Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Pintu ruangan kerja Rafael terbuka perlahan. Tania melangkah masuk, wajahnya yang cantik terhias senyum menggoda, namun senyum itu seketika lenyap saat dia melihat pemandangan di dalam sana.
"Sayang... apa-apaan ini?" tanya Tania pelan, menutup pintu kembali dan berjalan mendekat sambil mengerutkan kening. Dia melangkah hati-hati di antara tumpukan kertas yang berserakan. "Kamu mau merobohkan ruangan ini? Katakan, apa yang membuatmu marah sampai begini?"
Rafael menoleh kasar, napasnya masih terdengar berat. Dia mendengus keras, lalu kembali menendang tumpukan berkas di dekat kakinya hingga berhamburan lagi ke segala arah.
"Wanita itu! Wanita sialan itu!" umpat Rafael kasar, suaranya meninggi penuh kemarahan. "Aruna! Dia benar-benar berubah menjadi wanita yang tidak tahu diuntung! Dulu dia akan menurutiku seperti anak kecil, melakukan apa saja yang aku minta hanya dengan sedikit kata-kata manis. Tapi sekarang? Dia berani menolakku!"
Tania menghela napas panjang, berjalan mendekat lalu meletakkan tangannya di bahu Rafael, mengusapnya perlahan berusaha menenangkan.
"Sudah aku katakan, bukan? Kamu terlalu memanjakannya, Raf. Kamu biarkan dia merasa dirinya berkuasa atas harta peninggalan orang tuanya, kamu biarkan dia merasa dia punya hak untuk menolakmu," ucap Tania lembut namun nadanya sedikit beracun. Dia berjalan memutar, mengambilkan gelas berisi air di atas meja lalu disodorkan ke arah Rafael. "Minumlah dulu. Jangan sampai emosimu itu diketahui orang lain, ingat posisimu di perusahaan ayahku."
Rafael menyambar gelas itu dan meminum isinya sekaligus, lalu meletakkannya kembali dengan kasar.
"Aku tidak menyangka dia akan sekeras itu. Kemarin dia bilang uang yang aku minta sudah disumbangkan ke panti asuhan. Disumbangkan! Uang sebanyak itu! Dia benar-benar sudah lupa siapa yang ada di sampingnya saat dia sepi dan sedih dulu," geram Rafael, matanya menyala penuh kebencian.
Tania melangkah mendekat, menatap lurus ke manik mata Rafael. Jari-jarinya bergerak pelan menyusuri dada Rafael, matanya berkilat penuh rencana.
"Bukankah sebentar lagi dia mau wisuda? Ajak dan perkenalkan aku padanya dipesta kelulusan nanti,"
Tania berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih dingin dan tajam.
"Aku akan menjadi teman sekaligus orang terdekatnya, agar bisa mempengaruhinya dengan mudah. Dengan begitu, aku bisa membujuknya melakukan apa saja yang kamu minta, termasuk menyerahkan seluruh harta peninggalan orang tuanya itu padamu."
Rafael menatap Tania dengan kagum. Wanita ini memang kejam, tapi ide-idenya selalu berhasil. Selama ini Tania lah yang sering memberi saran bagaimana caranya mendekati Aruna, bagaimana caranya memanipulasi perasaan gadis itu agar selalu merasa berhutang budi.
"Kamu benar, Sayang. Kamu selalu saja punya cara," gumam Rafael, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum licik. "Aruna pikir dengan menolakku hari ini dia sudah menang. Dia tidak tahu... dia sedang berhadapan dengan dua orang yang jauh lebih licik darinya."
Tania tersenyum puas, lalu memeluk lengan Rafael dengan mesra.
"Tenang saja, Sayang. Harta itu akan menjadi milikmu. Dan setelah itu terjadi, setelah semuanya kita dapatkan... kamu bisa membuang wanita itu sejauh mungkin, dan kita berdua akan hidup mewah dengan segala kekayaan itu. Kamu tidak perlu lagi berpura-pura mencintainya. Kamu hanya perlu bersabar dan memainkan peranmu lebih baik lagi."
Tangan Rafael melingkar erat di pinggang ramping Tania, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang panas dan penuh nafsu, ciuman yang bukan didasari rasa cinta, melainkan rasa puas dan persekutuan diantara dua jiwa yang sama-sama haus akan kekayaan dan kekuasaan.
-
-
-
Di ruang kerja milik mendiang papanya, Aruna duduk berhadapan dengan Om Herman. Pria paruh baya itu menatap Aruna dengan pandangan campuran antara kekhawatiran dan rasa hormat. Sudah tiga puluh tahun Om Herman bekerja untuk keluarga Dirgantara, dia adalah orang yang paling setia, paling jujur, dan satu-satunya yang berani bicara lantang demi kebaikan Aruna meski nasihatnya selalu diabaikan oleh Aruna.
"Nona Aruna..." suara berat dan parau Om Herman memecah keheningan. Dia meletakkan berkas-berkas dokumen di atas meja kayu tua itu, matanya meneliti wajah wanita muda di hadapannya dengan saksama. "Nona memanggil saya datang terburu-buru pagi-pagi sekali, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan. Ada apa, Nona?"
Aruna menatap pria itu lekat-lekat. Di kehidupan lalu, pria inilah yang paling menderita melihat kejatuhan keluarga ini. Dia yang berusaha sekuat tenaga mencegah Aruna menjual tanah, rumah, dan saham perusahaan, namun semua usahanya sia-sia. Dia yang akhirnya harus melihat harta kekayaan yang dibangun bertahun-tahun itu ludes disedot habis oleh Rafael, sebelum akhirnya dia dipecat secara tidak hormat atas perintah Rafael sendiri.
"Om Herman. Kemarin Rafael meminta uang lima ratus juta, dan dia akan terus datang lagi sampai mendapatkan apa yang dia inginkan. Aku tahu itu. Kalau aku tidak mengambil langkah tegas sekarang, dia tidak akan berhenti sampai dia mengambil segalanya. Rumah ini, tanah di luar kota, saham perusahaan... semuanya."
Om Herman menghela napas panjang, menggelengkan kepalanya dengan wajah sedih. "Saya sudah bilang dulu, Non... Rafael itu bukan orang yang tepat. Dia hanya mengincar harta keluargamu. Tapi Nona terlalu percaya padanya."
Kalimat itu menohok hati Aruna, namun dia tidak menunduk seperti dulu. Dia justru menatap Om Herman lebih tajam, matanya berkilat penuh tekad.
"Aku bodoh dulu, Om. Aku buta. Aku tidak melihat apa yang sebenarnya ada di depan mataku. Tapi sekarang aku sudah melihat semuanya dengan sangat jelas. Rafael adalah parasit. Dia adalah iblis yang bersembunyi di balik senyum manis dan janji-janji kosong. Dan aku tidak akan membiarkannya mengambil apapun lagi dariku."
Om Herman tertegun. Dia menatap Aruna dengan tak percaya. Perubahan sikap itu begitu drastis, begitu nyata, dan begitu meyakinkan. Wanita muda yang dulu lemah, penurut, dan mudah dibohongi itu kini duduk di hadapannya dengan aura kepemimpinan dan ketegasan yang persis mendiang ayahnya.
"Om Herman..." lanjut Aruna, suaranya tenang namun berwibawa. "Mulai hari ini aku ingin Om mengelola semuanya sepenuhnya. Tidak ada transaksi yang boleh terjadi tanpa persetujuan tertulis langsung dariku, dan tidak ada satu pun surat berharga yang boleh keluar dari ruang penyimpananmu, apapun alasannya."
Dia berhenti sejenak, menekan setiap kata agar masuk ke dalam benak pria tua itu.
"Jangan berikan apapun pada Rafael meskipun aku yang memintanya, Om. Om satu-satunya orang yang bisa aku percaya di dunia ini sekarang."
Om Herman mengangguk berkali-kali, matanya berkaca-kaca karena lega.
"Tentu saja, Nona Aruna. Tentu saja. Saya bersumpah demi mendiang Tuan dan Nyonya, saya akan menjaga semua ini dengan nyawa saya sendiri."
Aruna tersenyum lega, "Terimakasih, Om. Terimakasih sudah bersabar selama ini, sudah selalu ada meski aku sering mengabaikan nasihatmu dulu. Maafkan aku ya..."
Om Herman mengangguk perlahan, matanya basah. "Tidak apa-apa, Nona. Yang terpenting sekarang Nona sudah sadar. Nona sudah bangkit. Itu yang paling membahagiakan hati saya dan hati orang tuamu di atas sana."
Setelah meyakinkan semua urusan administrasi dan pengamanan aset, Aruna mengantar Om Herman sampai ke teras rumah. Saat mobil milik asisten itu menghilang di balik gerbang rumahnya, ponsel di tangan Aruna bergetar. Sebuah pesan masuk.
[Sayang, malam ini aku jemput untuk makan malam ya. Aku ingin menebus kesalahanku atas sikapku kemarin.]
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍