu mudahnya kepada seorang pria asing berkacamata yang baru saja muncul di kehidupan mereka. Dada Baskara berdenyut hebat, menyadari bahwa perjuangannya kini tidak lagi hanya melawan dinding es di hati Aruna, melainkan juga melawan sosok masa lalu yang datang dengan selembar kertas putih tanpa noda.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!