"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: KEMUNCULAN SANG INVESTOR MISTERIUS
Bab 11: Kemunculan Sang Investor Misterius
Satu minggu telah berlalu sejak malam pelarian yang berdarah itu. Di kediaman megah Bimo Pratama, suasana tampak begitu tenang, atau setidaknya begitulah yang terlihat dari luar. Siska duduk di meja makan yang luas, menyesap kopi mahalnya sambil mengamati Kenzo yang sedang bermain robot-robotan dengan lesu.
"Kenzo, makan sayurnya, Sayang. Nanti Tante Siska belikan mainan baru lagi, ya?" suara Siska terdengar sangat manis, namun matanya terus melirik ke arah Bimo yang sedang sibuk dengan tabletnya.
"Aku mau Mama," gumam Kenzo tanpa menoleh.
Bimo menghela napas, meletakkan tabletnya dengan kasar. "Kenzo, Papa sudah bilang kan? Mama sedang sakit dan harus istirahat lama di luar negeri. Sekarang ada Tante Siska yang jagain kamu. Jangan rewel."
Siska tersenyum penuh kemenangan. Kabar dari klinik mengatakan bahwa Aruna menghilang di hutan dan kemungkinan besar tewas karena jurang atau hewan buas. Bagi Siska, itu adalah berita terbaik tahun ini. Hambatan terbesarnya sudah lenyap secara alami. Kini, yang perlu ia lakukan hanyalah memastikan Bimo segera meresmikan hubungan mereka.
"Bim, soal proyek pembangunan resort di Bali... Tyas bilang kita butuh investor tambahan karena bank sedang memperketat kredit. Kamu sudah ada kandidat?" tanya Siska, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ada satu perusahaan ekuitas baru dari Singapura, Emerald Capital. Perwakilannya akan datang ke kantor siang ini. Katanya mereka tertarik menanamkan modal besar tanpa banyak syarat. Kalau ini berhasil, kita tidak butuh saham warisan Aruna lagi untuk sementara," jawab Bimo dengan nada optimis.
Sementara itu, di sebuah hotel butik di pusat kota, seorang wanita berdiri di depan cermin besar. Rambutnya yang dulu panjang dan kusam kini dipotong pendek dengan gaya bob yang tajam dan elegan, berwarna hitam legam dengan pantulan keunguan yang mewah. Riasan wajahnya sangat berbeda—alis yang tegas, eyeliner yang tajam, dan lipstik berwarna merah marun yang memberikan kesan dingin sekaligus berwibawa.
Wanita itu mengenakan setelan blazer rancangan desainer ternama yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada lagi jejak Aruna yang rapuh dan penuh air mata.
"Siap, Rhea?" Adrian muncul di belakangnya, mengenakan setelan jas yang tak kalah rapi.
Aruna—yang kini memakai nama samaran Rhea Mahendra menatap pantulannya sendiri. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. "Rhea siap. Aruna sudah mati di hutan itu, Adrian. Sekarang yang ada hanya wanita yang akan mengambil kembali miliknya."
"Ingat, Bimo sangat jeli. Tapi dia juga sangat sombong. Dia tidak akan menyangka bahwa mantan istrinya yang 'gila' bisa berubah menjadi investor kelas atas dalam waktu singkat," Adrian mengingatkan sambil menyerahkan sebuah koper berisi dokumen palsu namun sangat rapi.
"Kesombongannya adalah senjata utamaku," sahut Aruna dingin.
......................
Pukul 14.00 tepat, sebuah sedan mewah berhenti di depan lobi kantor Bimo. Aruna melangkah keluar dengan keanggunan yang mengintimidasi. Setiap pasang mata di lobi tertuju padanya. Ia berjalan melewati meja resepsionis tanpa ragu, menuju lift eksekutif yang menuju lantai paling atas.
Di ruang rapat, Bimo dan Siska sudah menunggu dengan wajah sumringah. Pintu terbuka, dan Adrian masuk lebih dulu.
"Selamat siang, Pak Bimo. Perkenalkan, ini adalah Ms. Rhea Mahendra, CEO dari Emerald Capital," ucap Adrian dengan nada formal yang sempurna.
Aruna melangkah masuk. Ia melepas kacamata hitamnya perlahan, menatap tepat ke arah Bimo, lalu beralih ke Siska. Jantungnya berdegup kencang saat melihat wanita yang telah menghancurkan hidupnya itu duduk di kursi yang seharusnya miliknya, namun Aruna berhasil menjaga ekspresi wajahnya tetap datar sekeras batu.
Bimo berdiri, tampak sedikit terpaku. Ada sesuatu dari tatapan wanita di depannya ini yang terasa sangat akrab, namun penampilannya yang sangat modern dan aura otoritasnya yang kuat membuat Bimo segera menepis pikiran tersebut.
"Selamat siang, Ms. Mahendra. Senang sekali bisa bertemu dengan investor semuda dan sehebat Anda," Bimo mengulurkan tangan.
Aruna menyambut uluran tangan itu. Ia merasakan tangan Bimo yang hangat—tangan yang dulu sering ia genggam dengan penuh cinta, namun sekarang hanya ingin ia hancurkan.
"Senang bertemu dengan Anda juga, Pak Bimo," suara Aruna terdengar lebih rendah dan berwibawa, berkat latihan vokal yang ia lakukan bersama Adrian. "Dan... siapa wanita cantik di sebelah Anda ini? Sekretaris Anda?"
Wajah Siska seketika berubah merah padam mendengar pertanyaan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung...
Bab 12: Umpan yang Mulai Dimakan.