Seumur hidup, Ambar Pradipta hanya dianggap beban oleh keluarganya sendiri. Ia dipaksa melayani, dihina, dipukul, bahkan dijadikan alat bayar utang. Ketika Bagas Pradipta menyerahkannya kepada Adrian Ferraro, semua orang mengira hidup Ambar akan jatuh ke neraka yang lebih gelap.
Namun Adrian Ferraro bukan pria yang bisa ditebak. Ia berbahaya, kejam kepada musuh, dan namanya cukup membuat satu kota menunduk. Tapi di hadapan Ambar yang gemetar karena luka masa lalu, ia justru membuat satu aturan baru: istrinya tidak boleh disentuh siapa pun.
Di dunia Ferraro, Ambar bukan lagi perempuan tak berharga. Ia adalah perempuan yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaqueline Mello, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Jebakan
"Katakan rencana yang harus kami jalankan," kata Bagas.
"Sederhana," jawab Vitelli. "Aku akan mengirim surat kepada Ambar. Dia sudah menjadi Yang Tak Tersentuh milik Ferraro. Jika aku membawa dia, aku mendapatkan Ferraro. Tapi aku perlu menarik perhatiannya, dan untuk itu aku butuh bantuan kalian."
"Katakan saja."
"Kita akan menyentuh hatinya sebagai anak. Jika ia mengira kalian dalam bahaya, ia akan datang mencari kalian. Tapi kita harus membuat adegannya meyakinkan. Kalian akan kuikat. Dia datang untuk menyelamatkan kalian, lalu aku menangkapnya. Aku melepas kalian dan memberi kalian uang agar kalian menghilang dari kota ini. Adrian akan datang mencari Yang Tak Tersentuh miliknya, aku menghabisinya, dan semua orang bahagia."
Esti bertanya, "Apa yang akan Anda lakukan pada Ambar setelah itu?"
"Itu bukan urusan kalian. Yang perlu kalian tahu, kalian akan mendapat uang dan kebebasan kalau setuju."
"Aku tidak peduli apa yang terjadi pada Ambar. Aku ingin uang, dan aku ingin Adrian membayar perbuatannya padaku. Aku setuju."
Esti tidak sepenuhnya yakin, tapi sudah lama pendapatnya di rumah itu tidak berarti.
Vitelli, di sisi lain, tersenyum. Ia akan menghantam dua tujuan sekaligus, dan rencananya sudah berjalan.
Pukul 17.00, Rumah Ferraro
Bayu sedang merapikan dokumen perusahaan di ruang kerja ketika seorang petugas keamanan masuk membawa surat-surat dan sebuah amplop terpisah di tangannya.
"Surat itu untuk siapa?" tanya Bayu.
"Untuk Nyonya Ferraro."
"Berikan padaku. Aku yang akan membawanya."
Petugas keamanan itu menyerahkan surat tersebut. Tidak ada nama pengirim, hanya sebuah lambang dan nama penerima.
Bayu membukanya dan membaca isinya. Pada saat yang sama, Erik yang sedang memeriksa fungsi kamera keamanan memfokuskan kamera ruang kerja dan membaca hal yang sama dengan Bayu.
Bayu menyimpan surat itu, memasukkannya ke saku, lalu pergi hanya dengan satu senjata tanpa mengatakan apa pun kepada siapa pun. Erik menghela napas.
"Kau benar-benar mau pergi ke tempat penyembelihan sendirian?"
Erik mengirim satu pesan kepada Adrian, yang saat itu sedang bersama Ambar di jacuzzi. Ponsel Adrian berbunyi. Ia membacanya sambil masih menciumi leher Ambar.
📱Erik: Vitelli mengirim surat untuk Ambar. Bayu membukanya. Dia menahan keluarga Pradipta dan meminta Ambar datang sendirian. Bayu baru saja pergi, sendirian. Kita harus apa?
📱Adrian: Siapkan orang-orang. Kita menyusul dari belakang, jaga jarak, tapi kita tidak akan pernah membiarkan salah satu dari kita sendirian.
"Ada masalah?" tanya Ambar.
"Urusan pekerjaan, bambina. Aku harus pergi."
"Padahal aku menginginkan hal lain," katanya sambil menyentuh tubuh Adrian.
Adrian tersenyum. "Begitu aku kembali, kau tidak akan lolos."
Dermaga 14, pukul 20.00
Bayu datang sendirian. Hanya ada sepucuk pistol di pinggangnya, sebilah pisau di sepatu botnya, jins biru, dan jaket kulit. Saat mendekat, ia melihat keluarga Pradipta. Esti terikat di kursi dengan mulut tersumpal, sementara Bagas tergantung seperti barang jagal. Vitelli mengangkat wajah dengan senyum di bibir.
"Wah, aku tidak menyangka ini," katanya. "Aku menunggu Yang Tak Tersentuh, ternyata yang datang anjing penjaganya."
"Demi adikku, aku bersedia melakukan apa pun. Suratmu tidak sampai ke tangannya."
Erik, Adrian, dan beberapa orang lain masuk diam-diam, bersembunyi di tempat yang memungkinkan mereka melindungi Bayu.
"Sejujurnya, kupikir keluarga Pradipta lebih cerdas. Orang tuamu jatuh ke dalam jebakanku."
"Apa maksudnya jebakan?" teriak Bagas. Ia tidak disumpal.
"Kalian benar-benar mengira akan menang? Rencanaku adalah membuat Ambar datang. Kalian akan kutinggalkan di sini agar Adrian membunuh kalian. Aku akan membunuh Adrian, lalu Ambar tinggal sendiri untukku. Dia akan menjadi ratuku."
Bayu tertawa pahit sambil menatap kedua orang tuanya. "Kalian melakukannya lagi. Kalian menjual adikku untuk kedua kalinya! Ibu macam apa yang melakukan itu?"
Vitelli memiringkan kepala. "Kenapa kau hanya menyalahkan ibumu?"
"Bagas bukan ayah Ambar," jawab Bayu dengan tawa mengejek. "Tapi aku sempat berharap ibu kami masih punya sedikit kasih sayang."
Esti hanya menangis. Vitelli menatapnya lalu tertawa.
"Mudah sekali kau dibaca. Kasih sayang seorang ibu pun begitu tipis. Banyak ibu ingin melihat anaknya tumbuh dan melindunginya, sementara kau menjualnya. Kau tidak pantas hidup, dan aku pastikan tidak ada yang akan merindukanmu."
Ia mengarahkan pistol ke kepala Esti, tapi lebih dulu menatap Bayu.
"Mau bertukar tempat dengannya?"
"Untuk apa? Kalau dia keluar dari sini, dia akan mencari cara menyakiti Ambar lagi. Dia tidak pernah memikirkan anak-anaknya, hanya dirinya sendiri, kenyamanannya, kekuasaannya. Ambisinya dan ambisi Bagas membawa mereka sampai ke titik ini. Tidak satu pun dari mereka keluargaku. Aku membenci mereka sejak mereka mulai memperlakukan adikku dengan buruk sampai tega menjualnya."
"Sayang sekali. Bagaimanapun, kau datang sendirian, dan tidak ada yang akan keluar hidup-hidup dari sini. Sebuah pesan untuk Yang Tak Tersentuh."
Bayu melihat bayangan lewat pantulan jendela. Ia tahu siapa itu. Ia mengangkat tangan sambil tersenyum, lalu menatap Vitelli.
"Aku kehilangan seorang ibu dan seorang ayah, tapi aku punya adik. Aku mendapatkan keluarga baru, dan tahu apa? Mereka tidak pernah membiarkanku sendirian."
Dua tembakan meletus. Satu mengenai tangan Vitelli, satu lagi menewaskan salah satu anak buahnya. Bayu menunduk, mencabut pistol dari pinggang, lalu berlindung sambil balas menembak.
Erik berseru, "Kau percaya sekali pada keluarga barumu."
"Tolonglah. Kalian mengawasi gerakan sekecil apa pun. Aku tahu kalian akan menyadari aku menghilang."
Adrian berkata, "Lebih dari kepergianmu, surat aneh yang memakai nama istriku itulah yang menarik perhatian."
Vitelli menyeringai. "Kalian pikir kalian menang? Ini baru permulaan. Hadiah untuk Yang Tak Tersentuh milik Ferraro. Katakan padanya aku mengirim salam, dan aku membebaskan kalian dari dua beban."
Dua tembakan terdengar. Satu mengenai perut Bagas karena gerakannya sendiri, satu lagi menembus dada Esti. Ia belum mati. Tembakan terus berbalasan sampai Vitelli dan anak buahnya mundur. Bayu mendekati Esti dan melepaskan ikatannya, sementara dua orang menurunkan Bagas.
"Maafkan aku," bisik Esti.
"Bukan kepadaku Mama harus meminta maaf."
"Semoga dia memaafkanku... karena aku tidak tahu... bagaimana menjadi ibu... aku mencintainya... aku ingin... dia bahagia."
Esti memejamkan mata dan menyerah dalam pelukan Bayu. Bagas masih bernapas, tapi saat melihat Esti mati, ia tersenyum.
"Aku terobsesi padanya... aku merampasnya dari Arto... aku memberinya segalanya... tetap saja dia mengkhianatiku... dan dari pengkhianatan itu lahir seorang anak perempuan yang kubenci... maafkan aku, Nak... tanpa dia... aku tidak pernah bisa hidup... karena itu aku memaafkannya... semoga Ambar... memaafkanku."
"Kami memaafkan kalian. Kami tidak akan membawa kebencian untuk kalian."
Bagas tersenyum, memejamkan mata, lalu pergi.
Adrian meletakkan tangan di bahu Bayu.
"Mereka akan beristirahat," kata Bayu. "Begitu juga kenangan buruk Ambar. Semuanya akan mati bersama mereka. Dia akan bahagia."
"Sakit?" tanya Erik.
"Tidak sesakit yang kukira. Ambar akan bahagia."
Adrian menepuk bahunya. "Ayo pulang. Kepada keluarga."
Anak buah Ferraro membawa jenazah Esti dan Bagas. Yang lain kembali ke rumah. Bayu tidak menangis. Mereka memang orang tuanya, tapi ia sudah tidak merasakan apa pun untuk mereka sejak mereka memperlakukan adiknya dengan buruk. Ambar akhirnya akan beristirahat. Kenangannya akan memudar, dan kini mereka bisa bahagia bersama.