Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Rasanya benar-benar tidak nyaman.
Chelsea yakin sepulang dari hotel dia langsung mandi dan menggosok kulitnya beberapa kali, tapi rasa tidak nyaman itu masih tidak mau pergi.
Pak Wijaya, orang yang akan dijodohkan dengan Chelsea benar-benar tidak tahu apa artinya privasi dan terus mencoba untuk menyentuhnya. Terlihat jelas kalau dia melihat Chelsea cuma sebagai objek pemuas nafsu.
Dan ia akan menikah dengan orang seperti itu?
Chelsea menatap bayangannya di cermin. Kecantikan ini adalah satu-satunya hal yang ia punya, tapi entah kenapa rasanya seperti kutukan sekarang.
Chelsea ingin menolak.
Kalau saja ia lebih berani seperti Ophelia, kalau saja ia tidak terlalu takut dengan Ayahnya—
“Nona Chelsea.”
Pintu kamarnya diketuk beberapa kali. “Nona Chelsea dipanggil Tuan Besar ke ruang tamu.”
Sepagi ini? Ia baru akan bersiap-siap untuk sekolah.
“Sebentar.”
Chelsea dengan cepat memakai seragam dan menata rambutnya. Begitu keluar dari kamar, ia bisa melihat Ophelia yang turun dari lantai dua.
“Kira-kira ada apa?” tanyanya.
Adiknya itu menggeleng, “Tidak tahu.”
Ketika pintu ruang tamu dibuka, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah buket mawar merah yang ditaruh di atas meja.
Siapa itu? Kalau tidak salah dia adalah kakaknya Airin, tapi Chelsea tidak tahu yang mana. Begitu mereka bertatapan, pria itu tersenyum.
“Kalian berdua bisa duduk,” ucap Ayahnya yang ada disana. “Ini Arjuna Purnomo. Kalian pasti tahu tentang kakak kembar Airin ‘kan ya? Dia adalah putra kedua mereka.”
Chelsea mengangguk. Ia cuma pernah melihatnya sekali di pesta ulang tahun Kaiser.
“Maaf jika terlalu tiba-tiba. Saya sengaja datang pagi agar bisa bertemu langsung dengan Chelsea.” Pria itu tetap tersenyum. “Rasanya tidak etis saja kalau datang melamar tapi orangnya tidak ada.”
Melamar?!
“Lamaran?” Ophelia juga terdengar kaget.
Chelsea langsung beralih pada Ayahnya. Randi terlihat tenang seperti biasa, walau ada kerutan di dahi pria itu.
“Alasannya?”
“Saya terpesona dengan putri Anda di pesta ulang tahun Kaiser beberapa waktu lalu,” ujarnya. “Ketika perburuan harta dimulai, kami sempat berpapasan dan mengobrol sebentar. Saya langsung jatuh hati padanya saat itu juga.”
Dia berbohong.
Mereka tidak pernah berbicara atau saling sapa. Bahkan saat perburuan harta itu mereka bertemu saja tidak!
“Chelsea, itu benar?”
Gadis itu langsung berkeringat dingin. Apa yang mesti dia lakukan? Ikut berbohong? Tapi berbohong pada Ayahnya hanya akan menyebabkan hukuman. Chelsea tidak mau—
Tangannya tiba-tiba digenggam.
Ophelia terlihat menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, membuat Chelsea melakukan hal yang sama.
Tenang. Ia tidak boleh panik di situasi begini.
“Iya,” jawab Chelsea. “Kami sempat mengobrol sebentar.”
Randi memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegap. “Begitu. Sayang sekali tapi Chelsea sudah memiliki rencana perjodohan dengan keluarga lain, sepertinya mau tidak mau lamaranmu harus saya tolak.”
“Yang saya lamar adalah Chelsea.”
“Ya?”
Arjuna ikut menegapkan tubuhnya dan menatap Randi dengan tatapan tegas. “Yang saya lamar adalah putri Anda. Diterima atau tidak, bukankah itu menjadi keputusannya?”
Chelsea langsung membulatkan mata mendengar itu.
Ia bisa… memutuskan sesuatu?
“Saya Ayahnya.” Randi tersenyum. “Lagipula Chelsea pastinya setuju dengan apapun yang saya pilihkan untuknya. Opini dia sama sekali tidak dibutuhkan di sini.”
Arjuna terlihat ingin tertawa. “Begitu rupanya.”
Dia berdiri dan berjalan ke arah Chelsea. Dengan perlahan, pria itu berlutut dan mengeluarkan kotak kecil sewarna dengan bunga mawar dan membukanya.
Sebuah cincin berlian ada disana.
“Cincin ini dipilih dengan terburu-buru,” ucapnya. “Harusnya aku memesan lebih dulu, tapi selain mawar merah yang kamu pakai malam itu, aku tidak tahu apapun lagi tentangmu.”
Chelsea menatap cincin berbentuk mawar itu dengan dalam.
“Apa kamu mengizinkanku untuk mencari tahu lebih dalam tentang itu?” tanya Arjuna.
“Chelsea.”
Menghiraukan nada peringatan dari Ayahnya, Chelsea menjawab cepat. “Ya.”
Menikah adalah salah satu cara untuk keluar dari rumah ini.
Tapi Chelsea tidak pernah menyangka kalau suatu saat nanti yang datang bukanlah orang yang dipilih oleh Ayahnya.
“Iya, aku mengizinkan.”
—tapi orang yang memilihnya.
Randi terlihat tidak bisa berkata-kata.
Arjuna memakaikan cincin itu dengan perlahan. “Ukurannya pas ternyata.”
“Tidak.” Randi langsung berdiri. “Hal ini tidak akan—”
“Kami hampir terlambat, hari ini aku ada ujian.” Ophelia sengaja memotong ucapan Ayah mereka.
Arjuna tersenyum dan menarik tangan Chelsea lembut untuk ikut berdiri. “Aku bisa mengantar kalian. Kalau begitu kami permisi dulu, Pak Randi.”
Chelsea tidak berani menatap Ayahnya sekarang, ia tahu kalau dia pasti sedang marah besar.
Saat itu Chelsea kembali merasakan tangannya digenggam.
Tapi kali ini bukan Ophelia yang dilihatnya, melainkan Arjuna.
...****************...
Kenapa malah jadi begini?
Ophelia mencoba untuk tenang walau batinnya benar-benar panik sekarang.
Kenapa malah jadi begini?!
Ia yakin permintaannya pada Kak Arga hanyalah menyebar rumor kalau dia berpacaran dengan Chelsea agar perjodohannya batal. Bukannya malah langsung melamar!
Gadis itu beralih menatap pada Arjuna. Dan kenapa malah dia yang datang?
“Ayah kalian lebih parah dari yang kuduga ternyata,” ujarnya ketika berada tepat di depan mobil.
Chelsea menghela napas dan melepas cincin di jarinya. “Sudah kuduga. Ini pasti rencananya Ophelia ‘kan ya?”
“...maaf.”
“Kenapa minta maaf segala?” Chelsea mengusap pelan kepala adiknya. “Ini jauh lebih baik daripada tetap dijodohkan dengan Pak Wijaya.”
Gadis itu beralih pada Arjuna. “Maaf juga sampai harus merepotkan begini.”
“Tidak sama sekali. Anggap saja kami sedang balas budi.”
“Kami?” ulang Ophelia.
Dari arah jalan raya, muncul mobil berwarna hitam yang berhenti tepat di depan mereka. Kaca mobil itu terbuka, Arga terlihat menguap disana. “Jam berapa ini? Lamarannya lancar?”
Orang ini juga ikut ternyata.
Ophelia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping pria itu, “Ada yang mau aku bicarakan.”
Arga hanya berkedip pelan dan menjalankan mobil, membuat Chelsea dan Arjuna yang ditinggalkan disana saling menatap canggung.
“Kenapa Lia malah ikut ke mobil sana?” gumam Chelsea.
Arjuna tertawa kecil. “Aku akan tetap mengantarmu. Ayo masuk.”
Mobil berwarna putih itu memiliki wangi seperti stroberi dengan hiasan bertema Barbie yang tergantung di depan kaca.
“Airin yang memberi itu. Tanda keberuntungan katanya.”
“Lucu,” puji Chelsea.
Beberapa waktu setelah mobil itu berjalan, Chelsea mulai memainkan cincin berlian yang ada di tangannya. “Harga cincinnya berapa? Berlian asli begini pasti mahal ‘kan ya? Nanti akan kuganti.”
“Tidak perlu kaku begitu, anggap saja hadiah.”
“Hm.” Chelsea menatap cincin itu dengan senyum tipis. “Benda seperti ini tidak pantas kalau cuma dijadikan hadiah. Harusnya Kak Arjuna memberikan ini pada seseorang yang spesial nanti. Maaf gara-gara rencana Ophelia jadi harus diberi padaku begini.”
Arjuna terdiam mendengar itu.
Ada rasa kecewa juga sakit yang dipendam dari suaranya.
Arjuna hampir tidak atau apapun tentang gadis di sebelahnya ini. Tapi mungkin, ia—mereka bisa mencoba sesuatu.
“Aku memang datang karena permintaan adikmu, tapi aku tidak akan sejauh ini kalau tidak memikirkan apa resikonya.”
Chelsea mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
“Aku tidak sedang menjalin hubungan dengan siapa pun.” Arjuna tersenyum. “Dan setelah mengatakan semuanya di depan Ayahmu, rasanya aneh kalau aku tiba-tiba menarik kembali lamaranku.”
“Aku masih—tidak mengerti?” tanya Chelsea.
“Kita punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama setidaknya sampai situasimu benar-benar aman.”
Chelsea bahkan tidak sadar kalau mobilnya berhenti.
“Mau coba menjalaninya dulu?”